Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 19 - Paket


__ADS_3

...Paket...


14 Ramadan. Dini hari.


Aku sudah menguasai ponsel yang di dalamnya terdapat berkas video yang akan membuat Rossa bisa membantu temannya. Dan aku berencana untuk memberikan ponsel ini kepadanya. Tapi jika kau adalah Jin Gelap yang baru mencuri ponsel dari manusia, kau tak bisa begitu saja memberikan ponsel itu ke manusia lain yang bahkan tak bisa berkomunikasi denganmu. Jika aku meninggalkan ponsel di depan rumahnya begitu saja, Rossa pasti akan kebingungan. Aku tak bisa menjelaskan padanya. Ternyata ini tak semudah yang kupikirkan sebelumnya.


Aku duduk di halaman depan rumah Rossa. Cahaya lampu menyala terang di dalam rumah, menandakan sekarang Rossa dan keluarganya sedang santap Sahur. Ketika aku hanya duduk di sini sembari memikirkan bagaimana caranya mengirimkan ponsel padanya dengan cara yang paling baik, Darko si kucing hitam keluar dari rumah dan melangkah mendekatiku.


"Meong!" Sapa Darko.


"Yo!" Aku balas menyapa. "Bagaimana kabarmu, sob?"


"Meong!" Jawab Darko. Dari nada suaranya sepertinya ia sedang senang.


Aku cukup mengenalnya untuk bisa membedakan nada suaranya. "Bagus kalau begitu." Ucapku kemudian.


"Meong?" Dengan nada penasaran Darko bersuara.


Aku jarang mengunjunginya, jadi "Meong?" Itu lebih seperti, "Kenapa kemari?".


"Ceritanya panjang, sob." Sahutku akhirnya dengan perasaan bersalah.


Drako tak bersuara lagi. Hanya memandangiku dengan dua matanya yang beriris tajam. Setelah aku memperhatikannya selama beberapa lama, sebuah ide mendatangiku. Mungkin aku bisa memberikan ponsel ke Rossa lewat Darko. Mungkin aku bisa mencuri selembar kertas dan pena untuk menulis keterangan akan ponsel Rimba, kata sandi untuk membuka kuncinya, letak berkas video, dan penjelasan kalau video tersebut tidak pernah ditunjukkan ke orang lain atau diduplikasi. Ya, mungkin itu bisa berhasil. Yang kubutuhkan adalah kertas dan pena, juga kerjasama dari Darko. Akan sesulit apa?


"Hei, sob!" Panggilku untuk mendapatkan perhatiannya yang sempat teralihkan karena ia menjilati bulu di kaki depannya.


"Meong!" Darko kembali fokus padaku.


"Aku mau kau untuk ambilkan kertas dan pena untukku!" Aku memberi instruksi. "Mengerti? Kertas dan pena!"


"Meong!" Darko bersuara dengan nada panjang sebelum berbalik dan berlari mendekati rumah. Lalu ia melompat masuk dari salah satu jendela yang terbuka.


Tak kukira akan semudah ini. Tapi memang tidak mungkin semudah ini. Karena beberapa saat kemudian, Darko melompat keluar dari jendela yang sama dan berlari mendekatiku. Tapi yang dibawa bukanlah kertas dan pena.


"Meong!" Darko meletakkan seekor ikan goreng di depanku.


"Aku tersentuh karena kau peduli padaku dengan memberi makanan, sob." Ucapku sambil menunjuk ikan goreng. "Tapi bukan ini yang kuminta."


Darko menatapku beberapa lama sebelum mengeong dan mulai memakan ikan yang dibawanya. Bagaimana aku bisa lupa kalau Darko hanyalah seekor Kucing bukannya Simpanse yang kecerdasannya mendekati manusia?


Aku menunggu dengan sabar sampai Darko menghabiskan ikan gorengnya. Setelah itu dia mengeong lagi kepadaku dan masuk ke rumah melalui jendela. Darko tak pernah keluar lagi. Sepertinya rencanaku gagal.


Aku mungkin tak bisa membuat Darko untuk mengantarkan ponsel ke Rossa. Tapi aku masih punya harapan akan ideku untuk memberikan ponsel beserta keterangan yang akan kutulis. Jadi kuhabiskan waktuku untuk melatih tulisan tanganku dengan pena di buku yang keduanya kupinjam dari rumah tetangga Rossa. Jangan menuduhku mencuri! Aku memang izin meminjam kedua barang itu ke mereka. Bukan salahku kalau mereka tak bisa melihat dan mendengarku.


Aku terus berlatih di berlembar-lembar kertas sampai tinta di pena yang memang tinggal sedikit ini habis dan tak bisa digunakan lagi. Setelah semua usahaku itu, hasil tulisan tanganku bisa dibilang "luar biasa". Luar biasa sekali aku tidak bisa melakukannya dengan benar meskipun aku mengenali huruf abjad. Tulisan tanganku malah menyerupai barisan semut hitam yang penuh penderitaan.


Menulis ternyata tak semudah yang terlihat. Setidaknya bagi Jin sepertiku. Di satu titik aku terlalu berkonsentrasi sampai pena memerah dan aku malah bisa mengetahui apa saja yang dialami pena ini. Selama beberapa hari pena ini sudah menulis banyak hal mulai dari rumus fisika yang membingungkan, karikatur aneh seorang pria yang di kepalanya menancap penggaris kayu yang sepertinya menggambarkan guru yang mengesalkan, dan tulisan-tulisan kurang cerdas di dinding toilet sekolah. Hal-hal yang kulihat itu malah menghancurkan konsentrasiku.


Aku bisa berlari mengimbangi kecepatan motor sport rancangan manusia, aku bisa menembus bangunan buatan manusia, aku bisa menyembunyikan benda-benda dari penglihatan manusia, dan aku bahkan bisa melihat kepingan memori manusia. Kemampuanku jelas melampaui manusia. Tapi aku malah tak bisa menulis dengan benar. Bagaimana bisa aku gagal melakukan hal sederhana yang dapat dengan mudah dilakukan manusia? Ini menyebalkan! Dan rencanaku gagal total!


--


Sore.


Di sisa hari aku mengikuti Rossa mengantar paket dari satu tempat ke tempat lain. Saat melihatnya melakukan itu, aku sempat kepikiran untuk mengirimkan ponsel Rimba ke alamat Rossa lewat pos. Tapi aku tak yakin pihak pos akan mengantarkan paket dari Jin. Jadi rencana itu kuabaikan. Aku terus mengikuti Rossa sampai ia berhenti di tempat yang familiar di daerah Barat. Si Permata Hitam berhenti di Masjid Al-Alim untuk melaksanakan Shalat Ashar. Sementara aku menunggu di halaman Masjid.


"Lama gak ketemu." Sapa Adam Si Marbot Masjid. "Kemana saja?" Tanyanya kemudian.


"Balapan." Jawabku singkat.


"Oke." Adam mengangguk. Lalu ia menunjuk tangan kananku dan bertanya, "Itu milik siapa?"


Aku melihat apa yang ditunjuknya dan balik bertanya, "Kau bisa lihat ini?"


"Ya." Sahut Adam dengan ekspresi bingung. "Tapi kenapa warnanya merah cerah begitu?"

__ADS_1


Tentu saja! Itu masuk akal. Jika Adam bisa melihatku, dia juga pasti bisa melihat barang-barang yang kusembunyikan dari pandangan manusia lain. Dalam kasus ini, ponselnya Rimba.


"Gak masalah kalau kau gak mau cerita." Kata Adam.


Lagi-lagi Ia menggunakan semacam psikologi terbalik untuk membuatku mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya. Dan aku memang memberitahunya. Aku menceritakan segalanya tentang Rimba, Rossa, Permata Hitam, Balap liar, dan Video di ponsel Rimba. Aku menjelaskan padanya situasi Rossa yang terlibat perjanjian dengan Rimba karena ingin membantu temannya yang merupakan mantan pacar Bos Kawanan Selatan Geng Dua roda itu.


"Jadi kau gak tahu caranya memberi itu ke Rossa?" Tanya Adam sambil menunjuk ponsel.


"Cara yang benar tanpa membingungkan atau membuatnya takut." Aku mengkoreksi.


"Aku bisa berikan ke dia kalau kau mau." Adam mengusulkan.


"Maksudmu?"


"Kuberikan ke Rossa sambil beritahukan kalau berkas video itu hanya ada satu dan gak pernah dilihat orang lain."


"Kalau Rossa tanya darimana kau dapatkan ini, apa jawabanmu?"


"Aku dapat dari kenalan yang menyusup ke pesta tadi malam yang identitasnya mau tetap dirahasiakan."


"Menurutmu nanti dia percaya?"


"Gak tahu kalau gak dicoba."


Aku menimbang usul yang diberikan Adam. Sepertinya itu akan berhasil. Tapi aku perlu memastikan sesuatu. "Kenapa kau mau melakukan itu?"


"Aku hanya mau membantu. Sama sepertimu." Jawab Adam cepat sambil tersenyum.


Aku memperhatikannya lekat-lekat. "Dan..."


"Oke. Aku mengakui." Kata Adam yang senyumnya langsung menghilang. "Sebenarnya aku juga mau minta bantuan Rossa hari ini."


"Bantuan apa?" Tanyaku yang tak sempat dijawab Adam karena ia segera berlalu begitu melihat Rossa keluar dari Masjid.


Aku mendekati Adam yang mengobrol dengan Rossa dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ya. Tinggal lima lagi." Sahut Rossa.


"Ini semua di antar ke sekitar sini?" Tanya Adam.


"Ya." Rossa mengangguk. "Daerah Barat."


"Bisa aku minta tolong?"


"Soal apa?"


"Jadi biasanya waktu Ramadhan ada warga di sini, Pak haji, rumahnya lima rumah di belakang sana." Ucap Adam sambil menunjuk ke arah belakang Masjid. "Biasanya Pak haji membagikan nasi kotak dan amplop untuk anak yatim. Biasanya aku dan temanku yang antar ke rumah-rumah pakai motornya. Tapi temanku lagi pulang kampung karena ada urusan keluarga." Adam menjelaskan. "Biasanya Pak haji bagikannya mendekati akhir Ramadhan. Tapi tadi beliau bilang ada rezeki lebihnya sekarang. Jadi aku mau minta tolong kamu untuk antarkan nasi kotak sama amplopnya sekalian kamu antar paket. Nanti kuberi uang untuk isi bensin. Itu juga kalau kamu mau."


"Kenapa gak minta tolong ke warga atau pengurus Masjid yang lain?" Tanya Rossa.


"Ada yang masih sibuk kerja, ada juga yang motornya rusak." Jawab Adam.


Mungkin jawaban itu terdengar mengada-ada dan dipaksakan. Tapi Adam memang berkata jujur. Aku bisa jamin itu. Karena kalau dia berbohong, akan ada aura hitam yang menguar dari tubuhnya.


"Kapan antarnya?" Tanya Rossa lagi.


"Kalau kamu memang mau, aku bisa ke rumah Pak haji dan bilang mau diantar sekarang." Ujar Adam. "Pasti nasinya sudah disiapkan."


"Ada berapa kotak?"


"Sekitar tiga puluhan."


"Kalau begitu aku antarkan dulu sisa paket ini, baru nanti balik lagi kemari."


"Kamu mau?"

__ADS_1


"Ya. Tapi aku antarkan sisa paket ini dulu."


"Oke, oke. Aku tunggu disini."


Setelah bersepakat dengan Adam, Rossa mengendarai motornya meninggalkan Masjid Al-Alim untuk melanjutkan mengantar sisa paket yang dibawanya.


"Apa-apaan itu?" Tanyaku ke Adam yang tersenyum bahagia.


"Apa?" Tanyanya.


"Kau bertingkah aneh kalau di dekat Rossa." Ujarku.


"Apa maksudmu?" Tanya Adam dengan alis bertaut. "Aku bersikap normal."


"Ya, ya. Terserahlah." Ucapku yang tak ingin berdebat.


"Kau yang bertingkah aneh, kawan." Balas Adam. "Jadi gimana rencana untuk berikan itu ke Rossa." Tanyanya kemudian sambil menunjuk ponsel yang kupegang.


Aku memikirkannya lagi. Rossa sepertinya mempercayai Adam. Dan Adam sepertinya memang benar bisa dipercaya. "Ini!" Kataku akhirnya sambil menyerahkan ponsel Rimba padanya. Begitu ponsel itu ada di tangannya, warna merahnya memudar.


"Kusimpan dulu." Ucapnya sambil memasukkan ponsel ke saku celana jeans-nya. "Terimakasih!"


"Untuk apa?"


"Karena kau mempercayaiku."


Aku mendesah dan berkata, "Aku gak punya pilihan, kan?"


Adam hanya mengangguk-angguk. Lalu setelah terdiam sejenak, Ia berkata, "Aku sudah tanya ke Rian. Dia bilang orang yang kau maksud itu Ketua Geng Dua roda."


"Ya, aku sudah tahu." Balasku santai.


"Apa?" Pekiknya.


"Ceritanya panjang." Ucapku. "Dan aku benar-benar gak mau cerita." Sambungku.


"Oke, aku paham."


"Apa Rian tahu dimana aku bisa temui Ketua Geng Dua roda ini?"


"Dia gak tahu." Jawab Adam sambil menggeleng. "Rian bilang Si Ketua pindah ke kota lain gak lama setelah mengundurkan diri."


Berarti jalan buntu bagiku. Setelah apa yang terjadi malam tadi, aku sudah bisa menebak kalau kepingan memori yang selama ini kulihat seolah kujalani sendiri adalah ingatan dari manusia yang menjadi Ketua Geng Dua roda. Tapi aku masih tidak tahu bagaimana bisa aku mendapatkan ingatannya. Mungkin jika aku bertemu dengan manusia ini, aku bisa mengingatnya bersama dengan ingatan lamaku yang hilang.


--


Seperti apa yang dikatakannya, Rossa kembali lagi ke Masjid Al-Alim setelah mengantarkan sisa paketnya. Dan disaat ketiadaannya, Adam sudah mengambil nasi kotak dan amplop dari rumah Pak haji yang akan dibagikan ke rumah anak-anak yatim. Tapi Rossa memperjelas kesepakatannya dengan Adam sebelum berangkat.


"Aku mau antarkan semua makanan ini." Rossa memulai. "Tapi aku gak akan terima uang bensin karena ini untuk anak yatim." Ia melanjutkan. "Dan kau ikut juga denganku."


"Kamu mau aku ikut?" Tanya Adam yang memegang kertas berisi catatan alamat rumah yang akan dituju.


"Karena biasanya kau yang antar. Rasanya kurang pantas kalau aku sendiri yang antar." Ucap Rossa memberikan alasan yang masuk akal.


"Ya, ya. Kalau itu maumu." Kata Adam.


Lalu Adam membantu Rossa mengangkat tas besar wadah paket dari motor dan menyimpannya di tempat tinggalnya.


"Ayo naik!" Ajak Rossa yang sudah duduk di atas motor.


"Kukira kamu mau aku yang bawa motor." Pikir Adam.


"Aku gak mau kau yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa nanti." Kata Rossa.


Adam pun mengangguk dan tak mendebatnya lagi. Ia duduk di belakang Rossa sambil memangku bungkusan nasi kotak. Sementara bungkusan lainnya digantungkan di gantungan yang ada di motor.

__ADS_1


Mereka berdua sudah siap, bahkan Adam juga memakai helm, yang katanya milik Rian yang dipinjamkan padanya. Setelah memastikan sekali lagi tak ada yang tertinggal, Rossa pun melajukan motornya pergi untuk membawa paket kemanusiaan yang akan diantarkannya. Dan aku berlari mengikutinya dan Adam.


__ADS_2