Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 12 - Sejarah Kekerasan


__ADS_3

...Sejarah Kekerasan...


7 Ramadan. Malam.


"Jadi begitulah... Kalau kau tanya bagaimana aku bisa membajak tubuhnya, jawabanku... Gak tahu."


Aku duduk bersama Adam, Marbot Masjid Al-Alim, di tempat tinggalnya. Baru saja selesai menceritakan tentang pengalaman anehku saat merasuki tubuh Rian yang tengah dihajar oleh tiga Pemuda yang mendendam karena ia dulunya anggota Geng Dua roda.


"Jadi kau ke tempat Rian karena merasakan aura hitam dari sini?" Tanya Adam. "Aura hitam?"


"Itu semacam manifestasi energi yang muncul dari emosi negatif manusia." Terangku.


"Begitu, ya.." Adam mengangguk-angguk. "Yang kau katakan juga sesuai dengan cerita Rian dan situasi tadi."


Aku tak tahu apa yang ada dalam otak kecil manusia. Tapi aku yakin sekali tak setiap hari manusia bisa berinteraksi dengan Jin Gelap yang baru saja membajak tubuh manusia lain dan mengerjai tiga manusia lainnya sampai ketakutan. Meski begitu, Adam bereaksi dengan tenang sekali. Seolah ini merupakan hal yang normal baginya. Tak perlu jadi manusia untuk tahu ini tak normal sama sekali.


Tak banyak manusia yang bisa berinteraksi dengan Jin secara dua arah. Selama setengah bulan ini aku baru bertemu tiga manusia. Sejauh ini ketiganya memberi kesan yang sama sekali berbeda satu dengan lainnya. Pertama adalah Pemuda yang kedua matanya berpendar biru. Di pertemuan satu-satunya dengannya, Pemuda bermata biru itu menghajarku dan teman-teman sesama Jin dengan api biru ajaibnya hingga kami kabur dengan gilang-gemilang.


Kedua Joko, Pak tua tunanetra yang dapat merasakan kehadiranku. Meskipun ia sudah cukup tua untuk ukuran usia manusia, tapi jangan tertipu dengan penampilan luarnya. Joko adalah manusia tangguh dengan pemikiran tajam dan sindiran yang lebih tajam lagi. Tapi aku selalu menganggap ia temanku. Terkadang memang membuatku kesal. Tapi memang begitulah teman, kan?


Dan yang ketiga adalah Adam. Laki-laki berusia awal dua puluhan. Ia selalu mengabaikanku selama tiga hari terakhir sebelum kesabarannya habis. Menurutku Adam jenis manusia yang langka. Ia selalu rajin dan memperhatikan kerapian juga kebersihan, sepertinya itu syarat untuk masuk kualifikasi sebagai Pengurus Masjid. Tapi memang begitulah sifatnya, bisa terlihat dari ruangannya, juga cara berpakaiannya dan penampilannya. Rambut yang ditata rapi, begitu juga dengan kumis dan janggut tipisnya. Meski begitu ia bukanlah tipe yang kaku dalam bergaul. Adam berinteraksi dengan banyak manusia dengan santai dan ramah. Dan ia juga bersifat tenang seperti saat ini.


"Rian gak bisa melihatmu." Adam memulai. "Jadi aku mewakilinya untuk berterimakasih karena kau menolongnya tadi. Dua kali malah." Lanjutnya.


"Ya. Itu gak masalah bagiku." Balasku. "Aku hanya gak suka kalau mereka main keroyokan. Lagipula aku terpaksa. Aku terjebak di tubuhnya." Aku mengakui.


"Tetap saja kau membantunya." Ujar Adam. "Lukanya lumayan banyak. Bakal tambah buruk kalau kau gak bantu dia."


Aku tak membantah itu. Tapi aku memang penasaran dengan masa lalu Rian. Karena meskipun aku sempat merasuki ke tubuhnya. Tapi tak ada sama sekali kepingan memorinya yang kulihat. Jadi kutanyakan saja ke Adam.


"Itu... Agak rumit." Kata Adam.


"Aku makhluk yang cuma bisa dilihat sedikit manusia yang baru saja merasuki manusia yang gak bisa melihatku dan melawan tiga manusia lainnya yang juga gak bisa melihatku." Ujarku. "Aku selalu hidup dalam kerumitan!"

__ADS_1


"Ya, kau benar." Putus Adam setelah diam sejenak. "Kau tahu Bengkel motor merangkap Tambal ban yang ada di Ruko yang ada disana?" Tanyanya dengan tangan yang menunjuk ke arah Timur, berlawanan dengan Kebun sawit tempat Rian dikeroyok.


"Ruko dua pintu sebelahnya kosong itu?" Aku balik bertanya untuk mengkonfirmasi.


"Ya, yang itu." Jawab Adam. "Rian tinggal disana bersama Abangnya. Mereka datang dari kampung sekitar tiga tahun lalu." Ungkapnya sebelum melanjutkan. "Sekitar dua setengah tahun lalu Rian gabung dengan Geng Dua roda. Sekitar dua tahun lalu anggota Dua roda makin tambah banyak. Yang dulunya cuma di daerah Utara, jadi ada di mana-mana. Sampai sini paham?"


"Ya, ya. Lanjutkan!" Ucapku tak sabar.


Dan Adam mulai bercerita lagi. "Saking banyaknya anggota, jadi lebih sulit diatur. Jadi Ketua mereka, salah satu Pendiri Geng Dua roda, dia memecah anggotanya jadi beberapa kelompok yang punya pemimpin sendiri-sendiri. Kalau gak salah Rian menyebutnya Divisi. Rian... Dia Pemimpin Divisi Barat."


"Laki-laki tadi mantan Pemimpin Geng paling brutal di kota ini?" Tanyaku tak percaya. "Dia dihajar habis-habisan tiga cecunguk tadi sebelum aku datang."


"Itu bukan pertarungan yang adil." Ucap Adam. "Dan Dua roda gak selalu brutal."


"Apa maksudmu? Dulunya mereka Geng pecinta kedamaian yang mengajarkan kebaikan di jalanan?"


"Bukan. Tapi mereka hanya bentrok dengan Geng atau Kelompok lain yang lebih negatif."


"Lebih negatif?"


"Mafia Putih?" Ulangku. "Mereka gak bisa pilih nama yang lebih keren lagi?" Tanyaku, yang dijawab gelengan kepala Adam. "Lagipula dari semua warna, kenapa Putih? Apa itu warna kebesaran mereka? Mereka berkeliaran sambil mengenakan pakaian serba putih?"


"Bukan bawahnya." Kata Adam ragu-ragu. "Tapi kabarnya warna putih adalah warna favorit pemimpin mereka. Dan tindakan mereka berkebalikan dengan apapun yang menyimbolkan warna putih."


"Manusia dengan sifat nyentrik mereka." Komentarku. "Kalian memang menyedihkan.."


"Kau masih mau dengar lanjutannya?"


"Ya, ya. Lanjutkan!"


"Mafia Putih generasi pertama beroperasi di kota tetangga. Setelah dibubarkan barulah beberapa anggota mereka migrasi ke kota ini."


"Tunggu dulu, dibubarkan?"

__ADS_1


"Itu cerita yang lain. Gak ada hubungannya dengan Geng Dua roda."


"Oke... Aku paham." Ucapku memproses semua yang baru kudengar. "Jadi sisa-sisa anggota mereka membentuk kelompok Mafia baru di kota ini. Mafia Putih generasi kedua ini yang melawan Geng Dua roda?"


"Setelah Mafia Putih mengkonfrontasi mereka lebih dulu." Kata Adam. "Setelah perang itu sekali lagi Mafia Putih dibubarkan karena dikalahkan dan kebetulan Pemimpin baru mereka ditangkap polisi karena suatu kasus. Tapi setelahnya... Ketua Geng Dua roda mengumpulkan Pemimpin Divisi dan mendeklarasikan pengunduran diri."


"Pengunduran diri? Tapi dia Ketua mereka, kan? Siapa penggantinya?"


"Gak ada." Jawab Adam sambil menggeleng. "Rian bilang Pemimpin Divisi yang lain gak menerima keputusan Ketua mereka. Jadi mereka bergerak sendiri-sendiri. Tetap membawa nama Geng Dua roda. Anggota mulai terpecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Dan yang terburuk, nama Dua roda semakin terkenal sampai memunculkan geng-geng palsu yang menggunakan nama dan simbol mereka untuk merusuh. Tapi Rian memutuskan untuk mengikuti jejak Ketua mereka. Karena dia memahami apa alasannya."


"Apa alasannya?" Tanyaku memburu.


Adam menatapku dengan serius saat mengatakan, "Salah satu dari mereka menjadi korban. Luka parah di kepala. Korban dibawa ke Rumah Sakit Ambrosia dan..."


Aku tak mendengarkan sisa ceritanya, karena aku terbawa ke tempat dan masa yang berbeda. Aku berdiri di satu sisi jalanan aspal dua arah. Di sebrang jalan, Rumah besar dengan pagar yang mengelilinginya berdiri menghadapku. Di luar pagar rumah, ada banyak sekali manusia. Laki-laki dengan rentang usia dua sampai tiga puluhan tahun memandang penuh amarah ke arahku. Tapi aku tak sendirian. Disekelilingku, aku disertai banyak manusia. Laki-laki muda dengan pakaian bersimbol Geng Dua roda.


Saat salah satu dari kami mulai berteriak untuk maju menyerang, secara serempak kami semua berlari menerjang musuh. Bentrokan terjadi, sebagian berkelahi di lapangan kosong di belakang kami yang memiliki papan tanda dijual, sebagiannya lagi saling menyerang di jalanan aspal depan rumah, termasuk aku. Lawan pertamaku adalah laki-laki yang usianya sekitar pertengahan dua puluhan dengan rambut tipis nyaris plontos. Ia lawan yang cukup tangguh. Kami bertukar pukulan dan tendangan sampai pukulan kanannya menghantam perutku. Aku dengan cepat langsing membalas dengan juga memukul perutnya. Lalu merah punggungnya, mendorongnya untuk menunduk, dan menghantamkan serangan dengkul ke perutnya. Kemudian mendorongnya yang masih tertunduk.


Selagi lawanku berdiri sempoyongan, aku menubruk dan menjatuhkannya. Ia yang tergeletak membalas dengan menendang perutku. Tapi aku bisa menahan rasa sakitnya dan maju sambil menjejakkan kakiku ke wajahnya. Lalu aku berjongkok di atasnya dan meninju wajahnya. Dilanjut dengan mengangkat kepalanya dan kubenturkan ke aspal di bawahnya. Aku langsung meninju wajahnya beberapa kali.


Seseorang mencekikku dengan lengannya dari belakang dan menyeretku menjauh dari lawanku yang masih tergeletak. Sedetik kemudian, cekikan lengan terlepas dari leherku. Saat aku berbalik, aku melihat Pemuda berwajah tirus dengan hidung mirip paruh burung sedang menyerang orang yang tadi mencekikku. Kantung matanya memang tak semengerikan saat aku menemuinya, tapi yang membantuku jelas sekali Rian yang mengenakan kaus berlogo Geng Dua roda di dalam jaketnya.


Lawan kami memang kebanyakan lebih dewasa, tapi kami menang jumlah, dan kami memanfaatkannya. Kami bekerjasama melawan musuh. Saling membantu dan melindungi yang lain. Tapi gelombang kedua anggota lawan yang baru keluar dari gerbang rumah berencana untuk membalik keadaan dengan membawa kayu balok sebagai senjata untuk menyerang kami.


Ketika aku melihat salah satu dari anggota Geng Dua roda yang mengenakan ikat kepala bermotif batik dengan sebelah kakinya yang pincang sedang melawan salah satu dari musuh yang membawa kayu, aku langsung berlari untuk membantunya. Aku menerjang dan menendang laki-laki pembawa kayu. Langsung melanjutkan dengan meninjunya beberapa kali. Saat lawan membalas dengan dengan melayangkan kayu baloknya, aku berhasil menghindar dengan menunduk dan langsung meninju perutnya. Ia mundur untuk menjaga jarak dan menyerang lagi dengan kayunya. Kali ini aku menahan lengannya dan sebelah tanganku meraih kayu untuk merebutnya. Lalu Pemuda dengan ikat kepala tadi muncul dari sampingku, menendang lawan dua kali hingga termundur dan genggaman di kayunya melemah hingga memudahkanku merebutnya. Pemuda itu lanjut menghajar lawan hingga terjatuh di aspal.


Selagi memegang kayu balok di tanganku, aku menoleh ke sekeliling. Meskipun beberapa dari musuh menggunakan kayu, tapi sepertinya anggota Geng Dua roda yang lain bisa mengatasinya. Saat itulah aku melihat Pemuda berambut ikal lebat yang kepalanya dihantam kayu balok beberapa kali hingga ia jatuh di aspal dengan kepala berdarah. Aku mengenalnya! Dialah yang selama ini kulihat, inilah penyebab kejadiannya!


"Man! Man!" Suara Adam mengembalikanku. "Kau gak apa-apa? Matamu berkedip-kedip."


Aku melihat sekelilingku dan menyadari aku ada di tempat tinggal Adam di Masjid Al-Alim. Tapi aku harus keluar dari sini.


Aku berlari menembus tembok. Terus berlari menjauh dari Masjid Al-Alim. Aku tak tahu bagaimana tepatnya, tapi aku berhasil sampai disini. Di jalanan aspal yang berdiri Rumah besar berpagar di satu sebrangnya. Di sebrang yang lainnya bukanlah lapangan kosong dengan papan tanda dijual, melainkan Ruko empat pintu yang baru setengah dibangun. Tapi aku yakin ini tempatnya. Tempat Geng Dua roda bentrok dengan Mafia Putih. Malam ini tak banyak kendaraan yang lalu-lalang di jalanan aspal. Dan Rumah besar yang lampunya tak menyala sepertinya lama kosong. Membuat tempat ini terkesan sepi di bawah langit malam.

__ADS_1


Aku berjongkok di aspal di tempat dulunya Pemuda anggota Geng Dua roda tergeletak tak berdaya. Telapak tanganku yang kini tak tertutup perban kutempelkan ke aspal dengan konsentrasi agar tanganku tak menembusnya. Seketika suasana di sekitarku seperti ramai kembali. Aku bisa mendengar banyak manusia yang berteriak penuh amarah saat saling menyerang. Aku seperti pernah ada disini saat bentrokan itu berlangsung.


Aku adalah Jin Gelap yang kehilangan ingatan yang terjebak sendirian di Bumi saat Ramadhan. Dan belakangan ini aku mengetahui kalau aku bisa menarik kepingan memori manusia. Jadi ada kemungkinan apa yang kulihat selama ini adalah ingatan dari manusia anggota Geng Dua roda. Tapi bentrokan itu terasa sangat nyata. Jika aku memang ada disini saat itu terjadi. Mungkinkah bentrokan ini, aku yang memulainya? Mungkinkah tragedi yang menimpa anggota Geng Dua roda adalah salahku?


__ADS_2