Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 2 - Manusia Bermata Biru


__ADS_3

...Manusia Bermata Biru...


28 Syaban. Malam.


Setelah mengadu dua manusia di Warung Bakso Mama. Aku mengikuti kedua mentor Jin-ku; Ra-ul dan Ri-val menghasut para manusia di tempat lainnya. Mulai dari rumah, toko, lapangan, sampai ke jalanan. Tapi saat kami akan memasuki taman kota, satu Jin Terang menghadang kami.


"Kalian tak bisa masuk ke taman ini!" Ucap Jin dengan nyala mata berwarna merah keemasan. "Aku melindungi tempat ini malam ini!" Sambung Jin setinggi dua meter itu. Bagian yang mencolok darinya adalah api yang muncul disekitar bahu dan punuknya yang berkobar ke atas kepalanya membentuk tudung.


"Kalau kami memaksa, kau mau melawan kami bertiga?" Tanya Ri-val dengan nada pongah.


Jin tudung itu menjawab dengan tenang, "Aku tak takut karena aku berada di jalan kebenaran."


Ri-val bertambah kesal, terlihat dari api mohawknya yang membesar. Dia bisa saja langsung menyerang Jin dihadapannya. Tapi Ra-ul mencoba untuk menenangkannya dengan mengatakan, "Di taman itu banyak yang datang dengan pasangannya. Beberapa laki-laki akan mudah tergoda oleh perempuan lain yang dipandangnya lebih dari pasangannya. Mereka juga mudah untuk cemburu saat laki-laki lain mencuri-curi pandang ke pasangannya. Banyak sekali target disana. Tapi waktu kita di bumi ini semakin menipis. Kita gak perlu membuang energi kita. Besok ada pertempuran."


"Ya, sangat disayangkan." Seperti kejadian lain di beberapa hari ini, Ri-val mendengarkan pendapat Ra-ul dan mulai mengecilkan apinya. "Aku hanya punya satu pertanyaan." Kata Ri-val ke Jin bertudung. "Pertempuran besok, apa kau akan datang?"


"Jika saudara-saudaraku membutuhkanku... Aku pasti datang!" Jawab Jin bertudung.


"Kita bertemu disana, kalau begitu." Ucap Ri-val. Lalu dengan suara tajam dia melanjutkan, "Akan ku hajar kau sampai matamu menggelap!" Dia berbalik ke kami, "Ayo, saudara-saudaraku! Kita kacaukan manusia lainnya!"


Aku mengikuti Ra-ul dan Ri-val pergi menuju ke tempat lain. Mereka berdua pernah memberitahuku; jangan bertarung dengan Jin lainnya jika masih ada pilihan lain. Karena melawan sesama Jin membutuhkan energi dan kekuatan yang besar. Selama beberapa hari ini juga aku belum pernah melihat mereka melawan sesama Jin. Tapi pertempuran yang akan terjadi besok... Mereka memintaku untuk ikut ke pertempuran besar itu. Perang terakhir sebelum bulan Ramadhan. Karena selama bulan kesembilan di kalender Hijriyah itu, Bangsa Jin akan menghilang dari Bumi selama sebulan penuh.


--


Manusia memang kacau. Mereka makhluk yang terlalu gampang marah. Bahkan hal-hal terkecil dapat membuat mereka marah besar. Contohnya? Gagal menang undian lotre, ditolak lawan jenis, diledek, kalah main game online di smartphone mereka, dan yang terburuk... Kesal gila-gilaan karena sinyal lemah. Hampir segala hal bisa memicu amarah manusia. Dan mereka akan mulai mengalihkan amarah itu ke manusia lainnya. Dan perkelahian terjadi. Selama beberapa hari ini selalu begitu. Sekarang pun sama.


Kami sedang menonton apa yang manusia sebut "Balap liar". Bukan... Ini bukan balapan dengan menunggangi macan atau badak di tengah hutan. Tapi mereka mengendarai motor yang kebanyakan sudah dimodifikasi sedemikian rupa, biasanya dilakukan di malam hari di jalan-jalan sepi. Jadi, kenapa disebut Balap liar? Karena mereka balapan di luar arena resmi, di jalanan umum, dan biasanya dengan motor tanpa surat-surat kendaraan, dan kebanyakan dari mereka bahkan tidak memiliki surat izin mengemudi. Jadi, kenapa tak disebut "Balap motor ilegal" saja? Karena Liar terdengar lebih keren. Pembalap Liar atau Pembalap Ilegal? Kita tahu pemenangnya disini.


Kali ini mereka mengadakan Balap liar di jalan aspal dua jalur yang memotong perkebunan kelapa sawit. Sepanjang jalan yang entah berapa kilometer jauhnya ini ditumbuhi pohon kelapa sawit yang menjulang hampir 8 meter tingginya di kanan-kiri jalan. Pencahayaan hanya berasal dari lampu jalan yang berjajar dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain, dan percaya atau tidak beberapa bahkan tidak menyala. Jadi jalanan ini termasuk dalam kategori gelap.


Tapi ada banyak sekali manusia yang berkumpul malam ini. Karena Balap liar selalu mengikut sertakan pertaruhan. Bukan hanya antar sesama pembalap, tapi manusia-manusia yang menonton dan bertaruh ke salah satu pembalap. Mereka biasanya datang berkelompok dengan satu orang setidaknya dari mereka yang ikut balapan. Dan kelompok yang paling dikenali saat ini adalah mereka yang mengenakan jaket atau kaus dengan logo dua roda dengan lingkar berjari-jari lima yang dihubungkan dengan tulisan "DUA RODA" yang memanjang dari tengah satu roda ke roda lainnya. Ada setidaknya sepuluh orang yang pakaiannya terpampang logo itu, logo dari geng motor paling besar di kota, Geng Dua roda.


Apa itu Geng Dua roda? Menurut Ra-ul dan Ri-val mereka adalah sekelompok manusia pecinta motor yang mulai terbentuk sekitar 3-4 tahun lalu. Awalnya mereka hanya kelompok kecil, tapi karena mereka menerima segala jenis motor beroda dua—motor matic, motor bebek, motor besar, bahkan skuter—untuk bergabung dengan mereka, mereka bertambah banyak dengan cepat. Dan mereka menjadi terkenal karena terlibat kerusuhan dengan geng lain dan menang. Beberapa tahun berlalu, nama mereka semakin terkenal dan mulai banyak manusia-manusia lain yang mengadopsi nama dan logo Geng Dua roda. Geng-geng palsu itu terus bemunculan memenuhi kota dan membuat kerusuhan dimana-mana. Karena itu siapapun yang mengenakan logo Geng Dua roda menjadi target favorit Ra-ul dan Ri-val beberapa tahun terakhir. Bisa dibilang mereka berdua terlibat di kerusuhan-kerusuhan terbesar Geng Dua roda dengan membisikkan hasutan-hasutan ala Jin ke telinga setiap anggota. Sama seperti saat ini.

__ADS_1


Pembalap dari Geng Dua roda kalah balapan. Dan aura hitam mulai muncul darinya. Itulah kesempatan para Jin untuk mulai menghasut mereka. Pembalap dari Geng Dua roda tidak menerima kekalahannya dan menuduh lawannya berbuat curang. Ri-val terus menerus berbisik di telinganya. Sedangkan Ra-ul membisiki teman-teman dari Pembalap Dua roda yang menolak untuk membayar uang taruhan. Ada tiga Jin Gelap lain yang membisiki Pembalap yang satunya dan petaruh yang lainnya. Seperti biasa, perdebatan semakin sengit, amarah meningkat, dan akhirnya bentrokan terjadi.


Tinju bertukar tinju, tendangan berganti tendangan, pekikan dan makian terdengar, dan darah pun ditumpahkan. Semua terjadi hanya karena uang. Disaat itulah para Jin Gelap tertawa. Mereka berhasil lagi.


Kami mengobrol dengan tiga Jin Gelap sebelum berpisah jalan.


"Ini yang dibicarakan Jin lain?" Tanya salah satu dari mereka yang mengeluarkan api dari kedua telinganya. "Benar kau gak bisa bicara?" Tanyanya padaku.


Aku menganggukkan kepala. Karena itu benar. Selain amnesia, suaraku juga tak bisa terdengar.


"Jin yang gak bisa bicara." Ucap Telinga api lagi. "Bagaimana caranya kau menghasut manusia?"


"Suaranya akan keluar. Hanya butuh waktu." Kata Ra-ul.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Tanya Telinga api lagi. "Jin yang gak bisa menghasut manusia... Kasus ini belum pernah terjadi."


"Pasti suaranya bisa terdengar nanti." Sahut Ri-val. "Jangan terlalu pikirkan itu. Malam terus berlanjut. Masih banyak manusia yang berkeliaran. Kami akan bergerak ke Timur."


"Kami ke Utara." Kata Telinga api. Dan sebelum berpisah, dia bertanya untuk terakhir kalinya. "Ah... Kalian akan datang besok?"


Lalu kami pun berpisah. Aku mengikuti Ra-ul dan Ri-val menghasut para manusia-manusia lainnya yang masih terjaga. Semuanya lancar sampai...


Tengah malam.


Kami menuju ke salah satu gang gelap karena merasakan aura dari Jin yang melemah dan satu aura yang lebih kuat, aura itu bukan milik Jin. Saat kami sampai, kami melihat seorang manusia yang mencengkram kepala dari Jin yang berlutut lemah dibawahnya. Manusia itu berbalik ke arah kami karena merasakan kehadiran kami. Saat ia berbalik, aku bisa melihat wajah mudanya. Ia mungkin masih Pelajar SMA atau Mahasiswa.


"Apa-apaan!?" Ucap Ri-val.


"Itu Sa-gan!" Kata Ra-ul mengenali Jin yang kepalanya tengah dicengkeram.


Aku juga mengenalinya dari api yang menyelimuti dari batas pergelangan tangan hingga ke jari-jarinya seperti sarung tangan api. Tak bisa kupercaya Jin Gelap itu kini berlutut tanpa daya di hadapan manusia. Ra-ul dan Ri-val memang bilang ada segelintir manusia yang bisa melihat dan berinteraksi dengan Jin, tapi yang bisa melawan Jin jumlahnya sangat sedikit. Dan kini salah satu dari yang sedikit itu ada di hadapanku, berdiri sejauh sepuluh meter, melihat langsung ke arahku dengan kedua mata yang menyala biru.


"Kurang ajar!" Maki Ri-val. "Lepaskan Sa-gan dasar kau manusia tengik!"

__ADS_1


"Ha..? Jangan teriak dari sana, kalau berani kemari!" Tantang Pemuda bermata biru.


Ri-val tak menunggu detik berikutnya, dia langsung berlari dengan kecepatan macan menuju ke Pemuda bermata biru. Pemuda itu merespon dengan menaikkan tangan kanannya yang bebas dengan tinju terkepal hingga lurus ke arah Ri-val yang sudah sejarak dua meter darinya, dan kemudian saat ia membuka kepalannya, bola api biru sebesar bola sepak muncul menerjang Ri-val hingga terpental sejauh tiga meter ke belakang dan jatuh telentang.


Aku benar-benar terpaku karena kaget. Kebingungan akan bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Tapi Ra-ul tak sepertiku. Dia sudah melayang setinggi lima meter di udara dan meluncur ke bawah menuju Pemuda bermata biru dengan kedua kaki diluruskan untuk menyerang. Sayangnya Pemuda itu menghindar dengan melompat ke samping. Sa-gan terbebas dan langsung ambruk. Tapi Pemuda bermata biru dengan cepat maju dengan jari-jari tangan kanannya yang terentang tertuju ke Ra-ul. Saat telapak tangan Pemuda itu menyentuh perut Ra-ul yang karena perbedaan tinggi jadi sejajar dengan wajahnya, api biru menembus tubuh Ra-ul hingga membuatnya termundur beberapa langkah dan terjatuh berlutut. Pemuda bermata biru berjalan mendekati Ra-ul dengan tangan yang coba meraih kepalanya yang kini mendekati dada karena leher panjangnya yang melengkung. Tapi Ri-val tak membiarkan itu terjadi.


Ri-val bergerak dengan cepat dari belakang Pemuda bermata biru dan melayangkan tinju kanannya yang mengarah ke kepala belakang. Manusia lain tak akan bisa menyadari serangan secepat itu, tapi Pemuda itu berbeda. Ia bergeser sedikit dan menangkap tinju Ri-val di atas bahu kanannya dengan tangan kirinya. Detik selanjutnya Ri-val menjerit dan termundur ke belakang karena tangannya yang terbakar api biru. Tapi sekejap kemudian ia sudah maju lagi untuk menyerang. Begitu juga Ra-ul yang sudah bangkit dan bergerak maju. Namun sebelum serangan mereka kena, Pemuda bermata biru merentangkan kedua tangannya yang terkepal, kanan ke Ri-val dan kiri ke Ra-ul. Begitu kepalan terbuka, bola api biru seperti sebelumnya menerjang mereka berdua hingga terpental beberapa meter kebelakang. Ri-val menghantam pohon mangga di depan salah satu rumah, dan Ra-ul membentur tembok panjang di sisi yang lain. Kedua mentor Jin-ku telah dikalahkan oleh manusia.


Aku tak bisa diam saja. Jadi, aku berlari maju menyerang. Tapi Pemuda bermata biru menangkapku dengan mencekik leherku dengan tangan kirinya. Dari jarak sedekat ini barulah perbedaan tinggi kami menjadi jelas, dia hanya beberapa centimeter lebih pendek dariku. Dia tak langsung menyerangku dengan api biru ajaibnya, namun mengamatiku dengan mata birunya dan alis yang bertaut.


"Kau... Berbeda dari mereka..." Ucapnya. "Tahan dulu sebentar.." lanjutnya sambil mencengkram kepalaku dengan tangan kanannya. Jari-jarinya terentang di sebagian atas kepalaku dan telapak tangannya menutupi kedua mataku. Lalu...


"Dash!!"


Pemuda itu terpental beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan. Cahaya biru di matanya menghilang. Lalu dia menatapku dan berkata, "Geng Dua roda... Menarik..." Lalu...


"Brak!!"


Ri-val menghantam Pemuda itu dari belakang dengan batang mangga sebesar lengannya, lalu menghantamkan lagi ke perut si Pemuda hingga terjatuh berlutut sambil memegangi perutnya.


"Pakai senjata itu curang..." Desis Pemuda itu sambil mendongak, cahaya biru di matanya kembali.


"Pergi dari sini!" Teriak Ra-ul yang sudah memanggul Sa-gan di bahunya dan melayang menjauh.


"Raghh!!!" Pekik kesal Ri-val sebelum berlari. "Ayo Man!"


Aku pun ikut berlari mengikutinya. Saat aku berbalik ke belakang untuk memastikan Pemuda bermata biru itu tak mengikuti kami, aku mendengarnya berteriak, "Pengecut!"


Jin Gelap biasanya menghasut manusia untuk menyerang satu sama lain. Tapi kini 4 Jin Gelap kabur setelah dihajar 1 Manusia.


"Tadi gila!" Ucapku.


"Tadi itu suaramu?" Tanya Ri-val yang berlari selangkah di depanku.

__ADS_1


Eh? Suaraku? Suaraku terdengar!


__ADS_2