
...Kelemahan Jin...
29 Syaban. Siang.
"Ayo, Man! Fokus! Konsentrasi!"
Itu suara Ra-ul yang sedang menyemangati dalam latihan harianku.
"Sudahlah Ra... Ini tengah hari... Jangan buang-buang energi lagi..."
Yang bicara dengan nada lemah tanpa daya itu adalah Ri-val yang tengah berbaring di dahan pohon beringin tua. Sedangkan aku ada di bawah, bersandar di batang pohon besar ini. Sementara Ra-ul berdiri menjulang di depanku dengan leher panjang yang melengkung ke bawah dengan matanya yang menyala merah gelap memandangku tajam.
"Suaranya sudah keluar. Kita kini bisa mendengarnya." Ucap Ra-ul. "Dia harus belajar menguasai kemampuan yang lainnya. Jadi kita bisa memenangkan pertempuran malam ini."
"Aku mengerti... Aku mengerti..." Sahut Ri-val. "Tapi ini tengah hari... Kekuatan kita kurang maksimal saat siang hari..." Lalu api mohawknya semakin membara saat ia mengatakan, "Ditambah lagi kita baru dihajar mata biru kurang ajar itu!"
"Ya, itu memalukan bagi Bangsa Jin seperti kita." Ra-ul menggeleng-geleng. "Tak kusangka akan bertemu manusia sekuat Bandung Bondowoso lagi."
"Bonbon? Siapa itu?" Tanya Ri-val.
"Bandung Bondowoso!" Ulang Ra-ul. "Yang membangun seribu candi dalam satu malam dengan bantuan Bangsa Jin."
"Apa orang itu yang mencuri keris terkutuk itu?"
"Bukan. Itu Ken Arok. Bondowoso yang sempat menaklukkan banyak Jin dan memimpin mereka." Jelas Ra-ul.
"Heh... Aku lebih menyukai Ken Arok. Dia penghianat!" Ucap Ri-val dengan semangat. "Tahu apa bagian terbaiknya? Dia juga dihianati oleh anak orang yang pernah dihianatinya! Nah itu baru epic!"
"Penghianatan ganda itu merupakan hasil dari siasat jangka panjang dari Ka-ga." Ra-ul memberitahukan.
"Ka-ga? Jin Kaki Tiga si Pembisik koruptor itu?"
"Ya. Ka-ga spesialis penghianat politik sejak dulu. Dan Koruptor itu menghianati satu negara. Terburuk dari yang terburuk."
"Kenapa kau gak pernah cerita!?"
"Tentang Koruptor?"
"Siapa peduli dengan Koruptor! Tempat mereka ada di Neraka! Yang kumaksud tentang Ka-ga dan Ken Arok!'
"Kau gak pernah tanya."
Ini sering terjadi beberapa hari ini. Mereka akan mengenang masa-masa yang telah lampau dan aksi-aksi besar dalam sejarah umat manusia. Biasanya sejarah penuh kekerasan dimana Bangsa Jin terlibat didalamnya. Aku mencoba mengabaikan mereka kali ini dan berfokus ke latihanku.
Bangsa Jin tak terlihat oleh manusia. Hanya segelintir saja, seperti Pemuda bermata biru yang bisa melihat. Salah satu kemampuan bangsa Jin adalah menembus barang-barang dan bangunan buatan manusia seperti barang elektronik dan bangunan dari bata. Jin tak bisa menembus bukit atau tumbuhan alami, tapi bisa menembus bagian yang sudah terpisahkan. Jika Jin memfokuskan kekuatannya, mereka bisa menyentuh dan memegang benda-benda buatan manusia atau benda alami yang sudah terpisahkan dari sumbernya. Kadang itu berguna seperti saat Ri-val menggunakan batang pohon mangga untuk menyerang Pemuda bermata biru.
Kini aku sudah berhasil menggenggam botol plastik bekas minuman manusia. Aku sudah berhasil berkonsentrasi agar mampu melakukan itu sejak tiga hari yang lalu. Tapi aku masih belum bisa mencapai level selanjutnya. Membuat benda yang ku sentuh menghilang dari pandangan manusia. Itu salah satu kemampuan Jin. Aku berkonsentrasi penuh, kulihat area botol disekitar genggaman tanganku perlahan-lahan memerah. Menurut Ra-ul dan Ri-val jika memerah semua baru akan sepenuhnya tersembunyi dari pandangan manusia. Jadi, aku terus berkonsentrasi untuk memperbesar area merah pada botol dengan menyalurkan energiku.
__ADS_1
"Ayo Man! Ayo!" Ra-ul berteriak memberi semangat. Tapi aku terkejut karenanya dan konsentrasi ku buyar. Gagal sudah.
"Ah! Sayang sekali!" Ucap Ra-ul kecewa. "Konsentrasi mu itu masih lemah. Seperti manusia saja!"
Yah... Padahal karena dia konsentrasiku melemah. Tapi aku jadi kepikiran untuk mencoba kemampuan yang lain. Jadi, kutanya mereka, "Kita gak coba hasut manusia?"
"Ah... Aku tahu kau gak sabar untuk menguji kemampuan berbisikmu... Tapi jangan sekarang... Ini masih tengah hari..." Sahut Ri-val yang kembali ke mode lemah.
Jadi, aku menunggu disana bersama mereka. Kami bersantai di pohon beringin besar yang sudah cukup tua yang tumbuh subur di dalam bangunan yang sudah lama terbengkalai. Ini bukan tempat tinggal Ra-ul dan Ri-val. Melainkan tempat beberapa Jin Gelap lain. Tapi mereka sedang tak ada disini. Mereka berkeliaran sambil membisikkan para manusia. Ini hari terakhir Bangsa Jin bebas berkeliaran di Bumi. Jadi mereka memaksimalkan waktu dengan menciptakan kekacauan sebanyak-banyaknya, meski tanpa kemampuan penuh karena siang hari. Seperti yang sudah dibahas, Ra-ul dan Ri-val bersantai karena pertarungan melawan Pemuda bermata biru malam sebelumnya cukup melemahkan mereka. Jadi, kami tetap menunggu sampai...
Sore.
Selagi kami menunggu di tempat ini, ada manusia yang datang sambil membawa sesajen yang berisi makanan-makanan matang khas manusia yang diletakkan di bawah pohon beringin. Manusia itu berkomat-kamit dan seketika pancaran energi muncul yang langsung diserap Ra-ul dan Ri-val.
"Kau gak menyerap energi itu?" Tanya Ra-ul padaku.
Aku menggeleng. "Aku gak tahu caranya."
"Kami belum cerita?" Tanya Ra-ul lagi.
Belum sempat ku menjawab, Ri-val mengeluh, "Dasar manusia! Mereka pikir kita mau makanan ini!?" Ucapnya sambil mengangkat ayam goreng buatan manusia dari sesajen itu. "Kita makan yang mentah! Ayam goreng itu memuakkan! Gak lezat sama sekali!"
"Makanannya gak penting." Ucap Ra-ul. "Yang penting kepercayaan sesat mereka yang diarahkan ke kita akan memberikan kita kekuatan tambahan. Ini salah satu praktik yang paling tua untuk menyesatkan manusia."
"Ya! Ya! Terserahlah!" Sahut Ri-val acuh tak acuh. "Ayo, Man! Kita buat kekacauan diluar sana!"
--
Kami bertemu Sa-gan, Jin Gelap yang kami tolong malam sebelumnya. Si sarung tangan api itu sedang menuju tempat dua kelompok manusia yang sedang tawuran. Kami bertiga mengikuti di belakangnya.
Medan Tawuran adalah lapangan rumput di daerah pusat kota yang cukup luas untuk dijadikan lapangan sepakbola. Aku tak tahu alasannya, tapi sepertinya ini masalah besar. Karena ada puluhan manusia yang bentrok disana. Mereka meninju, menendang, menyundul, membanting, mencekik, menubruk, menampar, menjambak, menggigit, meludah, kencing di celana, menyatukan kedua tangan dengan sepasang jari telunjuk dan tengah yang teracung lalu menusukkannya ke bokong lawan, dan menendang tepat diantara kedua paha lawan. Tunggu... Aku tak yakin dua terakhir itu dibolehkan.
Tak ada atribut tertentu yang dapat membedakan siapa dari kubu siapa. Tapi sepertinya mereka tahu benar harus menyerang siapa. Dan bukan hanya puluhan manusia yang memenuhi lapangan itu, tapi puluhan Jin Gelap juga. Mereka mengikuti masing-masing manusia yang kebanyakan remaja dan membisikkan kiat-kiat jitu untuk mengalahkan lawan.
"Jitak kepalanya!"
"Cabut ubannya!"
"Gigit bokongnya!"
"Jejalkan upil ke mulutnya...!!!"
Tempat itu adalah bentuk kekacauan total. Dan karena itulah teman-teman sesama Jin-ku bersemangat.
"Ini waktunya pembalasan ke kaum mereka karena kita dihajar manusia kurang ajar tadi malam!" Geram Sa-gan.
"Sssttt...!" Ri-val mendesis saat membekap mulut Sa-gan. "Jangan bicarakan itu! Kau mau Jin Gelap yang lainnya dengar dan merusak reputasi kita?"
__ADS_1
Jin Sarung tangan api menggeleng.
"Bagus!" Ri-val melepasnya. "Saudaraku... Pilih target kalian, ini waktunya penghasutan!" Ri-val melesat ke kerumunan. "Bagus manusia! Terus tusuk lubang hidungnya sampai nangis!"
Ra-ul dan Sa-gan juga langsung memilih target mereka. Sedangkan aku masih mengamati. Aku melihat laki-laki bertubuh besar yang berdiri sejarak dua meter dari laki-laki yang lebih kecil. Mereka saling berhadapan dengan aura hitam yang terlihat jelas. Aku mendekati laki-laki besar dan menginstruksikan kepadanya untuk menyerang.
Targetku menyerang lawannya dengan melayangkan tinju kanannya. Tapi sayangnya lawannya bergerak lebih gesit dan menghindar dengan menunduk dan secara bersamaan menghantamkan tinju kanannya tepat di perut targetku. Setelahnya ia langsung melanjutkan dengan melayangkan tinju kirinya.
"Menghindar!" Bisikku untuk menyelamatkan targetku. Tapi percuma saja. Tinju itu mengenai tepat sisi kanan wajahnya.
Lawan mencengkram kerah samping targetku dan menariknya, memaksanya yang menunduk untuk mendongak, dan langsung melancarkan tinju kanan bertubi-tubi ke wajah targetku yang malang.
"Lawan! Lindungi wajahmu!" Bisikku.
Targetku melakukan dengan baik saat ia menaikkan lengan kirinya untuk melindungi wajahnya dan menghentakkan tangan lawan yang mencengkram kerahnya dengan tangan kanannya hingga terlepas. Tapi lawan bereaksi dengan cepat dan menjejakkan dengan kuat kaki kanannya ke perut targetku yang langsung termundur dua langkah ke belakang sambil memegangi perutnya.
"Bangkit! Tahan serangannya!" Bisikku saat lawan melayangkan kaki kanannya untuk menyerang targetku. Tapi tampaknya targetku tak bisa berbuat apa-apa. Tendangan kuat langsung ke sisi kiri wajahnya membuatnya jatuh tersungkur ke samping. Memalukan. Lawannya bahkan tidak dibisiki Jin Gelap.
"Kau payah, bung!" Bisikku, yang dibalas tatapan bingung di wajah targetku.
Tampaknya lawan masih belum puas, karena begitu targetku membalikkan tubuhnya hingga telentang, lawan mengambil kesempatan itu untuk menduduki targetku dan menghajar wajahnya dengan membabi-buta.
Ini gawat. Targetku benar-benar dihajar habis-habisan. Tapi aku tak mau gagal di aksi pertamaku. Tak jauh dari targetku terdapat batu berlumut yang sekilas tampak menyatu dengan rumput lapangan. Aku ingat aksi Ri-val di Warung Bakso Mama. Jadi aku bisikkan, "Ambil batu itu! Hantamkan sekali!"
Targetku mengikuti instruksiku dan menghantam kepala lawannya di bagian kiri dengan cukup kuat hingga lawannya berguling kesakitan ke samping. Saat lawannya masih berlutut sambil memegangi kepalanya, targetku sudah bangkit berdiri. Lawan mendongak melihatnya.
"Sudah cukup!" Bisikku.
Tapi targetku tak mendengarkan, ia menghantam kepala lawannya lagi dengan batu yang dipegangnya. Bukan cuma sekali, tapi dua kali sampai lawannya tersungkur dengan darah segar mengucur deras dari kepalanya. Dan seketika... Aku ada di situasi yang berbeda...
Langit sore hari berganti gelapnya malam. Lapangan rumput berganti aspal. Pemuda itu juga berganti. Tapi posisi jatuhnya sama. Dan cucuran darah yang menutupi wajahnya juga sama. Pemuda baru itu memandangku dengan sebelah matanya yang bengkak dan penuh darah. Tubuhnya kejang dengan nafas putus-putus. Lalu...
"Hebat, Man!" Suara Ra-ul mengembalikanku.
"Lihat darahnya! Banyak sekali! Dia bisa mati! Jahahaha...!!!" Timpal Ri-val. Mereka berdua berdiri di sebelahku.
Aku melihat ke Pemuda yang baru dihajar targetku dengan batu. Aku menginstruksikannya untuk berhenti. Kenapa ia terus melanjutkan? Ini... Tidak benar. Bukan ini yang kuinginkan.
Lalu ditengah dilemaku, kurasakan kumpulan energi besar datang mengarah ke lapangan ini. Aku menoleh ke sumber energi itu dan aku melihat... Puluhan Jin Terang datang mendekat!
"Pengganggu!" Cecar Ri-val. "Tapi mereka terlambat."
"Mereka masih bisa menghentikan ini." Kata Ra-ul. "Mereka mengambil kesempatan karena sebentar lagi senja dan mendekati matahari terbenam."
"Ya." Setuju Ri-val. "Kita akan melemah begitu mendengar seruan dari tempat ibadah mereka."
"Kita sudah berhasil disini." Ucap Ra-ul. "Ayo kita pergi!"
__ADS_1
Aku dan Ri-val mengikuti Ra-ul yang melayang lebih dulu. Bukan hanya kami bertiga yang meninggalkan lapangan ini, tapi Jin-jin yang lain juga. Jika para Jin Gelap tetap disana sampai seruan Azan Magrib dari Masjid umat beragama Islam terdengar, mereka akan melemah drastis, dan pengaruh bisikannya menjadi kurang berguna ke para manusia. Bacaan do'a-do'a. Itulah salah satu kelemahan Jin Gelap!