Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 22 - Cahaya Terang


__ADS_3

...Cahaya Terang...


17 Ramadan. Malam.


Pernahkah kau berada di situasi dimana kau tidak dibutuhkan sama sekali? Situasi dimana kau seharusnya tak terlibat sama sekali, tapi kau malah ikut terseret ke dalamnya. Meskipun itu bukanlah keinginanmu. Situasi seperti itulah tepatnya yang kini sedang kualami. Dan ini benar-benar mengesalkan.


Aku mengikuti Dwi karena aku bertujuan untuk menyerap semua informasi dari ponselnya yang berkaitan dengan Pahlawan Tak Terlihat yang misterius, yang kemungkinan besar adalah Bangsa Jin sepertiku. Tapi aku malah terpaksa menyaksikan acara makan malam antara Dwi dan Perempuan cantik yang sudah bersuami di rumah si perempuan yang ada di salah satu kompleks perumahan di daerah Timur yang bernama Dua Cahaya. Tak cocok untuk nama kompleks perumahan, ya aku setuju.


Sebagai Jin Gelap.. ah.. ralat, sebagai Jin Terang, aku memang sering berada di situasi yang tak seharusnya aku berada. Tapi percayalah, menyaksikan pasangan selingkuh yang dengan bahagianya menyantap menu yang sama di meja yang sama sambil bertukar pandang penuh arti... Inilah yang terburuk! Karena itulah kuputuskan untuk keluar dari rumah ini.


Bukan berarti aku menyerah dengan tujuanku untuk menyerap informasi dari ponsel Dwi, hanya saja aku merasa ini bukan tempat dan waktu yang tepat. Jadi aku akan menunggu Dwi sampai urusannya selesai, lalu aku akan mengikutinya lagi, dan semoga saja pemberhentian berikutnya adalah tempat tinggalnya. Jadi ketika manusia itu tertidur, aku akan dengan leluasa menyerap informasi dari ponselnya. Jahahaha....


Kini aku berada di pos satpam yang tengah kosong di gerbang masuk perumahan. Ketika aku berjalan ke bangunan kecil ini aku juga tak melihat banyak rumah dengan tanda-tanda penghuni manusia. Sepertinya kompleks perumahan ini memang masih belum banyak penduduknya. Dan kebanyakan dari mereka memang sedang tidak berada di rumah. Situasinya mendukung sekali bagi istri muda yang ditinggal suaminya untuk mengundang selingkuhan mudanya. Dasar manusia dan segala kelicikannya.


Setelah lima menit berlalu aku menunggu di Pos satpam, hanya ada satu motor yang melewati gerbang. Dua manusia dengan penampilan serba hitam yang berkendara memasuki kompleks perumahan. Setelah kedua lelaki itu, tak ada lagi yang masuk atau keluar kompleks perumahan selama beberapa menit ke depan. Alhasil itu membuatku benar-benar bosan.

__ADS_1


Aku mulai memikirkan tentang kehidupanku. Jin yang terjebak diantara manusia. Dan kini aku terseret ke masalah manusia yang sama sekali tak ada hubungannya denganku. Aku mulai mempertanyakan posisiku di dunia ini. Aku mulai merasa tidak cocok berada di manapun. Aku tak tahu dimana tempatku seharusnya berada.


Aku mulai berfokus ke pikiranku dan mengabaikan apa yang ada di sekitarku. Segera segala yang ada disekitarku memudar dan benakku menjadi benar-benar kosong akan dunia ini. Lalu hal yang sama yang pernah kualami saat ada di halaman Masjid Al-Alim kini terjadi lagi padaku. Aku bisa merasakan energi besar yang berasal dari kejauhan. Tapi bedanya yang kurasakan kali ini bukanlah kegelapan manusia yang bermanifestasi menjadi Aura hitam. Melainkan cahaya yang sangat terang dan hangat yang gambarannya muncul dengan jelas di benakku.


Apa yang tepatnya kini kualami adalah gambaran yang muncul seperti radar di kepalaku. Aku bisa melihat satu titik merah tempatku berada. Dan sekelilingku hanyalah kehampaan putih. Lalu muncullah satu titik terang lainnya yang terpaut jarak yang jauh dariku. Mungkin jika diukur dengan perbandingan jarak sebenarnya, titik terang itu berada sekitar lima kilometer dariku ke arah Utara. Cukup jauh, tapi terasa begitu dekat.


Meski baru kali pertama aku mendeteksi energi besar yang bermanifestasi menjadi Cahaya terang ini. Tapi entah kenapa kehangatannya terasa akrab bahkan dari jarak sejauh ini. Dan ketika aku semakin memfokuskan diriku untuk semakin memperjelas gambaran yang ada di kepalaku, benakku seakan tertarik ke Cahaya itu. Melayang sejauh beberapa kilometer mendekati sumber kehangatan, tertarik seperti logam dan magnet.


Begitu aku mendekat, barulah Cahaya terang itu menampilkan wujud sejatinya. Dengan sangat teramat jelas, aku kini melihat sosok Jin Terang lainnya. Jin perempuan berambut api yang tak sengaja kutabrak ketika Perang Jin sebelum Ramadhan. Aku hampir tak mempercayainya. Tapi sosoknya yang memancarkan cahaya keemasan itu begitu jelas terlihat. Lalu secara tiba-tiba... Aku merasakan energi besar lainnya dari belakangku! Kali ini adalah energi negatif dari manusia. Aura hitam besar menarikku dengan sangat cepat menjauh dari Cahaya kembali ke titik awal seperti lubang hitam di angkasa yang menghisap asteroid. Dan bersamaan dengan itu, aku bisa mendengar dengan sangat jelas...


"Tolong!!!!"


Aku yang baru saja tersadar, masih kebingungan dan tak memahami apa yang baru terjadi. Jadi, ketika motor yang sama yang membawa dua manusia berpakaian serba hitam yang kulihat sebelumnya memasuki kompleks perumahan kini keluar dengan kecepatan tinggi bersamaan dengan menguarnya Aura hitam dari tubuh mereka berdua, aku tak berpikiran sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Lalu begitu aku mendengar suara teriakan meminta tolong yang sama, aku langsung berlari menuju ke arah datangnya suara.


Aku terkejut begitu sampai di bangunan yang merupakan sumber teriakan perempuan yang kudengar, yang tak lain adalah Rumah No.22. Rumah yang sama yang dikunjungi Dwi, dan Perempuan yang berteriak meminta tolong adalah perempuan yang sama yang ditemui Dwi. Perempuan itu kini menggendong Bayi yang menangis. Tapi alasannya menjerit histeris bukanlah karena si Bayi, melainkan karena saat ini Dwi jatuh tersungkur dengan apa yang terlihat seperti luka bacok di punggungnya.

__ADS_1


Seketika skenario mengerikan terbetik di benakku. Luka bacok di punggung Dwi, kemungkinan besar disebabkan salah satu dari dua manusia berpakaian serba hitam yang tadi kulihat. Waktu, Aura hitam, dan mereka yang terburu-buru, semuanya cocok. Mungkin mereka hendak mencuri di rumah No.22. Jika benar, itu artinya insiden ini terjadi karena keabaianku. Aku bisa saja mencegah kejadian buruk ini terjadi jika aku tetap mengawasi Dwi dari dekat. Tapi kini ada manusia yang terluka karena aku memilih untuk mengabaikannya. Ini kesalahanku.


Kompleks perumahan ini sedang sepi, dan karena aku bergerak dengan cepat, akulah yang pertama sampai ke rumah No.22. Tapi beberapa saat kemudian datanglah manusia lainnya yang merupakan penghuni rumah lainnya di kompleks perumahan ini. Ada seorang Nenek dengan cucu perempuannya yang masih anak-anak. Juga perempuan lain yang sedang hamil. Dan laki-laki dengan seragam Satpam yang sama bersalahnya denganku karena menghilang dari Posnya dan membiarkan penghalang kendaraan naik yang memungkinkan kendaraan asing untuk masuk Kompleks perumahan hingga terjadi tragedi ini. Apapun alasan si Satpam meninggalkan Posnya, itu haruslah bagus. Tapi aku yakin Ia akan segera dipecat karena kelalaiannya.


Manusia lainnya yang mendatangi rumah No.22 terlihat terkejut dan bingung akan apa yang mereka lihat. Namun Perempuan pemilik rumah yang tadi berteriak histeris menjadi terlihat lebih tenang begitu melihat kedatangan tetangganya. Ia menjelaskan secara singkat rumahnya baru disambangi perampok, yang kabur setelah menyerang Dwi. Lalu setelah tetangganya mengerti akan situasinya, Ia meminta tolong Si Nenek untuk mengambil alih menggendong Bayinya dari dekapannya. Dan segera setelah Perempuan lansia itu menggendong dan mencoba menenangkan bayi yang sedang menangis, Si Pemilik rumah lalu meminta Cucu Si Nenek untuk ikut dengannya. Anak perempuan berumur sekitar 10 tahun itu langsung mengikuti Perempuan pemilik rumah ke ruangan lain di dalam rumah. Tak lama setelahnya mereka kembali, Pemilik rumah membawa baskom berisi air bersih dan Si Anak Perempuan membawa kotak yang terdapat bacaan P3K di atasnya.


Si Perempuan bergegas membuka kotak P3K yang berisi peralatan pertolongan pertama untuk merawat luka. Ia mengambil gunting untuk memotong kaus putih lengan pendek yang menempel di tubuh Dwi, dari kerah belakang hingga ke kaus bagian bawah yang melewati pinggang. Setelah kaus disingkap ke kiri-kanan, terpampanglah luka segar di punggung kanan Dwi yang sedikit miring ke tengah. Si Perempuan lalu mengambil kain bersih yang ditekankan lembut ke luka untuk menghentikan pendarahannya.


"Tahan..." Kata Si Perempuan saat Dwi meringis ketika lukanya ditekan.


Lalu setelah menekan beberapa lama sampai pendarahannya terhenti, Si Perempuan mencuci luka Dwi dengan menuangkan air bersih yang diciduk dari baskom dengan cangkir.


"Tahan..." Ucap Si Perempuan lagi saat Dwi melenguh.


Setelah selesai membersihkan luka, Perempuan itu mengelapnya sebelum mengoleskan antibiotik ke luka dan akhirnya membalutnya dengan perban. Selagi Ia memberi perawatan ke luka Dwi, secara tiba-tiba kepingan informasi tentangnya mengalir ke diriku. Aku seketika mengetahui waktu masih remaja, Perempuan itu menghabiskan masa pendidikannya dengan belajar di Sekolah Perawat. Dan aku juga mengetahui namanya... Aidah.

__ADS_1


Melihat Aidah dan Dwi memicu sesuatu dalam diriku. Untuk kesekian kalinya Aku kembali tertarik ke kepingan memoriku, kepingan memori dari Ketua Geng Dua roda yang ada dalam diriku untuk lebih tepatnya. Aku tak sengaja menyayat jariku saat memotong sayuran di dapur. Dan seorang Gadis yang bersamaku, Gadis berambut hitam yang berulang kali kulihat di kepingan memori lainnya. Ia menatap ke arahku dengan ekspresi yang menyatakan; Apa kubilang? Seolah Ia sudah memprediksi akan terjadi hal seperti ini dan telah memperingatkanku sebelumnya. Tapi Ia bukannya marah padaku, hanya kesal karena sempat diabaikan. Meski begitu Ia tetap membantuku membersihkan luka di air bersih yang mengalir dari keran sebelum akhirnya membalut jariku dengan plester.


Aku memperhatikan jari di tangan kiriku dengan janggal, karena plester yang digunakan untuk membalut lukaku adalah plester bermotif bunga yang cerah. Saat aku menoleh ke Si Gadis, jelas sekali Ia terlihat sedang menahan tawa. Aku memutuskan untuk membuka plester yang sama sekali tidak cocok denganku ini, Tapi Ia menahanku dan memberitahu kalau itu plester satu-satunya yang tersisa. Jadi, dengan lapang dada aku menerima plester bermotif bunga yang cerah untuk menempel lebih lama di jariku. Gadis itupun tersenyum. Entah kenapa berada di dekatnya memberikan kehangatan, dan senyuman manisnya juga terasa seperti cahaya terang di tengah kegelapan. Kehangatan dan Cahaya terang yang terasa akrab.


__ADS_2