Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 29 - Komunikasi


__ADS_3

...Komunikasi...


18 Ramadan. Dini hari.


"Itu kau, kan?" Seru Rian dengan suara yang mungkin terlalu tinggi.


Aku masih di atas motor rusak yang kini sudah kembali ke warna normalnya. Aku gak tahu harus melakukan apa, jadi aku hanya diam.


"Kau yang waktu itu bantu aku lawan tiga orang di bengkel ini, kan?" Tanya Rian lagi, dengan kedua mata yang menyorot ke arahku. "Aku gak bisa lihat kau. Tapi aku tahu kau disini. " Lanjutnya. "Aku... Ah... Terimakasih bantuannya waktu itu!" Ucapnya kemudian.


Rian gak bisa melihatku. Mungkin gak bisa dengar juga. Sepertinya tak ada cara berkomunikasi dengannya. Mungkin sebaiknya aku pergi dari tempat ini.


"Kau disini, kan?" Rian terus bertanya. "Aku tahu ini bukan halusinasi." Ucapnya pelan. Lalu sambil menundukkan wajahnya. "Aku harus tahu kalau itu memang kau... Bisa kau tunjukkan keberadaanmu? Tolong..."


Aku gak mengira kalau Ia akan terdengar seperti putus asa begitu. Kalau hanya menunjukkan apakah aku ada disini atau tidak. Mungkin aku bisa melakukannya.


"Dokk! Dokk!"


Suara itu berasal dari ketukan jariku di kepala motor.


Rian langsung mengangkat wajahnya dengan mata membelalak. "Itu kau, kan? Kau disini?"


"Dokk! Dokk!"


Aku mengetuk lagi.


"Itu memang kau!" Ucap Rian dengan senyum merekah di wajahnya. "Aku tahu itu kau!" Sambungnya sambil mengepalkan kedua tangannya. "Ada banyak yang mau kutanyakan. Tapi gimana caranya...?"


Itu pertanyaan yang sama yang ada di kepalaku.


"Kau bisa menulis?" Tanya Rian.


Aku mengetuk kepala motor lagi, tapi kali ini tiga ketukan.


Dengan dahi berkerut Rian mengatakan, "Tiga kali... Berarti, gak bisa?"


Aku mengetuk lagi, dua kali.


"Dua berarti, ya." Ucap Rian. "Tapi kau bisa pegang benda, kan? Seperti knalpot waktu itu... Kau bisa pegang benda-benda lain juga?"


Aku mengetuk dua kali sebagai jawaban, ya.


Rian terlihat berpikir keras sebelum akhirnya mengucapkan, "Aku tahu! Tunggu dulu sebentar..." Lalu Ia mengambil buku dan pena dari laci meja di dekatnya dan mulai menuliskan sesuatu. Setelah selesai Ia merobek kertas yang tadi ditulisnya dan mencari sesuatu yang lainnya.


"Ah... Ini dia!" Seru Rian setelah menemukan apa yang dicarinya, busi motor baru. Ia meletakkan busi itu di atas kertas tadi. "Kita bisa berkomunikasi sekarang.." Ucapnya dengan tersenyum, tapi rautnya berubah cepat. "Kau tahu huruf abjad, kan?"


Aku yang mendekat kini mengetuk meja kayu sebanyak dua kali.


"Bagus!" Kata Rian. Lalu Ia mengungkap rencananya padaku. "Aku akan tanya. Nanti kau gerakan busi ini di huruf-huruf ini." Ucapnya sambil menggerak-gerakkan busi di huruf-huruf abjad yang ditulisnya di atas selembar kertas tadi. "Kucatat huruf-hurufnya. Jadi, aku bisa tahu jawabanmu." Tutupnya.


Rencananya cukup cerdas menurutku. Setelah menjalani kepingan memori tadi, aku mulai menyadari sesuatu tentang Rian... Dia cepat bereaksi. Saat aku merasuki tubuhnya beberapa hari lalu dan terpaksa kabur dari tiga penyerangnya, kesadaran Rian memberitahuku untuk menjatuhkan motor mereka sebelum aku pergi. Lalu kejadian di malam hari setelahnya saat aku menghajar tiga orang penyerang yang kembali untuk mengeroyoknya, Rian keluar dari bengkel dan kembali dengan orang-orang yang dimintanya untuk mendatangi bengkel. Dan kejadian malam ini, Ia juga bereaksi dengan cepat dan tanpa panik. Pemuda dengan hidung menyerupai paruh burung ini mungkin tidak terlihat terlalu tangguh. Tapi jelas Ia bukanlah sosok yang lemah.


"Tadi aku lihat motor itu sempat bersinar merah sebelum kunyalakan lampu ini." Rian menjelaskan. "Aku bisa merasakan kehadiranmu di motor itu, jadi kuanggap kau datang kemari karena motor itu." Ia menyimpulkan. "Jadi pertanyaanku... Kau mau apa dari motor ini?"


Aku mulai memegang busi motor dan memindahkannya dari satu huruf ke huruf lainnya. Rian dengan cepat mencatat setiap huruf itu hingga menjadi sebuah kalimat yang merupakan jawaban dariku.


"Cari kebenaran..?" Ucap Rian membaca kalimat yang baru ditulisnya. "Aku gak paham... Apa maksudnya?"


Aku berpikir cara mudah untuk menjawab tanpa harus memberikan penjelasan panjang-lebar. Dan begitu aku mengetahu jawaban yang tepat, kugerakkan lagi busi di atas huruf-huruf di kertas. Disaat aku selesai dan Rian pun selesai mencatat, ada satu suara yang memanggil Rian dari luar bengkel. Suara yang tak asing itu berasal dari belakang. Rian terdiam. Lalu suara itu memanggil lagi. Setelah memantapkan diri, Rian menyahut dan akhirnya menuju ke ruangan belakang.


Dari tempatku bisa kudengar suara pintu terbuka dan Rian yang berbicara dengan seorang Gadis. Mereka berbisik. Lalu diam. Kemudian mereka berjalan masuk ke ruangan ini, dan aku melihat gadis itu. Gadis berambut hitam panjang dengan setitik tahi lalat di bawah bibirnya itu adalah Bella yang datang membawa rantang berisi makanan untuk santap sahur Rian. Itu artinya jika saat ini sudah memasuki waktu sahur, aku terseret ke kepingan memori itu selama sekitar tiga jam lamanya! Biasanya kepingan memori berlangsung dengan lebih cepat dibandingkan dengan waktu di dunia nyata. Tapi malam ini berbeda, kali ini bahkan berlangsung lebih lama dibandingkan waktu di dunia nyata.


"Kamu bilang kalau selalu percaya Aku, kan?"  Tanya Rian.


Bella tak langsung menjawab, Ia memperhatikan Rian yang tetap menatapnya selagi menunggu jawaban. "Kamu kenapa?" Bella balik bertanya.


Rian terdiam beberapa saat. Setelah keheningan yang tidak nyaman itu, Ia berkata, "Tolong tunjukkan keberadaanmu ke Bella juga..."


Aku mengangkat busi yang kupegang dan menggerak-gerakkannya. Dari sudut pandang manusia biasa, yang mereka lihat hanyalah busi motor yang melayang-layang di udara. Dan itu pastinya agak aneh dan mungkin sedikit menyeramkan. Tapi Bella sama sekali tidak berteriak ketakutan ataupun pingsan. Gadis itu hanya berdiri di tempatnya dengan mata membelalak. Dari sorotnya itu bukanlah ketakutan, tapi lebih ke takjub.


Tanpa berpaling sedikitpun Bella bertanya, "Apa itu..?"


"Pelindungku..!" Potong Rian.


Tak butuh waktu lama bagi Rian untuk menjelaskan ke Bella awal mula bagaimana dirinya bisa memikirkan metode komunikasi denganku. Dengan penuh semangat Rian menceritakannya ke Bella. Semangatnya menyamai anak kecil yang baru melihat film pahlawan bertopeng. Meskipun aku menyukai cara kedua manusia ini membicarakanku, tapi aku tetap harus menghentikan mereka. Jadi aku mengetuk rantang yang dibawa Bella dan mengangkatnya.

__ADS_1


"Apa itu maksudnya dia mau makan?" Tanya Bella.


Apa? Niat baikku disalah artikan olehnya? Sial. Aku mengetuk rantang tiga kali dan berharap Rian memahami maksudku.


"Bukan! Itu artinya dia mau kita sahur dulu." Ucap Rian.


Nah, itu baru benar. Jika aku membiarkan mereka sampai mereka lupa sahur, Adam pasti akan terus-menerus menyalahkanku setiap kami bertemu. Dan itu akan teramat menyebalkan.


"Jadi dia datang karena motor ini." Kata Bella begitu menyelesaikan santap sahurnya. "Tapi kenapa?"


Rian menunjuk ke tulisan keduanya.


"Cari kebenaran?" Bella membacanya. "Tapi apa maksudnya?"


"Pertanyaanku juga sama." Kata Rian. "Dan ini jawabannya." Ia menunjuk tulisan ketiga.


Bella membaca tulisan itu, "Motor ini dicari..." Lalu Ia mengatakan, "Maksudnya ada yang lagi cari motor ini?"


Rian mengangguk. "Kemungkinan iya. Tapi pertanyaannya... Siapa?" Tanyanya sambil memandangi busi yang ada di atas kertas.


Aku memberikan jawaban dengan menggerakkan busi. Dan setelah aku selesai, Rian nampak terkejut membacanya.


"Wawan dua roda.." Baca Bella. Dengan alis bertaut Ia mengatakan, "Maksudnya Wawan yang itu?"


"Ya." Jawab Rian sambil mengangguk. Lalu Ia lanjut bertanya padaku. "Apa hubunganmu dengan Wawan?"


Aku memberikan jawabanku; Gak ada.


"Tapi kau tahu Wawan cari motor ini?" Tanya Rian lagi.


Aku menggerakkan busi di atas huruf Y dan A.


"Kenapa dia cari motor ini?"


Aku pun memberikan jawaban terakhir.


"Tanyakan sendiri.."


"Kamu punya kontaknya Si Wawan?" Tanya Bella setelah Rian terdiam cukup lama.


"Punya kontak yang kenal sama Wawan?"


"Mungkin ada..." Ucapa Rian sambil mencari-cari kontak di ponselnya. "Ada!" Serunya setelah menemukannya. Lalu Ia mendekatkan ponsel ke telinganya dan menunggu jawaban.


Aku sengaja mengarahkan Rian ke Wawan karena aku penasaran apa yang akan terjadi kalau mereka berdua bertemu. Keduanya Pemimpin Divisi, tapi yang satu keluar mengikuti Ketua mereka, sementara yang satunya lagi tetap membawa nama Geng mereka. Dan aku juga penasaran langkah apa yang akan diambil Wawan yang sengaja menyimpan informasi penting dari Iptu Trijaya tentang motor rusak ini. Tapi kini yang membuatku penasaran adalah siapa yang dihubungi Rian.


"Halo, Assalamualaikum!" Ucap Rian di ponselnya.


Samar-samar aku mendengar suara dari ponsel membalas, "Wa'alaikumsalam! Rian! Apa kabar?"


"Kabarku baik." Sahut Rian. "Dara juga baik aja, kan?"


Dara? Maksudnya Dara yang sama yang kutemui malam ini?


"Aku baik juga." Balas suara di ponsel. "Rian dimana? Di bengkel?"


"Ya, sekarang lagi di bengkel." Jawab Rian.


"Ada apa telepon jam segini? Butuh kiriman barang untuk pagi ini?"


"Bukan, bukan! Barang di bengkel masih lengkap."


"Jadi?"


"Aku tadi dapat kabar kalau Wawan lagi cari motor..."


"Ya.. ada informasi?"


Rian mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video dan mengarahkan kamera ke motor di tengah ruangan. "Ini bukan?"


"Coba bagian depannya." Ucap Dara yang kini wajahnya terpampang di layar ponsel Rian.


Rian pun berjalan memutar ke depan motor.


"Tunggu dulu sebentar.." Ucap Dara. Yang kemudian terdengar memanggil seseorang. Lalu datanglah seorang wanita yang tak lain adalah Aidah ke dekat Dara sehingga terlihat di layar ponsel.

__ADS_1


"Iya, itu motornya!" Ucap Aidah sambil menunjuk layar.


"Itu di bengkelmu, kan?" Tanya Dara.


"Ya." Jawab Rian.


"Tahan dulu motornya disana." Pinta Dara. "Setengah jam lagi kami kesana."


"Oke, kutunggu." Balas Rian sebelum memutuskan panggilan video.


"Siapa itu?" Tanya Bella yang sepertinya sengaja memasang ekspresi datar.


"Dara. Temanku." Jawab Rian. "Aku belum pernah cerita?"


"Belum." Sahut Bella cepat.


"Kami udah lama kenal waktu masih jadi Anggota Dua roda."


Bella hanya mengeluarkan suara, "Hmm..." Sambil mengangkat kedua alisnya untuk menuntut penjelasan lebih jauh.


"Barang-barang di sini sering pesan dari pamannya yang ada di luar kota." Ucap Rian sambil merentangkan tangannya ke onderdil-onderdil di ruangan ini. "Karena itu aku masih simpan kontaknya."


"Oke..." Ucap Bella. Masih dengan ekspresi datar.


Kini giliran Rian yang memandang dengan kedua alis terangkat. Sepertinya Ia tidak menyangka reaksi itu. "Kabarnya sekarang dia pacaran sama Wawan."


"Oke." Ulang Bella. Tapi kini ekspresi datarnya sudah luntur, berganti dengan senyum di ujung bibirnya.


Hebat sekali. Aku menyadari aku berada di situasi menjengkelkan yang sama seperti ketika aku baru sampai di Rumah no.22 dan terpaksa melihat kemesraan Aidah dan Dwi. Tapi bedanya kali ini Bella dan Rian ada di tingkat yang lebih rendah, lebih malu-malu, dan tidak seterang-terangan seperti pasangan sebelumnya. Tetap saja, ini bahkan terasa lebih mengesalkan karena kali ini Bella dan Rian menyadari sepenuhnya keberadaanku di sekitar mereka. Dasar manusia!


Aku mengetuk kepala motor tiga kali untuk menyadarkan mereka aku masih disini dan mengawasi mereka. Setelah tersadar, Bella pamit untuk pulang ke rumahnya. Jadi hanya tersisa Aku dan Rian disini. Di kesempatan ini, aku mengetuk-ketukan busi di kertas untuk mendapatkan perhatian Rian. Lalu menggerakkan busi ke huruf-huruf lainnya hingga membentuk satu kalimat utuh yang lebih panjang dari kalimat-kalimat sebelumnya.


"Tanya ke Wawan dimana Ketua Dua Roda." Rian membacanya. Sambil terus memperhatikan rangkaian kata-kata itu, Ia berkata, "Aku ingat Adam pernah tanya hal yang sama. Jadi kau memintanya untuk tanyakan itu?"


Aku menggerakkan busi ke huruf Y dan A.


Dengan ekspresi serius di wajahnya, Rian bertanya, "Kenapa kau mau tahu ada dimana Ketua Dua roda?"


Aku tak memberikan jawaban baru. Melainkan menggerakkan busi tepat di kalimat yang menjadi jawaban pertamaku tadi... Cari kebenaran.


Setelah diam sejenak seperti biasanya saat Ia sedang berpikir, Rian lalu mengucapkan, "Nanti kutanyakan."


Ternyata Dara adalah tipe yang tidak suka datang terlambat, karena Ia sampai di Brothers motor hanya dalam waktu sekitar dua puluh menit. Dan seperti dugaanku, Dara datang bersama Wawan. Tapi Aidah dan bayinya juga ikut, yang mana itu tak kuperkirakan. Biarpun itu hal yang wajar mengingat Aidah adalah saksi kunci sekaligus korban dari kasus ini. Tapi karena Ia sudah mengkonfirmasi motor ini adalah motor yang sama yang dilihatnya lewat panggilan video tadi, kukira dia tak akan ikut kemari.


"Oi..!" Sapa Wawan.


"Yo..!" Balas Rian. "Masuk!" Ajaknya. "Ini motor yang kau cari?"


Wawan yang memperhatikan motor yang bagian depannya rusak ini tak langsung menjawab, Ia menoleh ke Aidah yang mengangguk, barulah setelah itu Pemimpin Timur ini berkata, "Ya. Ini motornya."


"Kenapa kau cari motor ini?" Rian mencoba mengorek informasi.


Tapi Wawan tak berniat mengungkapkan alasannya, "Ceritanya panjang."


"Karena motor ini masuk bengkelku... Aku harus tahu alasannya." Tekan Rian.


"Tapi kau udah gak mau ikut terlibat jauh dengan Geng Dua roda lagi, kan?"


Rian menggeleng lemah. "Keluar dari Dua roda itu pilihan yang benar."


"Jadi pilihanku dan teman-temanku itu salah?"


"Dilihat dari situasi sekarang? Ya. Kita dulu memang sering rusuh. Tapi kita masih punya aturan. Kita cuma serang kelompok lain kalau diprovokasi lebih dulu. Sekarang mereka jadi makin gila! Mereka serang semua orang!"


"Jadi kita harus kabur? Seolah kita gak pernah jadi bagian dari Dua roda? Lari dari masa lalu? Itu pilihan yang benar?"


Oh, aku sering melihat ini selagi bersama Ra-ul dan Ri-val. Adu ideologi antar manusia. Keduanya menganggap dirinya benar. Biasanya ini berakhir dengan bentrokan.


"Nama dan logo itu!" Ucap Rian sambil menunjuk jaket Wawan. "Bisa buat kita jadi target berjalan! Tapi bukan cuma kita, target itu juga ada di orang-orang yang dekat dan kita pedulikan di sekitar kita!" Lanjutnya sambil berapi-api. Kiasan saja maksudku. Bukannya tubuhnya benar-benar berapi sepertiku.


"Orang-orang selalu memandang negatif, karena masa lalu itu!" Raung Rian.


"Karena itulah aku mau ubah itu!" Balas Wawan. "Kita gak bisa ubah masa lalu Dua roda yang brutal. Tapi kita masih bisa ubah cara pandang orang lain dengan tindakan kita kedepannya."


"Itu artinya coba ubah pikiran orang lain." Rian menyimpulkan. "Gak mudah."

__ADS_1


"Ya. Gak mudah." Wawan sependapat. "Karena itu aku juga butuh bantuan." Lalu Ia melangkah dan berhenti tepat di hadapan Rian sambil mengulurkan tangannya, "Kau mau bantu?"


__ADS_2