Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 20 - Persahabatan


__ADS_3

...Persahabatan...


14 Ramadan. Sore.


Di suasana sore yang cerah ini aku mengisi waktu dengan berlari di atas aspal mengekor Rossa dan Adam yang melaju dengan motor di depanku. Tujuan kami adalah rumah-rumah anak-anak yatim yang akan menerima nasi kotak beserta amplop titipan Bapak Haji yang rumahnya di dekat Masjid Al-Alim.


Aku terus mengikuti Rossa dan Adam yang berhenti dari satu rumah ke rumah lainnya. Anak-anak yang kami datangi berusia sekitar 7-14 tahun. Dan mereka terlihat sumringah saat menerima nasi kotak beserta amplop. Dan saat kuperhatikan bukan hanya anak-anak, tapi Rossa dan Adam juga terlihat bahagia.


Anak-anak itu juga sepertinya mengenal Adam dengan baik.


"Kenapa gak bareng Bang Rian?" Tanya seorang anak perempuan.


"Bang Rian pulang kampung." Jawab Adam.


"Tapi lebaran kan masih lama." Kata anak itu lagi.


"Dia lagi ada urusan keluarga. Katanya nanti balik lagi kalau urusannya di sana selesai." Adam menerangkan.


Anak perempuan itu pun mengangguk paham.


"Cieee... Bang Adam bareng pacarnya!" Seru Anak laki-laki di rumah lainnya.


"Berisik!" Ucap Adam sambil membungkam mulut si anak dengan sebelah telapak tangannya.


Mulut anak itu memang terdiam, tapi matanya menyala jahil.


"Lain kali kalau ngomong dipikir dulu!" Kata Adam, yang dibalas anggukan kepala berkali-kali.


"Iya. Kasihan kan Bang Adam jadi malu sama temennya." Ucap Ibu si anak.


Lalu Adam pun melepaskan tangannya dari anak laki-laki yang tetap tersenyum jahil. Setelah memberikan nasi kotak dan amplop ke si anak, Adam kembali naik ke belakang motor Rossa. Tapi baru beberapa meter terdengar suara teriakan dari belakang mereka.


"Jangan lupa ngundang-ngundang ya, Adam!" Seru Ibu si anak yang masih berdiri di teras depan rumahnya.


Suara Ibu itu cukup keras hingga dapat dengan jelas terdengar beberapa tetangga sekitar yang kebetulan sedang duduk-duduk di luar rumah mereka. Dan karena sebab itu, wajah Adam berubah merah, hampir semerah kulit Jin-ku.


"Maaf soal itu, ya." Ucap Adam ke Rossa yang tetap berkendara dengan kecepatan sedang. "Ibu dan Anak itu sifatnya memang jahil begitu." Tambahnya.


"Bukan masalah." Sahut Rossa sambil tersenyum. "Itu tandanya mereka sedang bahagia." Lanjutnya. "Tapi, aku jadi penasaran. Ada berapa rumah lagi yang kita datangi yang penghuninya seperti keluarga tadi?"


"Mudah-mudahan cuma mereka..." Kata Adam nelangsa. "Kalau ada satu lagi, bisa-bisa aku mengurung diri selama setahun di toilet Masjid karena malu."


Rossa tertawa kecil mendengarnya.


Setelah mendatangi beberapa rumah lagi tanpa adanya kejadian yang memaksa Adam untuk mengurung diri selama setahun, Rossa dan Adam akhirnya selesai membagikan nasi kotak beserta amplop yang dipercayakan pada mereka ke semua alamat yang ada di daftar.


Aku lalu mengikuti Rossa dan Adam kembali menuju ke Masjid Al-Alim. Semuanya berjalan selancar dan semulus jalan raya yang baru diaspal, sampai masalah muncul tepat di depan mata kami...


Tak jauh di depan, aku menyaksikan terjadinya penjambretan. Tas seorang Perempuan Dewasa yang berdiri sendirian di trotoar dengan cepat disambar seorang pengendara motor yang mengenakan helm, jaket, jeans, dan motor berwarna hitam. Rossa yang melihat itu langsung menambah kecepatan motornya untuk mengejar Si Penjambret. Begitu juga denganku yang langsung berlari mengejar.


Si Penjambret itu merupakan pengendara motor yang cukup handal. Dia melaju dengan cepat dan meliuk-liuk melewati kendaraan-kendaraan lain yang memenuhi jalanan yang mulai ramai karena sudah memasuki waktu bagi manusia pulang dari tempat kerja mereka. Tapi Rossa adalah Permata Hitam, salah satu Joki Balap liar terbaik di kota. Dengan mengendarai motor maticnya, Rossa tetap bisa mengimbangi kelihaian Si Penjambret. Dan pengalamanku dalam mengikuti Balap liar selama beberapa hari terakhir juga berguna di situasi seperti ini. Baik Aku ataupun Rossa tak tertinggal jauh dari target di depan.


Kami berpacu kencang di jalan lurus dan berbelok tajam di tikungan. Dan beberapa meter kemudian, Aku dan Rossa sudah mengapit Si Penjambret dari sisi kanan-kirinya. Adam yang dibonceng Rossa mulai beraksi dengan mencoba merebut tas yang dipegang di sebelah tangan Si Penjambret. Adegan tarik-menarik pun terjadi.


Sementara aku yang berlari di sisi kiri motor Penjambret juga tak tinggal diam. Aku memutar kunci dan menariknya. Si Penjambret yang kebingungan setelah menyadari mesin motornya mati, dimanfaatkan Adam untuk merebut tas. Begitu Adam berhasil, Rossa menancap gas mendahului Penjambret. Dan motor Penjambret yang mesinnya mati itu kehilangan kendali dan berbelok menuruni aspal ke trotoar di sisi jalan.


Pada saat itu kebetulan sekali ada dua anak laki-laki yang berjalan di trotoar dengan posisi yang membelakangi motor Penjambret yang dengan cepat mengarah langsung ke mereka. Kejadian itu berlangsung dengan cepat, tapi untunglah aku masih bisa bereaksi dan bergerak dengan lebih cepat. Aku berlari mendekati dua anak laki-laki itu dan sedikit mendorong mereka agar terhindar dari motor si Penjambret yang akhirnya meluncur ke dalam parit tak berair selebar dan sedalam satu meter.


Aku memeriksa kedua anak laki-laki. Mereka baik-baik saja, tanpa terluka. Hanya kelihatan kaget dan bingung. Yah, itu reaksi wajar setelah menyadari kau bergeser beberapa langkah dengan sendirinya dan ada motor tak terkendali meluncur dari belakangmu yang hampir menabrakmu tetapi malah masuk ke dalam parit. Setelah yakin mereka baik-baik saja, aku bergegas memeriksa parit.


Si Penjambret serba hitam itu merangkak dari bawah parit dan mencoba kabur dengan kakinya yang pincang sebelah akibat kecelakaan tadi. Tapi Adam segera menyergap dan menjatuhkannya dengan keras ke trotoar. Dan Rossa juga mendekati Si Penjambret untuk membuka helmnya. Nampaknya mereka berdua yang tadi berpacu cepat setelah berhasil merebut tas yang dijambret berputar balik setelah melihat apa yang terjadi di belakang.


"Kau kan anggotanya Rimba!" Pekik Rossa setelah membuka helm Si Penjambret.


Aku juga mengenali wajah Si Penjambret dari pesta malam sebelumnya di markasnya Rimba dan kawanannya. Dia adalah salah satu manusia yang berbicara padaku ketika sedang mabuk berat, Pemuda yang bernama Rok.


"Kamu kenal dia?" Tanya Adam.


Rossa menganggukkan kepala dan berkata, "Panjang ceritanya."

__ADS_1


Adam terlihat penasaran, tapi Ia tak menekan Rossa untuk bercerita.


Sementara itu dari tubuh Rok menguar aura hitam yang mengalirkan kepingan memorinya kepadaku. Ternyata anggota kawanan Rimba yang Overdosis di malam itu adalah Jo, sahabat Rok yang sempat dihajar Rimba. Dan karena kejadian itu, Rimba menolak untuk membayar biaya perawatan Jo yang sampai kini masih dirawat di rumah sakit. Rok pun berinisiatif untuk menolong sahabatnya dengan mencarikan dana. Begitulah sebab kenapa Ia sampai menjambret.


Aku bisa mengerti akan keinginan Rok untuk membantu Jo atas nama persahabatan. Tapi mereka berdua telah memilih jalur yang berbatu, dan harus siap jika mereka terjatuh akibat dari keputusan dan tindakan mereka sendiri. Persahabatan yang berakibat fatal.


Kami ada di trotoar di sisi jalan raya yang ramai di sore hari ini. Jadi tanpa menunggu waktu lama sudah ada banyak orang yang berkumpul di tempat kejadian. Ada beberapa manusia yang berniat menghajar Rok setelah mengetahui apa yang terjadi. Tapi untunglah Adam dan manusia lain yang berpikiran jernih masih bisa mencegah mereka agar main hakim sendiri tidak terjadi. Pada akhirnya Rok dibawa ke Polsek Barat bersama dengan Adam, Rossa, dan Perempuan Dewasa yang tasnya dijambret untuk dimintai keterangan akan insiden yang baru terjadi.


Saat di kantor Polisi, semua berjalan seperti seharusnya. Perempuan dewasa yang tasnya dijambret, Adam, dan Rossa bergantian memberikan keterangan mereka sebagai korban dan saksi. Begitu juga Rok yang diinterogasi sebagai terduga pelaku. Hal menariknya Rok tak sepenuhnya jujur saat ditanya alasannya menjambret. Tapi ketika Polisi berkumis tebal bertanya apakah Ia anggota Geng Dua roda, seketika aura hitam menguar dari tubuh Rok bersama dengan kebencian besarnya karena diasingkan dari Kawanan Rimba.


"Kau tahu dimana tempat kumpul mereka?" Tanya Polisi berkumis tebal setelah melihat reaksi Rok yang diam saja.


Bisa kuasumsikan kalau Polisi ini bisa mengetahui kalau Rok memang salah satu anggota dari Geng Dua roda, tapi Ia tak tahu bagian dari kelompok yang mana.


Aura hitam Rok yang semakin membesar membuatku bisa membaca isi pikirannya, Ia akan memberitahu markas Rimba dan Kawanannya. Tapi jika Rok mengungkapkan itu, identitas Rossa sebagai Joki balap liar bernama Permata Hitam juga pasti akan terbongkar. Aku tak bisa membiarkan itu. Jadi ini waktunya bagiku untuk melakukan hal yang paling mendasar bagi Bangsa Jin, Membisiki manusia!


"Jangan katakan!" Bisikku. "Kalau kau katakan, bukan hanya Rimba yang terseret, tapi Jo juga."


Ekspresi Rok seketika berubah, begitu juga dengan emosinya. Kini Ia sudah bisa berpikir dengan jernih. "Ada banyak kelompok geng itu." Jawabnya akhirnya. "Mereka kumpul dimana-mana. Ada yang di Cafe, ada yang di Taman, ada di Rumah kontrakan, ada banyak lagi di tempat lain." Sambungnya.


Polisi berkumis tebal itu sepertinya terkejut mendengar jawaban paling masuk akal yang keluar dari mulut seorang penjambret seperti Rok.


Setelah kurang-lebih satu jam lamanya, Adam, Rossa, dan Perempuan dewasa korban penjambretan yang bernama Jamilah dipersilahkan untuk meninggalkan kantor Polisi. Sementara Rok tetap tinggal untuk diproses lebih lanjut. Sebelum berpisah, Jamilah berterimakasih pada Adam dan Rossa. Ia juga mengundang mereka berdua untuk datang ke acara buka puasa bersama yang akan diadakan di rumahnya beberapa hari lagi.


Malam.


Setelah berbuka puasa dan menunaikan ibadah Shalat Maghrib di Masjid Al-Alim, Rossa bersiap untuk pergi. Saat itulah Adam memberikan ponsel Rimba padanya dan menjelaskan apa yang diketahuinya dariku tentang cerita dibalik ponsel itu.


Awalnya Rossa terlihat bingung, tapi setelah Ia membuka kunci ponsel dengan sandi yang diberitahukan Adam dan menemukan berkas Video yang selama ini digunakan Rimba untuk memeras dan menjebaknya, ekspresinya berubah total. Gabungan antara rasa tidak percaya, kaget, dan bahagia.


"Kau dapat ini darimana?" Tanya Rossa cepat.


"Dari teman yang identitasnya ingin dirahasiakan." Jawab Adam seperti yang sudah kami sepakati sebelumnya.


Perlu beberapa detik bagi Rossa yang matanya berkaca-kaca untuk mengangguk paham. "Tolong sampaikan terimakasihku padanya kalau kalian bertemu." Ucapnya akhirnya.


"Kau punya teman yang baik." Kata Rossa.


"Sama baiknya denganmu." Balas Adam. "Temanmu juga beruntung punya kamu yang jadi sahabatnya."


"Ya." Ucap Rossa sambil mengusap kedua matanya, lalu mendongak menatap Adam dan menyampaikan, "Terimakasih!"


Video yang ada di ponsel itu sangat berarti bagi Rossa, karena selain membebaskannya dari hal yang tak ingin dilakukannya, juga akan menolong teman perempuannya.


"Kau dengar sendiri, kan?" Tanya Adam setelah Rossa pergi meninggalkan Masjid dengan mengendarai motornya. "Dia bilang terimakasih."


"Aku dengar semuanya." Sahutku.


"Dia juga bilang kau ini teman yang baik." Ucap Adam.


"Jangan senang dulu manusia." Tahanku. "Kau pikir aku ini mau berada di posisi yang setara denganmu? Aku lebih suka menganggap hubungan ini antara Tuan dan Bawahan."


"Oh, kau mau jadi bawahanku?" Potong Adam.


"Enak saja!" Sergahku. "Kau yang harusnya jadi bawahanku." Sambungku. "Jangan lupa, aku ini Jin Gelap yang punya kekuatan super yang tak dimiliki manusia!"


Adam menoleh ke arahku dengan ekspresi serius dan berkata, "Kau bukan Jin Gelap!"


Aku balas menatapnya dengan tajam. "Apa maksudmu manusia?" Ucapku dengan nada penuh penekanan. Mungkin dia tak menyadarinya, apa yang baru dikatakan Adam bisa dianggap sebagai penghinaan.


"Aku serius." Ucap Adam. Seakan aku tak menyadari itu dari hanya melihatnya. "Kau bilang Jin Gelap matanya berpendar Merah gelap, kalau Jin Terang pendarnya Merah keemasan. Dari awal aku melihatmu duduk sendiri di pohon itu seperti monyet kurang pergaulan..."


"Langsung saja, kau ini mau bilang apa?" Desakku.


"Aku baru mau bilang!" Seru Adam. "Jangan dipotong dulu." Ucapnya lagi. "Dari awal aku melihatmu duduk sendiri di pohon itu seperti monyet kurang pergaulan..."


Yap, dia memang mengulangi kalimat yang sama. Semakin hari Marbot ini bertambah mengesalkan.


"Matamu berwarna Merah gelap." Sambung Adam. "Tapi sekarang... Warnanya Merah keemasan. Itu yang tadi mau kubilang."

__ADS_1


"Kalau kau bercanda..." Aku mulai bicara dengan ekspresi kesal. "Ini keterlaluan!"


Tapi aku mengenali ekspresi ini-bukan-waktunya-bercanda-aku-serius di wajahnya.


"Kau pasti gak sadar, kan?" Kata Adam. "Sama seperti waktu perban di tanganmu lepas. Sekarang perban di kakimu juga lepas." Ucapnya sambil menunjuk kakiku.


Secara refleks aku langsung melihat ke bawah dan mendapati perban yang tadinya membalut kedua kakiku hingga telapak kaki kini hanya tersisa sampai di bawah lutut dan memperlihatkan kaki bagian bawahku yang berwarna merah. Itu berarti apa yang dikatakan Adam memang benar.


Aku langsung berlari ke kamar mandi masjid dan melihat pantulan diriku di air yang memenuhi bak penampung air di dalam. Dan tepat seperti yang dikatakan Adam... Mataku berubah warna! Kini cahayanya menjadi Merah keemasan! Ini mimpi buruk!


--


Aku butuh tempat untuk menyendiri setelah perubahan identitas yang kualami. Jadi aku berlari mengelilingi kota untuk mencari tempat yang tepat. Tapi ketika aku berada di Daerah Pusat, aku tak sengaja berpapasan dengan Rossa yang mengendarai motornya. Niat awalku sebelum pembicaraan dengan Adam yang berakhir mengacaukanku adalah untuk mengikuti Rossa dan melihat apa yang akan dilakukannya setelah menguasai ponsel Rimba. Jadi kali ini aku akan mengabaikan permasalahan pribadiku dan mengikuti rencana awal untuk mengawasi Rossa sampai ia benar-benar bebas dari Rimba.


Aku terus mengikuti Rossa yang berhenti di satu rumah di kompleks perumahan. Dari dalam rumah keluarlah Gadis yang tak asing lagi yang menyambut Rossa dengan memeluknya erat. Gadis berambut keriting indah itu adalah Gadis yang sama yang ada di Video bersama Rimba. Dari pembicaraan Rossa dengannya ada beberapa fakta menarik yang kudengar.


Jadi nama Gadis ini adalah Dara, dan Ia dulunya pernah menjadi anggota Geng Dua roda. Dan ternyata Dara selama ini tidak mengetahui kalau Rimba menjebak Rossa dengan menggunakan Video dari kesalahan masa lalunya.


"Kenapa gak pernah cerita?" Tanya Dara.


"Aku gak mau kau jadi kepikiran." Jawab Rossa.


"Tapi seharusnya kamu gak terseret masalah karena aku." Kata Dara.


"Gak apa-apa." Ucap Rossa sambil menggeleng pelan. "Aku cuma mau bantu."


Dara berterimakasih sambil memeluk Rossa sekali lagi. Lalu Ia menelpon seseorang untuk menemuinya.


--


Saat ini aku kembali memasuki rumah besar tempat berkumpulnya Rimba dan Kawanannya. Tapi tempat ini tak seramai seperti di pesta. Rimba kini hanya bersama dengan Pemuda berkacamata dan tiga Pemuda lainnya. Kenapa aku ada di tempat ini? Karena aku mengikuti Rossa yang datang bersama Dara yang membawa serta Pemuda berdagu belah yang tak lain adalah Pemimpin Divisi Timur Geng Dua roda bersama dengan dua teman laki-lakinya yang merupakan anggota Geng. Pertemuan antara Divisi Timur dan Kawanan Selatan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah Permata Hitam.


"Duduk!" Rimba mempersilahkan.


"Gak perlu. Kami gak akan lama." Sahut Dara yang langsung mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman Video yang diperlihatkannya ke Rimba.


Isi dari Video itu adalah Dara yang memainkan ponsel Rimba sebelum meletakkannya di aspal, sebelum satu motor bercat hitam melaju dan melindas ponsel itu hingga remuk. Rimba yang melihatnya jelas sekali terkejut.


"Kau gak bisa lagi paksa Rossa untuk balapan." Ucap Dara dengan nada tajam. Lalu Ia menggeleng dan berkata dengan nada yang berubah menjadi kekecewaan, "Gak kusangka kau manfaatkan persahabatan kami." Dan akhirnya ditutup dengan nada pelan yang hampir tak terdengar. "Kau memang berubah."


"Itu memang salahku." Kata Rimba dengan nada yang anehnya terdengar penuh penyesalan. "Maaf." Ucapnya, yang membuat semua orang di tempat ini tersentak. Rimba memang terlihat lebih lesu dan kacau dibandingkan malam sebelumnya.


"Ayo! Kuantar kalian." Kata Rimba kemudian. Saat teman-temannya mengikuti melangkah di belakangnya, Ia berbalik dan berkata, "Kalian tunggu disini."


"Tapi Bos..."


"Tunggu disini!" Tekan Rimba. Lalu Pemimpin Kawanan Selatan ini mengantar Rossa, Dara, dan Divisi Timur sampai ke pintu masuk di depan halaman rumah. Jelas sekali mereka mencurigai Rimba yang bersifat sangat tenang. Tapi tak terjadi sesuatu yang aneh sampai mereka pergi.


Aku tetap mengikuti mereka untuk menjaga Rossa sampai ke rumahnya, jaga-jaga saja kalau-kalau Rimba menghubungi Kawanannya yang tersebar di kota untuk menyergap Rossa dan yang lainnya. Sulit bagiku untuk percaya manusia sebuas Rimba akan tetap duduk dengan manis di rumahnya. Dan pada saat itu, setelah beberapa meter berlari mengikuti Rossa menjauh dari tempat Rimba, aku merasakan kebencian dan amarah yang teramat besar dari belakangku. Ketika aku menoleh, aku bisa melihat Aura hitam yang memanjang seperti garis bergelombang di langit malam yang diterangi cahaya bulan purnama. Pemandangan mengerikan itu muncul dari tempat yang baru saja kukunjungi. Itu aura hitam Rimba!


--


...Titah...


Geng Dua roda adalah geng terbesar yang terbagi menjadi beberapa kelompok yang tersebar di sepenjuru kota. Dan kelompok yang terbesar dan terbuas adalah Kawanan Selatan. Meskipun berpusat di Daerah Selatan, tapi anggotanya tersebar di daerah lainnya.


Di Utara, ada beberapa anggota yang sedang makan bakso kaki lama.


Di Barat, ada anggota yang mengikuti taruhan di lokasi balap liar.


Di Timur, ada anggota yang sedang melakukan transaksi narkoba.


Dan di Pusat, ada kelompok yang sedang bentrok dengan kelompok yang memburu mereka.


Mereka semua menerima pesan Video yang dibagikan ke grup obrolan online di ponsel mereka. Video itu dikirim dari Selatan. Isinya adalah Bos mereka, Rimba, yang memberikan Titahnya.


"Aku tahu aku minta kalian untuk menahan diri selama ini." Rimba memulai. "Tapi sekarang aku berikan Perintah baru." Lanjutnya. "Untuk kalian yang menganggap diri kalian sebagai Geng Dua roda dan menganggapku sebagai pemimpin kalian: sekarang kalian bebas mengamuk. Utara, Barat, Timur, Selatan, dan Pusat, kalian bebas hajar siapapun yang bukan bagian dari Geng Dua roda. Kota kita adalah Alam liar. Dan aturannya hanya satu; Serang atau Diserang. Lepaskan kebuasan kalian!"


Setelah melihat Video dari Bos mereka, mulai malam itu Geng Dua roda memulai kerusuhan di banyak tempat di kota.

__ADS_1


__ADS_2