
...Origins...
13 Ramadan. Tengah malam.
Aku masih berada di ruangan yang sama dengan Rimba, Pemimpin Geng Dua roda dari Selatan. Aku menggenggam ponselnya di tanganku dan tercengang akan informasi yang kuperoleh setelah membuatnya memerah. Gadis yang ada di Video bersama Rimba yang digunakan untuk memeras Rossa adalah manusia yang belum pernah kutemui sebelumnya. Fakta ini yang membuatku bingung. Jika itu bukan Rossa, kenapa Ia bisa dipaksa untuk balapan sebagai Permata Hitam mewakili Kawanan Rimba? Aku harus secepatnya mengungkap misteri ini. Dan aku terpikirkan satu rencana yang aku tak tahu akan berhasil atau tidak.
Salah satu kemampuanku adalah aku bisa melihat kepingan memori yang keluar dari aura hitam hasil emosi negatif manusia. Aku juga terus-menerus melihat kepingan memori dari manusia anggota Geng Dua roda yang aku bahkan tak tahu identitasnya tapi seakan aku menjalani pengalaman itu sendiri. Aku sendiri tak tahu bagaimana bisa aku mendapatkan kepingan memori itu, karena aku kehilangan ingatanku. Berdasarkan itu, mungkin saja aku bisa mengakses kemampuan yang pernah kukuasai tapi aku melupakannya. Jadi kali ini aku akan mencoba bereksperimen.
Aku memperhatikan Rimba yang berbaring di atas tempat tidur. Melihat dari dengkuran halus yang dikeluarkannya, sepertinya Ia tertidur pulas. Aku mendekat dan menempelkan telapak tangan kiriku ke kepala Rimba. Lalu aku berkonsentrasi sambil mengharapkan dua hal terjadi; Aku bisa melihat kepingan memorinya dan tak merusak otaknya saat melakukannya. Aku sendiri tak terlalu yakin akan bisa melihat kepingan memori Rimba, tapi aku terus berkonsentrasi dan ternyata pada akhirnya berhasil.
Seperti sedang menyaksikan video kompilasi yang terdiri dari potongan-potongan rekaman acak yang berganti setiap 5 detik. Terlalu cepat dan membingungkan. Aku mencoba untuk berkonsentrasi pada ponsel yang ada di tangan kananku. Aku berfokus ke Video Rimba dan Gadis misterius. Seketika informasi tentang Video dan Gadis itu mengalir masuk ke diriku. Seperti saat mengetikkan satu kata kunci di internet dan semua informasi yang berhubungan dengan itu mulai bermunculan. Begitulah yang kualami. Aku memilah informasi itu sampai mendapat kesimpulan yang kubutuhkan.
Gadis di Video yang ada di ponsel Rimba adalah mantan pacarnya yang tadi sempat disebut-sebut Jo. Gadis itu adalah temannya Rossa. Video itu tak pernah diperlihatkan ke orang lain. Dan berkasnya tak pernah diduplikasi. Hanya ada satu Video di ponsel yang kupegang ini. Rimba membuat perjanjian dengan Rossa yang ingin membantu temannya dengan menghapus Video itu untuk selamanya. Kuota balapan itu harusnya terpenuhi setelah balapan tadi. Tapi kecelakaan membuat balapan dibatalkan dan akan diatur ulang beberapa hari ke depan. Tersisa satu balapan lagi untuk Rossa. Tapi kini aku bisa merubahnya.
Aku berusaha keras untuk hanya berfokus ke informasi tentang Video bermasalah itu. Tapi semakin lama aku berkonsentrasi, kepingan memori Rimba mendobrak masuk dan tersinkronisasi dengan kepingan memori dari manusia yang selama ini kulihat. Aku tertarik ke waktu dan tempat lain...
Pertama aku berada di warung makan. Di meja panjang yang sama denganku, aku melihat Pemuda dengan ikat kepala batik, Pemuda yang dirawat di Rumah sakit karena luka berdarah di kepalanya, dan tiga Pemuda lainnya. Di meja lain juga ada 5 Pemuda lain yang kesemuanya juga mengenakan jaket atau kaus dengan Logo Geng Dua roda. Lalu datanglah Pemuda yang langsung menuju meja itu, menjambak salah satu Pemuda yang duduk disana, dan membenturkan kepalanya ke meja. Pemuda lain di meja yang sama langsung bertindak dengan menyerang Pemuda baru ini. Tapi meskipun dikeroyok Pemuda baru ini bisa melawan dengan sengit.
__ADS_1
Aku pernah melihat Pemuda ini sebelumnya. Meski kini tanpa kepingan hitam di telinganya, aku tetap mengenalinya. Pemuda yang memicu perkelahian ini adalah Rimba yang lebih muda dari yang kutemui. Ini pasti kenangan akan beberapa tahun lalu. Meski lebih muda, Rimba tetap buas dan kuat. Pemuda yang mengeroyoknya bahkan sampai kewalahan. Melihat hal itu, Pemuda ikat kepala maju mendekati meja yang satunya untuk melawan Rimba. Namun ketika mereka berhadapan dan saling mencengkram kerah baju masing-masing, terdengar gebrakan dan teriakan yang berasal dari Ibu pemilik warung. Si Ibu dengan wajah galaknya mendekat dan menjewer telinga berdua sambil memarahi mereka karena berkelahi di warungnya. Satu fakta mengalir jelas ke benakku, Si Ibu pemilik warung adalah Ibu kandung Pemuda berikat kepala batik.
Kenangan kedua terjadi di jalur balap liar. Aku mengendarai motor sport dengan kecepatan tinggi. Di sampingku adalah Joki lain yang juga mengendarai jenis motor yang sama. Angin dingin khas malam hari menerpa tubuhku yang berada di atas motor. Beberapa meter di depan, aku bisa melihat kerumunan orang yang menunggu Joki pertama yang akan lebih dulu sampai disana. Jarakku dengan lawanku sangatlah dekat. Aku memimpin hanya dengan selisih roda depan saat kami melintasi garis finish. Setelah aku melambatkan motor hingga akhirnya berhenti, orang-orang mendatangiku. Diantara mereka adalah dua yang paling familiar; Pemuda dengan ikat kepala dan Pemuda yang satunya, bersama dengan Pemuda lainnya yang ada di warung.
Joki lain yang membuka helmnya dan mengungkapkan identitasnya yang tak lain adalah Rimba melangkah ke arahku sambil berteriak kesal. Beberapa Pemuda dengan jaket Dua roda menahannya, tapi aku meminta mereka untuk membiarkannya maju. Setelah terbebas, Rimba langsung meninju wajahku, pukulan keras yang membuatku termundur. Aku memberi isyarat ke anggota Geng Dua roda untuk tak ikut campur.
Rimba maju lagi dengan tinjunya, tapi kali ini aku bisa menghindar. Aku membalas dengan meninju perutnya dengan tangan kananku, lanjut memukul punggungnya dengan lengan kiriku, dan memberi uppercut yang telak mengenainya. Aku melanjutkan dengan menghantamkan tinju kiri ke wajahnya. Saat aku melayangkan tinju kanan, Rimba menahannya dengan lengan kirinya dan mendaratkan pukulan kanan ke wajahku. Aku sengaja mundur ke belakang selangkah supaya aku bisa menjaga jarak dan menendang perutnya dengan keras. Selagi Rimba termundur ke belakang, aku melompat maju untuk menyerang. Tapi Rimba menahan seranganku dan memberi serangan balasan.
Aku dan Rimba terus berbalas menyerang dan menahan serangan. Kami meninju dan menendang cepat dan keras. Darah mulai mengalir di wajah kami yang lebam. Tapi kami berdua tak akan berhenti sebelum ada yang benar-benar kalah. Setelah beberapa lama aku berhasil mendesak Rimba sampai termundur ke belakang dan jatuh dekat kumpulan orang yang mengerumuni kami sambil berseru penuh semangat. Aku sempat sempoyongan ke belakang tapi aku masih berhasil menjaga diriku agar berdiri tegak. Dan Rimba juga belum menyerah, ia bangkit berdiri meski gemetaran sepertiku.
Aku tahu ini adalah kepingan memori dari waktu yang telah lewat, kejadian yang bahkan bukan aku yang menjalaninya. Tapi aku merasa menjalaninya secara langsung tepat disaat ini juga. Dan aku benar-benar ingin mengalahkan manusia yang menjadi lawanku ini. Dengan serangan terakhir ini, aku akan membuat Rimba benar-benar jatuh. Aku berdiri tegak, lalu maju menerjang dengan cepat dan melompat dengan kedua kaki terangkat menghantam tubuh Rimba dengan keras. Aku terjatuh dengan punggung menghantam tanah, tapi aku masih punya kekuatan untuk berguling dan bangkit. Sementara itu di hadapanku Rimba tergeletak dengan lemah di dekat kerumunan orang. Sedetik berikutnya terdengar sorak sorai kegembiraan dari anggota Geng Dua roda.
Kenangan berganti lagi saat Aku dan anggota Geng Dua roda yang kini bertambah beberapa orang termasuk Rimba sedang bersiap melawan kelompok lain yang jumlah anggota seimbang. Kelompok ini dipimpin oleh Pemuda dengan bentuk rahang kotak dan dagu belah. Aku memimpin Rimba dan yang lainnya maju menyerang mereka.
Kenangan berikutnya kembali lagi ke Warung makan milik Ibu Pemuda dengan ikat kepala batik. Kami dan kelompok yang tadi menjadi lawan kami berada di tempat ini setelah selesai bentrokan. Kedua kelompok kami telah menyelesaikan masalah dan berdamai. Pemimpin mereka memutuskan untuk bergabung dengan Geng Dua roda. Lalu datang kelompok lain yang mencari Geng Dua roda ke Warung. Kami baru saja menyelesaikan satu perkelahian, tapi kami lebih dari siap untuk meladeni kelompok baru ini. Bahkan Pemuda berdagu belah dan kelompoknya juga siap membantu sebagai anggota baru dari Geng Dua roda. Kemudian majulah pemimpin mereka yang tak lain adalah Rian. Rian menjelaskan kekeliruan yang terjadi dan mengungkapkan keinginannya dan kelompoknya mencari Geng Dua roda adalah untuk bergabung.
Di kenangan terakhir Aku berada di semacam gudang yang besar dan luas yang berbentuk persegi panjang. Aku tak sendirian, tempat ini dipenuhi banyak sekali Pemuda yang merupakan anggota Geng Dua roda yang semakin membesar. Aku ada di salah satu sisi terujung gudang, duduk disekitar meja bersama dengan beberapa Pemuda lainnya. Mereka adalah Pemuda dengan ikat kepala batik dan temannya, Rimba, Rian, dan juga Pemuda berdagu belah. Aku menjelaskan situasi Geng Dua roda yang anggotanya semakin banyak dan reputasi Geng yang semakin dikenal.
__ADS_1
Lalu Aku mengungkapkan ide untuk membagi Geng menjadi Divisi berdasarkan daerah para anggota. Dan menunjuk mereka untuk memimpin Divisi baru. Rimba yang berasal dari Selatan akan memimpin Divisi Selatan. Rian menjadi pemimpin Divisi Barat. Divisi Timur dipimpin oleh Pemuda berdagu belah. Sementara Pusat ada di situasi berbeda karena aku menunjuk Pemuda dengan ikat kepala batik dan temannya untuk mengawasi mereka. Semua Pemimpin akan bertanggung jawab dengan tindakan dari Divisi masing-masing. Tapi mereka tetap melapor padaku yang juga mengepalai Divisi Utara dan sebagai Pemimpin tertinggi, Ketua Geng Dua roda.
Sebagai simbolisme peresmian pembentukan Divisi, Aku dan para Pemimpin bersulang dengan minuman kaleng. Semua anggota juga ikut bersulang dan makan camilan yang sudah dibagi-bagikan. Lalu...
"Brakk! Brakk!"
Suara gedoran di pintu mengembalikanku ke masa kini, kembali ke kamar Rimba.
"Brakk! Brakk! Brakk!"
Gedoran pintu yang terus terdengar membangunkan Rimba yang dengan lunglai turun dari tempat tidur dan melangkah gontai ke pintu untuk membukanya. Yang ada dibaliknya adalah Pemuda berkacamata dan dua temannya. Mereka terlihat tegang.
"Apa!?" Tanya Rimba dengan suara serak.
"Ada yang OD di bawah." Sahut Pemuda berkacamata.
"Apa!?" Pekik Rimba. "Setan!" Makinya sebelum keluar kamar dan cepat-cepat menuju ke bawah.
__ADS_1
Intervensi ini merupakan hal baik bagiku. Karena aku membuat ponsel memerah, aku tak bisa menembus dinding atau lantai begitu saja. Ponselnya memang tersembunyi dari manusia, tapi tetap tak bisa menjadi materi yang menembus benda padat. Jadi aku harus menuruni tangga dan melewati semua pintu untuk keluar dari rumah ini. Ini benar-benar tidak efektif. Bagaimana manusia bisa terbiasa hidup seperti ini? Kami Bangsa Jin bisa menembus bangunan buatan manusia dengan mudah.
Tapi untunglah kerumunan manusia yang di bawah sedang disibukkan karena ada dari mereka yang Overdosis narkoba. Jadi tak ada manusia yang cukup mabuk hingga mencegatku untuk meninggalkan tempat ini. Aku tergoda untuk tinggal lebih lama dan menyaksikan saat-saat Rimba menyadari kehilangan ponselnya. Bisa melihat reaksinya yang kebingungan akan sangat memuaskan. Tapi aku tak mau berlama-lama lagi di tempat ini. Aku dapat apa yang kubutuhkan. Video di ponsel ini, Rimba memanfaatkan ini untuk mengekang Permata Hitam. Rossa ingin menolong temannya, dan aku akan membantunya mewujudkan itu.