
...Reuni...
17 Ramadan. Malam.
Pernahkah kau merasa hampa? Pernahkah kau mempertanyakan kebenaran akan dirimu? Sepanjang hidupmu, kau meyakini mengetahui siapa dirimu. Tapi tiba-tiba kau diberitahukan kalau itu bukanlah dirimu. Kau mencoba menolaknya, tapi kau tak bisa lari dari kenyataan itu. Krisis Identitas. Itulah yang kini kualami. Sampai beberapa hari lalu, aku adalah Jin Gelap. Tapi kini aku terpaksa menerima kenyataan kalau aku bukanlah Jin Gelap lagi... Kini Aku adalah Jin Terang. Bagaimana itu mungkin? Aku juga tak tahu.
Selama tiga hari terakhir ini aku mengisolasi diriku. Mencoba untuk menenangkan pikiranku. Mencoba untuk mencari tahu alasan aku berubah. Mencoba untuk menemukan jalan keluar dari situasi ini. Tempatku mengisolasi diri tak lain adalah bangunan terbengkalai dengan pohon beringin besar yang tumbuh di dalamnya. Tempat yang pernah kukunjungi ketika aku masih menjadi Jin Gelap, bersama dengan mentor Jin-ku, Ra-ul dan Ri-val.
Ketika aku datang ke tempat ini di malam tiga hari yang lalu, tempat ini sedang digunakan sebagai lokasi transaksi narkoba oleh beberapa pemuda. Dengan sedikit usaha aku berhasil menakuti mereka hingga lari tunggang langgang. Dan fakta mengesalkannya, meskipun aku melakukan hal yang kurang baik seperti itu, aku tetap tak kembali lagi ke diri lamaku! Dan kini setelah tiga hari berlalu, aku masih tak mendapatkan apa yang kucari! Yang kurasakan saat ini adalah kebosanan penuh yang tak terhapuskan! Aku harus segera pergi dari tempat ini!
Aku memutuskan untuk berkeliling Daerah Timur, karena aku jarang sekali mengelilingi bagian kota ini. Suasana jalanan di malam ini cukup ramai meskipun saat ini seharusnya masih waktunya Shalat Tarawih. Sepertinya memang seiring bergantinya hari, semakin berkurang manusia yang Shalat Tarawih di Masjid. Setelah sering kuperhatikan, kebanyakan bahkan hanya Shalat Isya, lalu menghilang sewaktu Tarawih, dan ajaibnya kembali lagi waktu Shalat Witir. Biasanya anak-anak hingga remaja yang seperti itu. Yah, terserahlah. Itu juga bukan urusanku.
Setelah beberapa menit berkeliling, aku tak menemukan apapun yang menarik perhatianku. Hanya suasana malam yang membosankan seperti biasanya. Aku sempat berpikir untuk mencari lokasi Balap liar agar aku bisa bersenang-senang sedikit, lalu aku menyadari ini masih terlalu awal. Jadi kulanjutkan saja jalan-jalan tanpa tujuan ini. Tapi kemudian aku berpapasan dengan pengendara motor yang sepertinya tak asing bagiku.
Karena penasaran aku berlari mengikuti Pemuda yang mengenakan kemeja dan celana panjang berbahan denim berwarna biru gelap yang baru saja lewat di hadapanku. Aku merasa seperti pernah bertemu dengannya. Dan begitu aku berhasil menyusulnya dan berlari mengimbangi di samping motornya, barulah aku teringat. Pemotor ini adalah Pemuda yang pernah kutemui di hari sebelum Ramadan.
Aku masih ingat dengan jelas kejadian di Warung Bakso Mama. Malam itu aku menyaksikan Ra-ul dan Ri-val yang beraksi dengan mengadu dua Pemuda untuk berkelahi. Salah satu Pemuda datang bersama kekasihnya, sedangkan Pemuda yang lainnya datang bersama dengan Pemotor yang sedang kuikuti ini. Rambutnya yang bergaya undercut itu memang sudah bertambah lebat, tapi wajahnya adalah wajah dari manusia yang sama.
Karena aku sedang bosan dan tak ada sesuatu penting yang harus dilakukan, kuputuskan untuk mengikuti Pemuda ini dan memperhatikan hidup macam apa yang dijalaninya. Dan karena masalah yang kualami saat ini, aku menjadi kurang bersemangat untuk terus berlari mengikuti motor. Jadi aku menunggu hingga melalui polisi tidur dan langsung melompat ke atas motor Si Pemuda. Ia sempat terkejut sedikit karena perubahan beban dan menoleh ke belakang untuk memeriksa. Untunglah manusia ini tak bisa melihatku. Jadi aku tetap duduk santai di belakangnya sampai ke tempat yang ditujunya.
Kami berhenti di Warung Bakso yang tak asing lagi, Warung Bakso Mama. Kali ini warung makan sederhana ini dipenuhi setidaknya sepuluh Pemuda yang datang dengan motor-motor mereka. Aku mengingat dua dari mereka. Laki-laki berdagu belah yang merupakan Pemimpin Divisi Timur Geng Dua roda dan temannya yang pernah kutemui beberapa malam lalu di Markas Kawanan Selatan saat menyelesaikan masalah Permata Hitam.
Pemuda berdagu belah yang mengenakan kaus berlogo Geng Dua roda dan sembilan pemuda lainnya menyambut Pemuda yang kuikuti. Itu berarti mereka semua adalah Geng Dua roda Divisi Timur. Sepertinya mereka juga baru datang, karena pesanan mereka sedang disiapkan. Dan Pemuda yang kuikuti juga langsung memesan makanan dan minuman. Dari obrolan mereka saat sedang menanti, kini aku tahu nama dari Si dagu belah dan Pemuda yang kuikuti; Wawan dan Dwi.
Mereka juga membahas tentang kelompok lain dari Geng Dua roda yang menjadi liar di sepenjuru kota. Ada dari mereka yang menebak kelompok itu adalah anggotanya Rimba dari Kawanan Selatan. Sepertinya tidak mengherankan jika memang benar. Dan ada satu hal menarik lagi yang mereka bahas. Tentang Pahlawan Tak Terlihat yang menurut mereka semakin banyak dibicarakan di kota. Dwi menunjukkan video dari ponselnya yang menunjukkan rekaman CCTV di jalan raya Daerah Timur ketika truk yang remnya blong menyasar ke teras toko. Tapi hal ajaibnya adalah manusia di luar toko yang tiba-tiba berpindah tempat tepat sebelum truk menabraknya.
Lalu Dwi menunjukkan video lain yang dikumpulkannya dari internet. Salah satu video dari Daerah Utara menunjukkan rekaman CCTV dari rumah yang didatangi dua pencuri yang melompat pagar depan. Tapi baru beberapa langkah, kedua pencuri itu terpental ke belakang hingga menubruk pagar karena dihantam kekuatan tak terlihat. Karena ketakutan, kedua pencuri itu pun batal mencuri dan melarikan diri. Video lain menunjukkan aksi pencurian motor di Daerah Pusat yang juga digagalkan oleh sosok tak terlihat yang seakan-akan menahan motor sehingga tak bisa dijalankan meskipun sudah digas maksimal.
Menurut Dwi, Sosok Tak Terlihat yang membantu manusia untuk terhindar dari kecelakaan dan juga menggagalkan tindak kriminal mulai muncul sekitar seminggu terakhir. Orang-orang mulai menyebutnya Pahlawan Tak Terlihat dan kini sedang menjadi topik hangat di kota. Meskipun banyak orang yang menyangkal kebenaran dari video-video itu. Memang manusia tak akan bisa melihat sosok penolong di dalam video. Tapi aku bisa melihatnya, meskipun hanya bayangan merah samar. Dan aku yakin sekali Pahlawan Tak Terlihat yang menggemparkan kota ini tak lain adalah Jin. Yang berarti, ada Jin selain diriku yang tetap berada di Bumi di Bulan Ramadan ini.
Jika benar ada Jin lain yang berkeliaran di kota, aku harus menemukannya. Mungkin Jin itu bisa memberikan penjelasan mengenai apa yang kualami. Tapi petunjuk yang kumiliki hanyalah video-video yang diperlihatkan Dwi. Itu juga tak semua video yang disimpan di ponselnya. Mungkin... Mungkin saja jika aku menyentuh ponsel itu dan berkonsentrasi, aku akan bisa melihat video-video lainnya dan mendapatkan petunjuk tambahan dari detail-detail kecil. Seperti yang terjadi dengan ponsel Rimba. Namun saat ini Dwi menyimpan ponsel di saku celananya, dan aku tak bisa langsung merogoh celananya begitu saja. Akan terjadi keributan yang tak diperlukan jika kulakukan itu. Jadi aku menunggu saat yang tepat untuk menjalankan rencanaku.
Ternyata penantianku harus membawaku ke tempat lain, karena tak seperti Wawan dan Pemuda lainnya yang makan di tempat, Dwi memesan 3 porsi untuk dibungkus dan dibawa pulang. Setelah itu Ia berpamitan pada teman-temannya dan bersiap pergi.
"Tiga bungkus untuk siapa aja?" Tanya Wawan.
__ADS_1
"Untukku, untuk Ical, yang terakhir rahasia." Jawab Dwi sambil tersenyum.
"Ah..." Geram Wawan sambil berpaling begitu mengenali senyum di wajah Dwi. "Kau masih sering ke sana?" Tanyanya kemudian dengan nada tak percaya.
Dwi diam beberapa detik sebelum mengangguk dan berkata, "Yap!"
Wawan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa?"
Dwi menjawab dengan gestur jari-jemari kedua tangannya yang dirapatkan membentuk hati.
Wawan menggeleng-geleng lagi melihatnya. Lalu Ia berkata, "Oke, tapi hati-hati, sob."
"Situasi di sana aman terkendali." Balas Dwi.
"Maksudku bukan di sana, tapi hati-hati di jalan."
"Oh... Ya, oke. Aku pasti hati-hati."
Ekspresi Wawan menjadi sedikit lebih serius saat Ia memperingatkan, "Jalanan jadi tambah gila. Bukan cuma bawahan Rimba, tapi ada banyak kelompok baru. Ada kelompok yang khusus incar anggota Dua roda. Kalau gak salah mereka disebut Pemburu."
"Mereka sudah sampai ke sini?" Tanya Dwi.
"Separah itu ya?"
"Hati-hati aja. Kalau ada apa-apa, langsung telpon." Wawan mengingatkan.
Dwi pun mengangguk untuk terakhir kalinya dan melajukan motornya denganku yang duduk di belakangnya.
Aku mengingat desas-desus tentang Pemburu, kelompok yang mengincar anggota Geng Dua roda dan merebut atribut mereka. Pemburu baru muncul kurang-lebih sepuluh hari yang lalu dan hanya beroperasi di Daerah Pusat kota. Tapi sepertinya reputasi Kelompok itu meningkat dengan cepat sejak saat itu. Dan kini sudah tersebar di daerah lain. Yah, tak mengherankan. Aku bahkan sudah mengira hal ini akan terjadi. Meskipun begitu, selama ini aku belum pernah bertemu dengan Para Pemburu yang tersohor ini.
Perhentian pertama setelah Bakso Mama adalah rumah kontrakan kecil bercat Merah, Kuning, Hijau yang cerah dan memberikan nuansa kegembiraan. Yang keluar dari dalam rumah menyambut Dwi yang membawakan sebungkus bakso adalah Pemuda berambut ikal mirip Mie yang mengenakan kaus Hijau dan celana berwarna sama. Kutebak Pemuda ini yang bernama Ical. Dan Ia tak lain adalah Pemuda yang berpakaian dengan corak warna menyerupai lampu lalulintas yang datang bersama dengan Dwi ke Bakso Mama saat aku pertama kali datang ke Warung itu bersama Ra-ul dan Ri-val.
Ical mempersilahkan Dwi untuk masuk. Tapi Dwi terkejut begitu menyadari ada dua orang lain di dalam rumah. Lebih tepatnya yang membuatnya terkejut adalah siapa kedua orang itu. Mereka adalah sepasang kekasih yang juga ada di Warung Bakso Mama di malam itu. Malam dimana Ical dan Si Pemuda berkelahi setelah diadu domba Ra-ul dan Ri-val karena permasalahan yang menyangkut Si Gadis. Tapi malam ini mereka tampak bersahabat dan tanpa adanya percik-percik aura hitam amarah dan dendam.
Ini hampir mirip dengan acara reuni antara Aku, Dwi, Ical, dan sepasang kekasih itu. Hanya saja tak ada Ra-ul ataupun Ri-val di tempat ini. Karena mereka menghilang di malam sebelum Ramadan. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana mereka berkedip-kedip dan meledak di tengah pertarungan besar dengan Jin Terang. Sejujurnya aku sangat merindukan mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf, aku gak tahu ada tamu lain." Kata Dwi. "Aku cuma beli sebungkus." Lanjutnya sambil menyerahkan bakso ke Ical.
"Gak apa-apa." Kata Si Gadis yang duduk di karpet. "Kami juga udah mau pergi."
Lalu Si Gadis bangkit dan mendekati Ical yang berdiri di dekat pintu masuk. Ia memeluknya dan berpamitan. Kemudian Si Pemuda juga mendekati Ical dan menepuk pundaknya sambil pamit. Setelahnya Ical dan Dwi mengiringi mereka sampai ke teras depan rumah.
"Hati-hati di jalan!" Kata Ical ke Pasangan kekasih itu sebelum mereka berkendara menjauh.
"Jadi... Sekarang kalian damai?" Tanya Dwi penasaran.
"Ya. Kami berteman lagi sekarang." Jawab Ical.
"Mereka selingkuh darimu. Kau yakin gak masalah soal itu?" Tanya Dwi lagi.
"Ya." Ical menjawab dengan penuh keyakinan di wajahnya. "Mereka memang cocok. Setelah kupikir-pikir marah juga gak ada gunanya. Mungkin jodohku itu orang lain yang masih belum datang."
"Kata-kata yang bagus!" Ucap Dwi sambil merangkul pundak temannya. "Aku bangga, Teman!" Sambungnya dengan ceria. "Tapi aku harus pergi lagi." Katanya setelah melepaskan rangkulannya. "Aku ada janji spesial..." Tambahnya dengan tersenyum.
Ical memandang dengan mata yang disipitkan dan menebak, "Janji dengan Gadis cantik?"
"Cantik... Tapi bukan Gadis..." Koreksi Dwi.
"Monyet?"
"Monyet? Siapa yang anggap monyet itu cantik?"
"Monyet jantan."
Dwi meregangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya sambil menggeleng-geleng. "Aku harus pergi."
"Hati-hati di jalan!" Ucap Ical.
"Pasti!" Sahut Dwi sebelum melajukan motornya.
Aku masih tetap menumpang di belakang Dwi sampai ke pemberhentian berikutnya di kompleks perumahan yang cukup sepi. Sepertinya ini kompleks perumahan baru yang belum terisi penuh dan sebagian penghuninya sedang tidak di rumah malam ini, mungkin sedang Sholat Tarawih di Masjid, atau sekedar jalan-jalan malam.
__ADS_1
Dwi menghentikan motornya di depan pagar rumah. Lalu Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke seseorang. Tak lama kemudian pintu pagar dibuka oleh seorang Perempuan. Perempuan cantik yang mungkin berusia pertengahan dua puluhan itu tersenyum dan meminta Dwi untuk memasukkan motornya setelah menoleh ke sekitar. Begitu masuk, pintu pagar di tutup lagi dan dikunci. Perempuan itu langsung mengajak Dwi yang membawa dua bungkus bakso untuk masuk ke rumahnya.
Begitu Dwi masuk dan pintu rumah ditutup, Si Perempuan cantik langsung mengaitkan jemarinya ke jemari Dwi yang tak membawa Bungkus bakso. Mereka berdiri berhadapan dengan tersenyum kecil. Tak perlu kekuatan spesial Jin untuk mengetahui apa yang terjadi di hadapanku. Mereka menyukai satu sama lain. Dan tak perlu kekuatan juga untuk menyadari Perempuan ini sudah menikah dengan laki-laki lain. Sepertinya aku terseret ke dalam skandal perselingkuhan manusia. Sial!