
...Sebab dan Akibat...
17 Ramadan. Malam.
Aku masih berada di rumah No.22 di Kompleks perumahan Dua Cahaya. Aidah baru selesai memberi pertolongan pertama ke luka Dwi dan sekarang sedang membantu Pemuda itu untuk duduk.
"Pelan-pelan..." Ucap Aidah dengan lembut.
Luka di punggung Dwi sepertinya tidak terlalu dalam, tapi lukanya cukup panjang, sekitar satu jengkal tangan. Pengetahuanku di bidang perawatan luka bisa dibilang berada di nilai 0. Tapi aku menduga luka sepanjang itu tetap harus mendapatkan perawatan medis lanjutan. Lukanya perlu dijahit. Dan sepertinya dugaanku itu terbukti benar saat Aidah memanggil Si Satpam untuk meminta tolong.
"Tolong telepon Ambulans, Pak!" Ucap Perempuan yang pernah belajar di sekolah perawat itu.
Si Satpam dengan cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon pihak rumah sakit. "Halo, Assalamualaikum!" Ucapnya. "Saya Satpam di Perumahan Dua Cahaya. Saya mau melaporkan ada salah satu warga kami... Ah! Tunggu dulu sebentar..." Si Satpam menutupi ponsel dengan telapak tangannya dan berbicara pelan ke Dwi, "Kau bukan warga sini kan?"
Dwi memberikan jawaban dengan menggeleng pelan.
Si Satpam mengangguk paham, "Pantas mukamu kelihatan asing." Lalu Ia berbicara lagi ke ponselnya, "Halo! Ya? Ini masih saya. Saya mau melaporkan ada warga luar yang kebetulan saat ini berada di wilayah tugas saya. Ya? Ah.. Kompleks perumahan Dua Cahaya yang saya bilang tadi. Ya, ya. Benar. Ini serius! Warga luar yang saya sebut tadi membutuhkan perawatan medis untuk luka bacok di punggungnya." Si Satpam terus berbicara.
“Ya, luka bacok. Kompleks perumahan Dua Cahaya. Bisa kirimkan Ambulans segera?" Tanyanya pada akhirnya. Setelah menyampaikan hal penting yang harusnya disampaikan sejak awal, Ia mengangguk-angguk puas dan berkata, "Terimakasih!" Lalu setelah menutup panggilan di ponselnya, Si Satpam menoleh ke semua orang dan memberitahukan, “Ambulans segera datang!”
Namun belum satu menit lamanya, Ibu hamil yang juga ada disini tiba-tiba berteriak.
"Ada apa lagi, Bu?" Tanya Si Satpam yang langsung mendekat dengan wajah panik.
Si Ibu meringis sambil mengucapkan, "Bayi kita... Pak!"
__ADS_1
Seketika ada gambaran yang mulai memasuki benakku dan perlahan-lahan menjadi jelas. Si Satpam adalah suami dari Si Ibu hamil. Mereka tinggal di salah satu rumah di Kompleks perumahan ini. Dan alasan kenapa Satpam menghilang dari Posnya sebelum tragedi pembacokan terjadi adalah karena Ia sedang menemani istrinya yang tengah hamil tua di rumah. Mungkin karena pada saat seperti ini di malam-malam sebelumnya biasanya Kompleks perumahan memang sepi dan tak pernah terjadi hal buruk sehingga Ia merasa bisa menemani istrinya sejenak. Kewajiban akan pekerjaan atau kewajiban pada keluarga. Pasti pilihan yang sulit bagi setiap manusia.
"Aduh... Pak!" Jerit Si Ibu sambil meringis dan mencengkram lengan Suaminya yang memeganginya.
"Mau lahir, Bu?" Tanya Si Satpam.
"Kayanya... Iya... Pak!" Jawab Si Ibu sambil mengejan.
"Waduh, Bu!" Ucap Satpam. "Sebentar, Bu! Bapak ambil motor dulu!" Lanjutnya sambil celingak-celinguk. Tapi Istrinya menggenggam tangannya dengan erat hingga ia tak bisa pergi.
"Ini hamil anak ke berapa?" Tanya Si Nenek yang masih menggendong anak Aidah yang kini sudah tertidur.
"Pertama!" Satpam menjawab cepat.
"Nenek bisa?" Tanya Satpam.
"Di kampung Nenek itu dukun beranak." Ucap cucu perempuan si Nenek.
"Kalau begitu kita ke rumahku!" Sahut Satpam kemudian. "Ayo, Bu! Kita ke rumah!"
Tapi Si Ibu berteriak dan mengejan lagi.
"Bawa ke dalam kamar aja, Pak!" Tawar Aidah. "Biar nanti saya juga bantu persalinannya."
"Boleh, Bu?" Tanya Satpam.
__ADS_1
"Iya, boleh." Jawab Aidah sambil mengangguk.
Lalu mereka pun masuk ke salah satu kamar di rumah ini. Setelah membimbing tamunya ke kamar, Aidah keluar dan kembali lagi dengan membawa Baskom berisi air bersih dan handuk. Lalu tinggallah Aidah, Si Nenek, Satpam dan Istrinya di dalam kamar. Sedangkan Cucu si Nenek keluar dengan menggendong anak Aidah dan menemani Dwi yang terduduk di lantai.
"Sakit ya, Bang?" Tanya Si Anak Perempuan.
"Ya..." Jawab Dwi dengan lemas.
"Apa aja yang diambil, Bang?" Tanya Si Anak lagi.
"Cuma Handphone Abang..." Jawab Dwi lagi.
Anak Perempuan itu mengangguk-angguk sambil menimang-nimang bayi digendongannya. Lalu Ia bertanya lagi, "Nanti mau lapor polisi, Bang?"
Dwi menyahut sambil meringis menahan sakit, "Mungkin..."
Setelah mendengar obrolan mereka, aku baru ingat alasan yang membawaku ke tempat ini. Aku mengikuti Dwi sampai ke Kompleks perumahan Dua Cahaya karena berniat untuk menyerap informasi dari ponselnya tentang Pahlawan Tak Terlihat. Tapi kini sepertinya tujuanku itu tak akan terpenuhi dalam waktu dekat, karena ponsel Dwi dibawa lari oleh dua manusia berpakaian serba hitam yang sudah melukainya. Sepertinya aku harus mencari kedua manusia kurang ajar itu.
Lalu... Suara-suara mulai terdengar dari salah satu kamar yang digunakan sebagai kamar persalinan darurat. Aku belum pernah melihat proses melahirkan. Menurutku melahirkan kehidupan baru adalah kehebatan makhluk hidup lain yang tidak dimiliki oleh Jin. Dan aku penasaran dengan prosesnya. Tapi sesuatu di dalam diriku mencegahku untuk menembus masuk ke dalam kamar itu karena tidaklah pantas. Pasti ini efek karena aku sudah berubah menjadi Jin Terang. Jika aku masih Jin Gelap, aku pasti tak akan memedulikan *****-bengek sopan santun seperti ini. Merepotkan sekali.
Biarpun aku penasaran, pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap menunggu di luar kamar selagi proses persalinan berlangsung. Dan aku mulai memikirkan tentang apa yang terjadi, dan apa yang selama ini sudah kualami selagi hidup diantara manusia. Tak ada sesuatu yang terjadi begitu saja. Selalu ada sebab. Dari banyak malam lainnya, Dwi memilih malam ini untuk mengunjungi Aidah. Dan malam ini Si Satpam Kompleks perumahan Dua Cahaya juga memilih meninggalkan posnya agar bisa sejenak menemani istrinya yang sedang hamil tua di rumah mereka. Begitu juga dengan Si Anak Perempuan yang memilih tinggal di rumah bersama Neneknya ketika orangtuanya pergi. Dan Aku sendiri, aku memilih untuk mengikuti Dwi malam ini. Itulah Sebab.
Dengan adanya Sebab, muncullah Akibat. Dwi yang berada di rumah Aidah dilukai oleh Perampok yang mengincar rumah Ibu muda itu. Kedua Perampok itu masuk dengan leluasa karena ketidakhadiran Satpam di Pos jaganya. Tapi untunglah Aidah yang pernah belajar di sekolah perawat dapat memberikan pertolongan pertama ke luka Dwi. Dan Si Nenek yang di desanya merupakan Dukun beranak kini memimpin proses persalinan dari Istri Satpam bersama dengan Aidah, selagi cucunya menggendong bayi Aidah. Itulah Sebab-akibat.
Selalu ada Sebab-akibat. Para Perampok itu membawa ponsel Dwi dan melukainya. Mereka berdua tak bisa melakukan itu lalu pergi begitu saja tanpa menerima balasan setimpal atas perbuatan mereka. Dan karena Sebab itu, aku akan mencari mereka kemanapun sampai ketemu. Dan setelah aku menemukan mereka, kedua Perampok itu tak akan menyukai Akibat yang akan kuberikan pada mereka.
__ADS_1