
...Temukan Sendiri...
17 Ramadan. Malam.
"Keadaan disana aman terkendali kan, Pak?" Tanya Aidah ke Satpam Kompleks Perumahan Dua Cahaya.
"Aman, Bu!" Sahut si Satpam yang bernama Sapto ini. Lalu Ia merogoh sakunya dan menyerahkan sesuatu ke Dwi, "Ini kunci motormu!"
Dwi memperhatikan kunci motornya sejenak sebelum memasang tatapan tajam dan bertanya, "Motorku gak bapak buat lecet-lecet, kan?"
"Kau pikir aku ini anak kecil yang baru belajar naik sepeda gak pakai roda bantu terus belok-belok sampai nyungsep di parit, apa?" Ucap Sapto yang merasa diremehkan.
Dwi pun tersenyum sambil bilang, "Bercanda, Pak." Lalu Ia mengulurkan tangannya dan melanjutkan, "Selamat ya, Pak! Sekarang udah naik pangkat!"
Sapto yang tadinya hendak langsung menyambut uluran tangan Dwi, membatalkan niatnya begitu mendengar kalimat terakhir, "Naik pangkat apa ini maksudnya?" Tanyanya dengan wajah bingung.
"Naik pangkat dari Suami jadi Ayah lah, Pak!" Ucap Dwi dengan tampang polos.
Sapto yang paham pun mengangguk-anggukkan kepalanya dan menjabat tangan Dwi. "Bisa aja kau ini.." lalu Ia menoleh lagi ke Aidah dan mengucapkan, "Terimakasih ya, Bu untuk bantuannya tadi! Saya mau balik lagi ke dalam."
Yang dimaksud oleh Sapto adalah Ia harus kembali menemani Istri dan bayi laki-lakinya yang baru lahir yang kini ada di salah satu ruangan di Klinik Permata Hijau. Karena saat ini Ia sedang berada di parkiran Klinik bersama dengan Aidah, Dwi, Wawan, dan Dara yang menggendong bayi perempuan Aidah yang kini terjaga. Denganku juga tentunya.
Setelah proses persalinan cepat yang berjalan lancar di rumah no.22 di Perumahan Dua Cahaya, rupanya efek sampingnya membuat Istri Sapto menjadi sangat lemah dan membutuhkan tambahan cairan infus. Ambulans yang kembali lagi ke Perumahan Dua Cahaya dan menunggu sampai proses persalinan selesai, langsung membawa Istri Sapto dan anaknya ke Klinik Permata Hijau. Sementara itu Sapto setelah menyerahkan tugas jaganya untuk digantikan selama semalam oleh salah satu warga baik hati yang bersedia dengan membantu (Anak laki-laki Nenek Dukun beranak yang membantu persalinan), menuju ke Klinik Permata Hijau dengan membawa barang-barang yang dibutuhkan mengendarai motor milik Dwi.
"Saya juga terimakasih karena pengertian Bapak!" Ucap Aidah dengan tulus.
Sapto mengangguk sambil tersenyum. Lalu Ia berpaling ke Dwi dan mengatakan, "Kau ini berani juga, ya? Cepat sembuh, ya."
Dwi membalas dengan mengangguk. "Siap, Komandan!"
Sapto geleng-geleng saja karena dipanggil Komandan, lalu Ia berbalik dan melangkahkan kaki memasuki Klinik Permata Hijau.
"Jadi, aku dibonceng Wawan ke rumah kakaknya pakai motorku. Dara antar Aidah sampai ke rumahnya pakai motor Wawan. Gak keberatan kan, Dara?" Tanya Dwi saat membahas rencana mereka.
"Gak! Gak sama sekali!" Sahut Dara cepat. "Aku malah maunya lama-lama sama Putri!" Sambungnya sambil mendekatkan wajahnya ke bayi perempuan Aidah yang tertawa-tawa.
"Nginap aja kalau mau." Tawar Aidah.
"Boleh, Kak?" Tanya Dara dengan mata melebar.
Aidah menjawab dengan anggukan kepala. "Putri juga cocok tuh sama kamu. Kamunya mau, kan nginap di rumah?"
"Mau, kak!" Seru Dara yang kesenangan. Lalu Ia semakin menghibur bayi perempuan yang membuatnya gemas itu.
"Gak akan ada masalah, nih?" Tanya Wawan dengan ragu.
Lalu Aidah menjelaskan panjang-lebar tentang siasatnya yang disusun dengan rapi supaya tak ada tetangga yang mencurigainya, "Kalau ada orang di perumahan yang penasaran kenapa bisa Istri Pak Satpam tadi melahirkan di rumahku, tapi aku sendiri gak ada di rumah. Jawabannya... Karena Bu Satpam datang ke rumah untuk cari teman biar gak bosan sendirian, Nenek tetangga yang di Kampung jadi Dukun beranak juga datang untuk ngobrol bareng cucunya. tapi tiba-tiba ada kerabat yang datang dan jemput aku untuk pergi sebentar, jadi tinggallah Bu Satpam yang menunggu di rumahku bareng Nenek dan cucunya."
__ADS_1
"Jadi kalau aku pulang bareng orang lain, perempuan yang menginap di rumah dan datangnya pakai motor yang bukan motor yang sama yang tadi sempat ada di teras rumah, orang-orang akan jadi percaya, kan? Kalau mereka tanya kenapa aku lama. Aku tinggal jawab ternyata urusannya gak bisa selesai cepat." Tutur Aidah menjabarkan bagian akhir rencananya.
Wawan dan Dwi memandangi Aidah dengan sorot yang menunjukkan rasa takjub. Aku memang sudah mengetahui Aidah bekerjasama dengan Satpam dan juga Si Nenek untuk menutupi tragedi penyerangan di rumahnya, tapi detail rencananya ini sepertinya akan terdengar sangat meyakinkan bagi warga lain, karena fokus mereka adalah Ambulans datang untuk keluarga Sapto. Kelahiran si bayi juga akan membuat mereka terdistraksi untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi sebelumnya.
Setelah Dara dan Aidah meninggalkan Klinik Permata Hijau, Wawan berkata ke Dwi, "Dia masih mengerikan, ya?"
"Setuju!" Sahut Dwi sambil mengangguk. "Tapi disitulah pesonanya."
"Entahlah, Sob." Kata Wawan. "Dia jelas lebih cerdas darimu. Kau yakin gak dimanipulasi?"
"Aku juga gak yakin." Balas Dwi. "Tapi disitulah pesonanya." Lanjutnya mengulangi kalimat sebelumnya.
"Pesona yang jadi sebab lukamu itu?" Ucap Wawan. Kini dengan nada yang lebih tegas.
"Harusnya kau bangga temenmu ini jadi pahlawan!"
"Aku lebih bangga kalau kau gak sampai terluka!"
"Kau mau aku diam aja? Ada orang di depanku yang mau dilecehkan! Kau mau aku diam dan cuma nonton?" Tanya Dwi dengan nada tinggi.
Wawan melihat ke sekeliling, kalau-kalau ada yang melihat perdebatan mereka. Lalu ia berkata dengan nada pelan, "Aku cuma mau kau lebih hati-hati lagi."
"Ya, aku paham." Ucap Dwi dengan lebih tenang. "Aku... Maaf tadi sampai teriak.."
Wawan menepuk bahu temannya sambil bilang, "Aku juga minta maaf. Sekarang kita ke rumah Kakakku dulu, kau harus istirahat, sob."
--
Ketika melihat Wawan, Wahyu yang langsung setelah mendengar suara motor bukannya menyapanya Paman atau Om. Tapi Bocah itu memanggil langsung namanya, "Pulang! Wawan! Pulang!" Ucapnya dengan fasih sekata demi sekata meski dengan suara melengking khas anak kecil. Lalu Ia mengulurkan tangan mungilnya dan bilang, "Mana.. baksonya?"
Wawan menepuk jidatnya begitu menyadari sesuatu. "Om lupa beli..." Ucapnya. "Besok yah?"
Wahyu menundukkan wajahnya yang berekspresi masam.
Wawan berjongkok dan menghibur keponakannya, "Besok Wahyu ikut Om beli baksonya."
Wahyu pun mengangkat wajahnya yang kembali sumringah setelah mendengar janji itu. Lalu ia menoleh ke belakang Wawan, matanya terpaku ke tempatku berdiri, dengan jari menunjuk lurus Bocah itu berkata, "Hantu!"
Wawan dan Dwi serempak menoleh ke arahku. "Dimana?" Tanya Wawan.
"Disana.." sahut Wahyu masih tetap menunjukku. "Beldili." Ucapnya yang maksudnya pasti, 'Berdiri'.
Aku celingak-celinguk ke sekitar, tapi aku yakin anak itu memang menunjukku. Jadi kucoba untuk bergeser, dan ternyata jari anak itu juga ikut bergeser sesuai pergerakanku.
Wawan dan Dwi pun terus memperhatikan tingkahnya. Begitu juga dengan Wika, Ibunya yang sejak tadi masih diam.
"Wahyu!" Panggil Dwi. "Hantunya kaya apa?" Tanyanya.
__ADS_1
Wahyu terlihat seperti berpikir sebelum menjawab, "Tutup... Mukanya..."
Wawan dan Dwi saling pandang dengan wajah bingung.
"Udah... Ayo sini Wahyu masuk dulu!" Ajak Wika. Tapi anaknya tetap diam sambil melihatiku. "Minum susu dulu!" Ucapnya akhirnya.
"Susu!?" Wahyu langsung berpaling dan masuk ke dalam rumah.
Orang tua yang sensitif, Kucing hitam, Pemuda bijak yang kadang mengesalkan, dan sekarang anak berumur 3 tahun? Dari begitu banyaknya manusia lainnya? Benar-benar tak bisa dipercaya! Kerja bagus manusia!
--
Wika menyuguhkan teh dan roti untuk dinikmati Wawan dan Dwi sementara anaknya dengan suasana riang meminum susu dari botol bayi sambil duduk tepat di depanku. Bocah itu terus menikmati susunya sambil melirik ke arahku, seakan Ia sedang berusaha untuk membuatku iri. Sedangkan Ibunya menanyakan tentang luka Dwi.
"Jadi mau nginap disini dulu?" Tanya Wika.
"Iya, Kak. Malam ini aja kalo boleh." Sahut Dwi.
"Iya, Kak." Sambar Wawan. "Kalau pulang takut diceramahi sama Ibunya." Imbuhnya dengan seringai jahil.
Sambil menundukkan wajahnya, Dwi menyikut temannya karena mengungkap itu.
"Boleh, kok." Ucap Wika sambil tersenyum geli. "Kamar belakang juga kosong tuh." Sambungnya sambil menunjuk ke kamar ketiga di rumah ini.
"Terimakasih, Kak!"
"Sayangnya Pahlawan Tak Terlihat tadi ada di tempat lain, jadi gak bisa tolong kamu." Ucap Wika tiba-tiba menyebut nama sosok yang sedang coba kucari tahu lebih jauh ini.
"Dimana, Kak?" Tanya Dwi penasaran.
"Di warung makan dekat daerah pusat." Wika memberitahu. "Ada lima anggota Geng Dua roda yang datang minta uang ke pemilik warung sambil bawa senjata tajam. Orang-orang itu terseret sampai keluar warung kaya ditarik sesuatu. Kebetulan ada yang lagi rekam." Jelasnya sambil menunjukkan rekaman video di ponselnya.
Apa yang baru dijelaskan oleh Wika dan rekaman video yang dipertontonkannya benar-benar seakan menghantam kepalaku. Saat masih di Kompleks Perumahan Dua Cahaya, aku sempat berkonsentrasi dan seakan tertarik ke sumber cahaya terang yang letaknya dekat dengan tempat kejadian di Video itu. Ini berarti apa yang kualami tadi bukanlah sekedar halusinasi karena rasa frustasi yang timbul. Jika begitu, sepertinya aku sudah mengetahui siapakah sosok Pahlawan Tak Terlihat ini. Aku hanya perlu menemukannya.
Aku bergegas menuju keluar rumah dan langsung berkonsentrasi. Dunia di sekitarku terasa memudar. Tapi biarpun aku berkonsentrasi penuh, aku tak mendeteksi Cahaya Terang yang kurasakan sebelumnya, hanya beberapa percikan aura hitam. Dan kali ini ruang lingkup deteksiku lebih kecil dari sebelumnya, hanya sekitar setengahnya, 5 kilometer. Entah kenapa kemampuan deteksiku kali ini lebih lemah. Mungkin karena aku terlalu jauh dari Cahaya Terang. Mungkin jika aku berada di lokasi tempat keberadaannya sebelumnya, aku bisa merasakan sisa-sisa kehadirannya. Dan mungkin saja... Aku bisa menggunakannya sebagai sampel pendeteksi. Seperti kompas yang selalu menunjuk ke Utara.
Aku baru mau pergi ke tempat lain saat aku melihat Wawan keluar dari rumah lalu pergi mengendarai motornya. Karena rasa penasaran, kuputuskan untuk mengikutinya. Ternyata Wawan berkumpul dengan teman-teman satu Gengnya. Lalu Ia menjelaskan apa yang menimpa Dwi. Tapi Ia tak menceritakan keseluruhan detailnya, hanya hal penting yang harus di dengar teman-temannya, termasuk detail motor yang digunakan Kedua manusia berpakaian serba hitam.
"Jadi kau mau kami untuk cari motor ini?" Tanya Pemuda dengan telinga lebar. Ia salah satu dari dua Pemuda yang ikut mendatangi Rimba ketika menyelesaikan masalah Permata Hitam.
"Sulit kalau gak tahu nomor platnya." Pendapat Pemuda gemuk berdagu bulat. Ia juga ikut menemui Rimba.
"Motor itu rusak, bagian depan. Lampu sen sebelah kirinya juga hancur." Ungkap Wawan. Yang memicu tatapan penuh tanya dari teman-temannya. "Waktu aku bantu orang yang kecelakaan karena becaknya nabrak mobil tadi, ada motor ngebut nabrak becak yang udah terbalik. Dua orang... celana, jaket, topi, masker, semua warna hitam. Mereka langsung kabur lagi." Terang Wawan.
"Ciri-ciri orang dan motornya sama. Tapi sekarang rusak bagian depan, lampu sen kiri hancur. Kalian nyebar, cari motor itu! Kabari juga bengkel-bengkel kenalan kalau ada motor ciri-ciri sama yang masuk! Bubar!" Perintah dari Pemimpin Divisi Timur Geng Dua roda langsung dilaksanakan oleh anggotanya yang bergegas berpencar.
Tak kusangka Wawan menahan informasi sepenting itu saat jelas-jelas Ia bisa memberitahukannya ke Iptu Trijaya. Mungkin Ia ingin memastikan dengan usahanya sendiri. Mungkin Ia tak yakin pihak kepolisian akan menanggapi kasus ini dengan cepat disaat mereka juga masih sangat sibuk menangani kerusuhan di kota. Atau mungkin Ia menghormati keinginan Aidah agar kabar mengenai masalah mereka tak tersebar ke semua orang jika memberitahukan ke pihak kepolisian. Dan mungkin juga alasannya lebih sederhana... Wawan ingin balas dendam dengan kemampuannya sendiri karena temannya sudah dilukai. Bagaimanapun juga, Ia bagian dari Geng Dua roda. Apapun alasannya, aku tetap harus berpisah dengannya. Karena saat ini aku juga sedang berusaha mencari sosok yang penting bagiku untuk kutemukan sendiri.
__ADS_1