Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 8 - Satu Lawan Satu


__ADS_3

...Satu Lawan Satu...


4 Ramadan. Pagi.


Aku melangkah cepat menembus pintu, keluar dari Kamar Daisy 2, dan terus melangkah ke halaman depan Klinik Kapas Putih. Aku terhenti di parkiran karena melihat Januar dan teman gempalnya sedang berbicara dengan Awal dan Beni.


"Kita gak akan saling serang lagi untuk sementara." Kata Awal. "Anggap ini gencatan senjata." Sambungnya.


"Beritahu kelompok yang lain juga." Ucap Januar. "Jangan ada yang menyerang anggota kami, terutama yang masih sekolah."


"Aku gak bisa janjikan itu. Mereka punya pikiran masing-masing." Sahut Awal sambil menggeleng. "Tapi dua orang yang jadi korban, mereka berdua dari kelompok kita. Dendamnya ada di kita. Jadi kujanjikan kelompokku gak akan serang kelompokmu. Sepakat?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.


Januar menoleh ke teman gempalnya yang mengangguk sebelum menjabat tangan Awal. "Sepakat!"


--


Aku lebih tertarik ke masalah yang dihadapi Januar. Pemuda itu sudah dituduh melakukan penusukan yang tidak dilakukannya saat berniat membalas temannya yang dirawat, tapi ia bahkan tidak diijinkan untuk menemui temannya saat datang ke Klinik. Jadi, setelah mereka berpisah dan meninggalkan Klinik, aku mengikuti Januar sampai ia berhenti di depan rumah bercat biru setelah berpisah dengan teman gempalnya yang dipanggilnya Dodo. Rumah bercat biru itu adalah tipe rumah yang biasanya dimiliki manusia kelas menengah. Saat aku mendekati jendela untuk mengikuti Januar yang masuk ke dalam rumah, aku terkejut saat melihat laki-laki tua yang duduk di kursi di ruang tamu. Manusia itu adalah Pak tua tunanetra yang kutemui pagi ini di taman.


Sama seperti Pemuda yang kubisiki di Tawuran lapangan terhubung dengan Geng Dua roda dan penusukan pagi ini. Begitupun Pemuda penuh darah yang kulihat di penglihatanku terhubung dengan Gadis yang kulihat di penglihatan lainnya dan Pemuda lain yang mengenakan logo Geng Dua roda. Seperti Gadis berkacamata yang menguping pembicaraan Awal terhubung dengan teman Januar yang merupakan korban dari Tawuran di lapangan. Januar juga terhubung dengan Pak tua yang bisa merasakan kehadiran dan mendengarku. Semuanya terhubung antara satu dengan yang lain.


Pak tua itu mengecilkan suara radio dan berbicara dengan Januar. Setelah bertukar beberapa pertanyaan, Januar pamit ke Pak tua yang dipanggilnya Kakek untuk mandi. Setelah Januar menghilang ke ruangan lain, Pak tua itu meraih tongkatnya dan mulai berjalan ke pintu depan. Ia duduk bersandar di kursi di teras yang ada di dekatku.


"Jadi, Anak muda... Kau ini sebenarnya memang mengenal cucuku atau kau sengaja menguntitku sampai sini?" Tanya Pak tua.


"Jangan terlalu percaya diri, Pak tua." Balasku.


"Jadi, kau memang mengenal cucuku?"


"Bisa dibilang begitu."


Yah, sebenarnya aku baru bertemu dengan Januar hari ini. Karena aku tak mengenalinya saat Tawuran lapangan. Dan aku juga masih kurang yakin dengan Pak tua ini. Aku tak tahu apa ia menganggapku sebagai manusia atau mengetahui kalau aku memang bukan manusia.


"Begitu, ya.." Ucap Pak tua sambil manggut-manggut. "Kau terlibat di masalah cucuku juga?"


"Kau tahu masalahnya?" Aku balik bertanya.


"Aku?" Kata Pak tua. "Apa yang orang tua sepertiku ini ketahui? Bagaimana aku bisa tahu masalah yang sama yang sudah ada sejak dulu di lingkungan ini? Perselisihan dengan lingkungan tetangga? Sepertinya aku tak pernah dengar soal itu."


"Aku hanya bertanya, Pak tua." Sahutku dengan malas. "Bisa kau gak jawab setiap pertanyaanku dengan sarkasme?"

__ADS_1


"Apa termasuk pertanyaan yang ini juga?"


"Aku tarik kembali pertanyaanku."


"Yang ini, atau yang sebelumnya?"


"Pertanyaan yang mau kutanyakan sekarang."


"Ha?" Pekik Pak tua. Lalu ia terdiam sampai cukup lama. Aku juga, tak ada dari kami yang bersuara sampai Januar keluar dari rumah dengan mengenakan pakaian sekolah lengkap beserta sepatu dan ransel.


Setelah cucunya mencium punggung tangannya dan berpamitan, Pak tua bertanya, "Jan, Apa kau punya masalah baru lagi?"


Raut wajah Januar seketika berubah tak nyaman saat ia menjawab, "Ya. Tapi masalahnya sudah selesai." Bahkan suaranya sendiri terdengar kurang yakin.


Dengan nada lembut Pak tua bilang, "Kalau ada masalah, cerita ke orang lain, jangan dipendam sendiri. Tapi.."


"Kalau bisa diselesaikan sendiri, jangan tarik orang lain ke masalah itu." Sambar Januar. "Aku tahu, Kek. Aku ke sekolah dulu." Setelah mengatakan itu, Januar pergi mengendarai motornya.


"Mungkin dia bilang begitu. Tapi masalahnya belum selesai sama sekali, Pak tua." Aku membuka suara setelah suara motor Januar tak lagi terdengar. Lalu aku menceritakan apa yang terjadi ke Pak tua. Tentang Tawuran di lapangan dan di rumah kosong pagi ini. Dua korban yang dirawat di Klinik yang sama. Januar yang ditolak saat menjenguk temannya. Dan Penusuk yang merupakan anggota dari Geng Dua roda.


"Seharusnya mereka bersatu untuk menyerang Geng Dua roda yang mengadu domba mereka." Ucapku diakhir cerita.


"Mereka gak tahu pasti kalau sedang di adu domba." Kata Pak tua. Lalu ia melanjutkan panjang-lebar, "Cucuku mungkin tahu si penusuk itu anggota Dua roda, tapi dia gak melihat wajahnya. Sama seperti kelompok dari lingkungan tetangga. Cucuku juga tahu bahayanya Geng motor itu. Lagipula hanya karena mereka mempunyai musuh yang sama, bukan berarti permusuhan mereka selesai. Kebencian yang ada dalam diri remaja-remaja di lingkungan ini pada lingkungan tetangga sudah terbentuk sejak mereka lebih muda. Ditanamkan oleh generasi senior mereka yang juga diwariskan dari generasi sebelumnya. Kebencian sebanyak itu gak bisa dihilangkan begitu saja."


"Di masalah ini. Yang lebih barbar adalah Geng motor itu. Anggota mereka bahkan siap membunuh." Ucap Pak tua sambil menggenggam erat tongkatnya. "Lingkungan ini sudah cukup buruk tanpa adanya orang-orang yang berniat saling membunuh. Gak bisa kupercaya Geng motor itu sekarang tersebar di setiap sudut kota. Padahal awalnya mereka hanya berempat."


"Lima!" Aku mengkoreksi. "Mereka berempat, tapi mereka menghormati teman mereka yang sudah meninggal dan menganggapnya anggota kelima."


"Darimana kau tahu?"


Tunggu, apa? Darimana aku tahu? Aku bahkan baru mendengar nama Geng Dua roda beberapa hari yang lalu. Bagaimana mungkin aku bisa tahu tentang awal mula pembentukan mereka? Kenapa informasi itu masuk begitu saja ke kepalaku? Aku butuh pengalihan..


"Cucumu sekolah dimana, Pak tua?" Tanyaku.


"SMK Negeri 1." Jawab Pak tua.


"Baiklah, aku pergi." Ucapku lalu berlari meninggalkan Pak tua tunanetra yang duduk sendirian di kursi di teras rumahnya.


--

__ADS_1


Sesampainya aku di SMK Negeri 1, aku langsung berkeliling mencari Januar. Aku menemukannya saat aku merasakan aura hitam di dekatku dan bergerak menuju sumber. Aura hitam itu berasal dari beberapa siswa yang berdebat dengan siswa lain di depan pintu salah satu ruang kelas yang terpampang tulisan "Kelas XII.A." Saat aku mendekat, aku melihat Januar yang sedang kesal tengah berhadapan dengan Awal. Diantara beberapa siswa yang ada disana, aku mengenali Dodo teman gempalnya Januar, dan juga Beni temannya Awal. Mereka bermusuhan, dari dua lingkungan yang berbeda, tapi sekolah di SMK yang sama. Mereka semua berhubungan.


"Kau yang janjikan kelompokmu gak akan serang kami!" Ucap Januar penuh amarah.


"Aku tahu." Kata Awal. "Tapi Feri bilang itu masalah pribadi, gak ada hubungannya dengan perjanjian antara kelompok kita."


Saat itu kepingan memori dari Awal dan beberapa siswa lainnya masuk ke kepalaku. Sumber masalahnya adalah salah satu teman Awal yang bernama Feri menghajar salah satu siswa dari kelompok Januar karena ia tak senang Gadis yang disukainya digoda oleh siswa itu. Jika dilihat sekilas memang tampak seperti masalah pribadi. Tapi ketika kepingan memori dari Pemuda bernama Feri yang juga ada disana masuk ke dalam kepalaku bersama dengan aura hitamnya, aku bisa merasakan emosi yang mendorongnya melakukan itu. Balas dendam untuk temannya yang ditusuk pagi ini.


"Jadi, kau anggap gak masalah temanmu menyerang temanku karena masalah pribadi?" Tanya Januar yang menunduk sambil menatap tajam ke Awal yang lebih pendek darinya.


"Ya, apa gunanya perjanjian damai?" Tanya salah satu teman Januar.


"Batalkan itu!" Seru yang lain. Diikuti sorak setuju penuh kebencian dari teman-temannya.


Teman-teman Awal juga membalas dengan cacian dan makian. Situasinya semakin memanas, emosi semakin meningkat seiring dengan membesarnya aura hitam mereka. Tapi dua orang dari mereka tetap tenang. Januar dan Awal. Dua pemimpin. Mereka sama-sama berpikir bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah diantara kelompok mereka. Mereka berdua tak ingin bentrok lebih jauh lagi. Mereka tak mau ada dari teman mereka lagi yang terluka.


Ra-ul pernah bilang Jin tak bisa asal membisiki manusia untuk melakukan keburukan apapun. Mereka harus memahami emosi manusia untuk mengarahkan dengan tepat. Dan kupikir aku tahu harus kuarahkan kemana konflik ini. Inilah saatnya untuk memberikan solusi.


Kudekati Januar dan membisikkan, "Tantang dia satu lawan satu!"


"Kau dan aku. Satu lawan satu." Kata Januar mengikuti bisikanku.


Aku tak perlu membisiki Awal untuk menerimanya. Jadi, di pagi itu mereka menyepakati sesuatu untuk kedua kalinya.


Malam.


Aku baru menyaksikan manusia Shalat di Masjid Al-Alim di daerah barat. Berharap mendapat sedikit ketenangan. Tapi setelah mereka selesai Shalat Isya, aku langsung berlari ke dekat pusat kota. Di lingkungan dimana rumah-rumahnya sepi karena penghuninya banyak yang Shalat Tarawih di Masjid, ada rumah kosong yang sudah lama terbengkalai. Di dalamnya, dua pemimpin kelompok kecil yang terlibat Tawuran besar di lapangan bersiap untuk menyelesaikan masalah mereka.


Di tempat yang sama dengan bentrokan tadi pagi, Awal menerima tantangan Januar untuk bertarung satu lawan satu. Selain mereka hanya ada teman yang paling mereka percayai, Beni dan Dodo. Mereka berdua adalah saksi dari pertarungan ini.


"Ini yang terakhir!" Ucap Januar.


"Ini yang terakhir!" Ulang Awal.


Mereka sudah kelas tiga SMK. Tahun terakhir. Mereka berdua akan bertarung sampai ada salah satu dari mereka yang kalah. Siapapun yang menang dan kalah mereka berjanji untuk tak akan pernah lagi menyerang kelompok satu sama lain. Mereka masih bebas bentrok dengan kelompok-kelompok yang lainnya dari dua lingkungan mereka, tapi tidak saling serang. Itulah perjanjiannya.


Aku memutuskan untuk hanya melihat dan tak memilih pihak. Jadi aku hanya diam saat aura hitam menguar dari Januar dan Awal. Januar yang maju lebih dulu dan melompat tinggi dengan dengkul kiri yang terangkat sejajar ke dada Awal yang menahan dengan menyilangkan kedua tangannya dan sengaja mundur selangkah. Setelah serangan pertama ditahan, dengan cepat Januar melayangkan tinju kanannya yang menghantam wajah Awal. Namun tinju kiri Januar berhasil dihindari Awal dengan bergerak ke belakang. Serangan lanjutan Januar berupa tendangan yang mengarah langsung ke sisi samping kepala juga berhasil ditahan tangan kiri Awal.


Awal membalas dengan dua pukulan seperti petinju. Jab diikuti Hook kanan yang mengenai wajah Januar. Dilanjutkan pukulan kuat yang menghantam perut. Lalu Awal mencengkram bahu Januar dan memukuli perutnya beberapa kali, sampai Januar membalas dengan menghantam wajah Awal dengan tinju kirinya. Setelahnya Januar meraih bahu Awal dan menariknya untuk menunduk dan menghantam perutnya dengan dengkulnya dua kali dalam gerakan cepat. Di gerakan ketiga, Awal menahan dengan tangan kanannya dan memukul perut samping Januar. Tapi Januar bertahan dari serangan itu, memindahkan sebelah kakinya ke belakang kaki Awal, lalu menjegal dan membantingnya ke lantai rusak.

__ADS_1


Januar menahan lengan kanan Awal dengan tangan kirinya saat ia menghantamkan tinju kanan. Tapi Awal berhasil menahan dengan tangan kirinya yang menangkap tinju Januar dan mencengkram kuat dengan jari-jarinya. Lengan kanan Awal juga meraih dan mencengkram lengan Januar yang menahannya. Pada saat mereka berhenti menyerang satu sama lain, aku bisa melihat kepingan memori mereka.


Aku melihat versi diri mereka yang lebih muda, saat mereka masih menjadi Siswa SMP. Mereka di kelas yang sama. Aku melihat mereka adu panco, bermain di tim sepakbola yang sama saat pelajaran olahraga, dihukum di depan kelas bersama siswa lainnya, dan aku melihat Awal memberikan contekan ke Januar yang duduk di belakangnya saat ujian sekolah. Aku melihat masa lalu mereka berdua. Sebelum saling membenci dan sering berkelahi, mereka dulunya berteman. Teman baik.


__ADS_2