
...Dua Korban...
4 Ramadan. Pagi.
Klinik Kapas Putih. Klinik yang berada di daerah pusat kota ini adalah fasilitas medis yang paling ramai kedua setelah Rumah Sakit Ambrosia. Saat ini aku berada di halaman depan Klinik yang juga difungsikan sebagai tempat parkir. Aku datang ke tempat ini karena mengikuti kelompok manusia yang membawa teman mereka yang ditusuk saat bentrokan di rumah kosong. Saat ini manusia yang bernama Wanto itu ada di ruang UGD. Sedangkan teman-temannya--sebelas remaja laki-laki--berkumpul di halaman depan. Beberapa dari mereka duduk di motor-motor yang terparkir, pakaian mereka terkena noda dan hampir semuanya memiliki memar di wajah akibat perkelahian sebelumnya. Bersama mereka adalah seorang laki-laki dewasa bertubuh tegap dengan kepala plontos, Bapaknya Wanto yang meminta kejelasan dari apa yang terjadi pada anaknya.
"Wanto lawan Januar di ruang paling belakang. Gak ada dari kami yang lihat. Waktu aku ke belakang, Wanto sudah jatuh di dekat Januar, pisau di perutnya." Jelas Pemuda berambut cepak keriting yang merupakan pemimpin kelompoknya. Namanya Awal.
"Si Januar ini yang menusuk Wanto?" Tanya Bapak Wanto.
"Gak yakin, om." Sahut Awal. "Selama ini Januar gak pernah pakai pisau."
"Waktu jaman om muda dulu, om sama temen-temen yang lain, bapak-bapak kalian, kami gak pernah pakai senjata! Lawan kami yang dari wilayah mereka juga gak pakai senjata. Itu aturan yang gak tertulis dari dulu." Terang Bapak Wanto. "Tapi kalian langgar aturan itu waktu Tawuran di lapangan!"
"Itu bukan kami, om!" Bantah salah satu dari mereka. Pemuda yang bibir bawahnya terkoyak sedikit. Kalau tak salah namanya Beni.
Dahi Bapak Wanto berkerut saat menanyakan, "Jadi siapa?"
"Anak pindahan." Jawab Beni. "Namanya Toni."
"Anggota Dua roda." Timpal Awal.
"Geng yang sering bikin rusuh itu?"
"Ya, om." Beni mengangguk. "Makanya kami gak bisa sentuh dia."
"Memang kelihatannya Geng Dua roda terpisah-pisah. Tapi kalau salah satu kelompok butuh bantuan, yang lain pasti datang. Mereka terlalu banyak, terlalu brutal." Jelas Awal.
Bapak Wanto mengusap wajahnya dengan gelisah. "Ini bukan masalah kecil lagi kalau Geng Dua roda ikut campur."
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Bukan... Bukan aku. Aku memang tamu tak diundang yang mendengarkan mereka, tapi aku bukan manusia. Yang kumaksud adalah seorang Gadis berkacamata yang datang ke Klinik dengan motor maticnya yang dipakirkan tak terlalu jauh dari Awal dan yang lainnya. Gadis itu sengaja berlama-lama di motornya sambil sesekali melirik ke kelompok Awal. Lalu seolah informasi yang dibutuhkannya sudah cukup, Gadis kacamata itu melangkah cepat-cepat ke dalam Klinik. Tak ada yang memperhatikannya kecuali aku.
"Masalah kalian ini.." Bapak Wanto memulai, "Masalah yang sudah ada dari lama, dari sebelum jaman om. Sekarang gak ada gunanya lagi dilanjutkan. Masalahnya harus selesai di kalian. Jangan ada lagi dari kalian yang serang anggota mereka."
"Tapi tadi mereka yang serang kami duluan!" Beni memberitahu.
"Ya, om." Setuju salah satu dari mereka. "Kita harus balaskan dendamnya Wanto!"
"Ya, kita serang mereka!" Dukung yang lain. Segera aura hitam menguar dari tubuh mereka.
__ADS_1
"Mereka serang kalian karena mau balaskan dendam teman mereka!" Ujar Bapak Wanto. "Kalau kalian balas dendam, nanti mereka juga akan balas dendam lagi. Mau terus begitu sampai kapan? Sampai kalian semua dirawat di Klinik? Sampai ada dari kalian yang mati?"
Kesebelas remaja itu terdiam. Mereka tahu konsekuensinya, tapi mereka tak akan bisa tenang saat salah satu dari mereka terluka parah. Mereka menyadari perkelahian yang selama ini mereka lakukan sama sekali tak berguna. Tapi setelah teman mereka terluka, mereka tak bisa berhenti. Mereka harus membalasnya. Solidaritas yang salah tempat.
"Kami gak akan pakai senjata." Ucap Beni pelan.
"Kalian masih gak sadar ya?" Tanya Bapak Wanto yang mulai kehilangan kesabaran. "Kalian cuma manusia biasa yang punya satu nyawa! Hari ini Wanto bisa aja terbunuh!" Lanjutnya dengan mata berair. "Om gak mau orang tua kalian merasakan yang om rasakan sekarang ini! Apa kalian mau buat orang tua kalian khawatir?"
Mereka semua terhenyak karena kata-kata Bapak Wanto. Mereka tak menyangka akan melihat laki-laki bertubuh tegap yang sejak tadi kelihatan tegar itu menitikkan air mata dengan suara bergetar. Gambaran orang tua mereka dalam posisi yang sama langsung memasuki benak mereka. Emosi yang muncul dari itu langsung memudarkan aura hitam mereka.
"Kalian gak akan serang mereka lagi!" Tegas Bapak Wanto setelah mengusap wajahnya. "Masalah ini harus selesai di kalian! Demi Wanto!"
"Kami janji gak akan serang mereka lebih dulu." Ucap Awal. "Tapi kalau mereka yang serang duluan, kami gak punya pilihan selain membalas untuk bela diri." Lanjutnya. Dari sikap dan kata-katanya, Pemuda itulah yang paling tenang dan cerdas dari mereka. Tak heran ia jadi semacam pemimpin bagi teman-temannya.
Setelah memperhatikan wajah teman anaknya satu persatu, Bapak Wanto mengucapkan, "Om berterimakasih karena kalian sudah cepat-cepat bawa Wanto kemari. Tapi kalian bisa pulang sekarang. Kalian harus sekolah, ini tahun terakhir kalian, jangan banyak bolos, jangan buat orang tua kalian kecewa."
Setelahnya Awal meminta teman-temannya pulang sementara Ia dan Beni akan tinggal sebentar lagi untuk melihat keadaan Wanto. Jelas teman-temannya membantah, tapi Awal tetap memaksa mereka dan berhasil.
"Kenapa larang mereka?" Tanya Beni setelah kesembilan temannya berbondong-bondong meninggalkan Klinik dengan motor mereka.
"Terlalu banyak, terlalu berisik." Sahut Awal. "Kita hampir diusir satpam tadi. Bisa jadi nanti kita beneran diusir." Sambungnya. Lalu dengan ekspresi serius ia menambahkan, "Lagipula kalau mereka lihat keadaan Wanto sekarang, bisa jadi emosi mereka naik dan jadi marah lagi."
"Mau sekalian tinjuku yang kudonorkan ke lambungmu?"
"Ah... Gak jadi!"
Struktur bangunan Klinik Kapas Putih berpentuk persegi panjang yang mengelilingi halaman luas di tengahnya. Memasuki Klinik dari depan, di sisi kanan adalah ruang periksa dengan kursi-kursi tunggu yang berjajar di depannya dan ruangan obat/apotek tempat pasien mengambil obat-obatan setelah diperiksa dokter. Di sisi kiri adalah loket pendaftaran dan Kamar UGD. Wanto yang tertidur dengan selang infus menempel di tangannya kini terbaring di ranjang di Kamar UGD bersama Ibunya yang duduk menunggu di dekat ranjang.
Awal dan Beni berdiri di luar Kamar, memperhatikan teman mereka dari kaca tembus pandang. Bisa dibilang aku ikut campur tangan akan tragedi yang mereka alami. Kesedihan dan kekhawatiran terpahat jelas di wajah kedua Pemuda itu. Perasaan tak berdaya karena tak mampu membuat orang yang mereka pedulikan untuk segera sembuh. Entah mengapa aku seperti pernah merasakan hal yang sama.
Saat Bapak Wanto mengantar Awal dan Beni menuju parkiran, mereka berpapasan dengan dua orang pemuda yang tampak familiar. Satu dari mereka bertubuh gempal dan satunya lagi bertubuh jangkung dengan rambut yang helainya setebal sapu ijuk.
"Januar!" Seru Beni yang langsung menerjang dan mencengkram kerah baju Pemuda Ijuk. "Kau pakai pisau! Ini salahmu!" Raungnya penuh amarah bersama keluarnya aura hitam dari tubuhnya.
Benar yang dikatakan Awal, setelah melihat keadaan Wanto dan secara kebetulan bertemu dengan orang yang mereka duga menusuknya, cukup untuk langsung meningkatkan amarah Beni.
Meski ikut kesal, tapi Awal bisa menahan diri. "Lepas, Ben!" Ucapnya menahan temannya.
Beni tetap mencengkram kerah Januar dengan menatap penuh kebencian.
__ADS_1
"Kita janji untuk gak serang duluan!" Awal mengingatkan.
"Sial!" Dengan terpaksa Beni melepaskan tangannya dari Januar dan mundur beberapa langkah dengan kesal.
"Kau yang namanya Januar?" Tanya Bapak Wanto.
"Ya." Januar mengangguk dengan sikap tenang meskipun teman gempalnya sudah gelisah.
"Kau yang menusuk Wanto?" Tanya Bapak Wanto dengan lebih tegas.
Januar tak langsung menjawab. Ia menatap langsung Bapak Wanto yang menatapnya tajam. Dengan suara yang tenang ia mengatakan, "Apa Bapak percaya kalau kubilang yang menusuknya bukan aku atau teman-temanku?"
"Gak percaya!" Sambar Beni. "Kalau bukan kau, pasti temanmu!" Tuduhnya.
"Kau punya pisau itu, kan?" Tanya Januar. "Coba tes DNA yang ada disana. Kau gak akan menemukan DNA-ku atau temanku. Hanya DNA temanmu yang tertusuk itu."
Beni langsung melirik ke Awal, begitu juga Bapak Wanto.
Setelah melihat reaksi lawan bicaranya yang terdiam, Januar menoleh ke temannya dan mengajaknya untuk masuk ke Klinik.
"Dimana pisau itu?" Tanya Bapak Wanto setelah Januar meninggalkan mereka.
Awal mengajak Bapak Wanto mendekati motornya, Beni mengikuti di belakang. Lalu Awal membuka jok motornya yang berisi gumpalan kain di bagasinya. Awal menyibak bagian atas kain ke samping dan mengungkapkan pisau bernoda darah terbalut di dalamnya. Pisau yang digunakan untuk menusuk Wanto memang sempat diamankan oleh Awal dengan jaketnya sendiri.
Aku tak tertarik dengan pisau itu. Karena apa yang dikatakan Januar memang benar, kemungkinan besar hanya ada sidik jari Wanto disana karena penusuknya mengenakan sarung tangan. Jadi, aku mengikuti Januar dan temannya memasuki Klinik. Mereka berhenti di Kamar Daisy 2, salah satu dari banyaknya ruangan di barisan kanan Klinik yang menghadap ke halaman tengah. Aku sedikit terkejut saat mereka mengetuk pintu kamar dan yang keluar adalah Gadis berkacamata yang sebelumnya mencuri dengar pembicaraan Awal dan yang lain. Begitu melihat Januar, Gadis itu langsung menutup pintu lagi.
"Dinda!" Panggil Januar. Tapi pintu itu bergeming tanpa adanya sahutan dari dalam.
"Jan..!" Panggil Si gempal sambil meraih pundak Januar. "Dia masih marah. Kita pulang saja." Ajaknya.
Setelah diam beberapa saat, Januar mengangguk dan melangkah pergi.
Aku penasaran akan keadaan manusia yang dirawat di dalam Kamar Daisy 2. Jadi aku menurunkan energiku sehingga kakiku yang sejak tadi menapaki lantai keramik kini menembusnya beberapa cm sampai menapak tanah di bawah lantai. Lalu aku berjalan langsung menembus pintu ke dalam kamar. Di dalam sini ada dua ranjang yang berhadapan. Satu ranjang kosong, di ranjang yang satunya terbaring laki-laki muda dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kirinya dan kepala yang diperban. Gadis berkacamata tadi duduk di kursi dekat ranjang untuk menjaganya. Saat aku mendekat, aku mengetahui kalau manusia itu tertidur cukup pulas melihat dari dengkuran halus yang keluar darinya. Dan aku juga mengenali Pemuda ini adalah korban dari Tawuran di lapangan.
Saat aku memperhatikan Pemuda di ranjang itu, aku tertarik lagi ke tempat dan situasi yang berbeda. Aku berjalan cepat di sisi ranjang beroda yang di dorong dua orang berbaju perawat. Pemuda dengan kepala berlumuran darah yang ada di atas ranjang itu adalah Pemuda yang sama yang kulihat di penglihatanku yang lainnya. Pemuda yang tersenyum saat memperlihatkan kaus berlogo Geng Dua roda dan yang tergeletak di aspal. Perawat menghentikanku dan Pemuda lain di depan Ruang UGD.
Pemuda lain ini mengenakan jaket yang terbuka yang memperlihatkan kaus berlogo Geng Dua roda di dalamnya. Wajahnya yang tampak sangat khawatir itu memar di bagian pipi kiri dan pelipis kanan. Pemuda yang memakai ikat kepala bercorak batik ini adalah manusia yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lalu ia menatapku dan menunjuk ke belakangku. Saat aku berbalik, aku bisa melihat seorang Gadis dengan raut kesal berjalan langsung ke arahku. Gadis itu mengenakan jeans hitam ketat dan kemeja varsity berwarna putih hitam. Aku pernah melihatnya sebelumnya... Ia Gadis yang sama yang kulihat di penglihatanku yang lain, Gadis yang terduduk dengan wajah lebam dan mata berair. Kini ekspresi itu hilang sepenuhnya, berganti dengan raut kesal penuh amarah. Dan saat ia berhenti di depanku, tangan kanannya bergerak dengan cepat ke sisi wajahku..
"Plakk!!"
__ADS_1
Tamparan Gadis itu mengembalikanku ke realita, kembali ke Kamar Daisy 2 di Klinik Kapas Putih. Pemuda dengan kepala berdarah dan Gadis yang menamparku, entah bagaimana mereka terhubung. Dan karena alasan tertentu meskipun aku tak mengenal mereka, tapi aku terus mendapatkan penglihatan tentang mereka. Penglihatan itu masih terngiang di kepalaku, dan aku butuh pengalihan.