
...Roda Kebencian...
7 Ramadan. Malam.
Hal aneh terjadi di malam ini saat aku menyatu dengan manusia bernama Rian dan mengambil alih kendali tubuhnya. Aku terpaksa melindungi diriku sendiri dan Rian dari 3 Pemuda yang mengeroyokku... Kami, mengeroyok kami... terserahlah. Intinya sekarang aku kabur dari mereka bertiga dengan mengendarai motor Rian. Tujuanku, Masjid Al-Alim tinggal beberapa meter lagi, dan aku tak melihat tanda-tanda ketiga Pemuda tadi mengejarku saat aku melirik ke kaca spion. Ini karena ide brilianku untuk menjatuhkan motor mereka. Oke, kuakui itu bukan murni ideku, tapi milik Rian. Tapi tetap saja aku yang mengendalikan tubuhnya. Dan melakukan itu bukan hal yang mudah, asal tahu saja.
Hal aneh terjadi lagi ketika aku berbelok dari jalan aspal ke jalan ubin, melaju sekitar 4 meter lalu melintasi pagar Masjid Al-Alim yang terbuka.
"Boom!"
Aku terpental keluar dari tubuh Rian, jatuh terbaring dan tenggelam di lantai ubin. Bukan proses yang menyenangkan. Dan tak keren sama sekali. Tapi aku bisa langsung bangkit dan berdiri di kedua kakiku. Hal pertama yang kulakukan, mengecek keadaan Rian. Untunglah ia tak pingsan dan berhasil memakirkan motornya di halaman Masjid tanpa harus mengalami kecelakaan tunggal. Meski ia berjalan tertatih-tatih setelahnya. Pasti karena efek adrenalin telah menghilang dan luka-lukanya mulai terasa.
Rian dibantu oleh Pemuda Marbot yang sepertinya masih menungguku yang pergi tiba-tiba di teras Masjid. Ia sempat melirik ke arahku dengan ekspresi penuh tanya sebelum membantu Rian berjalan menuju tempat wudhu, yang langsung memutar keran dan membersihkan tangan dan wajahnya yang memar dari darah dengan air mengalir. Lalu mereka masuk ke tempat tinggal Pemuda Marbot di bangunan yang menyatu dengan Menara Masjid.
Ruangan berbentuk persegi ini tak terlalu luas, mungkin sekitar 4 x 4 meter. Ada satu tilam kapuk yang merapat di salah satu pojok ruangan. Didekatnya ada lemari yang merupakan 4 laci plastik yang bertumpuk. Ada penanak nasi, kompor gas beserta beberapa alat masak lain, dan dispenser. Tak ada TV disini, tapi ada laptop. Dan banyak buku yang disusun rapi di rak kecil yang terbuat dari kayu. Ruangan kecil yang penuh dan tertata dengan rapi seperti biasanya.
"Sempoyongan ke sini sambil berdarah-darah. Kali ini apa masalahnya, Rian?" Tanya Pemuda Marbot setelah memberikan teh manis dan sebungkus roti ke tamunya. Ia tahu namanya Rian. Berarti mereka saling mengenal. Tak mengherankan karena aku selalu melihat Rian Shalat di Masjid ini.
"Ah... Aku juga gak terlalu yakin." Ucap Rian setelah meminum tehnya. "Jadi awalnya ada orang-orang yang mengganggu Bella. Tiga orang. Bella minta aku untuk bicara ke mereka supaya gak ganggu dia lagi." Sambungnya.
Mereka duduk beralaskan tikar di tengah ruangan ini. Dan aku duduk di dekat mereka. Tentu saja yang menyadari keberadaanku hanya Pemuda Marbot. Sedangkan Rian terus melanjutkan ceritanya.
"Jadi aku bicara ke mereka dan... Mereka gak suka aku ikut campur." Lanjut Rian.
"Ya, kelihatan jelas mereka gak suka." Sahut Pemuda Marbot sambil memperhatikan keseluruhan kondisi Rian.
"Yap." Ucap Rian sambil mengangguk pelan. "Jadi satu dari mereka, yang rambutnya dikuncir... Dia nantang duel satu lawan satu."
"Kau terima?"
"Jelaslah. Ini soal Bella! Aku gak bisa abaikan ini!"
"Oke, oke!" Kata Pemuda Marbot sambil mengangkat kedua tangan. "Lanjutkan."
Rian mengusap tengkuknya sambil menghembuskan nafas panjang dan melemaskan ototnya yang masih tegang sebelum melanjutkan. "Malam ini setelah Tarawih di Kebun sawit. Aku datang sendirian, mereka datang bertiga. Awalnya satu lawan satu. Tapi dua orang itu ikut maju juga. Aku dikeroyok. Waktu mereka bilang soal anggota Geng Dua roda dan balas dendam, barulah aku sadar Bella cuma umpan. Dari awal memang aku yang diincar."
"Lumayan cerdas." Komentar Pemuda Marbot.
"Lebih ke licik daripada cerdas." Timpal Rian. "Aku dihajar habis-habisan."
"Tapi hebat juga kau bisa lolos dari tiga orang."
"Itu yang aneh. Aku setengah sadar. Rasanya ada yang kendalikan tubuhku waktu aku lawan mereka sampai kabur kemari."
Setelah mendengar penjelasan Rian, Pemuda Marbot langsung melirik ke arahku. "Kau tahu siapa mereka?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Rian menggeleng. "Mungkin orang-orang yang dendam ke Geng Dua roda." Terkanya.
"Kalau gak salah di daerah Pusat ada kelompok yang serang anggota Geng Dua roda. Mungkin tiga orang ini anggota cabangnya di daerah Barat ini?"
"Kelompok yang disebut Pemburu. Tapi kabarnya mereka cuma incar anggota aktif dari Geng Dua roda. Bukan mantan anggota."
__ADS_1
Tiga hari terakhir ini ada kabar simpang-siur tentang Pemburu. Kelompok yang memburu beberapa kelompok Geng Dua roda yang beraktivitas di daerah pusat kota. Kabarnya mereka mengumpulkan atribut Geng Dua roda sebagai trofi. Geng Dua roda memang tersebar di daerah Pusat, juga pinggiran Barat, Timur, Utara, dan Selatan. Tapi sepertinya Pemburu hanya berkeliaran di Pusat. Kabar juga mengatakan anggota mereka tak begitu banyak. Namun ini hanya permulaan.
Menilai seberapa brutalnya Geng Dua roda di tahun terakhir ini, tujuan Pemburu akan dimengerti banyak orang dan akan banyak ditiru. Tiga orang yang menyerang Rian adalah bukti akan kebencian yang dihasilkan dari Geng Dua roda. Segera akan ada banyak peniru kelompok Pemburu yang muncul karena kebencian mereka akan Geng motor terbesar dan terusuh. Sama seperti banyaknya Geng Dua roda palsu yang menjamur di kota. Akan terjadi bentrokan besar lainnya di kota.
--
"Terimakasih!" Ucap Rian setelah mengusapkan minyak pemberian Pemuda Marbot ke bagian tubuhnya yang lebam dan terluka. "Teh dan rotinya juga."
"Gak masalah. Tapi jangan sering-sering begini." Kata Pemuda Marbot.
"Aku juga gak mau babak belur begini." Rian membela diri. "Aku dikeroyok."
"Karena kau terima tantangan mereka."
"Aku terpaksa. Ini soal Bella!"
"Ya, ya, Bella. Aku paham. Sekarang ayo kita keluar. Kau harus pulang!"
"Aku diusir?"
"Ya! Aku juga butuh tidur. Aku bukan burung hantu sepertimu."
"Hei, jangan main fisik!" Ucap Rian yang merasa terhina. "Hidungku ini mancung alami."
"Siapa yang sebut hidungmu?" Bantah Pemuda Marbot. "Maksudku tadi kebiasaan begadangmu. Berapa malam kau gak tidur? Kantung matamu sebesar kantung kangguru."
Rian refleks langsung menyentuh kedua kantung matanya dengan ibu jari dan telunjuk kanannya. "Itu juga termasuk penghinaan fisik."
Ada dua motor lain yang mengapit motor Rian. Motor bercat hijau-hitam dan biru-hitam. Pemuda bertubuh gemuk menduduki motor hijau-hitam di kiri. Pemuda berhidung besar di atas motor biru-hitam di kanan. Dan di motor biru-putih di tengah adalah Pemuda berambut kuncir. Mereka tiga cecunguk yang sebelumnya mengeroyok Rian. Aku memang mendengar suara motor berhenti dari dalam ruangan Pemuda Marbot, tapi tak kusangka mereka bertiga yang muncul. Dan dari wajah Rian, jelas sekali ia juga tak menyangka.
"Jadi, kau kabur kemari?" Ucap Pemuda kuncir. Lalu ia berjalan mendekat ditemani kedua pengawalnya di kanan dan kiri. "Masalah kita belum selesai."
"Siapa kalian?" Tanya Pemuda Marbot.
"Diam! Kami gak punya urusan denganmu!" Ucap Pemuda gemuk.
"Kau lebih baik gak ikut campur." Timpal Pemuda berhidung besar.
"Aku Pengurus Masjid ini." Ucap Pemuda Marbot. "Jadi kalau kalian datang ke tempat ini untuk buat keributan, itu jadi urusanku."
"Kau mau lindungi orang ini?" Tanya Pemuda kuncir sambil menunjuk Rian. "Dia Geng Dua roda!"
"Dia sudah keluar." Sahut Pemuda Marbot.
"Sekali Dua roda, tetap Dua roda. Kau gak bisa buat kerusuhan dimana-mana dan keluar begitu saja tanpa konsekuensi." Saat mengatakan itu aura hitam menguar dari tubuhnya bersama kepingan memorinya.
Pemuda kuncir adalah pemimpin dari kelompok motor yang anggotanya tak terlalu banyak. Mereka kumpulan dari orang-orang yang menyukai motor dan tak pernah melakukan kerusuhan. Tapi dua bulan lalu kelompoknya diserang oleh Geng Dua roda saat ia tak ada bersama mereka. Banyak anggotanya yang tak pernah bertarung terluka parah setelah penyerangan itu. Kemudian didorong oleh amarah, ia bersama dengan beberapa anggota yang lain yang tak ada saat penyerangan, membalas menghajar kelompok Geng Dua roda yang menyerang teman-temannya. Tapi beberapa hari setelahnya Geng Dua roda dengan anggota yang lebih banyak balik menyerangnya. Teman-temannya yang baru pulih terluka lagi. Mereka benar-benar dikalahkan. Itulah sumber kebenciannya ke Geng Dua roda.
Aku bisa memahami kebencian mereka bertiga. Tapi aku tetap tak bisa memaklumi tindakan main keroyokan ke orang yang tak ada hubungannya dengan masalah mereka. Jadi aku bergerak ke belakang mereka. Memfokuskan diriku untuk memegang bagian belakang kemeja Pemuda kuncir dan menariknya. Ia yang merasa tiba-tiba ditarik langsung menoleh ke belakang dengan bingung.
"Siapa yang tarik bajuku?" Ucapnya ke teman-temannya yang juga kebingungan.
__ADS_1
Lalu aku menarik ekor ikat pinggang Pemuda berhidung besar.
"Siapa itu?" Tanyanya juga.
"Apa? Apa?" Tanya Pemuda gemuk.
Kutarik lagi ikat pinggangnya untuk kedua kalinya.
"Apa-apaan!" Pekiknya panik sambil memegangi ekor ikat pinggangnya.
Pemuda kuncir dan Pemuda gemuk yang melihatnya juga mulai panik. Bahkan Rian juga celingak-celinguk kebingungan. Hanya Pemuda Marbot yang berdiri dengan tenang.
Aku memanfaatkan waktu kebingungan mereka untuk mengikat tali sepatu kiri Pemuda gemuk dengan tali sepatu kanan Pemuda kuncir. Lalu aku menarik-narik jaket Pemuda gemuk yang bereaksi dengan bergerak-gerak hingga Pemuda kuncir jatuh karena kehilangan keseimbangan akibat kekuatan Pemuda gemuk yang menarik kaki mereka yang terikat kuat.
"Apa-apaan ini!?" Pekik Pemuda kuncir. "Siapa yang ikat ini!?"
"Hantu..." Ucap Pemuda berhidung besar dengan pelan.
"Bodoh!" Maki Pemuda kuncir yang sibuk mencoba membuka ikatan tali sepatunya. "Bulan Ramadhan mana ada hantu!"
"Zrasshh!!"
Bunyi air yang mengucur deras dari keran di tempat wudhu mengagetkan mereka. Dari posisi mereka sekarang, mereka bisa melihat keran yang baru kuputar ini. Dan dari posisiku, aku bisa melihat wajah ketakutan mereka.
"Hantu! Hantu!" Jerit Pemuda berhidung besar yang cepat-cepat menaiki motor bercat biru-hitam dan menyalakannya.
Setelah melepas belitan tali sepatunya, Pemuda kuncir juga cepat-cepat menaiki motornya yang bercat hijau-hitam. Pemuda gemuk mengikuti. Tapi sebelum naik ke belakang motor hijau-hitam, ia menyempatkan mendorong motor Rian hingga terjatuh. Lalu mereka bertiga melajukan motor dengan cepat meninggalkan Masjid. Dasar penakut!
"Serang orangnya! Bukan motornya!" Bentak Rian yang langsung mendekati motornya dan mendirikannya ke posisi semula. "Apa-apaan itu tadi?" Tanyanya yang menoleh ke keran yang baru kumatikan.
"Gak penting." Sahut Pemuda Marbot yang melihatku berjalan mendekati mereka. "Sisi positifnya, mereka mungkin gak akan mencarimu lagi malam ini."
"Ya." Rian mengangguk. "Tapi besok pasti mereka mencariku lagi. Kebenciannya tadi... Sepertinya dia gak akan pernah memaafkan Geng Dua roda. Kerusuhan yang ditimbulkan sampai sekarang, mungkin memang Geng Dua roda gak akan pernah termaafkan.." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku juga gak akan bisa dimaafkan."
"Kau meremehkan kemuliaan Ramadhan." Ucap Pemuda Marbot. "Bulan ini bulan penuh berkah. Kita dianjurkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Lalu saat Idul Fitri tiba, kita dianjurkan untuk meminta maaf dan memaafkan. Kenapa begitu?"
"Karena memang itu tradisinya, kan?" Rian balik bertanya.
"Karena setelah berhasil menahan nafsu buruk selama sebulan penuh dan terbiasa berbuat kebaikan, kita akan lebih mudah membuka diri untuk mengakui dan meminta maaf akan kesalahan kita, dan juga untuk memaafkan orang lain akan luka yang pernah mereka berikan pada kita. Itulah kemuliaan Bulan Ramadhan. Meminta maaf dan memaafkan itulah tantangan yang paling sulit. Karenanya kita baru benar-benar merasa meraih kemenangan di Idul Fitri setelah melewati itu." Terang Pemuda Marbot panjang-lebar.
Setelah mengangguk-angguk paham dan berterima kasih sekali lagi, Rian pun pamit ke Pemuda Marbot. "Aku pulang ya, Adam!"
Aku memperhatikan saat Rian melajukan motornya meninggalkan Masjid Al-Alim. Lalu aku menoleh ke kananku. "Jadi, namamu Adam?"
Pemuda Marbot yang bernama Adam itu menoleh dan berkata, "Ya. Siapa namamu?"
"Kau bisa memanggilku, Man!" Ucapku sambil mengulurkan tangan.
Adam tak menjabat tanganku, aku juga ragu ia bisa melakukan itu. Tapi ia memperhatikan tanganku dan bilang, "Bukannya tadi perbanmu sampai ke jari-jarimu?"
Aku melihat kedua tanganku dan langsung terkejut. Biasanya seluruh tubuhku terbalut perban yang berpendar merah. Tapi kini dari jari-jari tangan hingga sebatas pergelangan tanganku tak ada lagi perban, hanya kulit yang berpendar merah. Apa artinya ini?
__ADS_1