
...Tak Terelakkan...
18 Ramadan. Pagi hari.
Setelah menunaikan Ibadah Shalat Subuh di Masjid Al-Alim, Wawan dan Rian kembali ke Brothers motor untuk berkumpul dengan Dara dan Aidah. Bella juga ada disana, dan sedang menggendong Putri, bayi perempuan Aidah dengan gemas. Wawan mengajak Rian ke ruang depan, menjauh dari para Perempuan dan mulai menceritakan masalah yang melibatkan mereka.
Rian menggeleng-geleng tak percaya setelah mendengar cerita Wawan. "Selingkuh itu sendiri udah buruk." Kata Rian. "Tapi malah diperparah karena temanmu selingkuh sama istri petinggi Mafia Putih." Lanjutnya. "Apa temanmu itu gak punya otak?"
"Dia gak tahu." Ucap Wawan membela Dwi yang sedang tak ada disini.
"Gak tahu atau dia pikir gak perlu repot-repot cari tahu suami dari selingkuhannya karena itu gak penting?" Kata Rian.
"Bisa kau gak pakai kata itu?" Pinta Wawan sambil mengusap dagu belahnya. "Malah jadi mirip pembawa acara gosip..."
"Ya. Lidahku juga mulai terasa gak nyaman." Ungkap Rian. "Tapi temanmu itu memang kacau!"
"Hubungan mereka itu... rumit." Ucap Wawan setelah memilih kata yang dirasa cocok.
"Serumit apa?" Tanya Rian acuh tak acuh.
"Aku ketemu Dwi sekitar setahun sebelum aku menikah." Ucap Aidah yang tiba-tiba muncul dari ruang belakang.
Hal itu mengejutkan Wawan dan Rian sekaligus membuat mereka menjadi kikuk.
"Di rumah sakit waktu aku masih jadi Perawat." Sambung Aidah. "Dia Laki-laki yang baik. Mulai dari situ kami jadi dekat. Makin hari tambah dekat." Lalu Ia berhenti sejenak sebelum lanjut mengatakan, "Tapi ada masalah yang datang... Masalah yang diselesaikan Mafia Putih."
Dari ekspresi mereka terlihat kalau Rian dan Wawan benar-benar menyimak cerita Aidah.
"Keluargaku punya hutang yang banyak yang gak mampu mereka bayar." Ungkap Aidah. "Waktu mereka kesulitan itu... Datang Mafia Putih yang bayar lunas hutang mereka. Jadi, keluargaku lalu menikahkanku dengan orang itu. Panca Hartono, Laki-laki yang gak kucintai sama sekali." Jelasnya lebih jauh.
Lalu dengan mata berair dan suara bergetar Aidah melanjutkan, "Dia baik, tapi gak stabil. Dan jadi lebih parah setelah anakku lahir... Dia mau anak Laki-laki, tapi bayiku Perempuan... Jadi, Dia gak peduli lagi... Sifat baiknya hilang total..."
"Maaf..." Ucap Rian. "Gak kukira situasinya..."
"Mirip sinetron?" Tanya Aidah dengan senyum yang dipaksakan. "Bertemu di tempat kerja, jalin hubungan, ada masalah hutang, terpaksa menikahi Mafia, pernikahan kacau, lalu coba balik lagi ke hubungan sebelumnya..." Ia mendata cerita hidupnya. "Memang mirip cerita sinetron... Tapi rasa sakit dan benci yang kurasakan... Ini nyata!" Luapnya penuh kesedihan. Hidupnya memang mirip cerita sinetron, tapi lebih sedikit melodramatis dan lebih kelam, jauh lebih buruk.
"Maaf kalau masalahku juga sampai ke kalian..." Ucap Aidah.
"Bentrok lagi dengan orang itu memang gak terelakkan." Sahut Wawan dengan tenang. "Dia mungkin menunggu sampai punya alasan yang cukup kuat untuk serang kami."
"Ya. Kami juga punya sejarah dengan orang itu yang jadikan kami sebagai target berjalan." Timpal Rian.
"Yang buat aku penasaran, apa Mafia Putih memang masih aktif?" Tanya Dara yang muncul dari ruang belakang bersama Bella yang menggendong Putri. "Kalau masih..." Lanjut Gadis berambut keriting ini, "Pasti banyak kabarnya di jalanan, kan?"
"Sifatnya memang kadang gak stabil kalau di rumah. Tapi Dia cerdas... Penuh perhitungan juga." Kata Aidah yang mengambil bayinya dari gendongan Bella. "Mungkin Dia menunggu sesuatu..."
"Tapi apa?" Tanya Dara. Yang tak mendapatkan jawaban dari yang lainnya.
Namun Wawan dan Rian bertukar pandang yang menurutku agak mencurigakan. Lalu Wawan meraih bahu Rian dan berkata, "Yang paling penting, kita harus siap kalau dia mulai bergerak. Ya, gak, sob?"
"Aku memang setuju bantu, tapi bukan bantu perang lawan Mafia Putih." Jelas Rian.
"Kau tadi yang bilang kita ini target berjalan." Wawan mengingatkan.
Rian mengabaikan itu dan mulai membahas hal lain, "Kau masih belum cerita rencanamu untuk ubah cara pandang orang lain ke Dua roda."
"Langkah pertama." Ucap Wawan. "Kita tangkap pemilik motor ini." Sambungnya sambil menunjuk motor di tengah ruangan. "Tadi kau bilang ciri-ciri pelakunya sama seperti yang membacok Dwi."
"Laki-laki, tinggi.."
"Suara serak!" Sambar Aidah memotong perkataan Rian.
“Yap. Yang satu lagi badannya besar.”
"Cocok." Ujar Wawan. "Kira-kira orang itu usia berapa?"
"Aku gak yakin.. Mungkin akhir dua puluh.." Tebak Rian.
"Kapan mau ambil motor ini?" Giliran Dara yang bertanya.
"Nanti malam." Jawab Rian.
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Dia gak bilang."
"Kalau gitu nanti sore pulang kerja aku langsung kemari, tunggu sampai orang itu datang." Kata Wawan.
"Kalau kau mau balas dendam, aku gak mau bantu." Tegas Rian.
"Ini bagian dari langkah pertama." Ujar Wawan. "Tangkap pelakunya, serahkan diam-diam ke Iptu Trijaya."
"Tim Garuda?" Tanya Bella. "Kenapa mereka? Kenapa gak langsung ke kantor polisi?"
"Mereka polisi yang bisa dipercaya." Jawab Wawan. "Ada yang mengesalkan, tapi mereka polisi baik. Mereka yang paling sibuk di waktu jalanan jadi rusuh kaya sekarang. Kita perlu kepercayaan mereka."
"Iptu Trijaya juga bilang kasus ini mau diselidikinya sendiri." Aidah menambahkan.
"Oke, aku bantu sampai kasus ini selesai." Rian memutuskan.
"Sip, Sob!" Seru Wawan bersemangat. "Kalau gitu aku sekarang pulang dulu, balik lagi nanti sore."
"Satu lagi..." Kata Rian. Lalu Ia menoleh ke sekitar, sepertinya mencari tanda-tanda keberadaanku.
Untuk menunjukkan eksistensiku, ku pegang sebelah bahu Rian, yang membuatnya berjengit.
"Apa? Kau kenapa?" Tanya Wawan yang menatap bingung. Lalu Rian mendekatinya dan berbisik menanyakan apa yang tadi kuminta untuk ditanyakannya.
Entah kenapa itu diperlukan, tapi raut wajah Wawan berubah menjadi sulit ditebak saat Ia menjawab tanpa berbisik, "Terakhir kali kudengar dia tinggal di luar kota. Tapi aku gak tahu pastinya dimana."
Aku sempat berharap bisa dapat jawaban keberadaan Ketua Geng Dua roda dari Wawan, Pemimpin Divisi Timur yang sampai sekarang masih membawa nama Geng itu. Namun aku masih belum mendapatkan jawaban yang kucari.
Aku tetap tinggal di Brothers motor selama sisa hari ini. Berjaga-jaga kalau pemilik motor ini datang lebih cepat dari jadwal. Rian sengaja tak mengganti bagian motor yang rusak atas permintaan Aidah supaya motor ini bisa menjadi bukti yang menguatkan penjelasan mereka nantinya. Dan disela-sela melayani pelanggan lain yang datang ke bengkel, Rian selalu menyempatkan untuk berkomunikasi denganku lewat huruf-huruf di kertas. Seringnya Ia bertanya dan aku menjawab. Aku gak keberatan sama sekali karena itu membuatku gak harus merasa kebosanan. Dan sepertinya Rian juga menyukai komunikasi antara kami.
Malam.
Wawan datang ke Brothers motor bersama dengan kedua temannya, Pemuda telinga lebar dan Pemuda gemuk berdagu bulat, nama mereka adalah Pion dan Banda. Mereka bertiga membawa makanan dan minuman untuk berbuka bersama Rian di Brothers motor. Mereka berempat lalu Sholat Maghrib di Masjid Al-Alim. Aku sempat melihat Rian berbisik membahas sesuatu dengan Adam. Setelah menunaikan Ibadah mereka, Keempat Pemuda mengendarai motor mereka kembali menuju Brothers motor.
"Jadi kau dapat teman ngobrol baru?" Tanya Adam membuka percakapan.
"Itu masih lebih baik daripada gak bisa berkomunikasi sama sekali, kan?" Ucap Adam.
"Ya." Sahutku.
"Jadi... Apa Rian terlibat masalah lagi?" Tanya Adam setengah menebak.
"Bisa dianggap begitu." Jawabku hati-hati. "Dia bukan pusat masalahnya.." sambungku mencoba memperjelas, "Tapi sekarang Dia mulai terlibat ke masalah itu."
"Oke.." Kata Adam sambil mengangguk-angguk. "Masalah ini... Lebih besar dari masalah sebelumnya?"
"Ya." Aku mengangguk. "Sepertinya ini melibatkan manusia-manusia yang merepotkan."
"Bukan manusia namanya kalau gak merepotkan." Ujar Adam.
"Aku setuju dengan itu." Ucapku.
"Tapi kau tetap akan bantu Rian, kan?"
"Sampai masalah ini selesai."
"Jadi kau kesampingkan dulu pencarian besarmu?"
Apa yang dimaksud Adam adalah Pencarianku akan keberadaan Jin lainnya yang selama beberapa hari terakhir dikenal manusia sebagai Pahlawan Tak Terlihat.
"Itu bisa menunggu." Ucapku kemudian. "Lagipula aku harusnya bisa cegah masalah yang sekarang melibatkan Rian. Jadi, aku merasa bertanggung jawab untuk bantu selesaikan masalah ini."
"Hahaha..." Tiba-tiba Adam tertawa. "Mengesampingkan tujuan pribadi untuk membantu orang lain itu gak disebut rasa tanggung jawab." Ucapnya. Lalu Ia melambaikan tangannya ke arahku dan menambahkan, "Dibalik tampilan menyedihkan mirip mumi gagal berbusana ini..."
"Oi!" Aku memperingatkannya.
Tapi Adam mengabaikan rasa kesal yang muncul dariku dan melanjutkan, "Dibalik ini... Didalamnya... Ada alasan kenapa kau rela bantu manusia, itu disebut Kebaikan."
Aku menyerap dan memikirkan apa yang baru dikatakan Marbot di sampingku ini. "Mungkin kau benar... Kalau gak ada kebaikan dalam diriku, aku pasti sudah mencekikmu sampai kencing di celana karena kata-kata menyebalkanmu."
__ADS_1
Adam menutupi mulutnya saat memasang ekspresi terkejut yang jelas sekali dibuat-buat dan mengatakan, "Bicaramu seolah aku ini penjahatnya!"
"Kau berlebihan!" Sergahku.
"Kau yang waktu itu berlebihan hajar orang-orang yang bermasalah dengan Rian." Balas Adam. "Pastikan saja itu gak terulang kali ini."
"Ah... Kau memang menyebalkan.."
"Membuat teman kesal itu bukan menyebalkan namanya... Tapi persahabatan." Ucap Adam sambil berlalu meninggalkanku.
Kembali ke Brothers motor. Rian dan Wawan sedang membahas tentang langkah-langkah berikutnya dari rencana Wawan.
Wawan memulai, "Setelah kita dapat kepercayaan Iptu Trijaya dan timnya..."
"Bisa aja berbalik." Sambar Rian. "Iptu Trijaya bisa aja menyalahkanmu karena tahan informasi penting."
"Gak akan." Sahut Wawan percaya diri. "Nanti kita juga serahkan pelakunya ke Iptu Trijaya. Begitu kita dapat kepercayaannya, baru mulai langkah selanjutnya."
"Dan apa itu?"
"Patroli malam." Jawab Wawan cepat. "Seperti Tim Garuda."
"Kau serius?"
"Ya. Coba pikir, sob. Setiap malam ada banyak kerusuhan di banyak tempat. Tapi anggota Tim Garuda cuma berapa?... Sekitar dua puluh orang? Itu gak cukup."
"Jadi kau mau jadi Tim kedua yang patroli malam?"
"Kalau ada kerusuhan, kami tangkap orang-orang itu, lalu lapor ke Iptu Trijaya untuk diproses. Permulaan cuma di daerah Timur, rumah kami. Tapi itu bisa meringankan tugas Tim Garuda, kan?"
"Tergantung." Kata Rian. "Kalau kalian yang coba meredam kerusuhan, malah bisa jadi tambah parah."
"Jangan merendahkan gitu, Sob." Ucap Wawan pelan.
"Maaf. Tapi kalau memang itu rencanamu... Kau bakal sering bentrok sama kelompok Dua roda yang lain."
"Kawanannya Rimba." Desis Wawan. "Yang paling buruk dari kita. Kerusuhan belakangan ini, Dia yang mulai!"
"Aku tahu ekspresi itu." Kata Rian sambil menunjuk Wajah Wawan yang kini mulai muncul Aura hitam dari dirinya. "Masalah pribadi, kan?"
Dengan luapan emosi, Wawan menceritakan masalah yang melibatkan Rimba, Permata Hitam, dan Dara.
"Kampret!" Raung Rian sambil menendang ban depan motor rusak di tengah ruangan.
"Sekarang kau paham pemicu masalahnya, kan?" Ucap Wawan. "Ini dimulai dari hari Dua roda terpecah." Lanjutnya dengan ekspresi muram. "Diantara kita bertiga, Rimba yang paling senior. Jadi waktu kau keluar, kebanyakan memilih ikut Dia daripada jadi bagian kelompokku."
Sesaat ada keheningan yang penuh tekanan diantara mereka.
"Kalau aku ambil jalur ini..." Wawan memulai. "Bentrokan dengan Rimba dan Kawanannya gak terelakkan."
Rian memandang Wawan dan menyatakan, "Akan kubantu. Kucoba kumpulkan teman-temanku untuk patroli malam di Barat sini."
“Bagus, sob!” ucap Wawan sambil tersenyum. Kedua temannya, Pion dan Banda yang mendengarkan pembicaraan mereka juga terlihat bersemangat.
“Diluar sana pasti ada juga kelompok Dua roda yang gak suka cara Kawanan Rimba.” Kata Banda. “Tapi mereka gak berani ambil tindakan.”
“Kalau mereka tahu ada dua mantan Pemimpin Divisi yang lawan cara Kawanan Rimba, mereka mungkin akan ikut langkah kita.” Ujar Pion.
“Ada kemungkinan juga banyak kelompok lain yang gak suka cara kita.” Kata Rian memperingatkan. “Kelompok yang disebut Pemburu mungkin juga akan incar kalian karena kalian masih pakai logo Dua roda.”
“Yah...” ucap Wawan sambil menyeringai. “Bentrokan dengan Pemburu juga gak terelakkan!”
“Kenapa kau malah semangat?” Rian curiga.
“Aku semangat karena Aliansi kita, sob!” ucap Wawan sambil mengepalkan tinjunya ke arah Rian.
“Aliansi ya..” ulang Rian sambil menyambut kepalan tinju Wawan. “Bagus juga!”
Sepertinya aku baru saja menyaksikan terbentuknya Aliansi yang akan menjadi lawan Rimba dan Kawanan Selatan. Aliansi dari sisa-sisa Dua Divisi, Kawanan Selatan yang semakin buas, Pemburu yang terus berkembang, Tim Garuda dari Kepolisian, dan bahkan Mafia Putih yang bangkit sekali lagi. Bentrokan besar akan datang, dan itu... Tak terelakkan!
__ADS_1