Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 6 - Pak Tua Bijaksana


__ADS_3

...Pak Tua Bijaksana...


4 Ramadan. Dini hari.


Langit masih menggelap. Namun lampu dari rumah-rumah sudah banyak menyala. Waktu Umat Islam untuk beribadah masih sekitar setengah jam lagi. Jadi, jalanan masih sepi dari kehadiran manusia. Bukannya berarti keberadaan dari banyaknya manusia akan membawa perbedaan pada kondisiku.


Kali ini aku mendatangi tempat lain dimana aku pernah bertemu dengan Jin lain sebelum mereka menghilang di Ramadan, Taman kota. Karena tak ada Jin bertudung yang mencegat di pintu masuk, aku bisa bebas berkeliaran mengelilingi taman. Aku menemukan pohon besar yang tumbuh subur di belakang salah satu bangku taman, dan duduk di dahan yang menjulang tepat di atasnya. Dari posisiku aku bisa melihat keseluruhan taman dengan jelas. Keadaannya sepi, sama seperti duniaku di tiga hari terakhir.


Aku tak ingin terdengar seperti Jin cengeng. Tapi sendirian diantara manusia memang cukup menyedihkan. Saking merananya diriku sampai tak menyadari kini ada manusia yang duduk di bangku di bawahku.


"Taman masih sepi, ya?" Laki-laki tua itu membuka suara.


Oke, dari atas sini aku memang tak bisa melihat wajahnya karena topi yang dikenakannya. Tapi suaranya terdengar seperti orang yang sudah cukup tua. Mungkin sedikit terlalu tua.


"Kau menunggu seseorang?" Ucapnya lagi.


Aku memperhatikannya. Tak ada manusia lain di dekat sini, dan laki-laki tua ini jelas sekali tak bicara melalui handphone, earphone, microphone, ataupun saksofon. Itu artinya... Mungkin saja ia bicara padaku. Nah.. setelah kupikir lagi, mau apa manusia datang ke taman di waktu sedini ini? Mungkin pak tua ini kurang waras dan bicara pada diri sendiri. Jadi, aku mengabaikannya.


"Hei... Aku bicara padamu!" Pak tua itu bicara lagi, kali ini dengan nada tinggi. "Kau yang ada di atas pohon sana!" Lanjutnya sambil menunjuk ke atas dengan tongkat panjang yang dibawanya.


Aku memperhatikannya lagi. Tongkatnya memang ditujukan padaku yang duduk di dahan pohon. Benarkah manusia ini bicara padaku?


"Kau gak bisa bicara?" Ucap Pak tua itu lagi. Masih dengan tongkat yang diarahkan padaku.


"Ah... Kau bicara padaku?" Tanyaku untuk memastikan.


"Gak..! Aku hanya orang kurang waras yang bicara pada diri sendiri!" Balasnya ketus.


Aku diam karena tak tahu harus membalas apa.


"Jelas aku bicara padamu!" Bentak manusia itu.


"Kau bisa mendengarku, Pak tua?"


"Aku mungkin gak bisa melihatmu... Tapi aku bisa merasakan kehadiranmu dan jelas saja aku bisa mendengarmu juga, Anak muda."


Jujur saja itu agak memusingkanku. Jadi, aku mengulang untuk kejelasan. "Kau bisa mendengarku, tapi gak bisa melihatku?"


Pak tua itu menghela nafas tidak sabar sambil mengangkat topinya dan meletakkannya di pangkuannya. Lalu ia mendongak ke atas, "Pernah dengar Tunanetra, Anak muda?" Ucapnya sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajahnya yang mengenakan kacamata hitam.


Tunanetra. Kacamata hitam. Tongkat panjang. Oke, aku paham sekarang. "Jadi, kau memang tak bisa melihatku. Tapi kau bisa mendengarku, Pak tua?"

__ADS_1


"Tahu apa lagi yang Pak tua ini bisa? Menerima permintaan maaf dari mereka yang kurang sensitif." Kata Manusia itu.


Kenapa ia bilang begitu? Kurang sensitif? Ah... Aku tahu. "Kau mau aku minta maaf, Pak tua?"


"Oh... Kau mau minta maaf?" Kata Pak tua itu dengan nada heran yang jelas sekali dibuat-buat. "Kenapa kau harus minta maaf? Aku penasaran sekali."


Yap, Pak tua ini terlalu sensitif. Kau tak bisa salahkan aku karena mencoba memastikan diriku tidak terlalu percaya diri dan berharap ada manusia yang sedang bicara padaku. Tapi sepertinya aku memang berhutang maaf ke Pak tua tukang sindir ini. Jadi, dengan ketulusan yang sungguh-sungguh kukatakan, "Maafkan aku, Pak tua!"


Pak tua itu mengenakan lagi topinya dengan gerak lambat yang dibuat-buat dan mengatakan dengan suara dalam, "Kau dimaafkan, Anak muda!"


"Oke..." Ucapku karena tak tahu harus bereaksi seperti apa untuk menanggapi aksi sok kerennya. Dan ia malah tertawa semangat dengan posisi tubuh yang duduk tegak. Sikapnya yang seolah baru mengalahkanku balapan naga dengan kemenangan mutlak itu sedikit menjengkelkan.


"Jadi, kau gak mau ceritakan, Anak muda?" Tanya Pak tua itu setelah tawa gilanya terhenti.


"Apa maksudmu, Pak tua?"


"Kau tahu bau dari ****** ***** yang dibawa tikus dan baru ditemukan sebulan kemudian di pojok ruangan dengan bentuk sobek-sobek yang menyedihkan?"


"Entahlah..."


"Kau berbau seperti itu."


"Oh..." Pak tua itu mengeluarkan suara dramatis dan melanjutkan, "Kau menantang Pak tua yang tak bisa melihat dan berjalan dengan tongkat bantu? Memalukan sekali dirimu, Anak muda!"


"Apa? Kau yang mulai! Ah... Terserahlah. Aku pergi dari sini." Aku melompat turun tepat di depan Pak tua itu dan mulai melangkah.


"Tunggu!" Ia menahanku dengan suara tegas.


Aku berbalik. "Apa lagi, Pak tua?"


"Kau sama seperti saat cucuku sedang mengalami masalah besar."


"Yah? Kau masalahku. Dan mungkin masalah cucumu juga." Kataku sambil lanjut melangkah. Tapi baru tiga langkah aku terhenti karena Pak tua itu mengatakan,


"Tunanetra memang kadang bisa menimbulkan masalah ke orang lain. Mungkin aku memang banyak menyusahkan cucuku."


"Kau gak bisa membuatku merasa bersalah, Pak tua." Ucapku tanpa balik badan.


Dengan lembut manusia itu berkata, "Karena kondisiku, aku terbiasa memaksimalkan inderaku yang lain. Contohnya pendengaran. Jadi, aku ini pendengar yang baik."


Masih tanpa berbalik aku berkata, "Kau tak akan memahami kesendirian yang kurasakan, Pak tua."

__ADS_1


"Apa itu kesendirian?" Ia bertanya. "Berada di tempat dimana tak bisa berkomunikasi dengan yang lain? Atau berada di tengah-tengah keramaian, tapi yang kau lihat hanyalah kegelapan? Isolasi penuh atau tersesat di keramaian?"


"Keduanya.." Sahutku.


Aku tahu Pak tua itu membicarakan dirinya sendiri saat merujuk ke opsi kedua. Tapi baik itu isolasi penuh atau tersesat di keramaian, aku merasakannya. Aku merasa tersesat tanpa arah di tengah-tengah keramaian manusia. Dan karena tak ada dari mereka yang bisa berkomunikasi denganku, aku juga seperti terisolasi.


"Mau tahu cara untuk menghilangkan kesendirian?" Tanya Pak tua itu. Tanpa menunggu responku, ia melanjutkan, "Terlibatlah ke kehidupan yang lain. Tak peduli sekeras kepala apa cucuku dan sebesar apa masalahnya, aku akan selalu coba untuk melibatkan diriku."


Terlibat ke kehidupan yang lain. Itu dia! Itu yang selama ini harus kulakukan. Memang seperti itulah kehidupan Jin. Terlibat kehidupan manusia.


Aku berbalik dan membungkuk. "Terimakasih, Pak tua! Aku merasa terbantu."


Manusia itu berdiri dan mengatakan, "Kalau kau butuh teman bicara, kita bisa bertemu di tempat ini di jam yang sama." Setelah mengucapkan itu, ia lalu berpamitan dan mulai melangkah sambil menghentak-hentakkan tongkatnya.


--


Setelah berpisah dengan Pak tua bijaksana yang sensitif, Aku terhenti di depan rumah besar yang terbengkalai. Bangunan dua lantai itu pasti dulunya tampak megah. Namun kini sudah rusak dan usang akibat termakan usia. Dinding batanya yang dipenuhi jelaga nampak rapuh. Kaca jendelanya yang berbingkai kayu kini retak dan pecah. Dua pintu kayu besar di bagian depan hanya tersisa satu saja, dan itupun sudah tak berbentuk seperti pintu. Bahkan halamannya yang luas kini dipenuhi rumput liar yang tidak terawat dan beberapa plastik sampah. Aku yakin sekali rumah itu sudah lama tidak dihuni manusia. Dan alasan itu membuat bangunan itu jadi tempat yang cocok menjadi arena bentrokan dua kelompok manusia.


Ingat aura hitam dari emosi negatif yang dikeluarkan manusia? Jika ada banyak manusia yang berkumpul mengeluarkan aura hitam, Jin akan bisa melacaknya dari jarak tertentu. Dan karena hanya aku Jin yang tersisa di Bumi ini, aku bisa merasakannya sejelas kata-kata sindiran Pak tua di taman tadi.


Saat aku sampai di rumah kosong, perkelahian sudah terjadi. Ada lebih dari dua puluh manusia yang saling menghajar di dalam rumah. Mereka terpisah dalam kelompok-kelompok kecil yang berkelahi di ruangan-ruangan di lantai satu. Aku sudah memutuskan untuk terlibat dalam kehidupan manusia. Dan akan kumulai dari tempat ini. Aku akan membisiki manusia yang terkuat di antara mereka agar memenangkan perkelahian ini dengan gemilang. Tapi aku ingin memastikan situasinya dahulu sebelum memilih pihak.


Aku berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain sambil menyaksikan para manusia. Aku memperhatikan gerakan mereka, bagaimana mereka menyerang lawan. Tinju dan tendangan mereka, bagaimana mereka menghindari serangan atau menahannya, juga kecepatan dan kekuatan mereka. Tapi yang paling penting adalah kecerdasan mereka. Bagaimana mereka memanfaatkan kombinasi kekuatan dan kecepatan untuk menyerang lawan dengan efektif.


Aku juga menangkap aura hitam mereka untuk mencari tahu alasan yang memotivasi kebencian dan kemarahan dalam diri mereka. Tapi ternyata aku menangkap lebih dari itu, bukan hanya emosi tapi aku juga menangkap kepingan memori dari aura hitam manusia. Lebih dari sepuluh orang termotivasi dengan alasan khusus yang sama. Mereka berniat membalas teman mereka yang dirawat di Klinik karena pendarahan di kepala akibat tawuran beberapa hari sebelumnya. Saat itulah kepingan memori mereka masuk ke kepalaku.


Mereka adalah murid-murid Sekolah menengah yang berasal dari dua kelompok masyarakat yang berbeda dan sudah sering menyerang satu sama lain. Tapi mereka tidak pernah menggunakan senjata, hanya anggota tubuh mereka yang digunakan untuk menyerang lawan. Mereka tak pernah menyerang dengan pisau atau batu. Namun satu hari sebelum Ramadan, mereka terlibat dalam Tawuran skala besar di lapangan saat bergabung dengan senior mereka. Hari itu salah satu dari manusia yang ikut serta di dalamnya menyerang lawannya dengan batu hingga beberapa kali yang menyebabkan lawannya terkapar dengan darah bercucuran dari kepala. Dan perkelahian kali ini adalah buntut panjang dari kebencian yang semakin meningkat untuk membalaskan dendam.


Aku ada di ruangan paling belakang, sedang menyaksikan dua pemuda yang berkelahi. Salah satu dari mereka bertubuh jangkung dengan rambut pendek jigrak yang helainya setebal sapu ijuk. Pemuda Ijuk ini termasuk di kelompok yang ingin balas dendam, bahkan ia pemimpin dari kelompok kecil ini dan paling bernafsu menghajar lawannya. Setelah berhasil menyudutkan lawannya ke dinding, Pemuda Ijuk menjejakkan kakinya ke perut lawannya dengan keras sampai lawannya jatuh berlutut sambil memegangi perut. Serangannya belum berakhir, Pemuda Ijuk lanjut menendang kepala lawannya, yang meskipun sempat melindungi dengan sebelah lengan yang terangkat, tapi kekuatan tendangan berhasil menjatuhkannya. Pemuda Ijuk lanjut menendang dan menginjak lawannya beberapa kali sebelum berpaling dan melangkah pergi.


"Woy!!"


Baru beberapa langkah, Pemuda Ijuk terhenti dan menoleh ke belakang. Dengan susah payah lawannya mencoba berdiri dengan sebelah tangan yang merambat di dinding dan berhasil. Pemuda Ijuk berbalik dan siap menghadapi lawannya lagi. Tapi secara tiba-tiba dengan cepat pemuda lain muncul dan menusuk sisi kanan perut lawannya dengan pisau. Penusuk itu mengenakan jaket tudung dan scarf yang menutupi sebagian wajahnya. Setelah pemuda yang ditusuknya jatuh berlutut, Penusuk itu berlari melewati pintu yang terbuka ke halaman belakang. Pemuda Ijuk yang mulai berlari untuk mengejar terhenti setelah mendengar erangan lawannya yang kini jatuh tersungkur.


Aku mengejar Penusuk yang tampak tidak asing itu. Saat ia mencapai motornya, tangannya yang bersarung tangan menarik scarf hingga wajahnya terlihat saat ia menghembuskan nafas berat. Aku mengenalnya, Penusuk itu adalah pemuda yang pernah kubisiki saat Tawuran besar di lapangan. Setelah ia menyalakan motornya dan melaju, aku bisa melihat dengan jelas logo yang ada di punggung jaketnya... Logo Geng Dua roda!


Saat melihat logo itu, sekitarku berubah seketika. Aku ada di semacam ruangan. Di depanku, seorang pemuda sedang tersenyum sambil menunjukkan kausnya yang tercetak logo Geng Dua roda. Dia kelihatan bahagia. Lalu berubah lagi... Aku berada di kegelapan malam, melihat pemuda yang sama kini tergeletak tak berdaya di jalan dengan kepala berlumuran darah. Dengan tubuh kejang dan nafas putus-putus, ia melihatku dengan sebelah matanya yang bengkak. Lalu...


Semua kembali seperti semula. Aku ada di halaman belakang rumah kosong. Penusuk itu sudah tak terlihat lagi. Penglihatan yang kulihat tadi, ini kali kedua aku mengalaminya. Tapi aku tak tahu siapa pemuda yang kulihat itu. Aku juga tak tahu apa itu merupakan bagian dari ingatan lamaku atau hanya kepingan memori yang kutangkap dari manusia. Jadi, aku berusaha untuk berfokus ke keadaan yang baru terjadi. Aku kembali masuk ke rumah kosong.


Saat Tawuran di lapangan yang terjadi sehari sebelum Ramadan, ada Jin yang membisikkan ke manusia untuk menyerang lawannya dengan batu. Dan Jin itu adalah aku. Perkelahian di rumah kosong kali ini terjadi karena dendam yang kutimbulkan diantara mereka. Dan pemuda yang tertusuk di perutnya juga merupakan korban dari manusia yang kubisiki waktu itu. Dua korban... Di dua bentrokan... Semua ini terjadi karena kesalahanku. Salahku!

__ADS_1


__ADS_2