
...Sendirian...
29 Syaban. Malam.
Ri-val menghilang. Ra-ul menghilang. Bukan hanya mereka berdua, semua Jin gelap berkedip-kedip sebelum meledak merah dan menghilang entah kemana. Bahkan Jin Terang juga menghilang. Tinggal aku sendiri di lapangan ini. Aku sudah menunggu beberapa menit. Tapi tak terjadi apa-apa. Aku masih disini. Sendirian.
Ra-ul dan Ri-val memang memberitahuku di malam terakhir bulan Sya'ban semua Jin akan menghilang dari bumi selama bulan Ramadan berlangsung. Tapi mereka tidak bilang kami akan menghilang kemana! Dan ini bahkan belum tengah malam!
Dengan sedikit harapan aku akan menemukan Jin lain yang bisa memberiku penjelasan, aku berlari secepat yang kubisa mengelilingi kota. Aku ke kota bagian Timur, Tenggara, Selatan, Barat daya, Barat, Barat laut, Utara, sampai ke Timur laut. Aku mendatangi tempat-tempat favorit Jin Gelap; Pohon besar, Bangunan terbengkalai, Toilet umum, dan Sungai yang dipenuhi sampah manusia. Tapi aku tak menemukan satupun Jin Gelap. Aku juga tak melihat adanya Jin Terang di kota. Mereka semua menghilang...
Tak mungkin ini terjadi. Tak mungkin hanya aku sendirian yang tertinggal di Bumi. Hidup diantara manusia dan terjebak di bulan Ramadan. Lalu... Aku mendengar seruan azan dari masjid terdekat. Mungkinkah ada di sana?
Aku mengikuti sumber suara hingga aku sampai di masjid yang bernama Al-Alim. Aku tak terlalu memahami arsitektur bangunan buatan manusia, tapi menurutku Masjid Al-Alim mirip seperti kebanyakan tempat ibadah umat Islam lainnya. Ada menara Masjid bercat hijau-putih yang menjulang beberapa meter tingginya, berfungsi untuk menyiarkan suara dari pengeras suara yang ada di puncaknya. Ada tempat berwudhu yang menyatu dengan toilet dengan dinding bercat hijau dan lantai keramik berwarna putih mengkilap. Masjidnya sendiri meskipun tak sebesar Masjid di pusat kota yang berlantai dua, tapi juga tidak kecil. Bangunan berwarna hijau-putih dengan lantai keramik putih dan kubah keperakan itu cukup luas untuk menampung banyak manusia. Tapi karena alasan tertentu, malam ini ada banyak sekali manusia yang datang ke Masjid Al-Alim, bahkan hingga memenuhi teras Masjid.
Ra-ul memberitahuku untuk menghindari Masjid-masjid karena Jin Terang sering mendatanginya, dan mereka akan bertambah kuat berkali lipat. Karena itulah sekarang aku di sini, berharap bisa menemukan salah satu dari mereka. Aku tak peduli kalau mereka akan menyerang atau mengusirku. Aku hanya ingin memastikan aku tak sendirian.
Meski aku tidak melihat atau merasakan keberadaan dari Jin Terang di Masjid Al-Alim, aku berpikir kalau mereka mungkin akan datang. Jadi, aku tetap menunggu. Aku duduk di atas pohon di luar pagar yang mengitari Masjid Al-Alim dan menyaksikan saat para manusia mulai bangkit, berdiri berjajar dalam barisan-barisan yang menghadap ke Barat, dan mulai melaksanakan ibadah mereka. Banyaknya manusia di dalam dan di teras Masjid dibagi menjadi dua bagian, Laki-laki di beberapa barisan depan dan Perempuan di barisan belakang yang dipisahkan oleh kain putih yang dipasang di instalasi besi. Mereka dipimpin oleh seorang Laki-laki yang berdiri di ruang cekung di dalam Masjid, manusia itu yang disebut... Imam... Ya, Imam. Entah bagaimana, tapi aku bisa mengetahui itu begitu saja.
Imam mulai membaca sesuatu, niat dari Shalat, ya... Shalat Is... Isya. Imam membaca niat Shalat Isya yang terdiri dari empat rakaat. Manusia yang lainnya... Para... Jamaah, ya, itu dia sebutannya. Mereka mengikuti gerakan-gerakan Imam. Lantunan dari bacaan-bacaan Shalat yang keluar dari mulut Imam mengalir melalui microphone yang ada di dekatnya menuju ke pengeras suara di menara dan tersiar ke sekitar Masjid. Aku menyaksikan para manusia di Masjid Al-Alim melaksanakan Shalat Isya berjamaah.
Ri-val bilang kelemahan dari Jin Gelap adalah bacaan-bacaan saat beribadah dan doa-doa dari umat muslim yang ditujukan ke Tuhan yang maha esa, kebalikan dari bacaan-bacaan dan doa-doa dari manusia sesat yang ditujukan ke Jin yang dapat memperkuat Jin Gelap. Tapi saat aku berada di dekat Masjid Al-Alim sambil menyaksikan dan mendengarkan para manusia, aku tak merasa melemah sama sekali. Malah aku merasa sedikit lebih tenang. Ini aneh, yang kurasakan berbanding terbalik dengan yang dikatakan Ri-val.
Setelah selesai melaksanakan Shalat Isya dan berdoa, banyak dari mereka yang melanjutkan Shalat lagi. Tapi kali ini bukan berjamaah, melainkan secara individu. Mereka melaksanakan Shalat Sunah dua rakaat setelah Isya. Lalu Imam menggenggam microphone dan menyapa jamaahnya. Laki-laki berjanggut itu mulai berceramah. Topik ceramahnya mengenai bulan Ramadan. Aku tak mengerti semuanya, tapi yang paling kuingat saat Imam itu bilang,
"Saat bulan Ramadhan, semua Jin di seluruh dunia dibelenggu sehingga tidak dapat mengganggu manusia dalam mengejar pahala dan kemuliaan di bulan yang penuh berkah ini.."
Semua Jin di seluruh dunia dibelenggu. Jadi, kenapa aku masih disini?
__ADS_1
Setelah selesai berceramah, Imam itu memimpin para jamaah melaksanakan Shalat lainnya. Shalat... Tarawih... Ya, itu dia. Shalat Sunah yang dilangsungkan selama bulan Ramadan. Mereka melaksanakannya sebanyak 8 rakaat yang dilakukan dalam 4 kali Shalat dan melanjutkannya dengan 3 rakaat Shalat Sunah yang lainnya... Shalat Witir. Bagaimana aku bisa tahu itu?
Tengah malam.
Setelah berjalan kesana-kemari tanpa tujuan, aku kembali ke lapangan tempat Pertempuran Jin. Aku berbaring di rerumputan tempat aku ditinggal sendirian. Menurut Imam di Masjid tadi, semua Jin di seluruh dunia dibelenggu. Jadi, percuma saja kalau aku berlari mengelilingi kota tetangga. Dan aku juga punya firasat kalaupun aku mengelilingi dunia ini, aku tak akan menemukan tempat Bangsa Jin dibelenggu. Jadi, aku hanya berbaring disini dan meratapi fakta kalau akulah satu-satunya Jin yang tersisa di Bumi. Sendirian...
1 Ramadan. Dini hari.
Aku bisa mendengar suara yang sepertinya datang dari pengeras suara. Karena penasaran, aku berusaha untuk menangkap bunyinya. Tapi setelah aku dengar,
"Bapak-bapak Ibu-ibu Sahur... Sahur... Ayo kita Sahur... Sahur... Jangan lagi tidur... Sahur... Sahur..."
Aku bisa langsung tahu itu seruan untuk membangunkan orang sahur dari Masjid terdekat. 1 Ramadan. Umat Islam akan menjalankan Ibadah Puasa pertama. Mereka akan menahan makan dan minum selama satu hari penuh dari sebelum Subuh hingga Magrib. Lagi! Darimana aku tahu semua informasi ini!?
Yah, terserah manusia mau lakukan apa. Aku tak peduli. Aku hanya akan tetap berbaring di lapangan ini sambil merutuki nasib sialku.
Malam.
Aku melihat ada beberapa perubahan dalam kehidupan manusia di bulan Ramadan ini. Pertama, banyak dari mereka yang tak makan dan minum sebelum waktu berbuka tentunya. Meski ada banyak juga Umat Islam di kota ini yang tidak berpuasa. Kedua, banyak orang yang berjualan takjil—sebutan untuk makanan atau minuman untuk berbuka puasa—menjelang waktu berbuka. Ketiga, Masjid menjadi ramai di malam hari. Ya, aku mengunjungi Masjid Al-Alim lagi hari ini. Tepatnya aku duduk di batang pohon dekat pagar Masjid selagi menyaksikan Ibadah mereka. Aku merasakan ketenangan seperti malam sebelumnya. Tapi setelah para manusia yang melaksanakan Shalat dan anak-anak muda yang tinggal sebentar untuk Tadarus Al-Qur'an pergi meninggalkan Masjid dan kembali ke rumah mereka tanpa seorang pun melihatku... Aku tersadar lagi... Aku Jin yang terjebak di Ramadan sendirian. Sendirian...
2 Ramadan. Malam.
Hari ini saat aku mengelilingi kota sepanjang siang, aku menyadari dua hal. Pertama, aku merasa aku masih berada di kekuatan penuhku meski siang hari. Dan kedua, meski tak ada Jin yang membisiki manusia, mereka tetap bentrok satu sama lain. Aku melihat dua remaja laki-laki yang menguarkan aura hitam dari tubuh mereka. Aku hanya memperhatikan mereka dari jauh sampai pada akhirnya mereka mulai berkelahi. Aku tak tertarik dengan mereka, jadi aku berjalan menjauh.
Ternyata setelah dua hari tak ada yang bisa diajak berkomunikasi itu akan membuatmu mulai merasa bosan. Dan sepertinya manusia juga cepat merasa bosan, karena malam ini yang datang ke Masjid Al-Alim mulai berkurang. Mungkin mereka punya alasan lain untuk tidak datang ke Masjid. Apapun itu, tetap saja setelah selesai beribadah dan semua orang kembali ke rumah masing-masing, ketenangan yang kurasakan memudar. Dan lagi-lagi aku menyadari, tak peduli seberapa banyak manusia di Bumi ini, aku akan selalu sendiri. Sendirian...
3 Ramadan. Malam.
__ADS_1
"Tadi setelah anak-anak yang selesai Tadarus pulang, laki-laki yang selalu membersihkan Masjid... Apa sebutannya? Bukan... Bukan Robot... Tapi, Mar... Ya, Marbot!" Aku mulai bercerita. "Jadi, seperti biasa, aku duduk di dahan pohon di dekat pagar. Dan saat Marbot ini keluar dari Masjid... Aku lihat... Kau tak akan percaya, temanku..." Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Aku melihatnya melihat ke pohon, langsung ke arahku. Boom! Ada manusia yang melihatku! Meski beberapa detik setelahnya ia berpaling dan berjalan masuk ke tempat tinggalnya, tapi aku yakin manusia itu melihatku!" Aku berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Lalu aku menoleh ke sampingku dan bertanya, "Bagaimana menurutmu? Apa Marbot itu melihatku?"
"Meong..."
Itu jawaban yang kudapat setelah menceritakan pengalamanku dengan Marbot—Pengurus Masjid—yang tinggal di kamar yang menyatu dengan bagian bawah menara Masjid Al-Alim.
Aku sedang bersandar di pohon mangga di lokasi dimana aku bertemu dengan manusia bermata biru. Oke, lebih tepatnya aku dihajar Pemuda itu. Jangan dibesar-besarkan. Intinya aku datang ke tempat ini karena... Aku sebenarnya tak tahu kenapa. Mungkin aku frustrasi. Aku tak peduli kalau Pemuda bermata biru akan menyerangku dengan api magisnya, aku hanya ingin bertemu makhluk yang bisa melihat dan berkomunikasi denganku. Kesendirian ini benar-benar tidak menyenangkan. Tapi setelah beberapa kali berkeliling aku malah bertemu kucing hitam.
Kuasumsikan kucing hitam itu bisa melihatku setelah kedua matanya terus memperhatikanku. Mungkin karena rasa keputusasaan yang membuatku bercerita padanya. Bahkan kini matanya tetap memandangku. Mungkin kucing jantan ini kucing liar yang juga mengelilingi kota tanpa tujuan pasti. Tanpa memiliki teman.
"Kita bisa jadi teman.." ucapku.
"Meong.." balas si Kucing. Lalu ia berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, kucing menoleh ke arahku, "Meong..!"
"Kau mau aku ikut?"
Si kucing tak menjawab dan lanjut berjalan. Aku mengikutinya.
"Kau mau kemana?"
Lagi-lagi kucing tak menjawab. Jadi, aku terus mengikutinya sampai ia bertemu gadis yang berjalan sambil memanggil sebuah nama,
"Darko..! Darko..!"
Jadi itu nama si kucing hitam. Darko. Nama yang keren. Gadis berambut hitam yang dipotong seleher itu begitu senang saat menemukan kucingnya.
"Meong!" Darko sepertinya juga senang. Saat gadis itu mengangkatnya, ia menoleh ke arahku dan, "Meong..."
__ADS_1
Dari matanya, aku tahu kucing itu memintaku untuk ikut dengannya. Tapi aku tak bisa. Jadi, aku pergi meninggalkan seekor kucing yang tinggal bersama seorang gadis, yang tinggal bersama keluarganya, yang tinggal diantara tetangganya.
Tak ada makhluk yang benar-benar sendirian di dunia ini. Karena mereka saling berkomunikasi atau hidup diantara yang lainnya. Tapi... Kenyataannya... Aku sendirian. Sendirian...