
...Kawanan Selatan...
13 Ramadan. Malam.
Persiapan dari Penyelenggara Balap liar ini benar-benar tak bisa diremehkan. Mereka bahkan menyiapkan minibus yang berfungsi sebagai Ambulans beserta dengan tiga orang perawat dan seorang Pengemudi. begitu sampai ke tempat kejadian, Para perawat itu langsung memeriksa kedua Joki dan memberi mereka pertolongan pertama. Kedua Pemuda itu masih beruntung karena tidak menderita luka serius setelah mengalami kecelakaan. Tapi yang paling beruntung adalah Joki ketiga, Permata Hitam yang berhasil lolos dari itu.
Apa yang terjadi selanjutnya bisa dideskripsikan sebagai Perdebatan besar. Rimba dan anggota gengnya menuntut Permata Hitam, atau sebenarnya Rossa, untuk dianggap menjadi pemenang balapan tadi dan menerima hadiah. Tapi perwakilan dari Joki lain tidak terima dan menyalahkan drone penyelenggara yang tiba-tiba terjatuh dari langit. Mereka meminta balapan ditunda. Para petaruh yang hadir disana juga menjadi kesal dengan apa yang terjadi. Aura hitam hasil emosi negatif menguar dari manusia-manusia ini. Tapi ajaibnya situasinya tak berakhir dengan Tawuran besar seperti yang umum terjadi di tempat lain. Pihak-pihak yang terlibat bisa menyelesaikan dengan pembicaraan yang panjang. Bukan berarti mereka puas dengan hasil akhirnya.
Ketika satu persatu kelompok manusia meninggalkan tempat ini dan berpisah jalan, aku mengikuti Rossa yang berkendara bersama dengan Geng Dua roda. Aku teringat obrolan Rian dan temannya beberapa hari lalu di Bengkel, mereka menganggap bahwa Geng Dua roda yang ada di Selatan adalah kelompok yang paling brutal. Pemimpin mereka yang bernama Rimba juga dikenal sebagai yang paling buas. Setelah bertemu dengan Pemuda yang bernama Rimba ini, aku tahu kalau anggapan itu tidak salah.
Apa yang tak kuketahui adalah, kenapa Rossa bergaul dengan Rimba dan kelompoknya? Fakta kalau Ia adalah salah satu Joki Balap liar terbaik bisa kuterima dengan mudah. Tapi kenapa ia menjadi Joki perwakilan dari Kelompok terbuas dari Geng yang paling rusuh di kota?
Ada yang tidak benar disini. Dan sebagai Jin Gelap, aku terbiasa mendeteksi ketidakbenaran. Aku berpengalaman dalam hal itu. Dan pengalamanku memberitahuku ada sesuatu yang perlu diungkap dari hubungan Rossa dan Rimba.
--
Tempat yang menjadi Markas Rimba dan kawanannya adalah rumah besar dengan halaman luas yang dikelilingi pagar bata bercat corak kamuflase hutan ala militer. Mereka berhenti di pintu pagar yang tertutup. Kemudian Rossa turun dari motor Rimba, membuka helm serta jaket hitam berlogo Dua Roda yang dikenakannya, yang langsung diambil salah satu teman Rimba.
"Balapan mungkin dimulai lagi sekitar seminggu lagi." Kata Rimba. "Jadi siapkan saja jadwalmu. Kutelepon, kau datang." Lanjutnya.
Rossa yang kini terlihat mengenakan kaus lengan pendek yang sejak tadi tersembunyi dibalik jaketnya membalas dengan menggelengkan kepala. "Bukan itu perjanjiannya. Tadi balapan terakhir."
__ADS_1
"Harusnya tadi balapan terakhir!" Koreksi Rimba. "Tapi sayangnya balapan tadi belum sampai finish. Jadi gak bisa dihitung."
"Itu bukan salahku!" Bantah Rossa. "Karena drone itu! Aku juga hampir tabrakan tadi!" Raungnya dengan kesal.
"Gak ada yang salahkan kamu." Balas Rimba dengan tenang. "Tapi balapan tadi gak bisa dihitung. Perjanjiannya satu balapan lagi!" Lanjutnya dengan tegas. Lalu ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan berkata, "Satu balapan lagi, kuhapus video yang ada disini. Tapi kalau kau gak datang waktu kutelepon nanti, aku sebarkan videonya."
Baik Rossa maupun Rimba menguarkan aura hitam karena emosi negatif mereka. Dan dari itu aku bisa mendapat sedikit informasi tentang apa yang mereka debatkan. Video yang disimpan di ponsel Rimba, aku dapat gambaran sedikit tentang itu. Itu rekaman video keintiman dari Rimba dan seorang Gadis. Karena inilah Rossa terpaksa mengikuti balapan mewakili Rimba dan kawanannya. Seperti yang kuduga, Rossa tak melakukannya secara sukarela, tapi karena tak punya pilihan lain jika mau video itu tak tersebar. Ini Pemerasan!
"Kau setuju untuk satu balapan lagi?" Tanya Rimba sambil menyeringai dan mengulurkan tangannya ke depan.
"Ya." Jawab Rossa dengan terpaksa saat menjabat tangan Rimba.
"Bagus!" Seru Rimba kegirangan. "Satu pertanyaan lagi, kamu mau langsung pulang atau mampir dulu ke dalam?"
"Oke." Kata Rimba yang memberi isyarat salah satu temannya untuk menelpon.
Tak lama setelah Pemuda berkacamata itu selesai bicara di ponselnya, dari garasi rumah melaju motor matic yang dinaiki dua Pemuda. Aku mengenali plat motor bercat hitam itu tak lain adalah motornya Rossa. Pemuda yang mengendarai motor menghentikannya di balik pagar. Lalu Pemuda yang dibelakang turun dari motor untuk membuka pintu pagar yang dikunci.
"Gimana, bos? Menang lagi?" Tanya Pemuda yang melajukan motor keluar pagar.
"Ada sedikit masalah." Jawab Rimba. "Balapan diundur."
__ADS_1
"Apaan?" Pekik Pemuda yang tadi membuka kunci. "Mereka sudah gak sabar pesta, bos!" Ucapnya menunjuk jauh ke teras rumah, tempat dimana para Pemuda dan Gadis menunggu kedatangan mereka.
"Tanpa balapan pesta tetap jalan, bodoh!" Hardik Rimba yang berjalan mendekati Rossa yang membuka bagasi motornya untuk mengambil helm dan jaket miliknya sendiri. "Yakin gak mau mampir dulu? Banyak di dalam yang mau ketemu Si Permata Hitam yang terkenal." Ucap Rimba.
Setelah mengenakan jaket dan melindungi kepala dengan helmnya, Rossa bahkan tak melirik ke Rimba saat melaju meninggalkan tempat itu.
"Aku masih gak paham kenapa kau gak ancam kalau dia gak mau ke dalam, kau sebarkan videonya." Kata Pemuda berkacamata. "Kau bisa paksa dia untuk turuti apapun maumu dengan video itu, kan?"
"Mau bagaimana lagi?" Sahut Rimba yang tetap melihat ke arah perginya Rossa. "Aku bisa paksa kehendaknya, tapi bukan perasaannya."
"Aku gak paham." Ucap Pemuda berkacamata dengan wajah bingung. "Selama kau punya videonya, bukannya bisa keduanya? Dia pasti turuti maumu karena gak mau videonya di sebar." Pikirnya.
"Yo, bos! Kita mau disini terus atau pesta di dalam?" Sambar Pemuda pembuka kunci.
Rimba pun berbalik dan menaiki motornya. "Waktunya pesta!" Serunya sambil melaju kencang melewati pagar melalui halaman rumah sampai ke teras tempat kawanannya menunggu.
Aku harus menahan diriku agar tak melesat maju dan menyerang Rimba sampai semua giginya rontok. Beraninya Manusia rendahan sepertinya memaksa Rossa untuk melakukan apa yang tak diinginkan Gadis itu. Beraninya Cecunguk Dua roda sepertinya memeras teman manusia dari temanku Darko si kucing hitam. Rimba adalah salah satu manusia terburuk dari yang terburuk. Tindakannya tidak jantan dan berani sama sekali. Dan aku sudah memutuskan untuk menjadi musuhnya. Seperti apa yang pernah dikatakan Ra-ul, Musuh dari temannya temanku adalah musuhku.
Aku bisa saja langsung menghajar Rimba. Tapi setelah insiden dengan ketiga Pemuda yang mengeroyok Rian di Brothers motor beberapa hari lalu, aku memutuskan untuk tidak menghajar manusia yang bukan tandinganku. Karena itu bukan tindakan yang pantas dilakukan Jin Gelap yang perkasa sepertiku. Aku memutuskannya sendiri. Sama sekali tak ada hubungannya dengan ocehan Adam.
Jadi aku memutuskan untuk mengamati Rimba dan kawanannya yang berpesta di dalam rumah besar ini. Aku tak yakin ini rumah siapa, tapi tak ada manusia dewasa disini, hanya para Pemuda yang mengenakan atribut Dua roda dan Gadis yang mengenakan pakaian minim. Ada banyak makanan dan minuman beralkohol. Minuman beralkohol adalah minuman buatan manusia yang sangat disukai Ri-val meskipun ia membenci kebanyakan makanan buatan manusia. Ri-val menyukai bagaimana efek dari minuman beralkohol setelah banyak dikonsumsi oleh manusia. Dia sangat menyukai saat-saat manusia mengalami penurunan kesadaran dan ketajaman indera. Suasana hati mereka yang berubah-ubah. Yang mengakibatkan mereka bisa dengan mudah dihasut.
__ADS_1
Ada banyak manusia dengan minuman beralkohol yang tak kalah banyaknya. Dan bukan hanya minuman beralkohol, tapi ada beberapa dari mereka yang juga mengkonsumsi narkoba jenis Heroin. Heroin adalah satu dari narkoba yang paling merusak. Efeknya bahkan lebih buruk dari minuman beralkohol. Salah satu yang paling digemari manusia. Aku tidak pernah mengerti kenapa manusia menyukai mengkonsumsi minuman beralkohol dan narkoba yang merusak diri sendiri seperti itu. Kenapa mereka tak berpesta dengan mengkonsumsi makanan dan minuman normal yang tak merusak seperti yang disajikan di acara pernikahan? Aku juga tak mengerti. Tapi aku tahu hanya menunggu waktu sampai mereka melemah. Dan saat itulah aku akan beraksi. Tunggulah, Rossa... Ini hanya masalah waktu.