
...Bersatu...
4 Ramadan. Malam.
Kebanyakan Manusia beragama Islam di kota sedang melaksanakan Shalat Tarawih di masjid. Sebagian lagi tinggal di rumah, menjaga agar tidak menjadi target pencurian spesialis bulan Ramadan yang mendatangi rumah yang kosong karena ditinggal Tarawih. Bagaimana denganku? Aku ada di rumah terbengkalai di daerah pusat kota, menyaksikan pertarungan antara dua manusia; Januar dan Awal. Selain aku, juga ada dua manusia lainnya, teman dari kedua Pemuda tadi yang menjadi saksi dari pertarungan ini; Dodo dan Beni.
Meski dulu mereka berteman baik, tapi kini Januar dan Awal mewakili kelompok kecil dari masing-masing lingkungan. Pertarungan ini adalah garis akhir bagi mereka yang sering sekali bentrok atas dasar kebencian dan dendam yang tertanam bahkan dari generasi sebelum mereka. Pertarungan kedua Pemuda itu sudah berlangsung beberapa menit, tubuh mereka memar, kulit sobek, dan buku jari yang berdarah. Tapi mereka akan terus menyerang satu sama lain sampai salah satu dari mereka tak bisa bertarung lagi. Mereka tak akan berakhir sebelum itu terjadi.
Kini Awal yang unggul dengan pukulan gaya petinju miliknya, menyerang dengan Jab dua kali dilanjut dengan Hook kanan, lalu Hook kiri dan pukulan lurus yang mendesak Januar yang jaraknya tiga langkah lagi dari dinding di belakangnya. Tapi saat Awal menyerang lagi dengan tinju kanan tepat ke wajah, Januar berhasil menghindar dengan cepat sambil meraih pundak Awal, menariknya maju dan menghantamkan dengkul ke perutnya dua kali sebelum berputar dan melemparnya ke dekat dinding hingga posisi mereka berbalik.
Januar langsung menyerang dengan tinju kiri yang sukses ditahan Awal dengan tangannya. Awal balas menyerang dengan tinju kiri ke wajah Januar, yang menghindar kebelakang sambil menjejakkan kakinya ke perut Awal hingga termundur selangkah. Lalu Januar mengambil kuda-kuda menyerang sebelum melompat sambil berputar dan menendang Awal hingga terpental menatap dinding di belakangnya sampai jatuh terduduk. Tanpa menunggu lawannya untuk bangkit, Januar menerjang dengan sebelah kakinya. Tapi Awal berhasil menghindar dengan berguling ke samping dan cepat-cepat berdiri sambil masih memegangi perutnya. Sementara Januar memegangi lututnya yang terasa ngilu akibat menghantam dinding.
Dodo dan Beni hanya bisa menyaksikan dengan tegang. Mereka gelisah setiap kali teman mereka terkena serangan langsung. Tapi mereka tetap menghormati perjanjian dan diam di tempat. Menunggu dan berharap teman merekalah yang menang diakhir.
Bagiku sendiri tak ada dari mereka yang benar ataupun salah. Memang benar kedua teman mereka yang dirawat di Klinik karena dua bentrokan terakhir mereka dilukai oleh orang yang sama, anggota Geng Dua roda yang tampaknya hanya ingin kelompok mereka saling menghajar satu sama lain. Tapi menganggap kalau mereka hanyalah korban adu domba pihak ketiga tidaklah benar. Bentrokan dan kebencian mereka sudah ada jauh sebelum teman mereka menjadi korban.
Baik Januar dan Awal diselimuti aura hitam kebencian. Dan bersamaan dengan itu juga menguar memori mereka, kepingan-kepingan akan waktu dimana mereka masih berteman baik. Di masa SMP ketika mereka ada di kelas yang sama selama tiga tahun. Saat-saat mereka ada di kelompok tugas yang sama, bermain di Warnet setelah pulang sekolah, ketika Januar dan teman sekelas lainnya melempari tepung dan telur saat ulang tahun Awal, ketika Januar mengenalkan Awal ke adik kelas mereka—Gadis berkacamata di Klinik yang merupakan sepupu dari Pemuda yang dirawat disana—setelah mereka menolongnya dari geng motor.
Setelah lulus, Januar dan Awal masuk ke SMK yang sama. Mereka tahu tentang perselisihan antara lingkungan mereka, tapi mereka tak peduli dan berharap pertemanan mereka bisa merubah pemikiran teman-teman mereka yang lain. Namun semua itu berubah di suatu hari saat mereka berdua menyaksikan bentrokan antara teman-teman dari lingkungan mereka. Karena keinginan untuk melindungi teman masing-masing, mereka terpaksa ikut terlibat di perkelahian yang juga menyertakan Beni dan Wanto, juga Dodo dan Pemuda sepupu Gadis berkacamata yang dirawat di Klinik yang bernama Boby. Setelah hari itu, Kebencian diantara Januar dan Awal mulai muncul dan terus berkembang hingga mereka menjadi Pemimpin masing-masing kelompok. Sampai hari ini.
Seharusnya lokasi pertarungan malam ini hanya diketahui oleh Januar, Dodo, Awal, dan Beni. Namun kini bisa terdengar suara motor-motor yang berhenti di luar rumah ini. Dan bersama itu juga terdengar suara dari beberapa laki-laki. Empat Pemuda yang ada di dalam sini langsung menoleh ke satu sama lain dengan tatapan bingung.
"Kau beritahu teman-temanmu!?" Tuduh Beni ke Dodo.
"Bukan aku! Aku gak beritahu siapapun! Itu perjanjiannya!" Bantah Dodo.
"Aku juga gak beritahu siapapun." Ucap Beni.
Januar dan Awal yang berdiri berhadapan saling melempar tatapan serius untuk menerawang siapa dari mereka yang memanggil bantuan. Lalu mereka semua menyadari tak ada dari mereka yang memanggil teman mereka. Yang datang adalah kelompok lain. Dan orang-orang itu mulai terdengar memasuki rumah.
Bangunan ini memiliki banyak ruangan dengan dinding yang masih kokoh meskipun sudah lama terbengkalai. Jadi saat Januar, Dodo, Awal, dan Beni yang ada di ruang tengah merapat ke salah satu dinding, mereka tak bisa dilihat oleh manusia-manusia yang baru masuk ke ruang depan. Tapi dari posisi ini mereka bisa melihat siapa saja yang baru masuk. Lima orang laki-laki muda yang mengenakan jaket atau kaus dengan logo Geng Dua roda. Dan aku mengenali salah satu dari mereka, Pemuda yang kubisiki saat Tawuran di lapangan dan yang menusuk Wanto pagi ini.
"Itu Toni, Wal!" Bisik Beni yang menoleh ke Awal yang balas mengangguk.
"Kalian kenal mereka?" Tanya Januar dengan nada curiga.
"Orang yang berbadan besar di tengah itu.." Ucap Awal. "Namanya Toni. "Dia yang lawan Bobi di lapangan."
"Jadi dia orangnya?" Kata Januar dengan kesal sambil melihat Toni yang berkumpul di ruang depan. Lalu ia bergerak dan hendak menuju kesana, tapi Dodo menahannya.
"Tunggu dulu, Jan!" Bisik Dodo. "Kita masih gak tahu mau apa mereka disini. Bisa gawat kalau mereka ketemu anggota yang lainnya." Sambungnya.
Benar saja apa yang dikatakan Dodo. Dari luar terdengar suara motor yang lainnya.
"Sekarang aku sadar." Ucap Januar sambil menatap ke arah Toni. "Orang itu yang menusuk temanmu."
"Toni?" Tanya Awal tak percaya.
"Jangan bohong!" Kata Beni.
Januar menggeleng. "Wajahnya memang ditutupi scarf tadi pagi, tapi itu memang dia. Aku yakin."
"Kita dipermainkan Geng Dua roda." Tukas Dodo.
__ADS_1
Fakta itu tak mengejutkanku, tapi aku memang terkejut saat melihat dua Pemuda yang masuk sambil menggandeng seorang Gadis. Gadis berkacamata yang tak lain adalah sepupu Boby yang tadi kutemui di Klinik.
"Dinda!?" Ucap Januar dan Awal hampir bersamaan.
"Mau apa dia disini?" Tanya Dodo yang mewakili rasa penasaran yang lainnya.
Apapun alasannya, itu tak akan berakhir baik jika dibiarkan begitu saja. Karena Toni dan keenam temannya mulai menguarkan aura hitam dari emosi negatif.
"Kau yang mencariku?" Tanya Toni.
"Kau... Toni...?" Dinda balik bertanya. Suaranya terdengar lemah dan berdirinya linglung meski ditopang dua Pemuda di kanan-kirinya.
Saat Toni mendekat dan menyentuhkan tangannya ke wajah Dinda, aura hitam miliknya dan teman-temannya semakin membesar dan aku mulai bisa melihat kepingan memori mereka. Dinda sengaja untuk menemui dua Pemuda yang menggandengnya untuk menanyakan keberadaan Toni dari Geng Dua roda. Dua Pemuda itu berjanji akan membawa Dinda menemui Toni jika mau menemani mereka minum. Dan Dinda menyanggupinya. Tapi minumannya diberi semacam obat oleh kedua Pemuda itu yang membuatnya linglung seperti sekarang. Kemudian mereka menghubungi Toni yang membawa teman lainnya untuk bertemu di tempat ini. Karena lingkungan sekitar rumah ini selalu sepi saat waktunya Tarawih. Mereka membawa Dinda kemari untuk... Dasar budak Setan! Mereka berencana untuk melecehkannya.
"Woy, sialan!" Teriak Januar saat menerjang maju dan menendang salah satu dari mereka tepat di antara kedua pahanya hingga jatuh kesakitan.
Keenam anggota Geng Dua roda yang lainnya tak tinggal diam. Salah satu dari mereka maju sambil mencaci, tapi Januar langsung memukulnya. Namun satu orang lagi maju dan menyergap Januar. Akan tetapi Dodo juga maju membantu Januar dengan menarik orang itu hingga terlepas dari Januar dan membantingnya. Tapi Januar dan Dodo langsung dikepung Geng Dua roda yang lainnya kecuali Toni yang kini memegangi Dinda.
"Geng itulah musuh kalian! Bantu mereka berdua!" Bisikku ke Awal dan Beni yang langsung maju membantu Januar dan Dodo.
Awal meninju Pemuda yang hendak memukuli Januar yang ditahan dua temannya dengan kombinasi jab+jab+hook. Lalu membantu Januar melepaskan diri. Sementara Beni dan Dodo bertarung saling membelakangi sambil bergantian menyerang tiga orang yang melawan mereka. Mereka memberikan perlawanan sengit dengan setiap tinju dan tendangan yang mereka hantamkan. Tapi mereka tetap kalah jumlah. Januar dan Awal juga sudah kelelahan dan terluka akibat pertarungan mereka sebelumnya. Pada akhirnya mereka akan kalah jika ini terus berlangsung.
Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu Januar dan yang lainnya. Tapi meskipun aku membisiki teknik-teknik untuk menyerang, itu tak akan membantu banyak karena mereka sudah sangat baik. Jadi aku memilih cara lain dengan membisiki Geng Dua roda. Bukan untuk membantu mereka, melainkan untuk memecah konsentrasi mereka.
Aku mendekati salah satunya dan membisiki, "Awas sebelah kanan!" Yang membuatnya menoleh ke kanan dan tak menyadari tinju Awal yang datang dari kiri menghantam wajahnya.
"Awas diantara paha!" Bisikku ke Pemuda yang terkena tendangan kuat Januar di sisi samping kepalanya karena kedua tangannya yang hendak melindungi kepala malah menutupi dekat pahanya.
Aku terus mengeluarkan bisikan-bisikan spektakuler seperti:
"Ada kecoa mutan di dalam lambungmu!"
"Awas hujan upil dari atap!"
"Pacarmu minta putus!"
"X kuadrat ditambah delapan x ditambah lima belas sama dengan?"
"Ibumu datang sambil marah-marah!"
Semua itu berhasil memecah konsentrasi Geng Dua roda hingga mereka tak mampu menghindar atau menahan serangan telak dari Januar dan yang lainnya.
Januar menendang kaki kanan lawannya hingga jatuh berlutut, lalu mengakhiri dengan menendang kepala lawannya dengan kaki kanannya.
Awal meninju perut lawannya, saat tertunduk, Awal langsung melayangkan uppercut dengan tangan kanannya.
Dodo menahan pukulan lawan ke tubuh gempalnya, lalu mencengkram dan membanting lawan ke lantai.
Beni mencekik lawannya hingga lemas baru melepasnya.
Keenam Geng Dua roda telah dikalahkan. Tersisa Toni yang masih memegangi lengan kanan Dinda. Empat lawan satu. Toni tak akan menang melawan Januar dan yang lainnya. Tapi sepertinya itu juga tak dibutuhkan.
Dengan gerakan yang mengejutkan semua orang, Dinda memeluk Toni dengan cepat, merangkulkan kedua tangannya ke leher Toni, lalu menarik dan menghantamkan diantara kedua paha Pemuda itu dengan dengkulnya sampai dua kali hingga Toni jatuh berlutut sambil berteriak seperti bocah. Dinda lanjut menampar wajah Toni beberapa kali dengan keras sebelum menjambak rambut Toni, lalu menghantam wajahnya dengan dengkul sampai hidungnya berdarah. Kemudian Dinda mundur dan mengakhiri dengan tendangan kaki kanan yang mengenai sisi kiri wajah Toni hingga jatuh tersungkur.
__ADS_1
Gerakannya Dinda, terutama serangan terakhir itu tak hanya membuat keempat Pemuda yang menyaksikannya terperangah, bahkan aku juga tak menyangka akan melihat itu.
"Kau yang ajarkan itu, kan?" Tanya Awal.
"Sayangnya bukan." Jawab Januar yang maju mendekati Toni yang mencoba merangkak dan menendangnya hingga telentang. Lalu Januar menginjak-injak jari-jarinya sampai ada yang patah. "Tanpa senjata, bodoh!"
Selagi Januar tetap menekan tangan kanan Toni. Awal menduduki tubuh Toni sambil menginjak lengan kirinya dan mulai memukuli wajahnya sampai babak belur. "Ini balasan untuk Wanto!"
Lalu Januar, Awal, Dodo, dan Beni melucuti jaket, baju, dan scarf milik Toni dan teman-temannya yang berlogo Geng Dua roda.
"Jangan pernah berkeliaran di lingkungan kami dengan logo ini lagi!" Januar memperingatkan sebelum meninggalkan Toni dan teman-temannya yang terkapar di bangunan ini.
--
"Cucumu terluka, tapi dia baik-baik saja. Gak perlu khawatir." Ucapku ke Pak tua tunanetra. "Dia ada di Klinik mengunjungi temannya. Kini sudah diperbolehkan masuk oleh Gadis bernama Dinda itu." Aku ada di rumahnya setelah mengikuti Januar dan yang lainnya ke Klinik. Tempat itu membuatku kurang nyaman, jadi aku datang kemari.
"Jadi, mereka berdamai?" Tanya Pak tua.
"Untuk sekarang." Jawabku. "Entah sampai berapa lama."
"Mudah-mudahan akan bertahan lama." Ucap Pak tua. "Kau punya nama?"
"Kau bisa memanggilku, Man." Sahutku. Karena itulah nama yang diberikan padaku oleh Ra-ul dan Ri-val. Ah.. aku merindukan mereka. Itu mengingatkanku akan sesuatu.
"Terimakasih, Man."
"Aku gak membantu banyak, Pak tua."
"Kau juga bisa mulai memanggil namaku. Joko."
"Oke. Ah... Ada yang mau kutanyakan."
"Apa?"
Inilah kesempatanku, "Apa kau pernah bertemu yang sepertiku?"
Joko tak langsung menjawab. Dia terlihat ragu-ragu.
--
...Pemburu...
Di salah satu tempat nongkrong Geng Dua roda, mereka diserang oleh sekumpulan orang yang mengenakan masker. Kelompok itu menyita jaket dan barang-barang mereka yang berlogo Geng Dua roda.
"Kurang ajar!" Maki salah satu anggota Geng Dua roda yang terduduk lemas dengan wajah berdarah. "Siapa kalian beraninya serang kami? Kami ini Geng Dua roda!"
Salah satu dari penyerang mendekat, ia Pemuda bertubuh jangkung dengan rambut setebal ijuk. "Kami serang kalian karena ini!" Ucapnya sambil menunjuk logo Geng Dua roda yang ada di jaket yang dipegangnya. "Kami Pemburu Dua roda!" Deklarasinya sebelum menendang kepala Geng Dua roda hingga tersungkur.
Lalu Pemuda Ijuk itu berbalik dan berhenti di dekat Pemuda yang lebih pendek dengan rambut cepak keriting. "Memburu kelompok mereka satu persatu itu ide yang cerdas."
"Taktik gerilya." Ucap Pemuda Keriting. "Efektif untuk Geng sebesar Dua roda yang tersebar dimana-mana. Mengalahkan mereka satu demi satu sebelum mereka menyerang kita bersamaan." Jelasnya.
Pemuda Ijuk mengangguk setuju. "Siapa berikutnya?"
__ADS_1
"Kelompok anak kuliahan yang sering nongkrong di Cafe Racing." Ucap Pemuda Keriting.
"Ayo berburu!"