
...Penangkapan...
18 Ramadan. Malam.
Menunggu bisa jadi mengesalkan. Harus berdiam diri dan mengharapkan yang lainnya untuk melakukan hal yang kita inginkan. Itulah yang terjadi sekarang. Sebagai Jin yang terjebak di antara manusia. Menunggu bukanlah hal yang paling mengesalkan bagiku. Tapi bagi Rian dan yang lainnya? Setelah menunggu lebih dari sejam lamanya? Yah, mereka mulai terlihat bosan dan kesal.
Rian dan yang lainnya kembali ke Brothers motor setelah Shalat Isya dan menunggu. Tapi manusia yang akan mengambil motor ini belum juga datang sampai habis Waktu Shalat Tarawih. Baru satu jam sebelum tengah malam, dua laki-laki--satu bertubuh jangkung dan yang satunya lagi bertubuh besar--datang mengendarai motor yang sudah dirombak untuk balap liar.
Begitu kedua Laki-laki itu turun dari motornya, mereka langsung disergap Rian, Wawan, Pion, dan Banda. Dan mereka berdua berhasil dibekuk tanpa kesulitan yang berarti.
"Aw... Aw... Aw..." Laki-laki Jangkung yang kedua tangannya ditekuk ke belakang oleh Rian dan Wawan mengaduh dengan suara melengking.
Sambil menahan sebelah pergelangan tangan Laki-laki jangkung dan menekan wajahnya ke jok motor, Wawan berkata dengan bingung, "Tadi kau bilang suaranya serak!"
"Kemarin malam memang suaranya serak!" Rian membela diri.
"Kemarin malam aku sakit tenggorokan! Aw... Aw..." Pekik Laki-laki jangkung.
"Kalian ini polisi?" Tanya Laki-laki besar yang kedua lengannya ditahan Pion dan Banda. "Kami cuma diminta antar dan ambil motor itu. Kami gak tahu apa-apa! Ini bukan salah kami! Jangan tangkap aku lagi!" Racaunya dengan panik.
"Ya! Kami ini orang bayaran! Aw... Aw..." Timpal Laki-laki jangkung.
“Jadi motor itu bukan milik kalian?” Tanya Wawan.
“Bukan!” Jawab mereka berdua serempak.
"Jadi bukan kalian yang mengendarai motor itu di kecelakaan kemarin malam?" Tanya Wawan sekali lagi.
__ADS_1
"Bukan!"
Aku bisa pastikan kedua Laki-laki ini tidak berbohong. Apa yang mereka katakan itu memang benar. Dan untuk memberitahukan itu ke Rian, Aku mengetuk bahunya dua kali. Ia sempat terkejut untuk sesaat, tapi Ia memahami maksudku.
"Kalau begitu sekarang kalian antarkan kami ke tempat pemilik motor itu!" Perintah Rian.
"Apapun asal bukan ke kantor polisi!"
"Ya. Setuju! Aw... Aw..."
Menggunakan dua motor, Rian dan Wawan mengapit Pemuda bertubuh besar, sedangkan Pion dan Banda mengapit Pemuda bertubuh jangkung yang mengarahkan mereka ke Daerah Pusat. Sebelum meninggalkan Brothers motor, Pemuda Jangkung lebih dulu menelpon si pemilik motor yang ada di bengkel untuk memberitahukan Ia sudah mendapatkan motor itu--itu bohong--dan siap mengantarkannya ke tempat yang sudah dijanjikan. Tempat yang menjadi lokasi pertemuan adalah kedai kecil yang sudah tutup di depan gang di wilayah pemukiman padat penduduk.
Wawan dan yang lainnya menghentikan motor di jarak yang cukup jauh untuk mencegah target mereka menyadari kedatangan mereka. Pion dan Banda tinggal untuk menjaga motor sekaligus menahan Pemuda jangkung dan Pemuda besar agar tidak kabur.
“Kalau kalian bohong, kami bawa ke kantor polisi!” Ancam Wawan.
“Jangan kantor polisi!” rengek Pemuda Besar.
Wawan dan Rian lalu mendekati lokasi target dengan berjalan kaki untuk akhirnya menangkap mereka. Aku juga siap sedia jika harus membantu. Tapi kali ini aku akan menyerahkan ke Wawan dan Rian jika memang mereka bisa menanganinya dan tak membutuhkan bantuan dari Jin sepertiku.
Ketika melangkah semakin mendekat ke titik pertemuan, terlihat hanya ada satu manusia yang berdiri menunggu di depan kedai. Seorang Laki-laki yang sepertinya sedang menelpon. Wawan dan Rian berhenti untuk mengamati Laki-laki yang tiba-tiba menjadi kesal itu.
"Itu tempatnya, kan?" Tanya Rian.
"Cocok dengan yang dibilang dua orang tadi." Ucap Wawan.
Rian memperhatikan targetnya dengan seksama. "Mungkin gak ini pengalihan lagi?"
__ADS_1
"Nanti juga kita tahu." Ucap Wawan sambil melangkah mendekat. Diikuti Rian di belakangnya. Dan aku juga.
Berdiri di tempat tanpa sorot cahaya terang di malam hari membuat wajah manusia itu tak terlihat jelas dari jauh. Tapi begitu semakin dekat, wajah itu tampak sangat tak asing. Laki-laki itu menyadari kedatangan Wawan dan Rian. Ia memasukkan ponsel ke saku celana panjangnya, berbalik badan, dan berjalan ke gang. Namun baru tiga langkah, Ia berhenti dan jongkok untuk mengambil sesuatu di tanah. Lalu dengan gerakan cepat Ia bangkit dan berbalik sambil mengayunkan benda tajam yang baru diambilnya. Itu adalah golok yang sama yang digunakan untuk melukai Dwi.
Memang Laki-laki jangkung inilah salah satu pelaku yang kemarin malam mendatangi rumah Aidah di Perumahan Dua Cahaya. Dan sekarang aku juga mengingat wajahnya. Ia orang yang sama yang kulihat di kepingan memori ketika penyerangan ke markas Mafia Putih. Salah satu penjaga pintu di ruang utama yang berduel dengan Wawan menggunakan goloknya. Masa lalunya sebagai anggota Mafia Putih cocok dengan Motif penyerang yang ingin balas dendam dengan Suami Aidah yang merupakan Petinggi Mafia Putih.
"Jadi kau orangnya!" Ucap Wawan yang sepertinya juga mengingat Laki-laki bersenjata di hadapannya. "Sekarang jadi masuk akal."
"Aku gak ada urusan dengan bocah cunguk macam kalian!" Bentak Laki-laki jangkung dengan suara seraknya sambil tetap menodongkan senjata tajamnya.
"Oooh... Tapi kau melukai temanku kemarin malam!" Balas Wawan tanpa gentar.
Rian juga memasang kuda-kuda siap bertarung tanpa rasa takut sedikit pun dalam dirinya.
Laki-laki Jangkung bergantian menatap Wawan dan Rian yang mulai bergerak memisah ke kiri-kanannya. Lalu tiba-tiba Ia menebas horizontal ke arah Wawan, tapi kemudian dengan gerakan cepat Ia berbalik dan melompat sambil menebaskan secara vertikal goloknya ke Rian. Serangan itu berhasil dihindari Rian yang bereaksi cepat dengan menghindar ke samping. Tapi hal itu digunakan Laki-laki Jangkung sebagai kesempatannya untuk lari masuk ke dalam gang.
Wawan dan Rian bergegas mengejar memasuki gang gelap. Aku mengikuti dari belakang. Jika aku benar-benar serius, aku bisa mendahului Laki-laki itu dan mencegatnya. Tapi aku sudah berniat untuk membantu disaat benar-benar dibutuhkan. Laki-laki Jangkung berlari dengan cepat di depan, Ia berbelok memotong melalui halaman belakang rumah warga. Lalu berbelok lagi di jalan setapak yang lebih sempit di samping tembok setinggi dua meter. Wawan dan Rian tetap mengejarnya meski agak tertinggal.
Aku memutuskan untuk mengejar Laki-laki Jangkung dan berlari di sebelahnya, aku sebenarnya penasaran kemana tujuannya. Manusia ini seperti sudah hafal dengan jalan yang dipilihnya. Begitu sampai di ujung dinding dan keluar ke jalan terbuka yang lebih lebar, Laki-laki Jangkung terpaku karena terkejut setelah melihat ke arah kirinya. Di sana ada beberapa manusia yang mengenakan rompi anti peluru lengkap dengan senjata api dan beberapa manusia berpakaian biasa yang berkumpul sambil berbincang. Lalu terdengar satu suara menyerukan..
"Itu dia orangnya!"
Manusia bersenjata dan warga sekitar langsung berpaling ke arah Laki-laki Jangkung, yang secara tiba-tiba meraih Perempuan terdekat dan menodongkan goloknya di leher Perempuan itu dari belakang si Perempuan. Ada Manusia bersenjata yang merespon dengan membidikkan senjatanya ke arah Laki-laki Jangkung, yang bereaksi dengan semakin mendekatkan goloknya ke leher wanita malang yang menjerit ketakutan.
Aku baru mau bertindak untuk menghentikan Laki-laki Jangkung. Tapi kemudian sesuatu yang tak kuduga terjadi. Turun dengan cepat dari atas langit, sesosok bertubuh merah terang mendarat tepat di hadapan Laki-laki Jangkung tanpa ada satu manusia pun yang menyadari keberadaannya. Sosok itu meraih pergelangan tangan Laki-laki jangkung yang memegang golok, menariknya hingga golok menjauhi leher Perempuan yang menjadi sandera, dan meremas tangan itu sampai Laki-laki Jangkung merintih kesakitan dan melepaskan golok dari tangannya.
Manusia bersenjata dan warga yang melihat itu semuanya tertegun dan bingung akan apa yang baru mereka saksikan. Mereka hanya berdiri di tempat dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Bahkan aku juga mematung di tempatku. Tapi ada dua manusia yang bereaksi dengan cepat di tengah situasi aneh ini. Dua manusia itu datang dari belakang Laki-laki Jangkung dan menubruknya, memisahkan dari si Perempuan, menjatuhkannya ke tanah, dilanjut dengan mengunci pergerakannya. Dua manusia itu adalah alasan kenapa Laki-laki Jangkung sampai berlari ke tempat ini, Wawan dan Rian.
__ADS_1
Rian mungkin mengira aku yang membuat Laki-laki Jangkung berteriak hingga menjatuhkan goloknya karena Ia pernah berkomunikasi dan menyadari keberadaanku di sekitarnya. Tapi Wawan yang sepertinya tak punya gambaran akan apa yang terjadi, bisa bereaksi sama cepatnya dengan Rian, harus benar-benar diapresiasi penuh akan tindakannya. Mereka berdua harus diapresiasi penuh, Wawan dan Rian karena sudah melumpuhkan Laki-laki Jangkung yang berniat menggorok Perempuan tadi.
Dan Sosok yang memiliki peran untuk membuat hal itu mungkin dilakukan adalah sosok yang kucari... Jin lainnya yang kini berdiri di hadapanku, Jin Terang dengan pendar keemasan yang menyilaukan, Jin Perempuan yang selama ini disebut manusia sebagai Pahlawan Tak Terlihat.