Terjebak Di Ramadhan

Terjebak Di Ramadhan
Part 24 - Berkumpulnya Perbedaan


__ADS_3

...Berkumpulnya Perbedaan...


17 Ramadan. Malam.


Mungkin ini kali pertama aku bingung harus mulai dari mana. Banyak hal yang terjadi bersamaan di malam ini. Mungkin aku akan mulai dari tempat ku saat ini berada. Klinik Permata Hijau. Bangunan bercat hijau di daerah Timur kota ini cukup besar dan memiliki fasilitas medis yang cukup lengkap. Ambulans yang datang ke kompleks perumahan Dua Cahaya adalah salah satu dari fasilitas itu.


Ambulans datang dengan seorang supir laki-laki dewasa berusia sekitar tiga puluhan dan dua perawat; seorang laki-laki muda dan perempuan muda usia dua puluhan awal. Begitu tiba di rumah no.22, Perawat laki-laki langsung memeriksa Dwi sementara Perawat perempuan masuk ke kamar persalinan darurat untuk melihat situasi di dalam. Tak berapa lama kemudian kedua Perawat itu membuat keputusan untuk membawa Dwi ke Klinik, sedangkan Perawat perempuan akan tinggal untuk mengawasi proses persalinan Istri Satpam. Lalu setelah mengantar Dwi, Ambulans akan segera kembali lagi bersama seorang Dokter bersalin.


Jadi begitulah, Ambulans kembali membawa Dwi, bersama dengan Aidah dan bayinya, dan Aku juga tentunya. Karena jika aku menunggu lebih lama lagi di rumah Aidah, aku takut tak bisa mengendalikan diriku yang akan dikuasai rasa penasaran dan akhirnya menembus masuk ke kamar persalinan darurat. Jadi aku lebih baik menjauh dari situasi itu. Meski harus kuakui aku benar-benar penasaran. Jadi kamilah gelombang pertama yang tiba di Klinik Permata hijau dari Kompleks perumahan Dua Cahaya. Situasinya menjadi semakin rumit dimulai dari titik ini.


Begitu Dwi dibawa memasuki ruang Unit Gawat Darurat, ternyata di ruangan itu ada seorang pemuda yang tak lain adalah Wawan dan seorang Gadis berambut keriting indah. Wawan yang mengenali Dwi, langsung menghampiri temannya.


"Kau kenapa?" Tanya Wawan khawatir.


"Ceritanya panjang.." Jawab Dwi sambil menghela nafas. "Kalian sendiri kenapa disini? Siapa yang dirawat?" Ia balik bertanya.


"Tadi ketemu orang kecelakaan di jalan." Sahut Gadis yang bersama Wawan. Gadis ini tak lain adalah pacar Wawan yang bernama Dara, yang juga sahabat baik Rossa dan pernah memiliki sejarah rumit dengan Rimba.


"Kecelakaan?" Ulang Dwi.


"Kami baru pisah dari temen-temen lain. Di jalan depan SMP II, ada becak barang yang nabrak mobil berhenti di jalur sebelah di depan kami." Wawan mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelum Ia sampai ke Klinik Permata Hijau. "Becaknya sampai terbalik. Bapak yang bawa becak tadi terkapar, kepalanya terbentur aspal." Ia melanjutkan. "Orang-orang disana gak ada yang kenal si Bapak. Jadilah kami ikut sampai kemari." Tutup Wawan.


Dwi mengangguk-angguk paham. Lalu ia menoleh ke kasur yang tirainya tertutup di sebelah kirinya. "Yang disebelah?" Tanyanya sambil menunjuk ke kiri.


"Ya." Sahut Wawan.


"Pertanyaan yang sama yang ditanyakan Wawan tadi." Ucap Dara. "Kau kenapa? Itu bukan luka kecil." Imbuhnya dengan ekspresi khawatir.


Dwi meringis sesaat sebelum mulai bicara. "Ini..."


Tapi penjelasannya harus tertunda karena kedatangan Dokter yang memeriksanya. "Siapa yang beri perawatan pertama?" Tanya Dokter perempuan berhijab yang usianya sekitar akhir tiga puluhan itu.


"Saya!" Ucap Aidah sambil mengangkat sedikit sebelah tangannya yang tengah menggendong bayinya.


"Kamu?" Tanya si Dokter yang sepertinya mengharapkan salah satu Perawatnya yang menanggapi pertanyaan sebelumnya. Lalu Dokter berhijab itu memperhatikan Aidah dengan serius beberapa lama sebelum ekspresinya berubah menjadi terkejut. "Aidah? Kamu Aidah, kan?"

__ADS_1


"Iya, Dokter." Sahut Aidah sambil tersenyum.


Saat itu sedikit informasi dari kepingan memori mereka merasuk ke diriku. Ketika Aidah masih menjalani Praktik kerja lapangan. Dokter berhijab yang bernama Iriana inilah yang menjadi pembimbingnya.


"Itu bayimu?" Tanya Dokter Iriana.


Aidah menganggukkan kepalanya, "Iya, Dok."


"Jadi ini..." Dokter Iriana menunjuk Dwi, "Suamimu?" Tanyanya lebih kepada diri sendiri.


Kali ini Aidah menggeleng pelan, "Bukan, Dok."


"Oke... Jadi, luka sayat. Cukup panjang, tapi gak terlalu dalam." Ucap Dokter Iriana kembali berfokus ke luka di punggung Dwi. "Ini harus dijahit, Mas." Sambungnya bicara langsung ke Dwi.


"Iya, Dok." Ucap Dwi sambil meringis.


"Kenapa bisa luka begini?" Tanya Dokter Iriana. "Ikut Tawuran?" Tebaknya kemudian.


"Bukan, Dok." Sahut Dwi cepat.


"Jadi? Trik sulap yang gagal?"


"Diserang Perampok?" Tanya Wawan menuntut penjelasan.


"Sudah kubilang tadi ceritanya panjang." Ujar Dwi. Jelas sekali masih belum ingin menjelaskan rincian kejadian yang dialaminya ke temannya.


Tepat pada saat itulah ada satu pasien lagi yang masuk ke UGD. Dan sepertinya pasien ini kondisinya lebih buruk dari Dwi. Laki-laki dewasa berusia sekitar tiga puluhan akhir yang pahanya bersimbah darah. Ia masuk ke dalam ruangan dengan ranjang yang didorong oleh perawat laki-laki dan dua orang polisi. Kedua polisi ini mengenakan rompi anti peluru yang ditempati walkie talkie dan senjata api. Desas-desus tentang kerusuhan Geng yang semakin meningkat belakangan ini dan aksi kriminal lainnya. Sepertinya Polisi menjadi lebih sibuk selama beberapa hari aku menjadi pertapa.


"Tolong tunggu dulu sebentar." Ucap Dokter Iriana yang bergegas memeriksa pasien baru.


"Luka karena senjata tajam." Ucap Polisi yang usianya lebih tua. "Kami sudah coba, Dok. Tapi pendarahannya belum berhenti." Ungkapnya.


"Kenapa bisa terkena senjata tajam, Pak?" Tanya Dokter Iriana ke Si Polisi.


"Korban penyerangan." Jawab Pak polisi.

__ADS_1


"Dari siapa?" Tanya Dokter Iriana lagi.


Kini Polisi yang lebih muda yang menjawab, "Dari teman-temannya!" Ucapnya sambil menunjuk Wawan.


"Aku?" Tanya Wawan dengan wajah bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya. Kamu!" Tegas Polisi muda.


"Ada buktinya?" Tanya Wawan dengan nada menantang.


"Saksi mata bilang penyerangnya adalah anggota Geng Dua roda." Ujar Polisi muda sambil berjalan mendekati Wawan. "Sama kaya kamu!" Ucapnya saat berhenti selangkah di hadapan Wawan dengan jari telunjuk teracung ke depan.


"Saksi mata?" Balas Wawan dengan alis bertaut. "Berarti gak ada pelaku yang tertangkap?" Ia menyimpulkan. "Jadi tahu darimana pelakunya itu temanku?"


Dengan suara tegas Polisi muda mengatakan, "Karena kalian sama-sama Dua roda!" Kemudian dengan agak berapi-api Ia menambahkan, "Geng paling rusuh! Kalian semua harusnya ditangkap!"


Wawan bereaksi dengan cukup tenang menurutku untuk seseorang yang dituduh oleh aparat keamanan. Ia menggeleng pelan dengan raut wajah yang menyatakan; Ia tidak percaya ini terjadi padanya. Lalu memandang melampaui Polisi muda, dan bicara langsung ke Polisi yang lebih tua di belakangnya.


"Iptu Trijaya!" Panggil Wawan. "Harus berapa kali lagi kujelaskan? Geng Dua roda itu banyak kelompok yang terpisah-pisah. Jadi, kalau ada salah satu yang buat rusuh. Itu belum tentu teman-temanku." Jelasnya panjang-lebar.


"Selama masih pakai nama Dua roda. Berarti kalian semua ada di satu kelompok yang sama." Desak Polisi muda.


Kini Dara yang membalas dengan argumen yang membalikkan pemahaman tadi. "Jadi Anda anggap kalau ada satu polisi yang korupsi, itu berarti semua polisi juga koruptor? Kalau begitu, berarti Anda juga koruptor."


"Jaga sopan santunmu, nona." Ucap Polisi muda dengan nada ketus.


"Gak peduli mau siapapun itu..." Desis Dara. "Aku hanya sopan ke orang yang pantas!" Sambungnya dengan lantang.


Harus kuakui untuk ukuran manusia, Dara itu cukup berani. Gadis itu berdiri menghadapi laki-laki yang lebih tua darinya yang memiliki wewenang di struktur pemerintahan dan jelas-jelas memiliki senjata api dengan izin resmi yang siap digunakan. Dan Ia jelas sekali membuat Polisi muda ini kesal. Tapi tetap tidak gentar. Teman dari manusia sekaliber Rossa pastilah seberani ini. Harus kuakui, aku mulai menyukai Dara. Dan aku siap membantunya jika sesuatu yang buruk terjadi.


"Ini Klinik!" Raung Dokter Iriana. "Kalau masih mau ribut, lanjutkan di tempat lain sana!" Ucapnya dengan nada tinggi.


Dan bersamaan dengan itu, Polisi muda yang mulai menyadari kesalahannya karena kurang peka terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya pun meminta maaf. Yah, aku tak menyalahkan laki-laki itu. Keletihan memang terlihat jelas di wajahnya. Aku sendiri sudah menyaksikan bisa seberapa brutal bentrokan antar manusia, dalam skala besar maupun kecil. Dwi dan pasien baru di UGD ini adalah bukti nyatanya. Dan jika desas-desus yang mengatakan kalau kota menjadi semakin rusuh itu memang tepat, Pihak Kepolisian pasti kewalahan secara Fisik dan Mental.


Setelah menghentikan percikan diantara manusia lain yang ada di ruangan ini. Dokter Iriana kembali memberi instruksi ke para Perawat yang membantunya menangani luka Pasiennya yang kini sekeliling ranjangnya tertutup tirai. Dan Dwi tidak diabaikan begitu saja. Ada perawat yang memeriksanya berdasarkan perintah dari Dokter Iriana dan juga mulai menutupi tirai disekelilingnya.

__ADS_1


Maka berkumpullah manusia-manusia yang mengantarkan manusia-manusia lain yang saat ini sedang dirawat. Wawan, Dara, Aidah yang menggendong bayinya yang terlelap, dan Kedua Polisi berdiri sambil memperhatikan tirai-tirai tertutup di hadapan mereka. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda dengan masalah yang berbeda-beda, tapi dengan cara yang unik, mereka semua terhubung. Malam ini mereka menjalani kehidupan yang berbeda dengan satu dan lainnya. Namun situasi yang mereka alami membawa mereka ke tempat yang sama dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada akhirnya mereka berkumpul di satu ruangan yang sama. Dan meski berbeda-beda, kini ada satu kesamaan yang jelas terlihat dari mereka. Perasaan yang muncul... Kecemasan.


 


__ADS_2