
...Membajak Tubuh Manusia...
7 Ramadan. Malam.
Sejak terlibat dalam masalah antara kelompok Januar dan Awal, masalah yang berhubungan juga denganku, tak ada kejadian besar yang bisa menarik perhatianku. Aku juga sengaja tak bertemu dengan Joko. Aku butuh manusia lain untuk diajak berkomunikasi selain Pak tua sarkastik itu. Jadi, selama tiga hari terakhir ini aku menurunkan derajatku dari Satu-satunya Jin yang tersisa di Bumi menjadi Jin-Penguntit-Pengganggu manusia. Cukup menyedihkan, aku tahu itu.
Aku mengalihkan fokusku ke Marbot Masjid Al-Alim. Aku yakin sekali Pemuda Pengurus Masjid itu sebenarnya bisa melihatku, tapi memilih untuk mengabaikanku. Beraninya Manusia rendahan sepertinya mengabaikan Jin super duper hebat sepertiku! Aku tak bisa biarkan itu! Jadi di hari pertama aku selalu mengikuti gerakannya kemanapun, kecuali ke kamar mandi tentunya. Aku masih punya standar. Tapi aku terus mengikutinya ke tempat lain. Entah itu di sekitar Masjid, belanja di warung, bahkan aku menungguinya saat tidur di tempat tinggalnya yang menyatu dengan bangunan menara Masjid. Itu bukan tugas mudah, aku harus benar-benar sabar selama sehari penuh mengekornya. Aku berharap ia akan merasa tertanggu, tapi sampai akhir hari manusia itu masih tetap bersikap seolah aku tak terlihat.
Di hari kedua, aku meningkatkan usahaku dengan memindahkan barang-barang disekitarnya. Aku mengambil sapu dan menjauhkannya saat ia hendak menyapu halaman Masjid. Aku juga memutar keran-keran di tempat berwudhu untuk menarik perhatian. Tapi meskipun ia langsung menuju tempat wudhu dan memutar keran-keran hingga airnya tak keluar, Pemuda Marbot ini tetap mengabaikanku yang berdiri dengan kedua tangan terlipat di hadapannya. Bahkan saat aku terus menerus membisikkan hal konyol di telinganya dan hanya berhenti saat ia tertidur, berada di kamar mandi, dan beribadah. Manusia itu tetap mengabaikanku. Ia pasti satu-satunya manusia yang bisa tahan dengan gangguan seperti itu.
Hari ini aku mencoba menembus dinding kamarnya untuk mengagetkannya dengan berteriak, "Hola!"
Dan itu berhasil! Setidaknya selama sedetik ia melihatku sebelum mengalihkan perhatian ke buku yang dibacanya. Tapi tetap saja. Ia memang melihatku. Itu artinya usahaku tidak sia-sia. Aku hanya perlu mencoba lagi.
Dan disinilah aku. Di halaman Masjid Al-Alim setelah orang-orang yang Shalat Tarawih dan anak-anak yang ikut tadarus meninggalkan Masjid. Saat Pemuda Marbot keluar dari Masjid dan mendekati sandalnya, aku memfokuskan diriku untuk memegang sandal itu dan mundur selangkah sambil menggesernya. Ketika ia maju mendekat, aku mundur selangkah lagi. Maju lagi, aku mundur lagi. Selangkah lagi, aku mundur lagi. Lalu ia berhenti, matanya tak lagi menatap sandalnya, tapi langsung ke arahku yang berjongkok di depannya. Dari wajahnyanya, Pemuda Marbot terlihat mulai kesal. Tapi sayangnya ia berhasil menahan amarahnya dan berbalik lalu melangkah pergi tanpa sandalnya. Ia mungkin bisa menahan amarah, tapi aku tidak. Kulemparkan salah satu sandal sampai mengenai kepala belakangnya. Dan ia berhenti.
__ADS_1
Pemuda Marbot berbalik dengan tangan yang menunjuk ke arahku. "Oke... Apa maumu?"
Itu dia! Akhirnya! Ia berbicara padaku! "Aku mau bicara!" Balasku.
Pemuda itu menghembuskan nafas panjang dan bahunya yang tadi menegang mulai merileks. "Bicara soal apa?"
Itu pertanyaan yang bagus. Aku juga tak tahu apa yang harus dibicarakan sekarang. Aku terlalu berusaha agar ia tak mengabaikanku, tapi aku tak tahu apa tepatnya yang harus kubicarakan lebih dahulu. Mungkin... Mungkin aku harus mulai bertanya namanya. Itu langkah awal untuk berkenalan, bukan? Ya, mungkin nama lebih dulu. Kemudian aku bisa bertanya apa ia pernah bertemu yang sepertiku.
Tapi sebelum aku sempat menanyakan apa yang akan kutanyakan, aku merasakan kumpulan aura hitam tak jauh dari sini. Aku bisa merasakan dengan jelas sekali, kebencian yang begitu besar mengumpul di satu tempat. Perasaan itu menggangguku, aku tak bisa berkonsentrasi ke hal lain. Jadi aku tak punya pilihan selain menuju ke sumbernya.
Insting Jin milikku menuntunku ke Kebun sawit yang tak terlalu luas yang berbatasan dengan pemukiman penduduk. Meskipun dekat dengan rumah-rumah, tapi Kebun sawit ini memang sepi saat malam hari. Tadinya dengan kebencian sebesar yang kurasakan, aku mengira akan menemui bentrokan antara berpuluh orang seperti saat kelompok Januar melawan kelompok Awal di rumah terbengkalai. Tapi saat aku berlari ke kedalaman Kebun melewati pohon-pohon sawit yang menjulang tinggi sekitar 10 meter, aku hanya melihat 4 Pemuda yang berkelahi. Tidak... Lebih tepatnya 3 Pemuda yang mengeroyok 1 Pemuda.
Secercah pemahaman mengalir ke diriku. Pemuda yang tubuhnya ku bajak ini bernama Rian. Dan ia adalah mantan anggota Geng Dua roda. Awalnya ia datang kemari untuk menyelesaikan masalah dengan berkelahi satu lawan satu dengan Pemuda berambut kuncir, tapi ia malah berakhir dikeroyok. Aku memang tak menyukai Geng Dua roda, tapi aku lebih tak menyukai siasat ketiga Pemuda ini. Dan aku juga tak punya pilihan selain melawan menggunakan tubuh Rian, karena mereka bertiga tak berhenti menyerangku.
Begitu aku menyadari situasi anehku, pukulan keras mengenai sisi kiri wajahku, lebih tepatnya wajah Rian, tapi sama sajalah. Serangan kedua menghantam perutku. Tapi dengan gerakan cepat aku langsung membalas dengan memukul perut Pemuda berhidung besar dengan tangan kiriku. Lalu meninju wajahnya dengan tangan kanan dua kali hingga ia termundur sempoyongan. Saat Pemuda berkuncir mendekat, aku langsung maju dan menendang perutnya. Selagi ia tertunduk, aku meraih bagian belakang kemeja denimnya ke depan hingga menutupi wajahnya dengan sebelah tangan dan menahannya. Lalu aku memukuli wajahnya dengan tangan yang satunya.
__ADS_1
Tiba-tiba lengan dari Pemuda berhidung besar mengapit leherku dari belakang dan menarikku mundur menjauhi Pemuda berkuncir yang kerepotan melepaskan wajahnya dari kemejanya sendiri. Giliran Pemuda gemuk yang maju dan meninju perutku. Pukulannya kuat sekali, tapi kedua tanganku masih bebas, jadi aku menepuk kedua telinganya dengan kuat dan meremas kepalanya. Aku melanjutkan dengan mengangkat kedua kakiku ke tubuh Pemuda gemuk dan dengan sekuat tenaga menolak tubuhku ke belakang membawa serta Pemuda berhidung besar yang ikut terjatuh bersamaku karena tak mampu menahan beban dari momentumku.
Aku tak terlalu merasa sakit saat terjatuh menghantam tanah karena Pemuda berhidung besar ada di bawahku. Ketika pitingan tangannya melemah, aku memanfaatkan itu untuk membebaskan diriku. Berguling ke samping, bangkit ke posisi jongkok, dan meninju wajahnya beberapa kali hingga hidung besarnya berdarah. Tapi pertahananku mengendur, hingga aku tak menyadari Pemuda berkuncir yang mendekatiku dari belakang dan menendang perutku dari samping kanan. Tendangannya cukup menyakitkan. Tapi ia belum selesai, ia mencambak rambutku dengan tangan kirinya dan menarik kepalaku ke atas, lalu meninju wajahku dengan tangan kanannya.
Kuabaikan rasa sakit di kepalaku dan menahan pukulan keduanya dengan lengan kiriku. Aku langsung meninju ulu hatinya dengan tangan kanan. Lalu menahan lengannya yang masih menjambakku dan menghentakkannya hingga tangannya terlepas dari kepalaku. Selagi aku menahan kedua lengannya, kujejakkan kakiku dengan kuat ke perutnya hingga ia termundur sambil menunduk kesakitan.
Aku menyentuhkan jariku ke pelipis kiriku. Kurasakan sesuatu yang basah dan lengket dijariku. Saat aku melihat jariku, aku melihat darah merah. Aku juga menyadari kalau tubuh ini gemetaran. Benar, ini bukan tubuhku. Tapi tubuh manusia bernama Rian. Sebelum aku datang, tubuhnya sudah menerima banyak serangan dari ketiga pemuda ini. Begitu melihat mereka bertiga mulai berdiri meski sempoyongan. Aku sadar kalau pertarungan ini dilanjutkan, tak akan berakhir baik bagi Rian.
Dan saat ini ada kesadaran lain--mungkin Rian--yang memerintahkan tubuh ini untuk lari. Ini memang tak pernah menjadi pertarungan yang seimbang. Jadi, aku berbalik dan lari secepat yang kubisa dengan tubuh yang memar-memar ini. Aku ingat melewati beberapa motor saat menuju kemari, jadi aku menuju kesana.
Ada 3 motor bebek; bercat hijau-hitam, biru-hitam, dan biru-putih. Aku langsung tahu motor milik Rian yang bercat biru-putih, dan kuncinya ada di saku celana sebelah kanan. Aku mengeluarkan kunci dengan cepat, memasukkannya ke motor, dan mulai menyalakan mesin. Kesadaran lain memberitahuku untuk menjatuhkan dua motor lainnya. Jadi begitu aku menarik gas, kulajukan motor mendekati dua motor lainnya dan bergantian menolak dengan sekuat tenaga menggunakan kakiku sampai kedua motor itu terjatuh. Meski aku sempat kehilangan kendali, untunglah aku tak kehilangan keseimbangan dan berhasil tetap melaju.
"Berhenti woy!!"
"Dasar pengecut!!"
__ADS_1
Aku mengabaikan teriakan mereka dan terus melaju menyusuri jalan setapak melewati pohon-pohon sawit hingga menyebrangi jembatan kecil di atas parit menuju jalanan aspal. Diluar dugaan, aku yang Bangsa Jin ini bisa dengan lihai mengendarai motor. Menambah dan mengurangi gigi, menaik dan menurunkan gas, berbelok dan menarik rem. Mengendarai motor memasuki jalan sempit di gang rumah penduduk. Aku bisa melakukan semua itu tanpa kesulitan. Dan tekanan angin yang menerpa wajahku entah kenapa terasa sangat akrab dan menenangkan.
Entah karena aku sedang membajak tubuh Rian atau karena hal lain. Amnesiaku membuatku tak tahu banyak hal tentang diriku, tentang Jin. Kecuali yang diberitahukan Ra-ul dan Ri-val. Tapi mereka tak pernah memberitahu kalau ada Jin yang tak menghilang dari Bumi di bulan Ramadan. Juga merasuki tubuh manusia seperti ini. Banyak hal yang tak kuketahui. Tapi aku tahu satu hal, kemana tempatku membawa tubuh Rian... Ke Masjid Al-Alim.