
Bab 1
"Papa harus menjadikan Dini sebagai adik angkat kalian berdua," kata Wirawan kepada dua anak lelakinya Jeno dan Jessen. Kakak beradik yang hanya selisih satu tahun lima bulan.
"Dih, papa kenapa bawa anak cupu sih?" tanya Jessen yang merasa keberatan karena dia memiliki adik angkat yang seumuran dengannya. Sedangkan Jeno, sang kakak. Hanya diam tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Jaga mulutmu!" bentak Wirawan. Dini yang duduk di sebelah Wirawan merasa takut.
Ayahnya baru saja meninggal karena kecelakaan kerja. Agung, ayah dini adalah teman dari Wirawan. Kecelakaan itu membuatnya merasa bersalah dan kasihan. Terlebih setelah meninggalnya sang ayah Dini hidup sebatang kara. Ibunya sejak dia masih kecil memilih pergi dengan pria lain.
Jessen yang merasa kesal berdiri dengan kasar hingga membuat kursi yang dia duduki hampir terjatuh.
"Jen, papa harap kamu bisa menjadi Kaka yang baik untuk dini, kamu tahukan yang terjadi sama dia?" ujar Wirawan.
"Iya, pa." Jeno mengangguk paham.
"Din, sekarang kamu tinggal disini, mulai besok sekolah kamu akan saya urus pindahannya," kata Wirawan.
***
Keesokan harinya, Jessen seperti biasa dia berangkat dengan motor sportnya yang sudah dia modif sedemikian rupa. Sedangkan Jeno menggunakan motor sport yang masih orisinil dari pabriknya.
__ADS_1
Sebenarnya Jeno sama dengan Jessen yang tidak suka dengan kehadiran Dini. Tapi dia tidak mengekpresikan dengan kemarahan. Dia cukup diam tidak menunjukan emosinya.
Sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh kadang membuat beberapa gadis ingin dekat dengannya. Terlebih dia selalu mendapat ranking di sekolahnya.
"Dini, nanti kamu sama papa ke sekolah baru kamu," kata Wirawan setelah dua anaknya berpamitan.
"Baik, Om."
"Jangan panggil Om. Panggil saja papa. Sejak hari ini kamu sudah resmi masuk dalam keluarga papa. Karena semua dokumen sudah selesai di kerjakan," kata Wirawan.
Dini ragu, dia sangat canggung dengan suasana ini.
***
Mobil berhenti tepat di depan sekolah elit SMA Univers. SMA yang terkenal sangat bagus dan melahirkan banyak anak pintar dari kalangan menengah ke atas.
"Dini, kamu bawa berkas itu." Wirawan meminta dini membawa map berisi berkas itu. Dini mengangguk dan mengekor papa angkatnya menuju sebuah ruangan yang bertuliskan teacher room.
Dini tidak berhenti mengagumi setiap sudut ruangan. Matanya berwisata ria melihat setiap interior sekolahan yang jauh berbeda dari sekolah sebelumnya.
Wirawan di sambut hangat oleh salah satu guru yang terlihat menunggunya dan mempersilahkan mereka berdua masuk dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
__ADS_1
"Dini Anindya," ucap wirawan yang beberapa kali menyebut namanya.
"Ini seragam yang anda minta," kata guru dengan nama dada Willyam.
"Dini, ini seragam kamu. Nanti bukunya biar di berikan saat kamu mulai masuk sekolah besok," kata Wirawan. Dini hanya mengangguk.
"Ini uang pembayaran dini satu tahun kedepan," kata Wirawan yang memberikan sejumlah uang kepada guru itu.
Dini menggelengkan kepala saat melihat itu. Dia baru pertama kali melihat uang sebanyak itu tepat di depan mata. Biasanya uang seratus ribu itu sudah sangat banyak baginya.
Setelah melakukan pendaftaran dan pembayaran, Dini di ajak berkeliling melihat beberapa tempat inti sekolah.
Dini duduk di kelas 2 SMA. Dia harus menyiapkan mental cukup tebal. Terlebih saat dia melihat beberapa siswa dengan gaya nyentriknya.
"Sepertinya sudah dulu kelilingnya. Saya ada urusan mendadak," kata Wirawan saat membaca pesan di ponselnya.
"Baik, pak. Terima kasih atas kepercayaan anda," sahut guru itu.
"Sama-sama. Ayo Din." Wirawan mengajak Dini pergi.
Entah kenapa dini merasa lega setelah keluar dari sekolahan itu. Dia merasa sangat takut untuk memulai sekolah baru itu. Ia Takut jika tidak bisa menyesuaikan diri di lingkungan orang elit.
__ADS_1
"Huft...." napas lega setelah Dini sampai di rumah. Sedangkan Wirawan langsung pergi ke kantor.