Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Butuh waktu.


__ADS_3

Bab 6


Setelah perdebatan panjang. Dini akhirnya pulang. Dini berboncengan dengan Jeno. Karena motor milik Jessen seperti kurang angin.


Sesampainya di rumah. Wirawan terlihat sangat santai saat melihat Dini. Tidak ada kekhawatiran sedikitpun.


"Nih, anak angkat papa sudah pulang," kata Jessen dengan kesal.


"Gimana? Sudah nggak kangen lagi sama ayah?" tanya Wirawan kepada Dini.


"Sedikit terobati," jawab Dini.


Jeno dan Jessen saling menatap kebingungan.


"Pa? Apa ini? Papa tahu kalau Dini ada di makam ayahnya?" tanya Jeno.


"Iya," jawab singkat Wirawan.


"Kok papa nggak bilang?" protes Jessen.


"Papa tahu juga barusan, hp papa habis batrai."


"Elo kok nggak bilang juga?" Kini Jessen menodong Dini.


"Gue nggak tahu kalau papa udah baca pesan gue, orang gue telepon juga nggak bisa." Dini mulai terbiasa memanggil papa kepada Wirawan.


"Dih, sok banget lo panggil panggil papa gue pakai sebutan papa juga, Lo masih harus ingat kalau lo anak pungut!" hardik Jessen.

__ADS_1


"Jessen!" pekik Wirawan. "Papa juga tahu tadi siang kamu bikin masalah sama Dini!" imbuh Wirawan.


"Dia ngadu? Belain aja tuh anak pungut!" Jessen pergi begitu saja. Jessen kesal karena dia selalu di salahkan dan merasa tertipu dengan kepergian Dini barusan.


"Sudah, pa. Jessen biar Jeno yang nangani."


Sedangkan Dini mencoba memberikan pengertian kepada Wirawan.


"Pa. Dini merasa bahagia dengan keluarga ini. Tapi tidak bisa membuat hati dini sepenuhnya melupakan ayah begitu saja. Begitu pula dengan Jessen dan Jeno. Mereka butuh waktu menerima Dini," kata Dini. "Dini berusaha memanggil om Wirawan denah sebutan papa agar juga terbiasa. Itu juga salah satu cara Dini beradaptasi. Dini akan berusaha menerima semua yang di lakukan bang Jeno dan Jessen."


Semua yang di katakan Dini hanya di lisan saja. Sebenarnya dia juga sakit hati dengan semua yang di katakan Jessen. Tapi dia menahan diri agar tidak ada keributan di rumah ini karena dirinya. Dini berusaha membuat suasana hati orang tua angkatnya membaik.


***


Keesokan harinya. Dini bangun lebih awal. Karena sesuai janjinya dia akan berangkat menggunakan bis.


"Nggak usah, pa. Dini naik bis aja," sahut Dini yang sudah selesai sarapan.


"Baguslah kalau lo sadar diri," sahut Jessen. Meskipun sakit hati mendengar pedasnya mulut Jessen tapi Dini berusaha tidak terpengaruh. Dia bersalaman dengan Wirawan dan pergi lebih dulu.


Sesampainya di sekolah pukul 06:50. Sangat mepet.


"Berarti gue besok gue harus berangkat lebih pagi," gumam Dini.


Kriiiing......


Bel sekolah berbunyi saat tepat dini duduk di bangkunya. Dini menoleh ke bangku Jessen yang masih kosong.

__ADS_1


Guru belum datang, membuat teman-teman Jessen mengganggunya.


"Heh anak baru. Lo tinggal dimana?" Salah satu pria duduk di meja Dini.


"Emang kenapa?"


"Ya gue mau tau, sombong amat lo?"


"Eh! Ada guru... Balik!" seru salah satu siswa yang membuat mereka semua buyar.


Disaat bersamaan Jessen baru saja datang. Dia dengan santai berjalan di belakang guru yang memasuki kelasnya.


Saat guru di depan menjelaskan sesuatu, bukan tentang pelajaran tapi meminta siswa memilih ketua kelas dan jajarannya dalam waktu dekat. Di sisi lain geng Jessen sedang berbicara sendiri sesekali menoleh kearah Dini. Dini merasa di buat bahan perbincangan oleh mereka.


***


Jam istirahat tiba. Kelas mulai sepi. Jessen mendekati Dini dan berbisik. "Gue akan buat elo nggak betah di sekolah ini ataupun di rumah, paham!" lalu dia pergi begitu saja.


"Sabar, Din... Sabar...." ucap Dini sembari mengelus dadanya.


Dini pergi ke kantin untuk membeli minum. Dia kagum dengan keadaan kantin yang bersih dan rapi. Jauh berbeda dengan sekolahnya dulu. Bahkan harga dan makanan yang di jual juga berbeda.


Dini hanya membeli minum dan membawanya ke kelas. Tapi saat kembali Dini melihat keriuhan di kelas. Ada salah satu siswi sendang menangis sesenggukan.


"Tadi gue taruh tas..."


Mereka semua terlihat kebingungan. Dini hanya melewati mereka begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2