Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
terkejut


__ADS_3

Jessen dan Dini berhasil berhasil lolos dari kebumen dekat bantuan dari teman-teman..Jessen pulang seperti biasa. Sikapnya salah tidak ada terjadi apapun terhadap dirinya dengan Dini. Tetapi sebaliknya, ini malah merasa canggung ketika berada di samping Jessen. Dia penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Jeseen itu antara benar atau hanya main-main belaka. Tetapi ada perasaan senang ketika Dini mendengar pernyataan yang keluar dari mulut jeseen.


Jeno pulang sangat sore. Dia pulang lalu pergi lagi menggunakan mobil. Tanpa berpamitan kepada Dini maupun Jessen.


Tinggallah Dini dan jesen di rumah. Dini duduk di taman seorang diri. Menarik perhatian Jessen yang melihat dari balkon.


Dia menuruni anak tangga dan menyusul dini yang berada di taman.


"Lo sendiri aja?" tegur Jessen saat sampai di samping Dini.


"Iya tadi bang Jeno keluar tanpa pamitan," sahut Dini.


"'Paling juga keluar sama temen-temennya." timpal Jessen.


Dini tidak banyak berbicara dengan Jessen. Hari mulai gelap. dini dan Jessen masih bertahan di taman. Jessen yang asih dengan game di hpnya tidak tahu jika ada sepasang mata menatapnya lekat. Dini menikmati wajah Jessen yang jauh berbeda ketika dia bersikap resek.


Deni sangat mengagumi Jika Jessen sedang diam. Wajahnya sangat terlihat dalam dan Coll tidak seperti saat mode resek.


Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumah. Bersamaan dengan suara adzan. Mobil yang di tumpangi Jeno memasuki garasi.


Jessen memicingkan mata berusaha menembus kaca mobil untuk melihat sosok di dalam mobil yang duduk di samping kakaknya.


"Papa!" Seru Jessen ketika melihat Wirawan keluar dari mobilnya.


Dengan senyum ramah Wirawan memeluk anaknya dengan erat. Kedatangan Wirawan tentu saja membuat ketiga anaknya terkejut. Jeno yang ada di dalam perjalanan pulang tiba-tiba dapatkan telepon dari papanya. Untuk segera menjemputnya di bandara karena mereka sudah sampai di bandara Lo limaa belas menit yang lalu.


Awalnya Wirawan juga ingin datang sendiri menggunakan taksi agar membuat ketiga anaknya terkejut.

__ADS_1


"Kita masuk aja dulu," ajak wirawan.


"Papa pulangnya kok cepat katanya kan masih dua Minggu?" tanya Dini.


"Iya karena di sana sudah selesai lebih cepat,"jawab Wirawan.


Akhirnya mereka masuk ke rumah. Jeno dan Jessen membantu Papanya untuk mengangkat koper dan tas nya.


Tentu banyak pertanyaan yang hinggap di ketiga anaknya. Selain karena urusan di luar kota sudah selesai Wirawan juga mendapatkan panggilan dari sekolah untuk membahas tentang perkembangan Dini.


***


Keesokan harinya seperti biasa Dini berangkat bersama Jeno. Karena belum ada art yang membantu di rumahnya. Jeno menghandle setiap pekerjaan di dapur karena dia termasuk lihai menggunakan alat masak.


Selang beberapa jam kemudian wirawan sampai di kantor sekolahan untuk memenuhi undangan yang dikirimkan oleh gurunya.


"Pagi Pak, ada masalah dengan anak saya?"


"Yah anak angkat saya."


"Iya memiliki hobbi yang liar biasa. Api dalam dunia pelajaran Dini terlihat sangat tertinggal,"jelas guru itu


"Kok bisa Pak?"


"Anda tujukan langsung kepada dia," kata dini sembari menunjuk telu tak jauh darinya.


Banyak hal yang dibicarakan oleh Wirawan dan Willy untuk membahas ketika anaknya saat berada di sekolah.

__ADS_1


***


Saat jam pulang sekolah wirawan mengatakan Jika dia akan mengajak ketiga anaknya untuk makan malam di luar. Tuhan itu disambut bahagia oleh Dini dan kedua kakak angkatnya. Mereka sangat rindu untuk makan malam bersama apa mereka.


Sampainya di restoran kenapa terkejutnya saat pertanyaan aneh di lontarkan oleh seseorang. Entah siapa.


"Ini tadi Papa datang ke sekolahan kalian untuk menemui pak Willy," kata Wirawan untuk memulai percakapan dengan ketiga anaknya.


"Terus kata Pak Willy apa?" Tanta Jeno.


"Katanya Deni masih belum bisa mengajar ketertinggalan pelajaran oleh teman-teman. Dasar yang mendapatkan nilai di bawah rata-rata," jelas bilangan kepada ketiga anaknya. Tapi hal itu lebih ditujukan kepada Dini. Tentu saja hal itu membuat dini merasa cukup sedih, Meskipun tidak melihat sorot mata dari Wirawan dengan menunjukkan kemarahan.


"Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Wirawan hingga membuat dini terbelalak menatap Jessen di sampingnya.


"Nggak kok, Pa. Dini tidak punya pacar," kata Dini.


"Dia udah punya pacar pa," sahut Jessen hingga membuat jenuh juga ikut terkejut ketika Jessen mengatakan hal itu.


"Siapa?" tanya bersamaan Jeno dan.


"aku!" Dengan percaya diri Jassen mengakui jika Dini di sampingnya adalah pacarnya hal itu diikuti dengan tangannya yang enteng merangkul bahu Dini begitu saja.


"Apaan sih Jes lo masih bercanda aja,' kata Jeno masih tidak percaya dengan ucapan adiknya.


"Gue juga nggak bercanda lah kali Bang," tugas Jessen ketika membuat kakak lelakinya berpikir jika dia sedang becanda.


Melihat wajah Jessen sangat serius membuat Wirawan dan anak pertamanya menatap dalam Dini dan Jessen bergantian. Seakan mereka masih tidak percaya

__ADS_1


__ADS_2