Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
flash back


__ADS_3

Bab 23


Mereka makan malam bersama. Jessen mulai menceritakan bagaimana dia tahu semuanya.


Saat sedang berkumpul dengan teman-teman di lapangan yang tak jauh dari sekolah. tanpa sengaja Jessen melihat Leo yang melintas dengan kecepatan tinggi. Awalnya Jessen tidak ingin berurusan dengan mereka. Tapi sesaat kemudian mereka kembali dengan membawa rombongan lebih banyak.


"Elo mau ngapain kumpul disini?" tanya Leo dengan tingkah songongnya.


"Bukan urusan elo," sahut teman Jessen bernama Deni yang mulai nyolot. Karena kedatangan Leo and the geng selalu membawa aura negatif hingga membuat orang sekitar Juga ikut emosi melihatnya.


"Lah kok ngamuk? Santai dong." cibir mereka. Leo sengaja ingin memancing amarah dari Jessen dan teman-temannya


"Leo, mending elo pergi. Gue lagi nggak mood untuk berkelahi," kata Jessen dengan nada datar menahan marah.


"Siapa yang ngajak kelahi sih, orang gue cuma nimbrung aja," sahut Leo. Di ikuti dengan gelak tawa teman-temannya.


"Lagian elo kumpul mau ngomongin apa? Arisan? Kan elo udah keluar dari tim basket," ledek Leo.


"Iya, mau ikut Lo?" tanya Doni tak kalah songongnya.

__ADS_1


"Enggaklah, arisan sama cowok cupu kayak kalian nggak seru. Kapten kalian aja mundur dari pertandingan, pasti takutkan sama tim kita," sahut teman Leo yang tidak diketahui namanya.


Sampai disana Jessen masih belum kepancing amarah dan tidak curiga apapun dengan Leo. Leo dan geng terus menerus menguji kesabaran Jessen dan teman-temannya. Jessen mengira jika Leo tahu semuanya dari adiknya, Chelsee. Karena berita keluarnya Jessen cukup gempar dan membuat khawatir pihak sekolah jika Samapi menerima kekalahan. Beberapa cara di lakukan untuk membujuk Jessen. Tetapi cowok dengan tinggi 175 itu tetap dengan keputusannya. Dia tidak ingin mengambil resiko.


Tim Leo menjadi salah sampai puncaknya tanpa sengaja Leo membuka aibnya sendiri.


"Selain takut sama kita, dia Cemen nggak berani ngambil resiko untuk anak pungut," celetuk Leo.


Jessen menarik matanya menatap tajam Leo yang kikuk karena menyadari jika dia baru saja membuka rahasianya sendiri. Tidak ada yang menyadarinya. Karena memang tidak ada yang tahu jika alasan Jessen adalah Dini.


"Maksud elo apa?" tanya Jessen dengan nada meninggi dan mencekam baju milik Leo.


Teman-temannya Leo maupun Jessen mencoba melerainya. tapi tidak bisa.


"Elo barusan ngomong apa?" tanya Jessen.


"Nggak ngomong apa-apa, apa sih?" Leo mencoba melepaskan tangan Jessen tapi nyatanya tak bisa. Otot tangan Jessen mulai kelihatan.


"Jadi elo pelakunya," ucap Jessen.

__ADS_1


"Lepas! Elo udah gila ya... Sinting nih anak," Leo menghempaskan tangan Jessen dengan kasar. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Jessen dengan sisa amarahnya.


Tentu semua teman Jessen bingung melihat sikapnya. Mereka mencoba menenangkan cowok bertubuh kekar itu. Tapi Jessen memilih pulang dan meninggalkan temannya begitu saja.


Mendengar cerita itu, Jeno mengerti penyebab sikap Jessen marah nggak jelas waktu itu. Sedangkan Dini juga meningkat sesuatu.


Sat penculikan, Dini sempat sadar tapi pandangannya kabur. Hingga seseorang menyuntikkan bius lagi. Saat itulah dini mencengkram tangan pria itu dengan erat hingga mungkin meninggalkan jejak kuku.


Beberapa hari kemudian, dia melihat Leo menjemput Chelsee. Dini fokus kearah tangan Leo yang ada bekas kuku.


Dini berfikir jika Leo pelakunya. Hingga saat ini dia mendengar cerita dari Jessen kini dia yakin jika bekas kuku di tangan Leo memang dari cengkeramannya.


"Jes, elo nggak perlu keluar dari tim basket. Gue nggak apa-apa kok." Dini membujuk kakak angkatnya. Tapi wajah Jessen seperti tidak tertarik. Hingga akhirnya Dini meraih tangan Jessen berharap meyakinkannya.


Tapi sentuhan yang terjadi tanpa di rencanakan itu membuat keduanya dag-dig-dug tak karuan. Saling menatap satu sama lain dalam beberapa waktu.


"Eh... Gue pikirin lagi nanti," kata Jessen saat mulai tersadar. Saat bersamaan sentuhan itu lepas begitu saja dan meninggalkan rasa canggung.


Untuk menghindari itu. Jessen langsung pergi ke kamarnya. Begitu pula dengan Dini. Jeno di tinggal seorang diri di tengah rasa kebingungan dengan sikap kedua adiknya.

__ADS_1


__ADS_2