
Bab 24.
Akhirnya Jessen memutuskan menemani Dini. Sesampainya di tribun banyak sekali penonton yang mengenali Jessen.
"Kak Jessen ya... Ganteng banget!" seru segerombolan gadis dengan hebohnya.
"Kak boleh minta foto nggak?" tanya salah satu dari mereka.
Jessen dengan narsisnya mengiyakan permintaannya. Dia berpose beberapa kali. Hingga hal itu menarik perhatian para gadis kecil lain.
Hal itu membuat yang lain iri akhirnya berdesak-desakan ingin meminta foto dengan Jessen.
"Udah ya... Tu udah mau mulai," tukas Jessen dengan harapan parah gadis itu segera pergi dari hadapannya.
"Sebentar saja kak," paksa mereka.
"Kalian duduk saja kalau acaranya sudah selesai nanti kita foto lagi," kata Jessen. Tetapi mereka merasa tidak percaya dengan ucapan Jessen.
Salah satu dari mereka nekat berdiri tepat di samping Jassen. Tentu Hal itu membuat Jessen risih.
"Lo balik ke tempat duduk!" kata Jessen dengan nada mulai meninggi karena merasa kesal. Paraga di situ berdasarkan hingga membuat dini yang berada di samping Jessen tergeser jauh.
"Kalian nggak lihat gue di sini bawa pacar?" pekik Jessen. Tante Hal itu membuat para gadis itu tersengat menetap dini yang berdiri tepat di samping Jessen.
__ADS_1
"Ha? Dia? Pacar kakak? Bukannya dia adik kak Jessen?" tanya mereka tak percaya.
"Iya dia adik angkat gue, tapi bisa jadi kan dia jadi pacar gue, kan kita nggak sekandung," ujar Jessen lalu menarik tangan dini untuk duduk di sampingnya.
"Jadi rumor itu benar Kak?" tanya salah satu dari mereka. Dari pertanyaan itu bisa disimpulkan jika mereka dari sekolah yang sama.
Mereka bubar begitu saja merasa kecewa dengan pernyataan Jessen barusan. Tentu tidak Hanya mereka yang kebingungan ini yang duduk di samping jesssen jika menatapnya heran bahkan genggaman tangan Jessen tidak lepas sedetikpun.
Tatapan mata yang diberikan jessen membuat Dini semakin salah tingkah.
"Jess bisa nggak Lo lepas tangannya," kata Dini.
"Nggak, untuk berjaga-jaga kalau para monster itu tiba-tiba datang," sahut Jessen.
Mendengar itu Dini merasa tak karuan dia tidak bisa menikmati pertandingan yang sudah mulai.
"Jes, Lo main gih. Kasihan itu tim Lo kalah," kata Dini.
"Enggak," tolak Jessen dengan cepat.
"Yakin deh Jes gue nggak akan di apa-apain sama Leo." Dini masih berusaha membujuk kakak angkatnya agar mau bermain dengan tim basketnya.
"Oke gue turun. Tapi Lo harus turuti apapun yang gue minta nanti," tantang Jessen. Itu tentu saja Dini merasa senang.
__ADS_1
"Oke, kalau Lo menang sih," jawab Dini dengan cepat tanpa berpikir sedikitpun dan sedikit meledek.
Mendengar persetujuan dari adik angkatnya. Jessen lekas terjun ke lapangan dan bergabung dengan timnya sebagai pemain pengganti.
Saat sedang bermain Jessen terus menerus menatap Dini. Saat ini tim Leo sedang memimpin angka. Jessen beberapa kali menggagalkan lemparan bola dari tim mereka. Hingga Hal itu membuat Leo semakin geram.
"Lo berani terjun ke lapangan lo harus tanggung resikonya," bisik leo ketika mereka berpapasan.
Jessen tidak menjawabnya. Dia hanya memberikan tatapan sinis untuk Leo. Leo semakin mengincar Jessen. Dia bermain kasar untuk membuat Jessen cedera. Dini melihat itu merasa khawatir. Dini turun agar bisa melihat lebih dekat permainan Jessen.
"Jes, elo jangan terpancing emosi, gue nggak mau elo ribut," teriak Dini.
Jessen melihat Dini. Seketika dia bermain gesit melewati beberapa pemain dan langsung melempar bola itu masuk kedalam ring.
"Yeeee! Horeee!" Sorak Sorai pada penonton memenuhi ruangan itu. Termasuk dini yang lompat-lompat kegirangan melihat angka yang Jessen melampaui angka milik tim Leo.
Entah kenapa ada perasaan yang berbeda ketika Jessen melihat Dini kegirangan.. hal itu semakin membuatnya semangat. Sisa-sisa waktu di dalam babak pertama dipergunakan dengan baik oleh Jessen untuk menaklukkan angka itu.
Prittt....
Peluit ditiup yang menandakan pertandingan babak pertama berakhir. Angka yang diperoleh tim leo jauh di bawah tim Jessen.
"Ini di luar dugaan siapa yang tahu dia akan masuk," ucap Leo kepada teman-temannya Yang sedang beristirahat.
__ADS_1