Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Dirumah berdua.


__ADS_3

bab 12


"lo kenapa sama cewek itu?" tanya teman jeno.


"iya," jawab jeno singkat dan pergi begitu saja.


jeno tidak memberikan penjelasan apapun. tetapi wajah dini membuat jeno senyum-senyum sendiri. dia baru pertama kali melihat gadis berbeda dari yang lain. biasanya kebanyakan siswi di sekolah ini selalu cari muka terhadap dirinya.


****


dua hari berlalu. dini masih belum mengumpulkan formulir. tapi saat ini sudah minggu. dini hanya diam di rumah. membantu bi inah membersihkan rumah. beberapa pesan dari nadin dan vika menunggu. mereka ingin mengajak dini untuk keluar. tapi dia merasa segan karena jeno dan jessen saja ada di rumah.


jeno sedang sibuk mencuci motor sedangkan jessen memperbaiki motornya. bosan? tentu saja dini bosan. tapi dia tidak ada pilihan lain.


sedangkan wirawan sedang bertemu dengan tamunya yang dari luar negeri. setelah pembantu bi inah membersihkan rumah, dini istirahat di sofa depan televisi. untuk mengusir kebosanannya. tini membawa buku novel untuk dibaca. tetapi baru berapa lembar tiba-tiba matanya terpejam begitu saja. buku itu mengatung hampir terjatuh di lantai.


jeno yang baru selesai mencuci motor mengambil buku itu secara perlahan agar tidak sampai jatuh di lantai. tetapi matanya tiba-tiba pandangannya terhenti ketika mata polos dini.


"lo ngapain?" tanya jessen membuat kakaknya tersentak.


"ini. bukunya jatuh gue ambil," jawab jeno berusaha tidak terlihat gugup.


jessen meninggalkan mereka berdua tanpa rasa curiga. sedangkan dini tertidur pulas.


***

__ADS_1


beberapa jam kemudian dini bangun dalam kebingungan ketika melihat satu koper dan jaket tebal sudah ada di depan pintu. awalnya dini mengira jika ada tamu datang dari jauh atau teman dari ayah angkatnya..


"loh mau kemana?" tanya dini begitu tahu tenyata itu koper milik papa angkatnya.


"papa harus ke luar kota. ada masalah dengan proyek luar kota," jawab wirawan.


dini seketika melongo. dia memikirkan apa yang terjadi jika dia di rumah dengan dua kakak lelakinya.


"tenang saja, tidak akan lama," ujar wirawan yang seolah tahu kekhawatiran anak angkatnya.


dini hanya mengangguk pelan. bagaimanapun dia menumpang disini. tidak ada hak apapun untuk melarang atau meminta. meskipun sudah di angkat sebagai anak tapi dini cukup tahu diri.


malam itu juga wirawan pergi ke bandara di antar oleh jeno. sedangkan jessen bersama dini di rumah. pak ibnu sudah pulang sejak sore karena sang istri sedang sakit.


meskipun dari kalangan keluarga kaya, wirawan tetap terlihat sederhana. bahkan sikapnya masih rendah hati. sikap itu yang di tiru oleh jeno.


dini inisiatif ingin membuat mie instan.


"gue mau bikin mie, lo mau nggak?" dini menawari jessen.


"nggak ah," tolak jessen.


"ya udah," dini melenggang ke dapur begitu saja. dia melihat ada beberapa bungkus mie di sana. dia lekas merebus air.


cess....

__ADS_1


brakkk...


"aw...!" pekik dini. mendengar itu seketika jessen berlari menuju dapur dan melihat dini tengah mengibas-ngibaskan tangannya.


"din! lo kenapa?" tanya jessen cemas dan meraih tangan dini.


"itu kena panci panas."


"elo nggak pakai alas apa?"


"pakai tapi nggak pas," kata dini. jessen merendam tangan dini dengan air dingin. lalu dia mengambil sebongkah es dan memasukan kedalam wadah berisi air.


"nih, lo rendam tangan lo. lihat juga kaki lo kena air panas nggak?"


dini menggeleng kepala. kemudian jessen pergi begitu saja.


"lo bersihkan itu. jangan sampai nanti bang jeno marahnya ke gue," kata jessen yang mengambil kunci motornya.


"lo mau kemana?"


"keluar, capek gue di rumah sama elo doang. bosen!"


"dih! lo kira gue juga mau satu rumah sama elo," gerutu dini.


dreeeeng...

__ADS_1


dreeeeng....


suara jessen terdengar sudah keluar rumah. dini dengan cepat menutup pintu. dia takut di rumah sendiri. tidak lupa dia membersihkan dapur. dia ingat kata jessen barusan.


__ADS_2