Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Balas dendam.


__ADS_3

Bab 7


"Pasti dia malingnya!" salah satu dari mereka menunjuk Dini yang tengah minum.


"Kenapa?" tanya Dini polos.


"Lo kan yang ambil uang, Chelsee?" tuduh seorang cewek berambut panjang menatapnya dengan tajam.


"Enggak, gue baru balik dari kantin," elak Dini. Karena memang Dini tidak tahu menahu tentang barang hilang itu.


"Alah! Mana ada maling ngaku!"


"Elo nuduh gue ada nggak buktinya?" tanya Dini.


"Asal lo tahu! Kelas ini aman damai ketika lo belum pindah kesini. Tapi nyatanya sejak lo pindah ada barang ilang kan?" jawab gadis yang sama.


"Udah May, biarin aja. Mungkin dia lagi butuh," kata Chelsee.


"Eh, gue nggak butuh ya. Gue juga nggak ngambil. Ngadi-ngadi lo kalau ngomong," Dini merasa tidak terima.


Saat bersamaan geng Jessen memasuki kelas. Sorot mata Dini menatap Jessen yang juga melihatnya dengan remeh.


Kini Dini merasa jika ini semua ulah dari Jessen.


"Awas aja lo!" gumam Dini.

__ADS_1


Semua orang kini menatap Dini penuh curiga. Tapi Dini berusaha tidak terjadi apapun.


***


Jam pulang sekolah sudah datang. Dini menuju parkiran motor. Dia mengempeskan ban milik Jessen.


Ceeeesssss....


Suara angin yang keluar dari ban Jessen. Lalu Dini pergi begitu saja menuju halte yang tak jauh dari sekolahan. Kebetulan Nadin juga ada disana.


Nadin setiap hari memang menggunakan bis karena tidak ada yang mengantar jemputnya. Ayahnya bekerja berbeda arah dengan sekolahan. Nadin melihat sosok Dini sebagai gadis kaya yang sederhana. Berbeda dengan kebanyakan siswi yang memamerkan kekayaan orang tuanya.


Tidak banyak percakapan yang terjadi. Karena hari ini penumpang berdesak-desakan. Hingga membuat Dini dan Nadin berdiri tidak mendapat tempat duduk. Tetapi mereka berhasil bertukar nomor ponsel.


"Gue duluan," kata Nadin saat bis berhenti di halte melati.


Setelah melewati satu halte, Dini sampai di halte mawar. Dia turun dan berjalan menuju rumah berpagar besi hitam dengan nomor 18 di tembok pagarnya.


Dini belum melihat motor milik Jessen. Hanya ada milik Jeno. Itu juga terasa panas saat Dini melewatinya dengan jarak satu jengkal saja.


Dini berjalan melewati ruang tamu, ruang makan dan menaiki tangga menuju lantai dua.


Dalam hati Dini ada perasaan penasaran dengan Jessen. Dini cekikikan membayangkan Jessen yang mendorong motornya.


****

__ADS_1


Satu jam berlalu. Dini mendengar suara motor Jessen. Dari balkon Dini tertawa minat wajah merah Jessen yang kesal.


"Lo kenapa?" tanya Jeno. Dini pura-pura keluar kamar untuk membuang sampah.


Jessen menoleh dan menatap tajam Dini. Jessen melempar keras tasnya ke lantai begitu saja.


"Lo apapun motor gue?" tanya Jessen mencengkram kerah Dini. Jeno melihat itu lekas menahan diri adiknya.


"Gue? Emang gue ngapain?" tanya balik Dini yang seolah tidak mengerti apa yang di maksud Jessen.


"Jangan kira gue nggak tahu, gue tahu elo yang kempesin ban motor gue," ungkap Jessen.


"Mana buktinya?" tanya Dini seolah tidak takut ada cowok di depannya.


"Banyak saksi di parkiran. Elo lupa siapa gue? Mereka semua tunduk sama gue. Pasti mereka bakal ngadu kalau ada yang bikin masalah sama gue," jawab Jessen.


"Lo yang mulai! Elo yang bikin gue kena masalah di kelas. Elo yang jebak gue biar di tuduh ngambil uang Chelsee," ungkap Dini.


Jesssen terlihat bingung dengan apa yang di katakan Dini. Dini menatap tajam menantang cowok di depannya.


"Gue nggak akan tinggal diam, Jes!" tegas Dini lalu pergi meninggalkan dua cowok itu.


"Lo beneran lakuin itu?" tanya Jeno saat Dini sudah pergi dari hadapan mereka.


Bukannya menjawab, Jessen malah menghempaskan dengan kasar tangan kakaknya dan pergi ke kamarnya begitu saja.

__ADS_1


Dini merasa puas dengan apa yang dia lakukan meskipun dia merasa tidak setimpal dengan apa yang di lakukan Jessen. Karena bagi Dini ulah Jesssen sangat merugikan dirinya. Karena fitnah itu sudah menyebar ke seluruh di siswa kelas sebelas. Banyak yang memandang aneh Dini saat pulang sekolah tadi.


__ADS_2