
Bab 17
Ting tong...
Ting tong...
Jessen menekan bell rumah Vika dengan kasar. Dia mendapatkan informasi itu dari temannya. Cukup lama Vika membuka pintu.
"Jes! Kenapa kesini?" tanya Vika saat melihat Jessen taman sekelasnya ada di depan rumahnya.
"Mana Dini?" tanya Vika
"Lo mimpi ya?" tanya balik Vika. "Lo ngapain cari Dini di rumah gue malam-malam gini," lanjut Vika yang masih tidak habis pikir dengan kedatangan Jessen.
"Tadi sore biar pamit sama gue kalau dia mau lari sama elo," jelas Jessen.
"Iya. tapi dia sendiri kok yang batalin," tukas Vika. Kemudian Vika menunjukan chat dari Dini.
"Vik, gue nggak jadi lari. Sorry." pesan yang ditunjukkan oleh Vika. Terlihat jelas mengirim pesan itu adalah Dini.
Hal yang sama terjadi kepada Jeno yang datang kerumah Nadin. Nadin juga kebingungan saat Jeno datang karena mencari Dini. Bahkan Nadin juga menunjukkan chat yang sama kepada Jeno.
Setelah mendapatkan informasi tersebut Jeno dan Jessen berkumpul di depan perumahan Vika. Mereka mencari cara untuk menemukan keberadaan Dini.
Vika dan Nadin juga ikut membantu mencari keberadaan Dini. Pukul 21:00 keberadaan Dini tak juga bertemu. Wirawan sudah berulang kali menghubungi kedua anak lelakinya. Tapi tidak ada jawaban.
"Coba elo hubungi lagi nomor Dini," suruh Jeno.
"Nggak ada jawaban," kata Jessen.
__ADS_1
"Coba aja dulu," paksa Jeno.
Jessen segera menghubungi nomor Dini terdengar suara berdering. Tapi tetap tidak ada jawaban.
"Nggak ada kan?" tukas Jessen.
"Hallo!" Tiba-tiba suara pria terdengar membuat Jeno dan Jessen bingung terjebak dalam suasana bingung.
"Ini siapa?" tanya Jeno yang menahan tangan Jessen yang terlihat emosi.
"Ini Jeno atau Jessen?" tanya cowok misterius itu. Lagi-lagi Jeno dan Jessen terjebak dalam saling pandang beberapa saat. Mereka terkejut ketika cowok misterius itu mengetahui namanya.
"Gue Jeno," jawab Jeno.
"Mana Jessen?"
"Gue disini! Siapa Lo?" sahut Jessen.
"Apa? Lo apapun dia?" tanya Jessen.
"Saat ini dia baik-baik saja dia hanya tertidur. Tapi kalau elo nggak mau nurutin apa yang gue mau gue jamin masa depannya hancur di tangan gue," ancamnya.
"Katakan!" tegas Jessen.
"Lo harus mundur dari tim basket, dan jangan ikut di festival olahraga," ungkap cowok itu.
"Kenapa?"
"Tidak perlu tahu alasannya lo cukup setuju dengan tawaran gue."
__ADS_1
"Kalau gue setuju di mana adik gue?"
"Lo datang ke taman sepuluh menit lagi."
"Taman mana?"
"Kompleks elo," jelas cowok itu.
"Oke!"
Tut!
Panggilan berakhir begitu saja. Tidak ada pilihan lain bagi Jeno dan Jessen. Mereka berdua segera menuju ke taman yang telah dijanjikan oleh cowok tersebut.
Dan benar saja, sesampainya di taman itu terlihat Dini tergeletak di bangku taman sendirian. Jason berlari dengan cepat melihat keadaan Dini. Di ikuti oleh Jeno seraya melihat keadaan sekitar. Tetapi dia tidak menemukan siapapun di sana.
"Din! Bangun! Dini!" Jessen menepuk pelan pipi Dini seraya memanggil namanya berharap dini lekas sadar.
"Jes ada kertas!" kata Jeno saat melihat ada kertas di bawah tubuh Dini.
(Dia akan segera sadar dalam tiga puluh menit, bersabarlah.) isi kertas itu.
"Dia di bius?" tanya Jessen dengan khawatir membopong tubuh Dini di pangkuannya.
"Kita bawa pulang aja. Kita hubungi pak ibnu," jawab Jeno yang mengajak Jessen pulang.
Tak lama Pak Ibnu datang membawa mobil seperti yang diperintahkan oleh Jeno. Jeno mengambil alih kursi kemudi dan membawa Dini ke dalam mobil itu. Sedangkan Pak Ibnu dan Jessen mengendarai motor.
Jeno sama khawatirnya dengan Jessen. Dia berulang kali melihat gadis itu di jok belakang yang masih terpejam rapat. Karena jarak taman dan rumah sangat dekat. Jeno sampai dengan cepat. Jeno langsung membawa Dini ke kamarnya. lalu di susul Jessen.
__ADS_1
"Dokter segera datang," kata Jessen. Sebelum pulang Jessen menelpon dokter pribadi yang sering menangani keluarganya.