Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Naik bis


__ADS_3

Kring....


Suara bel sekolah sudah berbunyi. Dini menuju halte yang tak jauh dari sekolahan. dia memilih naik bis ketimbang taksi. banyak pasang mata memandang saat Dini memasuki bis.


Disaat bersamaan Jessen lewat dengan teman segengnya. Dini menghindari sorot mata cowok itu seakan tidak saling kenal, seperti yang di inginkan Jessen.


Dengan hp merek Samsul Dini mencari di internet dimana dia harus berhenti. Memang Dini tidak hafal area perumahan tempat tinggal keluarga Wirawan.


"Anak baru ya?" tegur salah satu gadis yang menggunakan seragam yang sama.


"Iya," sahut Dini dengan sopan.


"Kelas berapa?"


"Sebelas-B."


"Wah satu kelas sama Jessen!" seru gadis itu saat mendengar kelas Dini. Dini hanya mengangguk pelan.


"Wah, Lo beruntung banget," gadis itu sangat terlihat sangat terkejut dengan semua yang di katakan Dini. "Eh, Btw kenalin gue Nadin," kata gadis itu yang mengulurkan tangannya mengajak kenalan Dini.


"Gue Dini," sahut Dini yang menyalami tangan gadis bernama Nadin itu.


"Gue dari kelas sebelas-i." Dini hanya mengulas senyum. Dini harus hati-hati dalam berkata dan bertindak. Dia ingat ancaman yang di berikan Jessen kepadanya.


Nadin turun terlebih dahulu. Gadis itu terlihat sangat cantik di mata Dini. Meksipun tidak menggunakan aksesoris atau polesan pada wajahnya.


"Din, gue turun dulu. Lo hati-hati ya," kata Nadin.


"Iya, Lo juga hati-hati," balas Dini melambaikan tangan pelan.


Lali mereka berpisah.


Jika berdasarkan petunjuk maps dini masih harus melewati satu halte lagi. Dini harus menghafal setiap jalan yang dia lewati agar dia tidak bergantung kepada keluarga barunya.

__ADS_1


Dini menatap ponselnya yang dia beri wallpaper fotonya bersama almarhum ayahnya. HP itu di belikan saat Dini harus ujian daring. Dengan uang seadanya Agung membelikan hp Dini. Beruntung, Dini bukan gadis yang rewel dan gengsi.


"Pemberhentian berikutnya Halte mawar!" Suara dari pengeras suara bis.


Bis modern tidak perlu lagi teriak-teriak. Semua serba otomatis dan Canggih.


Dini dan beberapa penumpang lainnya bersiap untuk turun. Gadis itu merasa lega ketika melihat gapura pintu masuk ke dalam perumahan keluarga Wirawan. Meskipun dia harus berjalan melewati beberapa rumah tapi Dini merasa senang karena dia bisa berangkat dan pulang sendiri.


Drrrttt...


HP Dini tiba-tiba bergetar di dalam sakunya. Ia lekas menjawab panggilan dari Wirawan.


"Hallo, Dini!"


"Ya, Om! Eh pa!" sahut Dini yang masih belum terbiasa dengan panggilan papa kepada Wirawan yang biasa dia panggil Om.


"Kamu pulang sama siapa? Ini pak Ibnu nunggu kamu loh," kata pria yang tengah berada di kantor itu.


"Ha! Kamu naik apa?"


"Bis."


"Astaga!"


"Kenapa? Apa ini bakal membuat malu?"


"Bukan, tapi kamu kan baru tinggal disana. Kamu nggak kesasar?"


"Enggak kok, Pa."


"Syukurlah, maaf ya. Sayang. Papa tadi lupa," kata Wirawan.


"Nggak apa, mulai besok dini berangkat pakai bis aja," ujar Dini.

__ADS_1


"Itu kita bicarakan saja di rumah," tukas Wirawan. "Kalau begitu papa kembali kerja," imbuh Wirawan yang merasa lega.


Tut!


Panggilan selesai. Dini berjalan melewati beberapa rumah megah. Dini tidak berhenti berdecak kagum. Dini menatap banyak rumah yang seakan tidak berpenghuni saat siang hari. Karena mayoritas mereka pegawai kantoran.


Ngeng.....


Ngeng....


'wush!!'


Motor sport melewati Dini begitu saja. bahkan spionnya nyaris menyerempet tangan Dini.


Jessen hanya melihat dari spion gadis itu. Saat sampai di rumah tak lama Jeno juga pulang. Suasana canggung di antara mereka masih terlihat. Dini lekas menuju kamarnya.


Krruuukk...


Perutnya terasa lapar saat selesai mengganti baju.


"Duh! Perut gue laper banget lagi," keluh Dini meremas perutnya. Tetapi dia enggan untuk pergi ke dapur. Dia tidak mau bertemu dengan Jeno dan Jessen. Terlebih kepada Jessen, Jessen selalu terlihat kesal saat melihatnya. Sehingga Dini memilih tidak interaksi dengannya.


Tok-tok....


Suara ketukan di kamar Dini. Dini lekas membuka pintu itu.


"Non, makan siang dulu." kata Bi Inah.


"Ee.... Ada Jessen sama Jeno nggak?" tanya Dini.


"Nggak ada, Non."


Mendengar itu tentu saja Deni lekas pergi ke dapur. Dia makan siang dengan lahap. Karena tadi pagi dia tidak sarapan dengan cukup. Meskipun jam pelajaran masih belum normal tapi Dini merasa lapar karena berjalan sedikit jauh setelah naik bis.

__ADS_1


__ADS_2