
Takut menghinggapi hari Dini. dia merasa khawatir jika Chelsee melakukan hal hak yang tidak dia inginkan.
Tapi mau nggak mau Dini harus menemuinya. saat semua siswa berhamburan keluar sekolah, Dini mencari waktu untuk ngomong dengan kedua kakaknya.
"Bang, gue mampir ke rumah Nadin ya?" tanya Dini saat berada di parkiran.
"iya, nanti gue antar." Jeno mengira jika Dini meminta antar ke rumah Nadin.
"Enggak, Bang. gue mau bareng mereka aja," jelas Dini.
mendengar itu Jeno dan Jessen melepas kembali helm yang mereka kenakan. menatap bingung kepada gadis yang berdiri menggunakan tas berwarna hitam dan rambut dikuncir kuda.
"Elo ke rumah Nadin kan? kenapa nggak sama kita aja?" tanya Jeno.
"iya karena ada barang yang harus kita beli dulu nanti," kata Dini. "yakan?" Dini meminta bantuan kepada kedua temannya yang berdiri di belakangnya.
"I-iya," sahut mereka bersamaan dengan suara terbata-bata.
"Lo nggak lagi bohongkan?" desak Jessen.
"Enggak, ya udah sih kalau nggak boleh." Dini terlihat murung.
__ADS_1
Melihat wajah adik angkatnya murung dan sedih membuat Jeno jadi tidak tega. Jeno mengijinkan adiknya untuk datang ke rumah Nadin dengan syarat yang dia ajukan.
"Ya udah, tapi nanti sebelum jam lima harus sudah pulang. dan gue jemput," kata Jeno.
"iya..."
Jeno dan Jessen pulang lebih dulu tapi di tengah jalan mereka berpisah, Jessen tidak langsung pulang. dia memilih nongkrong dengan temannya merayakan kemenangan tim basketnya.
Sedangkan Dini melambaikan tangan kepada dua temannya. Nadin dan Vika berusaha menghentikan Dini tetapi semua sia sia. gadis itu tetap dengan keputusannya. dan dia meminta dua temannya untuk segera pulang sebelum Jessen dan Jeno curiga.
semua siswa sudah mulai pulang semua. hanya beberapa siswa yang masih tinggal di sekolahan. ada yang bermain basket. ada yang sedang di ruang guru ada juga yang masih berada di perpustakaan. karena memang perpustakaan tutup hingga sore hari.
sesampainya di rooftop Dini melihat Chelsea sudah menunggunya. memang Chelsea menepati janjinya untuk datang tanpa membawa dua temannya.
"akhirnya lo datang juga, gue kira lu nggak akan datang," kata Chelsee.
"gue pasti datang, mending sekarang kita langsung pada intinya karena gue nggak punya banyak waktu," sahut Dini.
"Oke, Elo dulu aja."
"Gue minta permusuhan antara kita selesai sampai di sini, terus tolong bilangin ke kakak lo si Leo untuk berhenti mengancam Jessen. menghentikan semua permusuhan antara mereka berdua," kata Dini.
__ADS_1
"itu aja?" tanya Chelsee dengan remeh.
"iya!"
"untuk perkara kakak gue dan Jessen gue nggak tahu, tapi gue bisa bantu bicarakan kalau o menerima penawaran gue. karena ini juga menyangkut tentang permusuhan kit," ujar Chelsee.
"Apa?"
"lo harus bantu gue untuk dekat dengan Jessen."
Entah kenapa saat mendengar itu tiba-tiba Dini merasa kesel dan merasa tidak rela untuk mengiyakannya.
"Gimana?" tanya Chelsee ketika melihat gadis depannya tidak menanggapinya
"gue bantu tapi gue nggak janji Jessen bakal mau atau tidak," kata Dini.
"Jessen hampir saja jatuh ke pelukanku sebelum elo datang ke kehidupan dia, Tapi sejak elo datang ke kehidupannya. malah mengganggu hubungan di antara kita, meskipun pada saat itu kita masih berteman setidaknya saat itu gue sama Jessen dekat," jelas Chelsee.
di saat mereka berdua masih negosiasi tanpa sengaja Jessen melihat Leo menuju sekolahnya. dan disaat bersamaan dia melihat Nadin lewat bersama pria paruh baya menggunakan mobil sedan berwarna hitam. kaca mobil itu terbuka sehingga membuat Jessen yakin jika itu adalah Nadin.
Tentu melihat itu membuat cowok dengan sekelompok teman-temannya yang berhenti di sebuah kafe tak jauh dari sekolahannya itu, merasa jika dia di tipu oleh adik angkatnya.
__ADS_1