Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
momen salah tingkah


__ADS_3

Setiap hari ada saja yang membuat mereka sangat tingkah. Hari ini adalah perlombaan basket. tentu Jessen malas untuk berangkat karena dia tidak bisa masuk ke dalam tim itu. tetapi dini selalu memaksanya untuk datang. karena Jeno tidak ada. Dia masih adalah tambahan yang harus dihadiri. karena Jeno dan Dini sudah berjanji akan menonton pertandingan basket itu. selain itu, Dini juga sudah berjanji dengan Vika dan Nadin.


"Ayolah, Jes. anterin Gue aja deh," paksa Dini yang terus menerus merengek kepada Jessen.


"Ih, elo ngerepotin banget sih. kan bisa Lo pakai gojek atau gocar. udah modern neng jangan kayak orang susah," kata Jessen.


"Masalahnya sama papa nggak boleh berangkat kalau nggak sama bang Jeno atau elo," jelas Dini.


"Ya udah sih, nunggu bang Jeno aja. paling juga bentar lagi," timpal Jessen yang masih asik dengan game di hpnya.


Dini tidak kurang ide. dia mengambil paksa hp Jessen dan membawanya. tentu Jessen akan mengejarnya. Dini membawa kunci motor Jessen yang tergeletak di atas meja. lalu berlari menuju garasi.


"balikin nggak?" pinta Jessen.


"Anterin dulu. gue butu foto disana sama elo sekali doang buat pap ke papa," kata Dini.


"ribet banget sih hidup Lo," hardik Jessen. dengan keberatan Jessen mengantar Dini.


Ngebut dengan kecepatan tinggi membuat Dini takut. gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Jessen. hingga membuat pria yang ada di balik helm full face itu merasa gugup. segera dia mengurangi kecepatannya.


Dini tersadar jika tangannya melangkah jauh. dia lekas melepaskannya pelukan itu. suasana menjadi canggung tak karuan.


Dini merasa kikuk. dia mundur sedikit agar ada jarak antara mereka. tapi itu malah membuat Jessen khawatir. dia memegang bagian belakang Dini memastikan masih ada jarak.


"Lo nggak perlu jauh-jauh. gue yang salah tadi," kata Jessen.


"iya, Lo ngebut banget. gue belum tahu rasanya pacaran. masak iya gue harus mati konyol sama elo," sahut Dini.

__ADS_1


mendengar itu Jessen sedikit tercengang. ya kalo anak jaman sekarang tidak pernah pacaran. karena hampir pemuda jaman sekarang memiliki pacar di usia masih remaja.


"Napa Lo diem? nggak percaya Lo gue nggak pernah pacaran?" cecar Dini.


"Iya, Lo lagi mencoba buat gue terkesan ya?" tuduh Jessen.


"enak aja. enggaklah. gue beneran," elak Dini.


"Pernah sekali gue suka sama kakak kelas. tapi malah gue di manfaatkan buat ngerjain tugas doang," Dini malah curhat kepada Jessen.


Mendengar itu Jessen merasa kesal tanpa alasan. entah tas kesal itu tak berdasar. Rasanya tidak suka mendengar Dini di permainan seseorang. bahkan biasanya dia tidak peduli dengan para pacarnya yang sakit hati karena tingkahnya.


Jessen menyikapi perasaan itu karena Dinia kini menjadi adiknya. hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. dia tidak pernah merasa tanggung jawab terhadap adik. itu yang di pikirkan Jessen untuk mengatasi rasa di hati yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Sesampainya di depan gedung olahraga. Dini turun begitu saja. tidak lupa dia mengambil foto dengan Kakak angkatnya untuk di kirimkan kepada wirawan.


"Gue pulang, nanti Lo bisa pulang sama Bang Jeno. dia pasti nonton kok," kata Jessen.


Dini memasuki gedung itu. tapi langkahnya terhenti ketika melihat Wirawan menelpon.


"Gawat!" pekik Dini.


dia lekas berlari keluar gedung lagi dan menghentikan Jessen yang hendak pergi.


"Apa lagi?"


"ini.... anu...." Dini gugup untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Anu siapa? pikiran elo kotor ya..."


"Bukan... ini loh," Dini menunjukkan layar hpnya.


"Papa?"


Jessen lekas melepas helmnya dan mencari tempat yang meyakinkan.


"hallo, Pa." dini mulai menjawab panggilan itu.


"Hallo, mana Jessen?" tanyanya to the point.


"ini ada," Dini mengarahkan kameranya kepada Jessen yang berdiri di belakangnya.


"kasih hp-nya ke dia," suruh Wirawan.


Jessen lalu. berbicara dengan papanya.


"Kamu jangan pergi kemana-mana. tungguin Dini sampai selesai acara," tegur Wirawan.


"iya, Pa..."


"ya udah. lanjut sana."


Tut!


"udah, Lo pergi deh kalau mau pergi. nanti gue bareng bang Jeno."

__ADS_1


"nggak, gue nonton aja."


Jessen malah memimpin jalannya dan menuju gedung Olahraga yang sudah sangat ramai.


__ADS_2