Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Siapa pelakunya?


__ADS_3

Bab 21


Melihat Dini merintih kesakitan membuat Jessen tidak tega. Dia lekas menggendong dan membawa ke ruang kesehatan. Jeno menyusul dengan menenteng sepasang sepatu milik Dini.


Melingkarkan tangannya di leher Jessen dan mencengkram bahunya itu yang di lakukan Dini untuk meringankan rasa sakit pada kakinya.


Jeno mengecek sepatu Dini. Ia mendapati sebuah paku menancap di bagian belakang sepatu milik adik angkatnya. Tentu itu membuat Jeno merasa bingung dia menghentikan langkahnya dan menoleh kesana-kemari. Pikiran Jeno jadi menyangkut pautkan akan kejadian hilangnya Dini dan kejadian barusan. Jeno mengira jika orang yang melakukan ini adalah orang yang sama dengan orang yang menculik Dini.


Sementara itu Jessen sedang membersihkan kaki Dini yang penuh dengan darah. Bahkan dia tidak peduli dengan hp-nya yang terus-menerus berbunyi.


Sikap Jessen barusan membuat gosip di SMA UNIVERS ramai. Mereka mulai mengira jika Jessen dan Dini memang ada hubungan spesial. Karena hanya segelintir orang yang mengetahui tentang dunia menjadi adik angkat Jessen dan Jeno.


"Mereka pacaran!"


"Anak baru yang ganjen!"


"Selera Jessen jatuh banget dari mantan-mantannya."


"Jeno juga ikut-ikutan, biasnya dia nggak pernah respon cewek," cibiran yang tertulis di forum sekolahan.


Vika dan Nadin yang melihat itu sangat geram. Ia membalas satu persatu pesan itu. Tetapi rasanya sangat percuma. Mereka tidak melihat dari sisi Dini. Mereka tetap menyudutkan Dini yang mereka kira sebagai penggoda.

__ADS_1


Sedangkan Chelsee melihat foto Dini yang digendong oleh cowok yang sudah lama dia taksir membuat hatinya terasa panas. Tetapi di sisi lain ia merasa senang karena banyak sibiran yang dilontarkan oleh siswa lain melalui forum sekolah.


"Jes. Sakit," pekik Dini saat Jessen American alkohol kepada luka di kakinya.


Tetapi kakak angkat Dini tidak bergeming sedikitpun. Bahkan dia duduk berjongkok di depan Dini yang duduk di atas tempat tidur. Menarik kaki adiknya ke atas lututnya. Tiba-tiba itu membuat Dini merasa gugup luar biasa.


Detak jantung Dini berkerja lebih kuat. Dia tak kuasa menatap wajah tampan kakaknya.


"Apa ini? Lo sadar Din. Dia kakak elo," batin Dini.


Tak lama Jeno menghampiri mereka berdua dengan membawa minum untuk Dini. Wajah pucat Dini terlihat jelas oleh Jeno. Ia mengira jika lukanya sangat serius. Padahal muka Dini pucat karena dia salah tingkah lagi dengan sikap Jessen.


"Gue selesaikan ini dulu," sahut Jessen sembari fokus memperban kaki Dini.


"Enggak, gue nggak apa-apa. Nggak perlu kerumah sakit," tolak Dini.


"Buat memastikan saja kalau luka lo nggak infeksi," kata Jeno.


"Tapi bang––"


"Udah sih lo nurut aja kenapa sih?" sahut Jessen.

__ADS_1


Plek


Jessen meletakan tangannya ke dahi Dini untuk mengecek suhu tubuhnya. "Lo nggak terlalu demam," kata Jessen.


"Tapi dia terlihat pucat Jes," sahut Jeno.


Jessen mengangkat tangan Dini yang basah karena keringat dan juga tangannya terlihat gemetar


"Gue nggak apa-apa, gue cuma syok aja kok," ujar Dini.


"Tapi elo tetap harus pemeriksaan Dini! gue nggak mau Papa nyalahin kita lagi," paksa Jessen dengan menunjukkan matanya yang melotot.


Kini hanya diam menunduk. tidak bisa protes atau menolak ajakan kedua kakaknya.


Jessen membantu Dini berjalan menuju parkiran. Membantu Dini juga untuk menaiki motor sportnya yang notabenya sangat tinggi.


Lalu mereka bertiga menuju rumah sakit yang tak jauh dari stadion lomba. meskipun belum sampai puncak acara. tetapi Jessen tetap memaksa adik angkatnya untuk segera ke rumah sakit karena dia juga khawatir jika luka di kakinya sangat parah.


Karena dia melihat paku yang lumayan panjang dan membuat telapak kaki Dini luka cukup dalam dan panjang.


Sepanjang jalan menuju rumah sakit tangan Dini tidak lepas dari genggaman Jessen. Karena Jessen takut jika Dini akan pingsan karena kehilangan darah yang. Terlebih karena wajah Dini sangat pucat sehingga Jessen takut jika Dini tidak kuat menahan beban Tubuhnya

__ADS_1


__ADS_2