
Bab 10.
Keberanian Dini menjadi viral di sekolahan. Forum sekolahan menjadi ramai karena Chelsee memberikan cuitan di sosial media menjadi korban Bully yang di lakukan Dini.
"Baru ini ada anak baru yang berani bully senior," caption yang ada di bawah foto Chelsee yang dia unggah di sosial media. Tentu saja itu menarik banyak perhatian. Termasuk Jeno dan Jessen.
Dini belum masuk forum sekolahan. Sehingga dia tidak tahu ada keramaian yang membahas dirinya.
Saat malam. Jessen memanfaatkan itu untuk menjatuhkan Dini didepan Papanya.
"Lo bikin masalah apa?" tanya Jessen sengaja di depan Wirawan.
"Masalah?" ulang Dini bingung. Jeno mendengar itu ikut mengangkat kepala menatap Jessen.
"Iya. elo viral di sekolah tuh," kata Jessen.
"Masalah apa?" sahut Wirawan menatap Jessen dan Dini bergantian meminta penjelasan.
"Gue nggak tahu, masalah apa?" tanya Dini pada Jessen.
Jessen mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada Dini. "Nih!"
__ADS_1
"Ha! Fitnah ini. Gue yang jadi bully tuh. Di kira gue dekati elo," kata Dini.
Wirawan mengambil hp Jessen. Terlihat dia mengerutkan dahinya bingung.
"Kenapa jadi gue?"
"Iya. Tu anak katanya bilang kalau gue nggak boleh dekati elo. Pas gue bilang elo bukan tipe gue dan gue nggak tertarik sama elo malah dia yang marah. Gue di siram air. Ya gue baleslah. Ya kali gue diem," jelas Dini.
"Bagus! Jangan biarkan kamu di injak-injak orang lain." sahut Wirawan yang malah mendukung Dini.
Jeno dan Jessen sedikit bingung mendengar papanya mendukung adik angkatnya itu. Tetapi mereka tidak ada yang protes. Setelah makan malam Dini masuk ke kamar dan mulai memasuki forum sekolah. Dia melihat banyak komentar yang mendukung dan ada yang ikut mengoloknya.
Dari komentar itu Dini tahu jika Chelsee memang terkenal di sekolahan. Dia juga memiliki banyak penggemar di sekolahan terutama kaum siswa.
Keesokan harinya Dini bangun kesiangan. Dia menunggu bus masih belum datang. Hingga Jessen akhirnya keluar kompleks dan melihat Dini masih di sana. Dia pergi begitu saja tidak menawarkan tumpangan kepada Dini. Tetapi beberapa meter kemudian dia putar balik dan berhenti di depan Dini yang terlihat cemas.
"Naik! Lo bakal telat kalau nunggu bus berikutnya," kata Jessen dengan wajah datar dan suara cenderung ketus.
Dini masih diam. Dia ragu dan curiga dengan sikap baik Jessen.
"Lama! Elo mau naik nggak?"
__ADS_1
"I-iya!" Dini lekas duduk di belakang Jesssen. Dia tidak ada pilihan lain untuk jika menolak tawaran Jessen.
Dengan kecepatan tinggi membuat Dini mau nggak mau berpegangan di jaket Jessen.
Mereka sampai di sekolahan pukul 07:05. Ini artinya mereka telat lima menit. Dari lantai dua dan tiga terlihat jelas saat mereka datang. Tentu saja itu menjadi bahan gosip.
"Eh! Lihat. Itu anak baru kan? Kok bisa barenag Jenssen sih?" kata Feby.
"Anak itu makin menjadi." Chelsee geram. Dia mengepalkan tangan dengan kuat dan menatap tajam mereka berdua yang masih berdiri di pos depan gerbang.
Akhirnya Dini dan Jessen masuk ke kelas bersama. Tentu banyak pasang mata yang melihat dan mengikutinya.
"Lo kok bisa bareng sama Jessen?" tanya teman sekelas Dini yang duduk di depannya.
"Iya. Tadi gue ketemu di halte." jawab Dini singkat.
Dalam satu kelas hanya beberapa saja yang berteman dengan Dini termasuk Vika yang duduk di depannya itu.
Tidak hanya Dini yang menjadi pusat perhatian. Tapi juga Jessen. Banyak yang mengira jika Jessen hanya membuat Dini sebagai korban kepopulerannya dan ketampanannya. Seperti gadis lain yang sudah menjadi mantannya.
"Pasti ini korban baru Jessen!"
__ADS_1
"Pasti anak baru itu menggoda Jessen lebih dulu. Kalau nggak mana mau dia sama anak cupu itu!"
Dan masih banyak lagi cuitan di forum sekolah yang menjadi semakin liar ketikan mereka. Dini memang tidak pernah menggunakan makeup saat sekolah. Hanya lispcream yang tipis saja. Bahkan rambutnya hanya di kuncir kuda. Sangat jauh dari pada siswi di sekolah itu yang selalu bersolek. Bahkan di toilet selalu membawa bedak dan jajarannya saat jam istirahat.