
Bab 8
Perang dingin terjadi. Dini melengos begitu saja ketika melihat Jessen menuruni anak tangga. Bagaimana tidak kesal jika dia di fitnah seperti itu.
Sedangkan Jessen tidak merasa melakukan itu. Malah dia merasa yang sedang di fitnah. Tetapi Jessen tidak peduli dengan gadis itu.
Meja makan terasa hening. Biasanya Dini dan Jessen saling olok. Tapi hari ini tidak ada percakapan apapun di antara mereka. Dini menyantap makan malam dengan nikmat, begitupula dengan Jeno dan Jessen.
"Pa, aku udah kenyang. Mau ke kamar dulu," kata Jessen.
"Dini juga udah selesai, Pa." sahut Dini.
Jeno dan Wirawan menatap mereka berdua bergantian. Wirawan menanyakan kepada Jeno. Tetapi anak sulungnya mengangkat dua bahunya menandakan dia tidak tahu menahu apa yang terjadi diantara mereka berdua. Lebih tepatnya Jeno tidak ingin ikut campur urusan mereka.
Tetapi setelah makan malam selesai Jeno menuju ke kamar Dini. Dia ingin meminta kejelasan kepada gadis itu tentang duduk perkara yang tengah terjadi.
Tok...tok...
Jeno mengetuk pintu kamar Dini. Tak lama Dini membuka pintu kamarnya. Segera Jeno meminta Dini mengikutinya.
Mereka berhenti di taman samping rumah. Jeno meminta Dini untuk menjelaskan semuanya.
"Apa yang terjadi antara Lo sama Jessen. Karena ini bakal jadi pikiran papa," tanya Jeno.
__ADS_1
"Itu semua karena Jessen yang mulai. Dia mengancam gue agar tidak nyaman di rumah ini dan di sekolahan. Tak lama setelah ancaman itu tiba-tiba mengambil uang milik Chelsee teman sekelas kita," jelas Dini.
"Elo yakin kalau itu Jessen yang melakukannya?"
"Eeeee....." Dini terlihat ragu saat hendak menjawab pertanyaan tersebut. Dia terlihat berfikir sebentar.
"Kalau lo ragu harusnya lo nggak lakuin itu," kata Jeno.
"Tapi kejadian itu setelah ancaman Jessen," kekeh Dini.
"Bisa jadi itu hanya kebetulan," ujar Jeno.
Setelah percakapan itu Dini jadi merasa bersalah. Dia mempertimbangkan semua ucapan Jeno. Memang mereka berdua jauh berbeda. Jeno sangat pendiam dan tidak banyak tingkah. Sekalinya ngomong sangat bijaksana.
Keesokan harinya, Jessen terlihat tidak ikut sarapan. Dini celingak-celinguk ada yang kurang di meja makan. Wirawan yang melihat itu lekas memberi tahu anak angkatnya jika Jessen ada latihan basket di sekolahnya.
Dini mendengar itu hanya diam. Meskipun dia sedikit janggal dengan kalimat orang tua angkatnya.
Jika Jessen berprestasi dalam bidang olahraga, berbeda dengan Jeno yang berprestasi di pelajaran inti. Matematika, Inggris, IPA, Indonesia. Meskipun begitu Jeno sebenarnya juga ahli dalam bidang olahraga tetapi dia lebih mendalami pelajaran ketimbang olahraga.
Wirawan sebenarnya meminta Dini untuk bareng dengan Jeno. Tetapi Dini selalu menolak saran tersebut. Karena kedua kakak angkatnya sangat populer di sekolahan. Demi menjaga nama baik mereka dan keluarga Dini tidak ingin mereka mengetahui jika dunia adalah diangkat Jeno dan Jessen.
***
__ADS_1
Sesampainya di sekolahan, benar saja Dini melihat Jessen yang tengah berlatih di lapangan basket bersama teman-temannya. Dini berjalan begitu saja. Tiba-tiba.....
Syuuuuttttt.....
Brukkk....
"Aduh!!" pekik Dini mengaduh saat sebuah bola basket mendarat tepat di kepala Dini.
"Eh itu cewek baru yang kemarin berani ngecas banyak si Jessen kan," celetuk teman Dini.
"Iya dia berani banget, ada masalah apa dia sama Jessen," sahut yang lain.
Sedangkan Jessen berjalan mendekati Dini yang sedang berjongkok sembari mengelus rambutnya dan kepalanya.
"Makanya, jangan suka caper!" bisik Jessen tepat di telinga Dini.
Wajah yang tadinya menahan sakit, kini berubah menjadi menahan amarah akibat bisikan dari Jessen. Wajahnya perlahan memerah dan mata yang membulat sempurna menatap Jessen yang mengambil bola di samping ini.
Cowok itu berbalik dan melempar bola itu kepada temannya. Selain itu dia memberikan tatapan tajam kepada Dini. Sedangkan Dini berdiri dan menuju perpustakaan kelasnya.
Sepanjang jalan hingga sampai ke dalam kelas, Dini masih mengelus kepalanya. Saat bersamaan geng Chelsee datang dan menuju meja Dini.
"Heh, cupu! Lo jangan sok kenal sama Jesssen. Dia itu milik gue," kata gadis bernama Chelsee.
__ADS_1
"Ambil! Gue nggak butuh cowok kayak gitu," sahut Dini yang berhasil membuat mereka kalah bicara.