
Bab 5
Hari mulai gelap. Jeno dan Jessen merasa hilang arah saat mencari Dini. Karena memang sebelumnya mereka tidak kenal dengan Dini. Sehingga tidak tahu kebiasaan Dini pergi.
"Bang, mending kita lapor polisi aja," usul Jessen.
"Gila Lo! Kita cari dulu lah."
"Kemana? Kita nggak kenal temannya, nggak tahu tempat dia main. Cuma capek yang ada, Bang." keluh Jessen.
"Ya udah sih usaha dulu, kita cari di rumah lamanya."
"Jauh banget bang."
"Udahlah, dari pada kita kena masalah sama papa," kaya Jeno.
Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Dini yang lama. Meskipun rumah itu kabarnya sudah di ambil alih keluarga dari pihak ibu Dini. Tapi mereka berharap jika Dini ada disana.
Mereka berjalan beriringan. Jessen maupun Jeno tidak ada yang berani meminta tolong teman-temannya karena dia bakal kena banyak pertanyaan jika tahu anak baru itu ada hubungan dengan mereka.
Perjalanan menuju rumah lama Dini cukup memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Sesampainya di sebuah persimpangan Jeno dan Jessen berhenti mereka lupa arah.
"Lo ingat nggak arahnya keman?" tanya Jeno.
"Nggak lah, orang gue nggak naik motor waktu itu. Kan elo tahu tahu sendiri. Kalau gue nggak nyetir nggak akan ingat jalannya," jawab Jessen.
Mereka datang ke rumah lama Dini hanya dua kali. Pertama saat almarhum Agung meninggal dan yang kedua saat acara empat puluh harian. Tapi Jessen naik mobil dengan papanya. Sedangkan Jeno saat itu naik motor saat acara empat puluh hariannya. Tapi Jeno maupun Jessen lupa jalannya.
"Tuh anak kenapa sih bikin repot orang," keluh Jessen.
"Ssst! Mending kita tanya orang aja."
Jeno menanyakan kampung bebek kepada seorang ojek pengkolan. Mereka mengarahkan untuk mengambil arah kiri. Jeno dan Jessen lekas mengikuti arahan para bapak tukang ojek itu.
Tetapi baru beberapa meter motor milik Jessen sedikit mengalami masalah. Tiba-tiba motornya terasa berat.
__ADS_1
"Bang! Tunggu dulu. Motor gue kok Berat ya," kata Jessen.
"Lo jangan becanda. Depan itu kuburan," sahut Jeno.
"Beneran, ini kayak ban kempes gitu," jelas Jessen.
"Ya udah Lo lihat dulu deh," kata Jeno yang berhenti di belakang motor Jessen guna memberikan penerangan. Karena lampir di sekitaran sana sangat kurang. Meksipun mereka cowok menggunakan motor sport tapi mereka merasa takut karena tak jauh dari mereka ada sebuah makam.
Dari kejauhan Jeno melihat sosok bayangan hitam yang semakin mendekati. Tak terlihat wajahnya membuat Jeno tiba-tiba merasa gemetar.
"Jes! Lo lihat itu!" tunjuk Jeno.
"Apaan?"
"Itu..."
"Apa sih?"
"Ituloh kok ada bayangan sih, mana sepi lagi."
"Hih harga diri cowok mana nih, gitu aja takut." Jessen berusaha tetap tidak takut meskipun dia juga merinding. Gengsinya lebih besar.
"Orang itu orang," sahut Jessen.
"Orang kok besar."
"Gendut kali."
"Lo ngadi-ngadi, mending kita kabur lah." Jeno takut jika itu sosok penunggu kuburan.
"Jangan, motor gue gimana?"
"Ntar kembali lagi."
"Nggak, gila aja Lo. Kalau emang demit gue ajak gelut deh," tantang Jessen.
__ADS_1
Semakin dekat.... Semakin dekat....
Dari belakang ada motor yang hendak lewat. Lampu motor itu menerangi mereka berdua.
"Jeno! Jessen!"
"Bang, kita terkenal di kalangan demit ya?" bisik Jessen. Jeno tidak bergeming dan menunggu motor itu melewati bayangan itu.
"Itu Dini, Jes!" seru Jeno.
"Ha? Dini jadi demit?"
"Nggak bego. Itu Dini bukan setan maksud gue," jelas Jeno.
Dini lekas menghampiri mereka berdua.
"Kalian kenapa disini?" tanya Dini.
"Lo yang ngapain disini?" tanya balik Jessen dengan ketus.
"Gue dari makam ayah," jawab Dini dengan enteng.
"Lo bikin susah gue tau nggak?"
"Bikin susah apa lagi, gue nggak nyuruh kalian kesini kan?"
"Iya emang. Tapi Lo bikin kita kena amukan bokap. Paham nggak Lo? Bisa kan Lo kalau pergi pamit?"
"Elo nggak ada, Jes."
"Ada bang Jeno!"
"Dia nggak nyaut gue panggil."
"Ada bi Inah."
__ADS_1
"Bi Inah nggak ada Jes!"
"Stop!" Jeno menghentikan perdebatan mereka berdua. Dini maupun Jessen melihat wajah Jeno yang mulai memerah menandakan dia mulai marah. Mereka memilih diam.