
Bab 19
Setelah banyak kejadian yang membawakan Dini. kini Jessen memberi aturan yang membuat Dini harus tetap dalam pengawasan setiap saat.
"Din, elo berangkat sama bang Jeno. Nanti pulang sama gue karena karena bang Jeno harus les." kata Jesssn sebelum meninggalkan kamar Dini yang tengah bersiap.
"Iya-iya..."
"Latihan sekarang sama gue juga," imbuhnya.
"Lah kenapa?"
"Cukup ya Din, elo udah buat gue sama bang Jeno kena omel Mulu. Ilang-ilangan Mulu."
Semua yang dikatakan Jessen hanya sebagian yang benar. di sisi lain dia takut dan khawatir jika Dini mengalami hal seperti kemarin lagi.
Terlebih orang yang menculik Dini terang-terangan meminta Jessen keluar dari tim basket. Tentu saja itu orang yang berhubungan dengannya.
Ceklekk
Ceklekk.
"Bi Inah, nanti datang," kata Jeno.
"Iya, biar minta kunci di pak Ibnu aja," sahut Jessen.
"Lo nanti jadi keluar dari tim basket?" tanya Jeno. Tentu saja membuat Dini menoleh kearah mereka berdua.
"Keluar? Kenapa?" tanya Dini.
__ADS_1
"Nggak, ayo berangkat," sahut Jessen dengan datar dan langsung menuju motornya yang sudah menyala.
"Kenapa dia mau keluar, Bang?" tanya Dini yang masih penasaran.
"Udahlah, dia lagi nggak baik-baik aja suasana hatinya. Jangan dibahas," jawab Jeno seraya memberikan helm kepada Dini.
Dini diam. Tak lagi melanjutkan pertanyaannya. Meskipun dalam hatinya ada yang janggal dengan sikap cowok kakak beradik itu.
Sesampainya di sekolahan. Dini menuju kelas seorang diri. Berpisah dengan Jeno. Sendangkan Jessen entah kemana. Padahal motornya sudah terparkir dengan rapi.
Di kelas juga dia tidak melihat geng Jessen. Vika dan Nadin yang melihat Dini ada di kelas lekas menghampirinya dan langsung memeluk erat sahabatnya itu.
"Dini..…."
"Apa sih? Kenapa kalian peluk-peluk gue," tanya Dini bingung.
"Elo udah bikin kita semua bingung, Din."
"Elo hilang kemarin!" jelas Nadin.
"Elo kok tahu?" tanya Dini.
"Ya iyalah, orang Jeno sama Jessen datang ke rumah kita berdua," jawab Vika.
"Tapi gue nggak tahu apa yang terjadi, gue cuma ingat elo ngajakin gue ketemu di taman dan terus gue kayak di pukul dari belakang," jelas Dini.
"Gue?" Vika menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingungnya.
"Fix, elo udah di jebak, Din." sahut Nadin.
__ADS_1
"Iya, karena gue nggak ada chat elo," kata Vika.
"Malah elo yang chat kita berdua katanya nggak jadi lari," jelas Nadin.
"Mereka berdua nggak ada cerita apa-apa ke gue," ujar Dini dengan menoleh ke bangku Jessen yang masih kosong.
***
Jam pelajaran di mulai. Hari ini Dini melihat Jessen sedikit berbeda. Dia banyak diam dan tidak banyak interaksi dengan teman-temannya. Wajah marah, kesal dan kecewa jadi satu. Dini yakin jika itu semua ada hubungannya dengan tim basketnya.
Dini mulai mencari tahu penyebab mundurnya kakak angkatnya. Perasaan Dini ada yang tidak beres dengan semua ini.
Dini sendiri mencoba menenangkan diri paska kejadian kemarin. Meskipun sekarang Dini merasa was-was jika ada orang di belakangnya.
Kriiing......
Kring.....
Bel sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar untuk istirahat. Begitu pula dengan Jessen. Dia pergi dengan langkah kaki yang lemas meninggalkan kelasnya. Dini mengikut Jessen yang ternyata ada di rooftop sekolah. Banyak teman gengnya yang ada disana. Banyak juga pemain basket yang berkumpul disana.
"Elo yakin mau keluar? Tinggal hitungan hari, Jes. Elo yang bener aja!" cecar seorang cowok berbadan tinggi salah satu pemain basket.
"Sorry, Guys."
"Nggak, Jes. Elo pemain inti. Elo juga kapten, ya kali elo keluar gitu aja," protes pemain lain.
"Gue juga nggak mau, Don! Tapi keadaan yang buat gue harus keluar!" pekik Jessen yang mulai emosi.
Cowok dengan nama Doni hanya bisa menghempaskan tangannya ke udara. Dia menahan diri untuk tidak emosi.
__ADS_1
Baru kali ini Dini melihat Jessen berbicara dangan nada bergetar menahan emosi dan tangis. Hal itu sering terjadi saat orang bingung dan kecewa.