Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Dini hilang


__ADS_3

Bab 4


Plek...


Plek...


Plek...


"Kok ada elo!" tegur Jessen saat melihat Dini sedang makan siang. Dini lekas menghentikan tangan yang hendak menyendok makanan di piringnya.


"Bi! Kok dia makan dulu. Kita jadi makan sisa dia dong," protes Jessen.


"Lo bisa nggak, nggak usah teriak sama Bi Inah?" sahut Dini yang mulai kesal saat mendengar Jessen berbicara dengan nada tinggi kepada Bi Inah.


"Hai! Elo siapa? Elo disini cuma numpang, beraninya elo teriak sama gue?" kata Jessen dengan menatap remeh Dini.


"Elo teriak sama gue terserah, tapi Lo jangan teriak sama Bi Inah dong!" bela Dini.


"Non udah, non. Mungkin den Jessen lagi capek. Dia nggak pernah kayak gini kok," bisik Bi Inah yang berusaha menenangkan Dini.


"Sejak Lo disini gue jadi males di rumah!" ucap Jessen dengan menunjuk tepat di depan mata Dini.


Brakkkk!


Jessen menendang kursi yang diam hanya menjadi saksi bisu perdebatan itu. Lalu dia pergi begitu saja menuju motornya dan hendak meninggalkan rumah.


Jeno yang melihat itu lekas mengehentikan Jessen.


"Lo mau kemana?" tanya Jeno.


"Gue mau pergi, cari angin." jawab ketus Jessen.


"Lo jangan berulah!"

__ADS_1


"Tenang aja, gue cuma cari angin kok."


"Oke, tapi Lo pulang sebelum papa pulang," ujar Jeno.


"Iya-iya bawel banget si Lo!"


Jessen segera menarik tuas gas dan pergi meninggalkan rumah. Saat Jeno masuk Dini sudah tidak ada di dapur. Jeno merasa kasihan dengan gadis itu.


Tok-tok...


Tok-tok...


Jeno mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali sebelum gadis itu membukanya.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Jeno saat melihat Dini menangis dengan memegang foto pria di tangannya. Dini hanya menggelengkan kepala dengan sisa Isak tangisnya.


"Lo jangan masukin hati omongan Jessen, dia emang begitu," kata Jeno.


"Nggak apa, gue bakal bilang ke papa lo biar gue nggak usah di angkat jadi anaknya. Gue nggak usah tinggal disini," kata Dini dengan serak.


"Kenapa? Bukannya lo juga seneng kalau gue nggak disini? Lo nggak perlu pura-pura didepan gue," cecar Dini.


"Terserah pemikiran elo, yang jelas Lo jangan nambah pikiran bokap gue, dia perusahaan sedang banyak masalah. Belum lagi Jessen yang selalu bikin ulah, jadi gue harap lo diam saja!" tukas Jeno lalu pergi begitu saja.


Dini semakin kesal saat melihat sikap Jeno. Dia menutup pintu dan menguncinya. Lalu dia menatap foto ayahnya yang dia pegang.


"Ayah, kenapa sih ayah ninggalin Dini? Ayah nggak sayang ya sama Dini?" tanya Dini menatap foto itu ayahnya.


"Kata ayah anak om Wirawan baik, Mana? Mereka jahat ayah. Mereka tidak suka sama Dini," kata Dini yang berbicara dengan foto itu.


Dini merasa rindu kepada ayahnya. Agung meninggal sudah seratus hari, kurang lebih tiga bulan. Dini berusaha beramai dengan keadaan.


***

__ADS_1


Malam tiba, Jessen menepati janjinya dengan Jeno. Dia pulang sebelum Papanya datang. Tetapi tiba-tiba kehebohan datang ketika Bi Inah mendapati Dini sudah tidak ada di kamarnya.


"Den! Aden!" panggil Inah di depan kamar Jeno.


"Kenapa, Bi?"


"Itu den... Anu...."


"Apa sih bi?"


"Itu, non Dini."


"Dini kenapa?" tanya Jeno gugup.


Karena wanita paruh baya itu terlihat gugup dan panik. Sehingga tidak bisa menjawab. Pertanyaan dari Jeno.


Jenopun lekas menuju kamar Dini. Tetapi gadis itu tidak ada di kamarnya.


"Dini mana, bi?" tanya Jeno panik.


"Nggak tahu, Den."


"Apaan sih berisik banget?" sahut Jessen saat keluar dari kamar mandi dengan rambut keadaan basah.


"Dini nggak ada," jawab Jeno.


"Baguslah, mending dia pergi." kata Jessen yang terlihat tidak panik sama sekali.


Ternyata percakapan itu di dengan oleh Wirawan. Seketika membuat pria itu naik darah.


"Jes! Jen! Apa yang terjadi?" tanya Wirawan dengan nada tinggi.


Mereka berdua mematung tidak berani berkutik sedikitpun.

__ADS_1


"Ada masalah apa?" tanya Wirawan lagi. Tapi mereka masih bungkam.


"JAWAB!" teriak Wirawan karena kesal melihat dua putranya tidak ada yang menjelaskan kepadanya.


__ADS_2