Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Lari estafet


__ADS_3

Bab 20


Lima hari berlalu.


Dini berjalan dengan ragu untuk menuju stadion. Hari ini lomba lari estafet akan di gelar. Tentu ada Jeno dan Jessen.


"Elo ke ruang ganti, gue sama bang Jeno ke tribun," kata Jessen.


"Semangat, Din." sahut Jeno dengan menepuk bahu Dini.


Ada rasa yang berbeda yang di rasakan dua cowok itu. Mereka seakan tidak ingin jauh dengan Dini. Ada rasa yang tidak biasa dia rasakan. Setelah banyak hal yang mereka lalui. Terlebih Jessen yang selalu menemani Dini lari setiap sore. Selalu membantunya untuk olahraga.


"Dini!" seru Vika yang memanggilnya. Vika ikut serta dalam tim lari estafet.


Dini melambaikan tangan ke arah dua kakaknya lalu berlari kearah Vika. Mereka menuju ruang ganti. Dini memakai sepatu dan berganti pakaian.


"Din, bantu gue dulu." Vika meminta bantuan kepada Dini yang hendak memakai sepatu.


"Kenapa?"


"Ambilin kuncir rambut di tas. Sayang ini rambutku udah tapi," kata Vika. Dini lekas membuka tas yang tak jauh dari mereka. Banyak teman lain yang sedang berganti pakaian dan bersiap.


"KEPADA SETIAP PEMAIN SEGERA MENUJU KE LAPANGAN!!" suara yang di berikan oleh panitia.


"Ayo! Kalian cepat siap-siapnya. Lama banget!" kata pelatih sekaligus guru olahraga.

__ADS_1


Dini lekas berlari memakai sepatu dengan cepat. Sedangkan semua pemain sudah mulai berlari ke lapangan. Hanya Vika yang menunggunya.


Baru beberapa langkah, Dini merasa ada yang tidak nyaman. Pada kakinya.


"Vik, bentar," kata Dini hendak melihat apa yang membuat kakinya tidak nyaman.


"Kalian ngapain berhenti? Ayo!" teriak pelatih bernama Jhon itu m


"I-iya." Dini tidak jadi memeriksa kakinya.


Vika mengira jika Dini sudah memeriksa sepatunya. Dini juga sudah lebih baik.


Semua peserta sudah bersiap di posisinya. Dini menjadi pelari terakhir. Yang artinya dia harus membawa tongkat itu ke garis finis.


Jeno dan Jessen berada di tribun paling pinggir. Sehingga dia bisa melihat dengan jelas posisi Dini.


"Bersedia......."


Priiit....


Peluit ditiup menandakan pelari harus membawa tongkat itu kepada pelari berikutnya.


"Hayoo!!!! Ayo!!!!" sorak sorai membuat seisi stadion riuh. Penuh semangat pelari pertama menuju pelari kedua.


Seett...

__ADS_1


Pelari kedua memberikan tongkat itu kepada pelari kedua. Posisi saat ini tim Dini berada di urutan kedua. Hanya beda tipis dengan pelari dari SMA MERDEKA.


Sekolah Merdeka memang menjadi musuh bebuyutan untuk setiap tahunnya. Kini ganti pelari ketiga berlari untuk di berikan kepada Dini. Disini sudah bersiap menerima tongkat itu.


"Dini!!! Dini..."


Sorakan dari beberapa teman membuat Dini semangat.


"Aw!" pekik Dini lirih saat melangkahkan kakinya. Tiba-tiba seperti ada yang mengganjal pada sepatunya. Tetapi tidak ada pilihan lain. Dini tetap harus melanjutkan langkah kakinya dan mempercepat larinya.


Napasnya terengah-engah. Kakinya mulai pincang. Tetapi tidak ada yang menyadarinya. Dini masih berusaha mengejar ketertinggalan dengan pelari dari SMA MERDEKA.


Saat tinggal beberapa meter dari garis finish. Ini mulai mempercepat larinya diikuti dengan sorak-sorai dari para penonton yang mendukungnya.


"Yeeeiiiyeee!!!" Sorak para penonton dan pemain lainnya langsung menuju ke garis finish.


Dini berhasil memutus pita tanda garis finish. Dengan selisih persekian detik saja sudah bisa membuat Dini dan timnya menjadi juara. Mereka memeluk Dini yang duduk di bawah meringis kesakitan. Mereka tidak ada yang menyadarinya. Temannya mengira jika Dini kecapekan saja..


Tetapi dari tribun, Jessen berlari menuju Dini yang duduk lemas dengan napas tersengal-sengal. Hanya dia yang menyadari jika Dini mengalami sesuatu dengan kakinya. Melihat adiknya berlari menuju lapangan tentu membuat Jeno mengikutinya.


"Minggir!" Jessen menyibak kerumunan itu.


"Din, buka sepatu Lo," pinta Jessen. Tentu Dini setuju. Dengan meringis kesakitan di bantu oleh Jessen dini berhasil membuka sepatunya.


Semua orang terkejut dengan keadaan sepatu dan kaki Dini. Termasuk Jeno yang baru datang.

__ADS_1


"Din! Kok jadi begini?" tanya Jeno melongo.


Dini hanya menggelengkan kepalanya dan menggigit bibirnya bagian bawah untuk menahan sakit.


__ADS_2