
Bab 13
Jegrekk...
Ceklek...
Dini mengunci semua pintu. Bahkan dia membawa ember kompresan di dalam kamar. Tiga puluh menit berlalu. Dini merasa was was dengan situasi rumah yang sunyi dan sepi. Pikirannya berimajinasi jauh. Membayangkan jika ada orang jahat. Membayangkan jika ada hantu.
"Kalau gini mending gue hidup di rumah petak aja," gumam Dini.
Ingin rasanya Dini memejamkan mata. Tapi rasanya sangat berat. Rasa was was dan rasa takut bercampur aduk. Matanya keliling setiap sudut kamarnya.
Tin...
Suara klakson terdengar di luar rumah. Dia Dini lekas berlari menuju pagar besi.
Dreng....
Dreng...
Suara motor Jessen juga berhenti di depan gerbang.
Greeekkkkk
Dini mendorong pintu pagar besi itu. Mobil dan motor milik Jeno dan Jessen terparkir rapi pada tempatnya.
"Lo dari mana?" tanya Jeno pada Jessen yang melihat adiknya juga baru keluar.
__ADS_1
"Keluar bentar," jawab Jessen ketus.
"Lo tinggalin dia sendiri, bahaya tau!"
"Bahaya apanya? Dia masih baik-baik aja kan?" timpal Jessen. Jessen pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Dini mengulas senyum ketika Jeno menatapnya. Memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.
Jessen membuka bungkusan berisi nasi bebek yang lengkap dengan nasinya. Jessen sangat suka dengan nasi lalapan. Tidak seperti anak orang gedongan yang selalu di tempat mewah.
Baginya ada saatnya dia memasuki tempat itu ada saatnya dia tidak perlu kesana.
"Lo beli makan banyak amat?" tegur Jeno.
"Lo kalau nggak mau ya udah buat gue aja bang," sahut Jessen yang langsung melahap makanannya.
"Maulah, nih tadi gue beli martabak juga." kata Jeno.
"Salep apa?"
Jessen menjelaskan semua kepada Jeno. Terlihat wajah Jeno sangat khawatir dengan cerita itu tapi Dini berulang kali juga mengatakan jika dia tidak apa-apa.
Dini menyimpulkan jika kedua Abang angkatnya sbenernya baik. Hanya saja mereka tidak terbiasa dengan orang baru. Cara mereka perhatian dan kasih sayang yang mereka tunjukkan berbeda.
Wajar saja karena sejak umur sebelas tahun mereka sudah tidak memiliki ibu. Sehingga interaksi dengan wanita tidak pernah terjadi lagi. Kecuali di sekolah.
Kejadian meninggalnya sang ibu memang membuat Jeno berubah menjadi pendiam. Sedangkan Jessen cenderung mencari kesibukan di luar sana. Mencari tempat untuk mencurahkan semua yang dia rasakan saat itu.
Malam semakin larut dua kakak angkat Dini sedang menonton film action keluaran luar negeri. Dini yang pecinta K-Pop, drama China dan drama korea tidak terlalu memahami alurnya. Sedangkan mereka berdua menonton sampai menganga dan sesekali mengambil martabak di depannya.
__ADS_1
"Lo kalau nggak tahu mending tidur di kamar. Lo disini cuma diem aja," tegur Jessen yang menatap Dini di belakangnya. Jessen menoleh setelah melihat jam di dinding menunjukkan pukul 22:30.
"Ya gue harus apa? Masak iya gue mau teriak," sahut Dini.
"Ya makanya elo ke kamar aja." usir Jessen.
Dini beneran pergi. Dia melihat jam memang sudah cukup larut. Dia tidak ingin besok telat pergi ke sekolah. Situasi ini membuat mereka bertiga mengenal satu sama lain. Jeno dan Jessen mulai menyadari jika sebenarnya Dini penurut dan gadis yang baik. Tetapi sikapnya berubah jika dia merasa terganggu.
****
Keesokan harinya. Jeno sudah siap lebih awal. Sedangkan Jessen juga tengah memakai sepatu.
"Tumben, kalian udah siapa aja."
"Iya, kita nggak ada sarapan. Jadi gue mau beli di sekolah aja," sahut Jeno.
"Bi Inah belum kembali? Kan hari ini katanya mulai kerja?"
"Sakit katanya," kata Jeno.
"Ya udah, gue juga langsung berangkat juga," pamit Dini.
"Bareng gue aja!" kata mereka berdua bersamaan. Jeno dan Jessen juga terkejut dan saling menatap. Terlebih Dini yang mendengar itu.
"Kalian kenapa?" tanya Dini bingung.
"Gue cuma dapat pesan dari papa kalau buat jagain elo. Kalau elo mau bareng aja," ucap Jessen.
__ADS_1
Jeno merasa janggal dengan sikap adiknya. Tidak biasanya dia menawarkan tumpangan pada seseorang.