
Bab 18
"Dia tidak apa-apa. Sebentar lagi dia akan sadar," kata dokter. "Kalau boleh tahu kenapa dia bisa terbius seperti ini?" tanya pria berjas putih itu.
"Ada temannya yang iseng," jawab Jeno.
Jessen berada di sisi Dini. Dia merasa bersalah karena dirinya Dini harus mengalami ini.
"Baiklah, berikan obat itu saat dia sadar," kata Dokter itu.
Jeno mengantar Dokter itu pulang. Sedangkan di saat bersamaan ponsel Jessen bergetar.
Derrrttt...
Derrrtt...
'PAPA'
Nama yang muncul di layar hp milik Jessen.
"Hallo, Pa."
"Jessen! Kemana aja kamu? Papa telepon kamu berapa kali itu, lihat juga pesan dari papa. Ada apa sebenarnya?" cecar Wirawan.
"Baru sampai rumah, Pa." ucap Jessen lirih dan mulai menjauh dari Dini.
"Kamu itu main aja! Kalau kamu keluar Dini sama siapa?" hardik Wirawan.
"Ada Jeno, pa. Tapi dia kayaknya dia baru selesai les Zoom."
"Terus Dini mana?" tanya Wirawan dengan nada kesal.
"Udah tidur," jawab Jessen.
"Beruntung kamu jawab telepon dari papa, karena papa sudah bertekad jika kamu tidak menjawab telepon papa yang terakhir, maka Papa akan segera kembali ke Jakarta," tukas Wirawan lega.
__ADS_1
"Maaf, Pa." Jessen menyadari kesalahannya.
"Ya sudah Papa kembali kerja, kamu jaga baik-baik Dini," kata Wirawan sebelum panggilan berakhir.
"Iya, Pa."
Tut...
Panggilan berakhir. Jessen kembali memasukan hpnya ke sakunya.
Beberapa menit kemudian Dini bangun melihat dua kakaknya sedang duduk berjejer di kamarnya.
"Kok gue udah di rumah," kata Dini lirih. Tenaganya belum kembali pulih sepenuhnya.
Mendengar itu Jeno dan Jessen menghampiri Dini.
"Din, elo udah bangun. Ada yang sakit nggak?" cecer Jeno.
"Ini..." Dini memegang leher bagian belakang yang terasa nyeri. Jessen lekas membantu Dini bangun dan melihat leher Dini yang memar biru.
"Enggak," jawab Dini sembari menggelengkan kepalanya.
"CK! Sialan. Pengecut sekali," umpat Jessen.
"Besok kita selidiki, yang penting Dini udah baik-baik aja," sahut Jeno menenangkan adiknya. Lalu Jeno mengambil minum ke dapur. Sisa Jessen dan Dini di kamar.
"Jes!" panggil Dini.
"Hem... Apa?"
"Gue... lapar," ucap Dini lirih karena merasa perutnya perih.
"Huuffft!" Jessen memghela napas panjang. "Lo mau makan apa?" tanya Jessen.
"Mie aja biar cepet," jawab Dini.
__ADS_1
Jessen langsung menyusul kakaknya ke dapur. Dia membuat tiga porsi mie instan lengkap dengan sayur dan telur. Meskipun dia terlihat kasar, Jessen sebenarnya juga memiliki hati yang lembut.
Beberapa menit kemudian, Mie matang. Jessen membawa tiga porsi mie itu kamar Dini.
"Nih!" Jessen memberikan satu porsi kepada Jeno.
"Nih, hati-hati panas," kata Jessen saat memberikan mangkuk itu kepada Dini.
"Terima kasih," ucap Dini.
"Aw!" pekik Dini kepanasan.
"Kan gue udah bilang, itu panas. Lo mau cosplay jadi reog yang makan arang sama beling?" hardik Jessen.
"Gue suapin aja." Jessen menarik mangkok Dini dan langsung meniupkan mie itu sebelum menyuapkan kepada Dini. Dini merasa salah tingkah dengan sikap Jessen yang jauh berbeda. Menatap Jeno untuk sesaat dan di berikan anggukkan kepala oleh cowok yang tengah menikmati mie itu.
Dengan lahap Dini menikmati suapan demi suapan yang diberikan oleh Jessen. Hingga kuah terakhir Dini masih terlihat lahap.
"Lo kurang?" tanya Jessen.
"Enggak-enggak, udah kok." jawab Dini. Meskipun matanya tidak bisa berbohong bahwa dia masih merasa lapar.
"Punya gue nih makan aja," kata Jessen yang langsung menyuapi Dini begitu saja. belum sempat dia menolak.
Tapi baru setengah Dini sudah tidak kuat menghabiskannya.
"Udah, Jes."
"Yakin?"
"Iya....gue ke dapur dulu buatin mie buat elo," kata Dini yang hendak beranjak dari tempat tidurnya.
"Nggak usah, ini aja." Jessen langsung menyantap sis mi milik Dini. Seketika membuat Dini dan Jeno melongo.
"Nggak usah berpikir aneh-aneh, gue juga laper gue nggak bisa nunggu elo bikin mie. keburu mati kelaparan gue," timpal Jessen yang menyadari ada dua pasang mata menatapnya tajam.
__ADS_1
Tentu saja sikap Jessen membuat Dini salah tingkah lagi. Juga menarik rasa curiga di hati Jeno.