Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Ancaman untuk Dini.


__ADS_3

Bab 14


"Gue naik bis aja," kata Dini menolak mereka berdua. Dini tidak bisa memilih antara mereka berdua. sehingga dia memilih untuk naik bis.


Jeno dan Jessen tidak ada yang mencegah. Mereka berangkat seperti biasa. Jessen yang paling terakhir. Sehingga dia yang harus membawa kunci rumah.


Dini senang karena kedua kakak angkatnya menerimanya dengan baik secara perlahan. Tetapi dia merasa canggung dengan situasi ini. Pada dasarnya mereka bertemu saat sudah dewasa. Saat mereka saling mengerti arti cinta. Wajar saja jika Dini merasa canggung.


Tetapi berbeda dengan Jessen. Saat sampai di sekolahan dia menemui Dini. Terang-terangan dia memberikan kunci rumah kepadanya.


"Kasih ke Jeno. Bilang kalau gue mau keluar pulang sekolah nanti," kata Jessen.


"Oke!" sahut singkat Dini. Kemudian dia kembali fokus dengan buku tebal di depannya.


Geng Chelsee seketika ikut mendekati Dini yang tengah fokus dengan buku pelajarannya. Dini butuh waktu menyesuaikan pelajaran karena semua berbeda dari sekolah sebelumnya.


"Cupu! Gue mau latihan cheerleaders. Lo catat semua rumus matematika kemarin, gue nggak sempat nulis." kata Chelsee seraya melempar pelan buku di depan Dini.


"Nggak mau!" tolak Dini cepat.


"Lo berani nolak gue?" tantang Chelsee.


"Siapa elo? Elo nggak cacatkan? Tangan elo buat apa?" tukas Dini melawan Chelsee.


"Elo!" geram Chelsee yang mengangkat tangannya hendak memukul Dini.


"Lo kenapa sih gangguin dia mulu?" tanya Jessen yang sedari tadi hanya melihat tingkah mereka.


"Dia ngelawan terus ke gue, Jes!" jawab Chelsee.

__ADS_1


"Mending elo bawa itu buku dan elo catat sendiri, atau gue sobek itu buku!" ancam Jessen.


Chelsee kesal melihat Jessen membela Dini. Dia pergi dengan kasar meninggalkan kelas.


***


Saat pulang sekolah. Dini di hadang oleh segerombolan cowok yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Bahkan dari seragam dini bisa tahu jika mereka bukan dari SMA UNIVERS.


"Bisa minggir nggak?" tanya Dini berusaha dengan nada tenang.


"Elo yang namanya Dini?" tanya balik salah satu dari mereka.


"Iya!"


"Bawa dia ke bawah jembatan!" perintah cowok tinggi dan kulit putih itu. Dini di seret begitu saja menuju jembatan tak jauh dari sekolahan. Padahal tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di halte


Dini mulai ketakutan. Dasar bela diri juga tidak akan membantunya melawan enam cowok di depannya. Mereka mendorong Dini dengan kasar.


"Siapa kalian? Gue nggak kenal kalian."


"Siapa gue nggak penting. Yang penting elo berhenti melawan Chelsee dan yang lain. paham!"


"Elo orang suruhan mereka?"


Plak!


Tamparan mendarat di pipi Dini tiba-tiba. Membuat Dini memegang pipinya yang terasa panas.


"Gue bukan orang suruhannya, gue abangnya. Gue nggak suka adik gue di lawan," ujar cowok itu. "Ingat nama gue," imbuhnya seraya menunjuk nama dadanya.

__ADS_1


"LEO!" tegasnya.


"Tapi bos, di lihat-lihat dia cukup cantik. Bisalah dia buat kita hari ini," kata teman Leo yang berbadan gendut itu.


"Benar juga." Leo nampak setuju dan mulai mendekati Dini. Dia berjongkok dan memegang dagu Dini. Tentu saja Dini membuang muka menghindari itu.


"Gue bakal teriak! Jangan macam-macam!" ancam Dini.


"Teriak! Teriak yang keras. Siapa yang akan datang kesini?" bukannya takut malah membuat Leo menantang Dini.


"TOLOOONG...... TOLO––"


PLAK!!!


Lagi-lagi tamaparan mendarat tepat di pipi Dini yang sama. Semakin terasa panas pipi itu.


Tamparan kedua itu membuat ujung bibir Dini berdarah.


"Ini masih peringatan, kalau elo masih berani tidak menuruti adik gue. Elo bakal menerima akibatnya," ancam Leo yang melepaskan cengkramannya pada leher Dini di ikuti dengan dorongan kasar oleh Leo.


Dini pulang dengan keadaan trauma. Dia diam sepanjang jalan. Menutup wajahnya dengan buku. Tidak berani mengangkat wajahnya dengan keadaan babak belur.


Sesampainya di rumah dini melihat Jessen dan Jeno duduk di depan rumah. Tentu saja mereka tidak bisa masuk ke rumah karena kunci dia yang bawa. Jeno tidak ada di kelas saat dia hendak memberikan kunci itu.


"Din! Elo lama banget. Hampir gue robohin ini gerbang," protes Jessen saat Dini sampai di depannya.


"Maaf!" ucap Dini dengan nada bergetar dan wajah yang masih tertunduk.


"Elo kenapa?" tanya Jeno. Jessen juga iku menarik dengan dagu Dini. Mereka berdua terkejut melihat wajah dini lebam dan ada luka di ujung bibirnya.

__ADS_1


"Siapa yang lakuin ini?" tanya Jessen yang terlihat sangat marah. Dini tidak mengatakan apapun. Ia langsung membuka kunci dan masuk begitu saja.


__ADS_2