
Jessen segera meninggalkan tongkrongan dan menghubungi Vika. beberapa kali percobaan tidak ada jawaban.
Vika sebenarnya tahu jika ada panggilan dari Jessen, Teman sekelasnya sekaligus kakak angkat Dini. akan tetapi dia takut jika menjawab panggilan itu Jessen malah meminta berbicara dengan Dini yang jelas-jelas tidak ada di rumahnya.
lama kelamaan Vika merasa risih. dia mengalah dan menjawab panggilan itu.
"Hal—"
"Dimana Dini?" tanya Jessen memotong ucapan Vika.
"Di...." Vika masih mencoba mencari alasan yang tepat agar tidak membuat cowok degan suara nada rendah itu curiga.
"Dini lagi keluar sama Nadin," kata Vika ketika menemukan ide untuk berbohong.
"Oh iya? Dimana?"
"cari cemilan," jawab cepat Vika.
"Elo tahukan kalau berbohong sama gue bakal dapat akibatnya," kata Jessen untuk menakuti Vika.
"gue nggak berbohong kok," tukas Vika.
"Kalau gue bilang gue ketemu Nadin gimana?"
Deg!
jantung Vika berpacu kencang mendengar itu. dia merasa kehilangan alasan di dalam otaknya. dia diam sejenak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
__ADS_1
"Vik! Lo jangan buat gue marah!"
"iya-iya!"
"Dimana Dini?"
"Dia ada di sekolahan. ada di rooftop bersama gengnya Chelsee. dia mau menyelesaikan masalah antara elo dan Leo."
"Konyol!"
TUT!
panggilan berakhir. Jessen pergi meninggalkan semua temannya tanpa berpamitan. dengan kecepatan tinggi Jessen kembali ke sekolah untuk menyusul Dini.
Jessen akhirnya sampai di sekolahan dengan cepat. Dia memarkirkan motornya dengan asal dan langsung menuju Rooftop sekolahannya.
sedangkan di sisi lain Cheelsee menyerang Dini untuk melampiaskan semuanya.
"Gue akan bantu, tapi elo jangan kayak gini dong, Chelsee!"
Chelsea terus melangkah maju mendekati Dini yang terus menjauh. selangkah demi selangkah akhirnya Dini sudah kehilangan tempat untuk menjauh.
Dini di sudutkan hingga dia berada di bibir pembatas rooftop. beruntung di saat bersamaan Jessen datang menyelamatkan Dini.
"Din!" Teriak Jessen.
dengan kuat dia menarik tubuh Chelsea untuk menjauh dari Dini.
__ADS_1
Bruk!
Chelsee terjatuh dengan keras. tatapan tajam penuh amarah tertuju kepada Dini.
"Elo gila ya! elo mau jadi pembunuh?" Maki Jessen. sembari meraih tangan Dini agar lebih aman.
"Elo sengaja panggil dia?" tanya Chelsee yang bangkit dari jatuhnya.
"Enggak, gue nggak panggil dia," jawab Dini.
"Dari sini gue tahu keputusan apa yang harus gue ambil," kata Chelsee lalu pergi begitu saja.
Dini merasa ketakutan ketika dia sudah di ujung rooftop itu. bisa saja dia kan jatuh jika Jessen tidak datang tepat waktu. dia tidak menyangka Jika Chelsee bisa senekat itu. gadis itu sudah berada di halaman sekolah dan di jemput Leo. ternyata sedari tadi dua dayang yang selalu mengikuti Chelsee menunggu di lantai bawah.
mereka terlihat pulang bersama setelah Chelsee ada di halaman sekolah.
lega sekaligus takut. Lega karena dia berhasil lolos dari Chelsee. tapi takut jika ancaman Chelsee beneran terjadi dan akan melukai Jessen. Dini di hantui rasa bersalah.
selama perjalanan pulang, Jessen tidak bertanya sedikitpun. dia diam seribu bahasa kepada Dini. dia kecewa, marah dan kesal terhadap adik angkatnya. Dini juga merasa jika Jessen memang sedang marah. terlihat dari kaca spion sorot matanya sangat berbeda.
Sesampainya di rumah Dini juga tidak di tegur sama sekali. melihat Dini pulang bersama Jessen tentu membuat Jeno kaget. karena dia bilang akan menjemputnya.
"Udah selesai? apa elo tadi telepon gue minta jemput?" tanya Jeno
"Enggak, Bang," jawab Dini. Sedangkan Jessen melenggang menaiki anak tangga dan menuju kamarnya tanya mengucapkan sepatah katapun. Dini juga tidak banyak alasan untuk di katakan.
Tak lama Dini juga ikut menaiki anak tangga dan menunju kamarnya, meninggalkan Jeno dalam seribu pertanyaan yang membuat dini dan Jessen pulang bersama.
__ADS_1
sebelum masuk, Dini menoleh kearah Jessen yang hendak masuk ke kamar nya. cowok yang masih mengenakan seragam yang sama dengannya itu tidak menoleh sedikitpun.
"Huft!" Dini menghela napas panjang. dia meras menambah beban di pikirannya.