
Bab 15
Jesssen mengetuk pintu kamar Dini dengan kasar.
Brak.... Brak...
"Jes Lo malah bikin dia takut, pelan-pelan aja," kata Jeno.
"Ck!" Jessen berdecak kesal dan menyingkir dari depan pintu. Kini berganti Jeno yang berusaha membujuk Dini agar membuka pintu kamarnya.
Tok.... Tok....
Jeno mengetuk pintu dengan pelan.
"Din, buka pintunya. Lo harus cerita ke kita. Kalau nggak bisa kena marah sama papa gue sama Jessen," kata Jeno.
Dini mendongak. Mendengar itu Dini tergerak. Dini perlahan berjalan membuka pintu yang terus di ketuk oleh Jeno dan membujuknya.
Jegrekk ...
Dini membuka pintu lalu pergi begitu saja. Seolah dia meminta dua kakaknya untuk masuk ke kamarnya. Dini duduk di kasur dan memeluk kedua kakinya yang tertetuk. Jessen dengan menggebu-gebu meminta Dini menceritakan semuanya.
"Jes, ini khusus buat elo. kalau elo nggak mau akuin gue sebagai adik lo mending lo jangan interaksi apapun sama gue," kata Dini. Tentu saja membuat Jessen bingung.
"Apa ini yang ngelakuin Cheelsee?" tebak Jessen.
Dini menggelengkan kepala. Semakin membuat dua cowok di depannya kebingungan. Mereka saling menatap saat Dini menggelengkan kepala.
__ADS_1
Jessen keluar begitu saja. Dini menoleh dan melihat cowok berbadan tegap itu pergi dengan marah.
"Din, elo bisa cerita ke gue. Siapa yang lakuin ini?" tanya Jeno dengan nada jauh lebih lembut.
"Tapi elo janji nggak usah buat rusuh. Cukup diam aja," kata Dini.
"Iya."
"Leo."
"LEO!" ulang Jeno dengan nada tinggi karena terkejut. "Lo tahu nggak Leo itu siapa?" tanya Jeno.
"Kakaknya Chelsee," jawab Dini.
"Nah, berarti ini ada hubungannya dengan cewek itu," kata Jeno.
Tak sengaja Jessen mendengar itu semua. Dia kembali dengan kain kompres dan air hangat. Dia tak mengatakan apapun langsung menempelkan kain itu ke wajah Dini yang lembab. Membuat gadis itu meringis kesakitan ketika terkena luka di ujung bibirnya.
"Lo aja yang kompres dia. gue mau keluar," ujar Jessen lalu berdiri begitu saja.
"Lo mau kemana?" tanya Dini.
"Keluar!" jawab Jessen kasar. Dia pergi begitu saja.
"Apa tadi dengar ya, bang?" tanya Dini.
"Biarin aja, ini artinya dia tuh khawatir sama elo. Pelan-pelan dia mulai menerima elo," kata Jeno menenangkan Dini.
__ADS_1
Jeno mengulurkan tangan hendak mengompres pipinya. Tapi Dini menghentikan dan memilih mengompres pipinya sendiri.
"Udahlah Lo istirahat. Gue beliin obat dulu," kata Jeno.
Saat keluar dari rumah Jeno sudah tidak melihat motor milik Jessen. Tentu saja dia khawatir dengan adiknya dia takut jika sang adik melakukan hal yang tidak di inginkan...
Jeno ragu untuk meninggalkan rumah. Ia ragu untuk meninggalkan Dini di rumah sendirian.
Klunting...
Sebuah notifikasi postingan dalam forum sekolah. Sebuah foto Jessen dan Chelsee terpampang. Di ikuti dengan keterangan di bawahnya.
(Festival olahraga Jessen dan Chelsee menjadi ikon SMA UNIVERS) tulis akun itu.
Tak berselang lama Jessen kembali dengan obat di tangannya. Dia memberikan kepada Jeno untuk di berikan kepada adik angkatnya.
***
Satu minggu berlalu. Dini tak lagi banyak interaksi dengan Jessen, Jeno maupun Chelsee. Banyak siswa yang mulai sibuk dengan festival olahraga.
Tiba-tiba pak William memberitahu Dini jika dia di minta menggantikan salah satu siswa yang cedera dalam lari estafet.
Mau tidak mau Dini menerimanya. Karena upaya penolakan yang dia lakukan tidak berhasil.
Sedangkan Wirawan memberikan kabar kepada anak-anaknya jika dia akan lama di luar pulau itu karena proyeknya memakan banyak korban.
Nadin dan Vika membantu Dini untuk latihan. Di saat kebetulan Vika juga ikut dalam kompetisi lomba tersebut. Mereka menjadi satu tim.
__ADS_1
Setiap sedang latihan ada pasang mata yang selalu memperhatikan Dini dan teman-temannya. Tetapi Dini tidak pernah menyadari akan hal itu. Dia terus dia berlatih setiap pulang sekolah. bahkan sore hari.
Sedangkan Jessen juga giat berlatih dalam kompetisi basket. Wajar saja jika Jessen dan Chelsee menjadi ikon. Karena Jesssen yang menjadi kapten tim basket dan Chelsee juga menjadi ketua cheerleaders. Dua tim itu yang selalu menjadi kesinambungan saat ada pertandingan.