
Bab 2
Glibuk...
Glibuk...
Dini tidak bisa tidur. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.00. tepat tenaga malam, biasanya orang bilang jam hantu keluar. Tapi Dini tidak memikirkan hantu. Dia memikirkan esok hari saat dia harus ke sekolah barunya.
"Saya Dini Anindya....." Dini berusaha mengenalkan diri. Dia membayangkan saat dia di suruh mengenalkan diri di depan banyak siswa yang menatapnya dengan tajam. Tapi baru saja berlatih dia sudah merasa kesulitan.
"Gue mau di sekolah biasa, kenapa sih harus sekolah elit gitu," gumam Dini.
Di dalam kamar yang jauh lebih luas dari kamar sebelumya, Dini mondar mandir mencoba membuat dirinya lelah agar lekas tertidur.
***
Tok...
Tok....
Suara ketukan pintu yang terus menerus membuat Dini terbangun. Entah jam berapa dia tertidur.
Jegrek...
Dini membuka pintu kamarnya dan melihat ibu-ibu yang biasa membantu di rumah itu berdiri dengan banyak barang di tangannya.
"Non, ini tas dan baju non Dini," kata ibu paruh baya yang biasa di sapa bi Inah.
"Oh, iya. Terima kasih," kata Dini.
"Oh iya, Non. Bapak sama Aden sudah menunggu untuk sarapan," imbuh bi Inah.
__ADS_1
"Baik," kata Dini. Dini memilih tidak memanggil dengan sebutan Bibi. Karena dia tidak terbiasa memanggil seseorang dengan sebutan itu.
Dini lekas mandi dan bersiap. Ia menggunakan seragam yang telah disiapkan oleh Bi Inah. Ini pertama kalinya di memakai yang di setrika oleh orang lain.
Tetapi tiba-tiba diri memotong ketika melihat harga pada tas baru yang diberikan oleh Wirawan.
"Lima ratus ribu!" Pekik Dini kaget. Lalu dia mengecek lagi harga barang-barang baru yang di berikan oleh papa angkatnya. Tetapi sayang sudah tidak ada lagi harganya.
Perlahan Dini menuruni anak tangga. Ia lekas bergabung dengan yang lain.
"Selamat pagi Din," sambut Wirawan.
"Selamat pagi, Om."
"Kan kemrin sudah di bilang jangan panggil Om, panggil saja Papa. Kayak mereka ini," kata Wirawan.
"Iya–– pa."
"Pa, aku sudah selesai. Aku pergi dulu," pamit Jeno.
"Jessen juga!" sahut Jessen. Meskipun sarapan Jason masih setengah porsi.
"Oke-oke, hati-hati ya..." ujar Wirawan.
"Kenapa Dini?" tanya Wirawan saat melihat anak angkatnya.
"E.... Om, eh papa maksudnya, boleh nggak sih aku nggak di sekolah elit gitu, aku takut malu-maluin keluarga ini," kata Dini.
"Ssst... Nggak ada. Kamu tuh anak papa. Jadi ya harus sekolah yang sama. Nggk ada perbandingan di antara kalian," kata Wirawan.
Dengan di antar mobil model sedan berwarna hitam mengkilap. Tas bermerk dan sepatu yang keluaran terbaru membuat banyak orang mengira dia dari keluarga berada.
__ADS_1
"Dini, ini kelas kamu," kata pak William.
Dini memasuki dengan ragu. Langkahnya terhenti ketika melihat sudut belakang ada Jenssen.
"Ha! Jessen!" batin Dini menatap cowok yang duduk dengan cool.
"Dini! Masuklah," suruh William.
"I-iya, pak."
Jessen tidak bergeming sedikitpun menatap Dini. Dia mengira jika semua ini ulah papanya karena menempatkan dini satu kelas dengannya.
"Anak-anak kalian ada teman baru, dia dari luar kota. Namanya Dini Anindya. Panggil saja Dini. Saya harap kalian bisa berteman dengan dia," kata William.
"Baik, pak." sahut siswa kelas itu.
"Dini, duduk di sana ya." William menunjuk bangku nomor dua dari belakang yang memang kosong.
Bangku di kelas ini sangat berbeda dari sekolahnya dulu. Disini satu meja satu kursi untuk satu anak. Sedangkan di sekolahannya dulu satu meja dan dua bangku sehingga satu meja dua orang. Bahkan banyak sekali coretan di mejanya. Di sekolah baru dini mejanya sangat bersih.
Saat jam istirahat. Dini sendiri di kelas tiba-tiba.....
Brak!
Jessen menggebrak meja Dini.
"Lo jangan pernah bilang kalau Lo disini karena papa gue, gue nggak mau orang tahu kalau Lo adik angkat gue. Gue nggak mau malu karena lo!" tegas Jessen menatap tajam kepada Dini.
"I-iya!" Dini gugup. Dia takut menatap wajah Jessen.
"Lagian, dari banyak kelas kenapa Lo di taruh di sini sih? Dasar cupu!" hardik Jessen yang pergi begitu saja.
__ADS_1