Terjebak Pesona Adik Angkat

Terjebak Pesona Adik Angkat
Pemberani


__ADS_3

Bab 11


Vika dan Nadin menemani Dini di kantin. Mereka semakin hari semakin dekat. Vika salah satu pembenci Chelsee karena dia juga menjadi korban bullying geng mereka.


"Din, elo keren sih. Elo berani lawan mereka," puji Vika.


"Iya, Loh. Gue disini setahun belum dengar ada yang berani ngelawan gengnya si Chelsee," sahut Nadin.


"Nggak ada yang keren sih, gue mah nggak mau diinjak-injak sama mereka dan gue nggak suka ada orang yang suka ngerendahin orang lain," kata Dini.


"Salah tahu Din, gengnya Chelsee tuh kejam. Gue pernah lapor karena tas gue di masukin ke toilet sama buku-bukunya, tapi nggak ada yang bertindak gurunya. ada teguran tapi tidak membuat mereka jera juga."


"Bisa tas lo dimasukin ke toilet sama mereka?" tanya Dini


"Ya karena gue nggak mau ngerjain PR mereka," jawab Vika.


"Aku mah gimana?"


"Ya gue catat dari awal lagi dan gue beli buku baru lagi," jawab Vika lesuh.


"Bener-bener yah tuh geng." geram Dini.


Di kelas tiga ada yang memiliki geng seperti Chelsee. Tetapi tidak brutal seperti dia.


***

__ADS_1


Kriiing ..... Kring....


Bel berbunyi. Dini dan kedua temannya meninggalkan kantin. Nadin kembali kelasnya karena dia berbeda kelasnya dengan Vika dan Dini.


Tenyata Dini menyadari bangkunya ada yang aneh saat dia hendak duduk. Dia menyentuh bangku itu terasa lengket pada bagian sandaran. Di sisi lain ada segerombolan cewek yang menatapnya seakan menunggu dia duduk.


Seketika dia tahu pelaku yang menempelkan lem pada bangkunya. Tak berfikir lama Dini mengambil jaket milik Feby dan dia buat untuk menutupi lem itu.


"Heh! Itu jaket gue!" Tetapi Dini tidak menggubris suara Feby dia tetap menggunakan jaket pink itu.


"Chel! Kok jadi gue? Itukan ulah elo. Kok jadi jaket gue sih?" protes Feby yang tanpa sengaja membuka rahasia mereka.


Lexa dan Chelsee menutup mata geram. Jessen yang tadinya tertunduk tidur akhirnya bangun karena keributan itu. Dia melihat tingkah nyentrik Dini yang emang sangat berani.


"Satu bulan lagi ada festival olahraga. Saya harap dari kalian banyak yang ikut," kata guru itu. "Karena murid kelas 12 akan lebih fokus ke ujian akhir dan tes masuk universitas," imbuhnya.


Banyak siswa yang senang dan tidak sedikit pula yang merasa gugup. Karena dari tahun ke tahun sekolahan SMA UNIVERS ini selalu membawa pulang gelar juara. Sehingga siapapun yang ikut harus siap mental dan yakin untuk menang.


"Lo mau ikut?" tanya Vika yang menoleh ke belakang.


"Enggak!" jawab singkat Dini.


"Kenapa?"


"Ya nggak minat aja," ujar Dini.

__ADS_1


"Lo harus tetap datang di acara festival meskipun lo nggak ikut," kata Vika.


"Kenapa?"


"Disana banyak cowok ganteng dari berbagai sekolah. Pokoknya keren deh," jelas Vika.


"Kok elo tahu?" tanya Dini.


"Ya karena abang gue dulu juga ikut lombanya," jawab Vika.


"Kalau begitu ini formulir silahkan diisi. Besok di kumpulkan," kata guru yang berdiri di depan dengan setumpuk kertas di tangannya.


Kertas itu bagikan di bangku paling depan dan dioper ke belakang. Dini yang berada di bangku nomor dua paling belakang hanya menatap datar kertas itu. Tidak ada keinginan untuk ikut dalam festival itu.


Di bangku yang lain para siswa riuh membahas apa yang ingin mereka inginkan. Sama halnya dengan geng Chelsee. Meskipun mereka sudah bergabung dalam ektra cheerleaders tapi dia ingin ikut perlombaan lain demi menarik perhatian dan menambah kepopulerannya.


Bahkan sesekali mereka menoleh Dini yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya kepada festival itu.


"Heh cupu! Lo ikut nggak? Jangan sok jago doang tapi Lo nggak ikut," kata Lexa.


"Kepo amat lo jadi orang, gue emang jagokan bisa ngelawan elo. Nggak kayak korban elo yang lain," sahut Dini dengan wajahnya yang tengil.


"Sudah!" lerai guru yang baru selesai membagikan formulir itu.


Lagi-lagi Jessen terpaku dengan keberanian Dini. Di luar kelas Jeno juga melihat itu. Dia merasa ada yang berbeda dengan adik angkatnya.

__ADS_1


__ADS_2