Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
10 #Mencari Perhatian


__ADS_3

Terakhir kali malam itu, aku benar-benar kesal di umpat olehnya. Ku pikir aku adalah orang yang spesial baginya dan tak mungkin dia mengumpat padaku seperti pada yang lainnya. Ternyata dugaanku salah. Aku salah mengartikan sikapnya padaku.


Di sepanjang jalan aku hanya diam tak bicara apa-apa, pikiranku terus terbayang olehnya. Tak terasa kami sudah berada di parkiran.


" Tumben gak banyak ngomong " samar-samar aku mendengar kakakku berbicara tapi aku hanya diam. Melihat ku yang diam saja,kakakku ingin ikut ke kelasku untuk menegur raka


" ih... kakak jangan..." tahanku, aku menahan tangan kirinya yang hendak ke kelasku. Kakakku berbalik padaku.


" kakak yang salah sih...,jangan gitu ahhh" ucapku meninggalkannya. Kakakku hanya diam tak membalas kata-kataku, mungkin dia mengakui dirinya salah. Udah tahu orangnya gak suka di panggil begitu,,, masih hhh saja omelku pelan.


Kakak mengejar menghampiriku.


" ahok " panggil kakak pada sosok di depan kami. Dia berbalik melihat kami.


panjang umur..ucapku dalam hati,,


" ini dia kak? " tanyaku, kakak hanya mengangguk sebagai jawaban ya darinya. Dia teman kakakku yang dikatakan mirip dengan raka.


" hallo dam, adek Adam yang nangis kemarin itu kan??? " tunjukknya padaku. itu lagi... itu lagi...kayaknya susah buat ngehapus image aku yang adeknya kak Adam yang nangis itu.


" jangan di ganggu ahok, anaknya lagi kesel" Aku meng analisanya bagian mana yang di bilang mirip dengan raka. Mananya yang mirip? tapi...sama sih putih sipit ke cina-cinaan nya ucapku dalam hati.


Membiarkan mereka berdua mengobrol aku berjalan ke kelasku meninggalkan mereka yang masih di parkiran.


Masuk ke kelas aku belum melihatnya, padahal hari ini adalah jadwal kami piket, seharusnya dia datang lebih pagi. Syukurnya minggu lalu sudah bersih-bersih jadi gak perlu piket lagi.


Aku menurunkan kursiku yang ada di atas meja sekalian ku turunkan punya iki juga.


Satu demi satu yang lain datang, mulailah kelas yang sepi tak berpenghuni menjadi berpenghuni.


Sampai akhirnya raka datang dan menghampiriku. Memeriksa tasnya dia mengambil buku sketsaku,


" ini, maaf keikutan bawa" aku mengambilnya dan langsung memasukkannya dalam kolong meja. Tanpa bicara apapun aku meninggalkan nya dan membawa topiku.


" ayoo sudah bel nih " ajakku pada dinda, dan putri yang baru tiba.


" tunggu...." Putri dan dinda selalu berangkat ke sekolah bersama karena rumah mereka dekat.~


Upacara bendera, aku selalu berdiri paling depan sejak SD sampai sekarang tak pernah berubah. Upacara bendera menjadi panjang karena harus mendengarkan pidato kepala sekolah yang panjang.


Matahari terasa berada tepat di atas kepala. Keringat sudah mulai muncul di sekitaran wajah. Sesekali aku melihat ke samping belakang. Seperti ada yang memperhatikanku. Aku melihat dia di sana di belakang putra.


Gani yang berada di sampingku menyenggol tanganku dengan sikunya.


" lihat ke depan" bisiknya pelan. Aku kembali menghadap ke depan langsung memberi hormat karena kepala sekolah kembali ke tempat awal.


Beberapa menit kemudian, upacara selesai. Kembali ke kelas,,, aku, dinda, dan putri mengobrol membahas iki yang tak keliahatan sejak tadi. Dari belakang terdengar suara raka " iki gak masuk ya? "


" ya kayaknya " jawab dinda


" kenapa??? " tanya putri


" Gak ada, cuma tanya aja " ia ikut gabung mengobrol bersama kami, bicara ini itu. aku sesekali ikut membalas, tapi saat dia bertanya balik padaku aku hanya diam. Sampai di kelas..,, kami duduk di tempat kami masing-masing. ~


Pelajaran seni budaya,,,


aku, dinda dan iki saling ketawa melihat hasil gambar kami. Yang paling parah gambarnya adalah putri.... gambar tong sampah saja sampai berberapa kali di ulangi. Pasalnya pelajaran seni budaya ini kami di suruh menggambar poster tema kebersihan.

__ADS_1


asyik menggambar dia datang ke mejaku


" pinjam penghapus dong"


" gak ada " jawabku karena itulah kenyataan nya aku lupa kemana penghapusku. Setiap hari aku merasa ada....aja alat tulis ku yang hilang. Dia kembali ke mejanya, namun selang beberapa menit ,, dia kembali lagi kemejaku, kini alasannya untuk meminjam rautan.


" Gak ada " jawabku . Lagi dan lagi beberapa kali dia balik ke mejaku,,, ada...aja yang di carinya, aku jadi tambah kesel di buatnya akhirnya aku tak menghiraukan nya.


Mau mengambil penghapus di depan putri aku gak sengaja menjatuhkan kotak pensil ku.


Aku menunduk mau mengambilnya tapi dia lebih dulu mengambilkan nya untukku.


" Terima kasih " ucapku padanya. Akhirnya dia kembali ke mejanya lagi. Baru kembali, dia datang lagi,, ku pikir dia akan meminjam apa lagi tapi nyatanya dia maju ke depan untuk mengumpulkan tugas.


Di ikuti anak-anak yang lain, aku ikut mengumpulkan tugas karena waktu jam pelajaran seni budaya sudah habis.


jam istirahat, kami bertiga ke kantin,,, kembali dari kantin, aku terpaku pada sosok laki-laki yang sekarang duduk di tempat iki. Raka duduk di tempat duduk iki, ia sedang mengobrol dengan Rika.


Melihatnya tersenyum sepertinya dia tak memikirkan masalah kemarin malam. Aku jadi tambah kesal...


" Ayoo raka, Rika makan.. " ajak putri dan dinda bersamaan.


" ayoo ka jajan " ajakku pada Rika, aku juga akhirnya duduk di tempatku.


" ya lanjut " ucap mereka bersamaan.


Membelakangiku dia terus mengobrol dengan Rika.


" Dapet apa tadi seni budayanya? " tanya raka. Dia berbalik menghadap ku.


" kalian....."


" hahaha aku gambar tong sampah aja ga bisa, gak karuan bentuknya...tapi alhamdulillah dapet B, kamu? " jawab putri


" hmmmm A "


" Kamu gak main sama anak-anak cowok? " tanyaku tiba-tiba di luar konteks obrolan karena selama ini yang ku lihat dia selalu mengobrol dengan anak-anak cewek.


Mendengar perkataanku wajahnya terlihat sedikit kesal.


" kenapa emangnya? "


" Gak ada cuma tanya aja " jawabku dan lanjut makan.


" Jajan ini enak ya put" ucap dinda, seperti mencairkan suasana yang mulai tegang di antara kami. ~


Jam ketiga, dia duduk di samping Rika yang kebetulan dulunya tempat duduk Belinda. Tapi Karena mereka ada sesuatu jadi udah gak duduk sama-sama lagi. Selama pelajaran dia sesekali mengobrol.


Mendengar mereka yang mengobrol aku sesekali melirik mereka. Anehnya saat aku melirik, Raka melirik ku sambil tertawa senyum dan kembali bicara lagi dengan Rika.


Aku hanya bisa mengangkat alis dan mengomel dalam hati pasti sengaja biar aku marah, cemburu.... aghhh.... ndak ndak... ndak mungkin,,,fokus kei pikiranku mulai kacau.


" Putri, minta tolong kepalanya geser sedikit " pintaku, yang lanjut mencatat pelajaran di depan. membiarkan mereka yang terus mengobrol tak jelas.


Selesai mencatat kami di suruh membuat kelompok 4 orang. Pikiranku tak henti-hentinya tertuju padanya.


" kurang satu, raka ikut gabung ndak? " ajak putri. jujur aku pikir dia akan langsung bilang ya. tapi kenyataannya

__ADS_1


" maaf putri aku gabung sama Rika " mendengar jawabannya ada rasa kecewa dan merasa menyesal karena marah-marah gak jelas padanya, padahal yang salah adalah aku. Tapi setidaknya aku hanya ingin dia bilang maaf 😔


Sesulit itukah????


Akhirnya kami berkelompok dengan gani.


Membahas pelajaran, sesekali kami bercanda. Aku yang ke PDan atau apa? aku merasa dia memperhatikanku tapi aku tak berani menoleh. Aku takut aku salah mengartikan lagi


" weiii... kenapa ayoo jawab ini " tegur gani membuat ku fokus kembali pada lembar soal yang harus di jawab.


Aku menjawab soal sesuai pendapat kami bertiga dan dinda bertugas sebagai pencatat. Selesai,,,, kami langsung mengumpulkan tapi kami kalah duluan dengan kelompok putra, Monik, dara, dan Kristin.


waktu terasa berjalan lebih cepat,,,


Akhirnya waktu pulang sekolah. Karena semua siswa masuk pagi jadi kelihatan sangat ramai saat pulang. Kami biasanya menunggu dulu saat sepi baru pulang karena tak mau berdesakan di parkiran yang berdebu.


Menunggu di depan sambil melihat keramaian di bawah. Raka datang menghampiriku. Dinda dan putri turun lebih dulu karena kumpul OSIS. Dari dulu sampai sekarang aku jarang mengikuti kegiatan eskul di sekolah.


" Belum pulang? " udah tahu masih di sini, masih tanya lagi


" Belum, ini kan masih di sini "


" kamu marah? " kamu baru sadar aku marah ucapku dalam hati seolah -olah menjawab pertanyaannya. sayangnya dia tak mendengarkan suara hatiku.


" nggak "


" tak kirain lagi marah" ya ampun... ku pikir dia Peka, ternyata dugaanku salah.


" pulang sama siapa? "


" sama kakak, kamu gak pulang? " tanyaku balik.


" ntaran dulu masih ramai"


" kalau gitu aku duluan " ucapku meninggalkannya, melihat kakak yang sudah menungguku di bawah.


Sampai di bawah, kakak bertanya


" kenapa lagi dia? " tanyanya sambil melihat ke atas. Refleks aku memegang kepala kakakku agar tak melihat ke atas.


" maaf kak " ucapku merasa bersalah karena tak sopan memegang kepala kakakku.


" mangkanya jangan lihat kesana!!!! "


" kenapa emangnya? "


" ih.... sudah... sudah... ayo pulang" ajakku sambil menyeret tangan kakakku.


" awas.. ya Lok dekat deket lagi sama anak itu"


" deket apaan sih kakak ni" Aku melirik ke atas tanpa sengaja mata kami bertemu. aku langsung menunduk, merasakan ada yang aneh pada diriku apa ini ??? jantungku berdetak lebih kencang tak seperti biasanya. aku menggenggam dadaku.


" kamu kenapa? " tanya kakakku, mungkin merasakan ada yang aneh.


" Gak ada " jawabku, Aku pun bingung aku juga merasa ada yang aneh dengan diriku.


📝Perasaan aneh apa ini? aku ingin marah dan tak perduli tapi ternyata aku tak bisa. perasaanku mengalahkan logika ku.

__ADS_1


__ADS_2