Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
12 #Menjauh


__ADS_3

Hari demi hari telah ku lewati, kini kakak sibuk dengan pengayaan dan try outnya ,, mau tak mau setiap pulang aku selalu sendiri.


Pertama kali pulang sendiri mamak sangat kaget melihatku memakai motor tanpa kakak. Tapi semakin hari aku jadi semakin terbiasa memakai motor sendiri. Sekarang menyebrangpun aku sudah bisa sendiri.


Dan untuk raka, aku tak tahu kenapa sejak hari itu aku merasa dia menjauhiku dan lebih dekat dengan Rika. Dan rasanya aku jarang melihatnya di kelas.


" kamu kenapa? " tanya iki. mendengar suara hembusan nafasku.


" ngantuk " jawabku, kemudian ku lipat kedua tanganku di atas meja sebagai alas tempat menaruh kepalaku. Ku tutup mukaku menggunakan buku besar agar tak terlihat.


" Gak ke kantin? " tanya iki lagi.


" Gak "


akhirnya iki pun pergi, terdengar suara langkahnya yang semakin jauh semakin tak terdengar. Namun ada juga suara langkah kaki yang terdengar lebih jelas.


Samar-samar aku mendengar suara khas tawanya, dan suara seorang laki-laki,,aku mengintip melalui celah buku.


Ia sedang mengobrol dengan anto yang juga teman kelasku. Di belakangnya ada Rika, lesti dan kawan-kawan. Melihatnya kian dekat aku kembali menutup mataku dan menyembunyikan wajahku di balik buku.


Rasanya waktu berjalan sangat lambat,,, mendegar suara mereka yang mengobrol di samping kananku dengan nada lumayan tinggi akhirnya aku bangun untuk pindah posisi,, buku paket yang tebal sebagai penutup wajahku yang mulanya berdiri jatuh ke meja meninbulkan suara " takkkkk " membuat mereka melihatku.


Aku mengambil buku paket ku dan lanjut tidur dia atas lipatan tanganku namun dengan arah membelakangi mereka,, ku taruh lagi buku paket di depan wajahku.


Sayangnya bukannya tenang pikiranku tambah kacau mendengar obrolan mereka yang mau tak mau harus ku dengar,, padahal aku tak mau untuk tahu.


" Kei..sakit?? " Tanya dinda yang baru datang dari tugas negara. Oh.. ya putri sakit,,sudah 2 hari dia tak masuk sekolah. Kemarin iki, terus putri mungkin karena cuaca yang tak bersahabat akhir-akhir ini.


" nggak din " jawabku dan segera bangun.


" nih minum " dinda memberikanku sebuah botol air putih dan roti.


" iki mana?? "


" masih di kantin sama Diki " kian hari aku melihat iki dan Diki semakin dekat. pulang dan berangkat ke sekolah selalu barengan, anehnya saat di tanya kamu pacaran ya? dia selalu jawab tidak cuma temenan biasa. Mana ada temenan biasa mau jemput orang yang rumahnya satu dimana satunya di mana.


" putri gimana? "


" alhamdulillah udah mendinganlah, InsyaAllah besok masuk " jawabnya dengan mulut yang masih penuh roti.


" teetttttt ....teetttttt ... teetttt " bel masuk berbunyi, aku buru-buru menghabiskan rotiku. Semua teman-teman yang masih di luar satu persatu mulai masuk kelas. Aku melirik ke samping tanpa sengaja kami saling melihat tapi kali ini bukan aku yang pertama memalingkan wajah tapi dia πŸ˜”. Aku kembali menatap ke depan melihat sosok wanita paruh baya dengan gaya glamor nya bu endang namanya guru matematika ku.

__ADS_1


mengerjakan soal yang ada di papan tulis beberapa anak terdengar agak ribut. mengejek - ejek kedekatan raka dan Rika yang kian hari semakin dekat. Entahlah... mendengarnya aku merasa ingin menangis. Ku kucek-kucek mataku dengan tangan kiri takut ada yang lihat. aku benar-benar cengeng... ucapku dalam hati.


Aku awalnya mau tak peduli tapi akhirnya aku curi-curi kesempatan untuk mengintip mereka. Melihat raka dan Rika yang tertawa aku merasa mungkin benar mereka sangat cocok. Dan aku merasa mungkin aku salah mengartikan dia mah baik ke semua perempuan.


Merasa ada yang mengganjal di hati,,, aku berhenti untuk melihat mereka dan lanjut mengerjakan tugas. Tanpa ku sadari sedari tadi iki melihatku. Dengan lembut iki menepuk pundakku,, ia mengelus pundakku pelan seolah mengatakan sabar...,, aku jadi ingin menangis karenanya.


" yang no. 2 ini gimana caranya? " iki mencoba mengubah suasana. Dinda yang sedari tadi menghadap ke depan berbalik kebelakang yang juga ikut bertanya cara menjawab soal no. 2. ~


Tak terasa jam terakhir lagi-lagi jamkos. Sepertinya bukan cuma aku yang suka jamkos semua anak-anak yang bersekolah di negara ini mungkin suka πŸ˜… walau tak semua.


Jamkos,, aku, dinda dan iki ikut gabung kelompok putra.


Dari obrolan ini kami mengetahui bahwa putra akan pindah sekolah.


" kapan pindahnya " tanya monik dengan nada agak sedih


" pelan-pelan suaranya" ucap putra dengan memberi isyarat yang tangan telunjuknya di letakkan di tengah bibir.


Mendengar pernyataan putra yang ingin pindah sekolah secara serempak kami bertanya apa?? kenapa?? di mana???.. Melihat putra yang mulai garuk-garuk kepala bingung mungkin mau jawab yang mana. Akhirnya kami diam sebentar dan malah jadi tertawa yang awalnya suasananya menyedihkan.


" Satu-satu mangkanya nanyak!! "


Dan akhirnya cukup monik yang bertanya karena pertanyaannya cukup panjangpanjang untuk di jawab putraπŸ˜‚. Tak di undang Gani ikut gabung bersama kami duduk diantara monik dan Putra.


" mau ketemu dara kamu" godaku sambil senyum-senyum jail.


" apaan kamu " Aku dan gani cukup dekat karena gani anak temen bapakku. Saat kecil kami sering bertemu di kantor saat bapakku dan bapaknya kerja lembur sore harinya.


" Yah dara kenapa malu-malu " goda monik ikut membantuku menggoda mereka. Kami tertawa melihat mereka berdua yang jadi salah tingkah. Lucu sekali melihat mereka berdua yang malu-malu tapi mau.


" iki gimana sama Diki? " selidik monik.


" kok jadi saya "


" ya..., kalian pacaran gak sih??" tanya dara lagi


" dia gak pacaran, tapi TTMan "


" Teman Tapi Mesra " sambung dinda


" ah... apaan kalian ne, aku ketoilet dulu " ucap iki langsung kabur.

__ADS_1


Di tengah perbincangan, Tiba-tiba putra membahas tentang raka yang semakin dekat dengan Rika. Aku yang tadinya ketawa langsung mingkem dan berubah serius.


" cocoklah 2R,, bagus tuh buat undangan nikah Raka dan Rika " ucap gani dengan penuh semangat.


" baru kelas 10 udah bahas nikah kamu ne " omelku pada gani. Dinda melihatku aku juga melihatnya seperti ada sesuatu tapi dia hanya diam melihatku.


" kayaknya mereka pacaran dah!! " ucap dara.


" nggak kayaknya" sambung dinda " bahas yang lain aja" dinda mengalihkan topik. Mungkin benar... yah kei mungkin cukup sampai sini biar ga jatuh terlau dalam ucapku dalam hati.


Melihat dia dan Rika yang berada di depan teras, aku menetapkan hati untuk berhenti mengaguminya. Mungkin menyadari aku memperhatikannya dia melihatku tapi kali ini aku tak berpaling Rika juga ikut melihat ke arahku sambil tersenyum. Aku hanya bisa diam dan membalas senyumannya. Kembali ke raka aku hanya diam dengan tatapan kosong.


" Kei.. " panggil monik,, membuatku harus memalingkan wajah ke arah monik. saat itu aku merasa suasana hatiku berubah 360 derajat yang tadi ketawa menjadi sulit sekarang.


" Kamu bisa gak besok minggu kita jalan-jalan bareng? "


" jalan bareng? " tanyaku bingung


" ngelamun sih " goda gani


" kita mau di traktir makan sama putra " jelas dinda.


" kalau makann gratis kita pasti mau sih " nimbrung iki yang baru tiba dari toilet dengan senyum khasnya yang agak pecicilan.


" gratiss mah enak atuhhh " sambut monik.


" Tapi gak apa-apa yah gak terlalu mahal "


" kita mah apa aja makan mumpung gratiss " ucap gani


" kamu mah gratisan terus, kemana-mana aku terus yang bayar " ucap dara keceplosan.


Aku mau ketawa tapi ga bisa karena sudah beda suasana sejak melihat Raka.


" tuhhh ketahuan sering jalan "


" bukannya.. bukan gitu maksudnya, keceplosan akuh " ucap dara yang mulai tak karuan bicaranya. Sampai akhirnya bel pulang berbunyi dan obrolan kami berhenti sampai di situ. Kembali ke tempat duduk aku berpapasan dengan dia dan benar kami hanya diam tak saling sapa tidak seperti saat dia berpapasan bersama dinda dan iki.


Benar sebaiknya begini ucapku dalam hati sambil tersenyum.


πŸ“ Aku sakit, sedih tapi mungkin benar sebaiknya begini daripada aku harus berharap tak jelas dan sebelum aku jatuh terlalu dalam. Aku memutuskan untuk menjauh darimu saat itu.

__ADS_1


__ADS_2