Terlalu Cinta

Terlalu Cinta
TAk Ada Kabar


__ADS_3

🍂Sudah 5 hari aku di sini, Sejak hari itu juga Raka tak pernah membalas pesanku. Aku yang penasaran ada apa kira-kira, mencoba bertanya pada dinda dan putri walaupun aku tahu aku tak bisa bertanya secara langsung karena aku malu.


" Bagaimana kamu di sana? "


" Di sini dingin " balasku pada dinda


" Oh.. ya bagaimana di sekolah? " tanyaku lagi berharap ada informasi yang ku dapatkan tentang raka.


" seperti biasa, kenapa?? "


" kamu mau tahu tentang raka ? " sambung dinda, aku langsung ketawa membacanya sepertinya aku terlalu mudah untuk di bacanya atau dia yang terlalu peka.


" gimana dia baik-baik aja kan? "


" ya... baik-baik aja, tenang aja di sini kita ngawasin dia untuk kamu " balas dinda.


" keila.... keila.... " panggil seseorang dari luar pintu yang tak asing lagi untukku. Sebelum pergi aku sempatkan membalas pesan dinda


" hahahaha ya dah, inget di jagain ya 😁" balasku kemudian keluar.


" maaf.." ucapku pada Chandra yang sudah terlihat rapi di depan pintu. Aku, Chandra, dan lia janjian untuk pergi jalan sekitar kota B, yang kebetulan kami bertiga tak lolos di babak final, tak ada kegiatan jadi kami janjian untuk pergi bersama.


Turun ke bawah ternyata di depan hotel sudah ada lia, kevin dan jo.


" kalian juga ikut? " tanya Chandra.


" ya, kita kan sama-sama gak lolos " jawab kevin santai, yang hampir saja membuatku tertawa kencang,, aku merasa sepertinya dia bangga karena kita sama-sama gak lolos final.


" ayookkk " ajak lia. Berjalan sedikit jauh dari hotel kami menemukan banyak angkot (Angkutan Kota)yang lewat. Tapi tak ada satupun yang berhenti saat kita memanggil untuk stop.


" balik aja yuk " ajak kevin mulai kesal.


" stopppp pakkkk " teriak lia tak menyerah. akhirnya angkotnya berhenti pas di depan kami, untungnya bapaknya mau berhenti walaupun kita harus duduk bersempitan.


Kami melaju ke pasar yang sebelumnya kami sudah searching terlebih dahulu pasar oleh-oleh paling murah di kota B. Sampai di sana kami langsung turun.


Matahari seperti berada di atas kepala ditambah suara bel motor sana sini yang terdengar bising, bau asap kendaraan, jualan pinggir jalan tak bisa dibedakan . Terlebih suara teriakan beberapa kernet angkot untuk menarik penumpang. Susananya benar-benar seperti pasar pada umumnya.


Tak heran namanya juga pasar ya kalau sepi bukan pasar namanya tapi tempat pemakaman namanya.


" ayokkk cepetan jalan,,, panas... " ajak lia sambil menarik tanganku


Masuk ke dalam pasar, aku menganga karena kaget melihat pasarnya yang terlihat seperti mall di daerahku. Tak panas seperti pasar di rumahku di sini seperti ada ACnya.


" ini beneran pasar? " tanyaku saking takjub nya.


" ya.. ya.. besar sekali " jawab lia.


Kami berlima mulai berkeliling mengitari pasar yang begitu luas. Sebagian mau kesana sebagian mau kesini karena apa yang kita cari berbeda-beda jadi kami berpisah . Chandra tetap ikut bersama kami.


Aku tahu itu, waktu itu aku sempat berpikir mungkin dia menyukaiku tapi aku tahu sih itu tak mungkin, tapi aneh juga dia selalu dekat-dekat denganku jadi aku berpikir begitu ternyata tidak. Dia mendekatiku karena sepertinya dia suka lia.


Aku berjalan di samping kiri lia, aku tak mau jadi tengah lagi di antara mereka yang asyik mengobrol. Biarkan saja, dia belum tahu kalau lia sudah punya pacar ucapku dalam hati.


" Aku mau beli batik couple buat orang tuaku " ucap Chandra.


" bantuin pilih dong " sambungnya lagi.


Aku hanya diam tapi lia menarik ku untuk membantunya juga memilihkan. Bukannya tak mau tapi aku takutnya tidak suka dengan pilihanku jadi sebelum aku kecewa aku memilih diam saja mengamati.


Tapi karena lia menyuruhku mau tak mau dengan senang hati aku membantunya.


" yang ini " tanyaku sambil memegang sepasang pasang batik couple


" nggak, itu terlihat motifnya terlalu tua "


orang tuamu memang udah tua kan jawabku dalam hati, walau kesel aku tetap membantunya. Apa yang ku pilihkan selalu aja di komentarnya ini itu. Membuatku semakin kesal dan diam tak ingin mencarikan nya lagi.


" yang ini mau gak? " tanya lia memperlihatkan batik yang sepertinya itu pilihan pertama yang aku tawarkan tadi pada Chandra.


" Ya itu bagus... " jawab Chandra senyum lebar.


" bukannya itu kamu bilang motifnya terlalu tua " sahut ku, tak Terima karena tadi aku pilihin yang itu dia bilang gak bagus.


" bagus kok, orang tuaku kan sudah tua pakai kayak gitu jadi kayak beribawa pembawaannya, cocoklah" jawabnya. terserah ah... bodo amat... jawabku dalam hati.

__ADS_1


" Bucin" ucapku pelan.


" kenapa kei? " tanya lia


" ituu aku haus.. nanti kita beli capcin ya " jawabku cepat mencari alasan.


" ohhh ok " jawab lia mengajukan ok dengan tangan kanannya👌.


Sudah selesai berbelanja kami berkumpul di depan pasar, sebelum pulang kami jadi membeli Capcin (Es cappucino cincau)


Tak seperti sebelumnya kami tak kesulitan mencari angkot.


Tak lama kami sudah sampai depan hotel. kenapa ya saat pergi jalan itu terasa jauh tapi saat balik terasa dekat tanyaku dalam hati.


Turun dari angkot kami berjalan masuk ke hotel.


" dada... " ucap jo dan kevin yang berjalan ke kanan.


Berjalan aku merasakan kakiku berkeringat lengket, lihat ke bawah sandal hotel yang tadinya putih bersih berubah hitam pekat. Tidak hanya aku lia dan Chandra juga begitu. Saling lirik kami tertawa bersama menyadari sandal yang kita pakai sangat kotor.


" Di lihat petugas hotel gimana nih? " tanyaku


" nanti bisa di cuci " jawab lia.


Hari Ke 7 , Masih tak ada kabar darinya


" Besok aku pulang " kirim ku padaNya, sekedar memberi tahu walaupun tak ada balasan darinya.


Hari terakhir kami, panitia olimpiade mengajak kami berjalan jalan ke tempat wisata di kota B. Aku dan lia naik satu bus pariwisata yang sama dengan pak guru dan pak kapsek.


Syukurnya gak ada Chandra di antara kami.


Di jalan sambil menyupir pak supirnya menjelaskan jalan-jalan yang kita lewati. Sampai di tempat tujuan, kami mendatangi tempat wisata yang sangat terkenal di daerah ini karena tempat ini di katakan tempat terjadinya kisah yang pernah terjadi pada zaman kerajaan dulu.


Mau ke tempat lokasi sesungguhnya kita harus menaiki kendaraaan yang berbeda lagi karena jalan yang akan di lewati berliku-liku dan berupa tanjakan.


" sini handphone nya dititip di pak guru ntar hilang " suruh pak guru.


Aku dan lia akhirnya menitipkan handphone kami pada pak guru. Naik ke atas benar-benar buat isi perut ingin ke luar jalanan yang berliku -liku dan terus naik-naik yang juga terkadang harus berbagi jalan dengan kendaraan yang lain membuat beberapa kali aku harus menutup mata.


Sampai di atas aku kaget dan excited sekali saat melihat ada kuda, aku merasa seperti berada di atas awan, sampai sampai saking dinginnya saat kami berbicara akan keluar uap dari mulut kami.


Di tengah-tengah kami melihat ada kawah di tengah gunungnya katanya itu kawah sulfur.


Aku ingat kakakku memintaku untuk membelikannya bubuk sulfur sebagai bahan penelitiannya katanya bisa di jadikan obat kulit.


Aku berpisah dengan yang lain, berjalan mencari penjual bubuk sulfur. Tak ketemu, aku yang melihat banyaknya penjual Strawberry tertarik untuk membelinya, Strawberry mengingatkanku pada alif yang suka makan, aku akhirnya membeli 2 bungkus strawberry untuk ku bawa sebagai oleh-oleh.


Berjalan di paling ujung ternyata ada yang jual bubuk sulfur,


" berapa pak? " tanyaku, saat di beritahukan harganya aku mulai ragu untuk membelinya karena menurutku mahal. Tapi karena kakak butuh jadi mau tak mau aku beli. Usai membeli pesanan kakak aku kembali ke tempat titik kumpul sesuai janji.


" Kei ayokkk ikutan foto " ajak lia dan lainnya sebelum kami pergi. ~


Selesai dari sana kami di ajak keliling ke tempat produksi oleh-oleh makanan khas kota B, yang kemudian lanjut ke tempat pusat perbelanjaan yang terkenal di kota B.


Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB, aku dan lia sholat maghrib dulu sebelum lanjut jalan-jalannya.


Setelah sholat panita memberikan informasi " Jam 9 kita kumpul lagi di tempat ini " ucap panitia.


Aku dan lia berjalan berdua, sebelumnya aku dan lia sudah janjian ingin lihat-lihat boneka di toko sebelah. Saat baru pertama kali turun dari bus mata kami sudah tertuju pada toko boneka di sana.


" kita makan dulu " ajak pak kapsek


" ayokk anak-anak " ajak pak guru


" yah.... " keluhku.


" nanti selesai makan kita kesana" ajak lia. Aku mengikuti pak kapsek dan pak guru yang berjalan lebih dulu di depan kami.


Di belakang ternyata ada Chandra dan guru pembimbingnya juga


" mau makan pak? " tanya guru pembimbing Chandra pada pak guruku


" ya " jawab pak guru singkat, yang akhirnya kami pergi ber enam.

__ADS_1


Di tempat makan, kami di suruh memilih makanan yang kami mau sepuasnya karena pak kapsek yang akan membayarnya.


Pesan makanan, aku mencoba menoleh ke luar, aku melihat jalanan yang sangat ramai dengan kendaraan,, suasana kota yang penuh dengan aktivitas penduduknya,, setiap pinggir jalan terasa seperti taman karena di hiasi pohon-pohon yang di putri lampu hias warna warni.


kota yang cantik ucapku dalam hati.


Berbalik ke depan aku diam sejenak merasa melihat seseorang yang ku kenal ,, aku langsung berbalik ke arah tempat dimana aku seperti melihatnya.


Aku mencari-cari melihat ke sebrang sana.


Gak mungkin gani di sini, aku salah lihat pasti ucapku dalam hati.


" ini mba " ucap penjualnya, membuatku berbalik ke arah makanan yang sudah di atas meja ku semangkuk bakso besar kesukaan ku.


Selesai makan, aku dan lia langsung menuju ke toko boneka. Tapi karena ramai kendaraan lewat yang lalu lalang kami harus memutari jalan untuk bisa ke sana.


" wah.... bagus banget " aku terkagum-kagum melihat boneka yang begitu besar. Ku mencoba memeluknya. Lia juga sama kami diam-diam memeluknya.


" minta tolong fotoin " ucap lia,


" kamu gak foto? " tanyanya saat aku sudah selesai mengambil gambarnya


" gak usah " jawabku. Di toko boneka kupikir hanya ada aku dan lia, di sana aku ketemu kevin juga


" kamu mau beli boneka ? " tanyaku bingung,


" buat pacar ya....? " goda lia


" ya " jawab kevin singkat seperti biasanya dia selalu terlihat santai dan tenang.


" yukkk kei kita cari yang lain " ajak lia. Aku berjalan mengikuti lia dari belakang, merasa seperti ada yang memperhatikanku dari belakang aku langsung menoleh ke belakang tapi tak ada orang yang melihat ke arahku semuanya terlihat asing bagiku dan mereka yang kulihat sedang asyik memilih boneka.


ih.. kok jadi merinding ucapku dalam hati sambil memegang leherku. Aku kemudian berjalan cepat menyalip lia yang ada didepanku. Pilih ini pilih itu akhirnya aku membeli boneka Dolphin kecil bewarna putih dan pink. Tadinya aku mau beli boneka beruang yang besar tapi aku ingat aku tak bisa membawanya.


" Dada boneka besar " ucapku terakhir kali.


" ayoo udah jam 9 " ucap lia yang sudah keluar lebih dulu dariku.


Sampai hotel aku menghidupkan handphone ku beberapa panggilan tak terjawab masuk. ku cek di panggilan ada mamak, dinda, putri, kakak, bahkan raka.


"ada apa ya? " ucapku penasaran. Saking serunya aku tak pernah cek handphone sejak tadi, aku juga lupa baru ambil handphone ku dari pak guru.


Ingin menelpon balik ke mamak, sebuah panggilan masuk ke handphone ku dan itu ternyata dari Raka, akupun mengangkatnya


" *hallo... maaf ini siapa ya? "


" siapa apa*? " tanyaku bingung, apa maksudnya ia bertanya seperti itu padaku dia gak save no ku.


"*ini keila????? "


"ya, emangnya siapa? "


" kkamu ini bagaimana, mamakmu sampai telpon kesana kemari di pikirnya kamu di culik waktu telpon tadi suara cowok yang angkat katanya* " omel raka.


"*cowok gimana? handphone ku aku titip di pak guru, mungkin pak guru yang angkat tadi "


" ya udah, sana telpon mamakmu, pasti beliau khawatir "


" ya " jawabku " kena*....... " belum selesai bicara dia langsung memutuskan panggilan.


Tak mau mamak khawatir aku menelpon mamak. Sudah ku jelas kan berulang kali tetap saja aku yang di salahkan


" ya udah mak kei mau tidur " ucapku ingin mengakhiri panggilan karena mamak yang ngomel terus.


" ya udah jangan sampai ketinggalan barang-barang nya "


" ya, assalamu'alaikum mak" aku mengakhiri panggilan ku.


Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur membuka gorden jendela aku melihat jalanan yang terlihat masih ramai, lampu-lampu jalan yang berbaris di setiap jalan dan lampu-lampu kendaraan yang lewat membuat malam menjadi terang.


" Selamat tidur " ucap dewi dan nana teman sekamar ku


" Selamat tidur " balas ku kemudian tidur.


Memejamkan mata aku teringat raka yang tak pernah membalas pesanmu tapi tadi tiba-tiba menelpon aku kesal tapi aku senang juga karena tahu dia mengkhawatirkan ku.

__ADS_1


📝beberapa hari kau membuatku marah kesal padamu tapi hanya dengan sedetik kamu bisa membuatku luluh kembali. aku harus bagaimana sekarang????


__ADS_2